Pria yang Disukai Wanita

Mario Teguh di Metro TV dalam acara Golden Ways baru-baru ini mengatakan sebuah kalimat yang benar-benar saya sukai:

Pria yang disukai wanita adalah pria yang mau meminta maaf meski dirinya tak salah.

Oh yesss.. benar-benar gw banget deh.. Terus-terang, rumah tangga kami adalah rumah tangga yang biasa-biasa saja. Pertengkaran ada kalanya mewarnai hari-hari kami. Dan yang paling membuat saya sebel justru ketika suami saya tak mau meminta maaf. Emang sih, dia tidak minta maaf karena memang tak salah (kalau dia memang ngerasa salah, ya pasti minta maaf).

Tapi entah mengapa, saya tetap merasa sakit hati kalo si Akang tak minta maaf, meski dia tak bersalah.

Ternyata… emang beginilah perempuan pada umumnya (kata Mario Teguh loh).

Mario Teguh melanjutkan kalimatnya:

Minta maaflah pada istri Anda, meski Anda tak salah. Karena, istri Anda sudah mau melahirkan anak-anak Anda dan mau menunggu janji-janji Anda yang tak kunjung terealisasi.

(kalimat terakhir ini berdasarkan ingatan saya aja, tidak persis redaksinya demikian, tapi isinya tepat seperti itu).

Mario Teguh mengucapkan kalimat2 itu dalam menjawab pertanyaan dari seorang pria, “Bagaimana menjadi suami yang berwibawa di hadapan istri?”

Selain nasehat di atas, Mario juga mengatakan, supaya istri tetap hormat pada suami, jangan melawan kemarahan istri dengan kemarahan lagi. Sikap cool dari suami saat si istri marah, justru akan menambah hormat dan kecintaan istri padanya.

Any comment?

Mendadak Ustadzah [UPDATE “Warga Bandung,jam 10 pagi ini…”]

Teman2 yg berada di bandung, stay tune di radio KLCBS 100.4 FM jam 10 pagi ini ya… Ada talkshow menampilkan diriku. He3.

=========
UPDATE:
Atas permintaan sebagian teman2, inilah liputan acara kemarin...

Pernah nonton film “Mendadak Dangdut?” Nah, kejadian kemarin judulnya “Mendadak Ustazah”… gubraks banget dueh…

Jadi gini.. saya kan aktif di sebuah majelis tahsin di kompleks rumah saya, namanya “Majelis Tahsin Qonita”. Ustazahnya, namanya Bu Tintin. Bu Tintin ini orangnya baik hati dan tidak sombong (apaan seh?!). Nasehat-nasehatnya menyejukkan hati, makanya saya betah datang ke pengajian beliau.

Nah… Majelis Tahsin Qonita tanggal 8-9 November akan mengadakan acara bertema “Family Gathering”. Ini iklan acaranya:
—-
Apa yang Anda lakukan untuk membahagiakan orangtua Anda yang sudah lanjut usia? Menelponnya secara berkala, sekedar bertnya kabar? Mengiriminya uang tiap bulan? Atau mengunjunginya secara rutin, sebulan sekali, atau sekian bulan sekali?

Bagaimana dengan ide ini: mengajak orangtua Anda untuk rihlah ke Ciater? Sambil menikmati kesejukan dan keindahan alam, juga menikmati program-program khusus anak-orangtua (misalnya, psikologi lansia, forum curhat, renungan, dll).

Pusat kegiatan diselenggarakan di Masjid As-Sa’adah, di lokasi Puri Lembah Sarimas, Jl Ciater Subang. Masjid As-Sa’adah meraih juara 1 kategori Masjid Wisata Terbaik se Jawa Barat. Para peserta akan menginap di Hotel Lembah Puri Mas.

