Padang Tapi Gelap

Dalam bahasa Jawa, padhang artinya terang. Tapi, liburan kami saat ini di Padang kami lalui dengan kegelapan. Padang, tapi gelap. Listrik mati bisa mati 4 kali sehari dengan durasi yang tak jelas, kadang 3 jam, kadang sampai 6 jam! Saya jadi ingat tahun 1980-an dulu, kami masih tinggal di Semarang dan liburan ke kampung halaman, belum ada listrik. Ee.. sekarang tahun 2008, kami liburan lagi, kok situasinya mirip banget dengan tahun 1980-an dulu. Malam-malam harus menghidupkan lilin dan lampu minyak tanah. Ngambil air harus nimba sumur lagi (karena pompa sanyo untuk menarik air dari sumur mati tak ada listrik). Aneh sekali Indonesiaku ini. Bukannya tambah maju kok malah kembali ke zaman baheula.

Penderitaan akibat lampu mati terasa di malam hari. Biasanya jam 10 malam lampu hidup, jam 1 dini hari mati lagi. Kipas angin dan obat nyamuk elektrik mati, Kirana dan Reza langsung terbangun dan rewel. Reza harus digendong lamma sampai akhirnya bobo lagi. Duh, saya sampai nangis saking merasa sengsara. Bayangin aja, lagi ngantuk berat dan capek malah harus gendong2 anak. Tapi, rupanya ada berjuta-juta orang yang jauh lebih sengsara dari saya. Buruh-buruh pabrik dan industri rumah tangga yang dirumahkan karena perusahaan mengurangi kapasitas produksi, petani susu yang merugi karena lemari es mati (berita TV: 40 tom susu segar terbuang percuma karena listrik mati)..belum lagi para penulis/penerjemah yang dikejar deadline, mahasiswa yang sedang ngebut menyelesaikan skripsi… duh..kasihan banget! Saya mengira-ngira, nanti ujung-ujungnya PLN diprivatisasi atau kita impor energi dari luar. Entah kapan negeri ini bisa independen.

Sekarang saya jadi ngerti (dulu juga ngerti, tapi secara teoritis, skrg ngerti secara empiris), mengapa Iran –sama-sama negara berkembang spt Indonesia, dan juga tidak lebih kaya dari Indonesia—ngotot membangun reactor nulir pembangkit listrik. Para pemimpin di sana rupanya sudah memprediksikan kekacauan yang akan terjadi 10 tahun lagi –kekacauan yang kini dirasakan Indonesia—ketika pembangkit listrik mereka sudah tak mampu lagi memenuhi kebutuhan dalam negeri. Usaha mereka membangun reactor nuklir itu dijegal sana-sini oleh kekuatan-kekutan yang tak mau ada negara independent di muka bumi. Berusaha independent seperti Iran harganya memang mahal, diembargo sana-sini dan di-character assassination habis-habisan. Rasa-rasanya, bangsa kita gak bakal kuat mental dibegituin.

Anyway, liburan dalam kegelapan ada juga hikmahnya. Kirana dan Reza jadi full diperhatiin sama mamanya (Mama kan biasanya keranjingan internet dan buku!). Malam-malam di tengah gelap kami main bayangan, tebak kata, kuda2an dengan bantal, dan nyanyi-nyanyi. Liburan must go on!

Btw, maafin yah, dua minggu ini saya gak bisa jalan2 ke mp temen2 sekalian. Ga bisa reply2 and reply balik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s