Pelaksana kegiatan: Majelis Tahsin Qonita, Rancaekek, Bandung
Alamat sekretariat: Jl Teratai Raya no 145, Bumi Rancaekek Kencana, Bdg
Acara dilaksanakan tgl 8-9 November.
Pendaftaran paling lambat tgl 4 November, Hub. telpon 7793134 or 0813-201-28-401
Infaq peserta: Rp400.000 per orang (fasilitas: transport dari meeting point ke lokasi, penginapan 1 malam di hotel Lembah Puri Mas, Makan 4x)
—-

Terusss… kemarin ini kita talkshow di radio KLCBS (yg alhamdulillah bersedia jadi salah satu sponsor) untuk mempromosikan acara ini. Harusnya niiiy.. yang berbicara panjang lebar tuh Ustazah Tintin. Daku cuma jadi seksi sibuk ajaaa.. gituuuw…

Ndilalah-nya, pas hari H, Bu Tintin suaranya habis karena sakit batuk, hwwwaaa… Panik bombay deh. Akhirnya daku yang disuruh maju, ditemani Bu Tini (anggota majelis tahsin juga). Untunglah, tak sia-sia kerja jadi penyiar radio di IRIB selama 4 tahun, jadi pas acara saya gak grogi-grogi amat. Karena posisi saya menggantikan Ustazah Tintin, jadilah omongan saya bernada-nada ustazah juga 😀 😀 😀

Yang saya sampaikan pada acara ini, antara lain begini…

Kalau kita baca-baca ayat-ayat Quran yang terkait dengan berbuat baik kepada orangtua, kita akan menemukan bahwa perintah berbuat baik kepada orang tua datang setelah perintah beriman kepada Allah. Dengan kata lain, setelah kita beriman kepada Allah, kita langsung diperintahkan untuk berbuat baik kepada ortu. Misalnya, ‘Laa ta’buduuna illa-Lah wa bil walidaini ihsana’ (janganlah menyembah selain kepada Allah dan berbuat baiklah kepada orangtuamu). [pls check QS 17:23, 2:83, 4:36, 6:151]

Dari sini kita melihat betapa besar penegasan dari Allah bahwa bila kita mengaku beriman, kitapun wajib berbuat baik kepada ortu.

Trus, ada hadis Nabi juga.. “Maukah kalian aku beritahukan dosa paling besar?… yaitu, menyekutukan Allah dan mendurhakai kedua orangtua.”

Nah… mungkin muncul pertanyaan, kenapa sih perintah untuk berbuat baik kepada ortu sedemikian besar kedudukannya? Sampai-sampai disejajarkan dengan keimanan kepada Tuhan? Jawabnya… karena untuk bisa berbuat baik kepada ortu, memang butuh keimanan yang tinggi. Berbuat baik kepada ortu itu berat, kecuali bagi orang-orang yang beriman kepada Tuhan dan percaya bahwa bakti kita kepada ortu pasti akan dibalas dgn pahala berlipat ganda. (apalagi kalo ortunya udah sepuh.. harus dirawat kayak bayi… duuuh.. pasti beraaat.. sekali, butuh kesabaran ekstra tinggi).

—-

Begitu… friends, sekilas info dari saya.
Btw, ada yang bilang, “Wah, Bu Dina bagus deh, ngomongnya di radio… udah pantes jadi ustazah!” Saya nyengir lebar. Belum tau dia…. kemarin kan saya baca teks, makanya lancar, huahaha.. Itulah bedanya penyiar radio dan ustazah:)))))

Dipangku Cicak


Reza punya ketertarikan besar pada cicak. Kalau sedang kumat rewelnya, dialihkan perhatian pada cicak, biasanya rewelnya berkurang.


Beberapa hari lalu, seperti biasa, rewelnya kumat dan mogok makan. Jadi, saya dongengi cicak. Karena antusias, dia sampai ga sadar kalau sedang disuapi makan. Nah, namanya dongeng dadakan, kacau deh, ngalor-ngidul ga jelas. Yang penting judulnya CICAK.


Mama: nah… trus… Mama Cicak pergi mengajak anaknya sekolah. Anak Cicak sukaaaa… banget sekolah. Tau nggak, sekolahnya Anak Cicak di mana?”


Reza: sekolahnya om Adhi

(Reza sejak pekan lalu saya antar ke sekolah Rumah Qurani yg diasuh kak Adhi, foto2nya ada di sini)


Mama: iya… di sekolahnya Om Adhi.. Eee.. di sana Anak Cicak ketemu sama dede Reza. Kata Anak Cicak: halo dede Reza… wah..aku senang sekali sekolah bareng dede Reza!

Reza: (senyum)

Mama: trus…. Anak Cicak bilang, “Eeee..dede Reza.. kok kamu dipangku mama aja sih? Kalo sekolah jangan dipangku sama mama dong!”

Mama: Tuuh.. kan, Reza, dengerin kata Anak Cicak. Gimana, nanti kalo sekolah gak usah dipangku mama lagi yaaaa?

Reza: iyah, dipangku cicak aja!

Mama: $#&*#@@%$*

Sekolah Anakku

Sejak awal, setelah browsing sana-sini, saya memang berprinsip, sekolah anak harus dekat rumah. Kalau terpaksa, ya masuk SD negeri saja (bukan meremehkan SD negeri ya.. saya juga produk SD negeri. Tapi sebagus-bagusnya, tetap saja, satu kelas 40 anak? Wow… trus.. yah ada banyak alasan lah, mengapa saya menjadikan SD negeri sebagai urutan terakhir dalam memilih sekolah anak), yang penting dekat dari rumah.

Alhamdulillah, pas kami pulang, dibuka pula sebuah SD Islam yang relatif dekat dari rumah. Kirana angkatan pertama, dengan jumlah murid 11 orang saja. Tahun kedua, jumlah murid meningkat pesat (SD ini memang punya jaringan, jadi sudah punya nama, gitulah). Sekarang teman Kirana sekelas ada 28 anak dengan hanya satu guru. Ow.. saya mulai kecewa. Kok jadi banyak gitu sih, muridnya? Kan idealnya satu guru membimbing 20 anak saja?

Seiring waktu, semakin banyak yang membuat saya kecewa. Misalnya cara mengajar yg konvensional banget, murid duduk di kursi, guru di depan kelas. Harusnya kan, sebagai sebuah SD khusus (dgn bayaran jauh lebih mahal dari SD negeri), ada fasilitas penunjang proses belajar. Misalnya belajar bahasa Inggris, harusnya kan pakai lab bahasa atau minimalnya, dengan menonton film/VCD khusus belajar bahasa Inggris untuk anak. Belum lagi masalah perhatian pada hal-hal ektra, misalnya menulis, menggambar, olahraga. Harusnya kan… ya sudahlah… pokoknya gak puas aja!

Mungkin sebenarnya saya bisa memperbaiki keadaan dengan aktif di POSG (Persatuan Orangtua Siswa dan Guru). Tapi, saya juga bukan tipe orang yang mau terjun untuk mengurusi hal-hal seperti ini. Saya menghibur diri, “Toh sekolah hanya ‘membantu’ proses belajar. Belajar yang utama adalah di rumah. Segini juga masih lebih mending daripada SD biasa…” Saya pun berusaha mengatasi masalah ini sendiri di rumah. Jadi, saya mendorong Kirana aktif menggambar, membuat kerajinan tangan, menulis, berenang, dll. Apa yang kurang di sekolah, saya berusaha memenuhinya di rumah.

Tapi, ketidakpuasan itu tetap saja ada. Pernah ada niatan memindahkan Kirana ke sekolah lain. Tapi Kirana menolak. Alasannya, dia sudah terlanjur sayang sama bu guru. Saya juga melihat, Kirana dan teman-temannya manja sekali sama guru2nya (ngelendot, bikin surat cinta buat guru, dll).

Sampai hari ini…

Kirana pulang sekolah dengan mata sembab. Tak lama kemudian, tangisnya meledak. Saya kaget, sudah mikir yang tidak-tidak. Ternyata… dia menangisi gurunya yang mau cuti melahirkan selama 3 bulan. Kata Kirana, hampir semua anak di kelas tadi juga menangis karena akan berpisah dengan bu guru (yang nggak nangis 4 anak). Bahkan ada satu anak laki-laki yang paling susah diatur di kelas, dia juga nangis sampai mejanya basah. Kata Kirana, “Kirana tadi sudah berhenti nangis, tapi pas salaman sama bu guru, Kirana nangis lagi. Lalu dipeluk sama bu guru.”

Saya benar-benar bengong mendengar cerita Kirana. Seingat saya, selama sekolah (duluuu…) tak pernah ada kejadian begini. Guru mau datang atau pergi ya cuek saja. Bahkan guru tak datang anak-anak malah seneng. Tapi ini? Cuma cuti 3 bulan aja, ditangisi sedahsyat itu.

Rasa tidak puas di hati saya menjadi lumer. Yah, mungkin saja sekolah anak saya tak (belum) punya banyak fasilitas. Tak (belum) punya guru khusus yang mengajari anak-anak menggambar, menari, bermusik, atau berbagai hal lain yang menurut saya penting. Namanya juga sekolah baru. Tapi, sekolah itu ternyata punya guru yang berdedikasi dan mampu membuat anak-anak mencintai mereka… Sungguh, hal ini jauh lebih berharga!

Note:

Btw, tadi saya ngobrol2 dengan seorang ibu teman Kirana, kesimpulannya:

Kami akan mengusulkan agar para ibu bergantian menjadi asisten guru di sekolah, satu guru utk 28 anak benar2 tidak cukup!

Kami akan mengusulkan dibentuk klub penulis cilik. Menunggu inisiatif sekolah untuk membentuk ini-itu agaknya sulit karena mereka masih disibukkan oleh banyak hal lain yang lebih urgen, jadi ibu-ibu yang merasa punya ide dan kemampuan untuk melaksanakan ide itu harus terjun langsung.

UPDATE:

tadi ada pengumuman dari sekolah, mulai bulan depan akan dibentuk klub sains, olahraga, dan majalah dinding (anak2 disuruh milih salah satu). Wow, rupanya usulan yg pernah saya sampaikan bbrp waktu lalu ke bu guru (dan mungkin juga diusulkan ortu2 lain) akan direalisasi. Syukur deh:D

Ciri-Ciri Ramadhan yang Gagal

Oleh-oleh dari majelis taklim kemarin…

Intinya, bulan Ramadhan adalah bulan latihan untuk memperbaiki diri, untuk menjadi orang yang bertakwa. Nah, setelah sebulan melewati masa latihan, kita termasuk orang yang berhasil atau gagal ya? Inilah indikator kegagalan melewati Ramadhan .. kata bu Ustadzah Tintin..:

  1. Ingat lagi, sebelum datang Ramadhan, apa kita termasuk org yg menyiapkan diri secara maksimal menyambutnya? Misalnya dgn membaca2 buku ttg Ramadhan, berdoa, dll. Kalau ternyata kita cuek2 aja menyambut Ramadhan… ya..kayaknya siiih…

  1. Masih suka mengulur-ulur waktu sholat. Azan berbunyi dan kita bilang “Ntar lagi deh.” (padahal selama Ramadhan, kita cenderung suka tept waktu sholat kan?)

  1. Malas melakukan ibadah sunnah (padahal selama Ramadhan, rajin kan?)

  1. Kikir dan rakus pada harta (padahal selama Ramadhan, rajin sedekah kan?)

  1. malas baca Quran (padahal selama Ramadhan, rajin tadarus kan?)

  1. Mudah mengumbar amarah (padahal selama Ramadhan, kita selalu bilang “sabar..sabar.. lagi puasa nih..!)

  1. Gemar melewati waktu dengan sia2 (ngobrol gak jelas, browsing gak jelas *hwaaaa…!*, nonton tipi gak jelas… padahal selama Ramadhan biasanya kita terdorong memaksimalkan waktu utk ibadah)

  1. Memutuskan tali silaturahmi (padahal selama Ramadhan, sudah bermaaf-maafan, kok sekarang berantem lagi?)

  1. Labil dalam menjalani hidup (tetap dikejar2 rasa gelisah, risau, cemas, oleh masalah2 materi dan duniawi)

  1. tidak bersemangat menyebarkan kebaikan di tengah masyarakat

  1. tidak jujur, berkhianat pada amanat, berdusta

  1. tidak mencintai kaum dhuafa (padahal selama Ramadhan, rajin baksos kan?)

  1. salah dalam memaknai akhir Ramadhan (hayo, ingat lagi, di akhir Ramadhan kita sibuk itikaf atau sibuk bikin kue dan shopping…?)

  1. menganggap Idul Fitri sebagai kebebasan untuk melakukan apa saja yang dulu dilarang selama Ramadhan (misalnya, selama
    Ramadhan dilarang marah2, skrg marah2 terus..)

  1. Tidak berusaha meningkatkan keharmonisan rumah tangga (selama Ramadhan kan kita sudah membersihkan jiwa, menghilangkan dendam, dll.. jadi harusnya setelah Ramadhan suami-istri memuali lembaran baru, jangan lagi mengungkit-ungkit kesalahan lama….)

Bagaimana? Berhasilkah Ramadhan Anda?

Hwaaaa… hwaaaa… *nangis histeris di pojok kamar*

Dua Perempuan yang Mengagumkan

Kemarin, saya bersilaturahmi ke rumah dosen saya waktu saya masih kuliah di Unpad, dulu. Beliau kini sudah bergelar doktor dan jabatan strukturalnya juga udah tinggi. Kiprahnya sudah bertaraf internasional. Namanya Bu T.

Bu T tetaplah menjadi Bu T saya yang dulu. Ramah, rendah hati, penuh dedikasi. Meski sudah jadi orang gedean, beliau tetap mau membimbing skripsi S1 (saya tahu karena di mejanya ada draft skripsi anak S1). Beliau masih tetap mau memberikan bimbingan khusus untuk mahasiswa/i yang berambisi menyelesaikan studi secara cepat. Maksud saya, kalau ada mahasiswa yang pintar dan punya potensi menjadi lulusan tercepat, Bu T akan ngebut dalam mengoreksi skripsi/tesis/disertasi. Bahkan kalau perlu, si mahasiswi diminta menginap di rumahnya dan dia akan mengoreksi tesis itu sambil tidur-tiduran di kamarnya bersama si mahasiswi (kalau mahasiswa, tentu tak mendapat pelayanan seperti ini:D).

Kemarin, di rumahnya (tepatnya, di kamar tidurnya yang luas dan merangkap ruang kerja), Bu T sedang membimbing disertasi seorang ibu tua, namanya Bu M. Tubuhnya sudah ringkih dan mulai membungkuk. Kalau berbicara, suaranya juga sudah agak bergetar, khas nenek-nenek. Usianya..ayo tebak..? 82 tahun! Bu T membimbing dengan amat perlahan, berulang-ulang, sejelas mungkin, supaya bisa dipahami oleh Bu M. Nada suaranya benar-benar seperti anak yang sedang menjelaskan sesuatu pada ibunya, penuh kasih sayang.

Saya hampir menangis menyaksikan semangat Bu M. Dia tinggal jauh di Indonesia bagian timur. Untuk bimbingan disertasi, dia harus menempuh perjalanan panjang. Hari ini, dia akan datang lagi ke rumah Bu T dan siangnya langsung ke Jakarta dan besok kembali ke kota asalnya dengan pesawat (itu pun harus dua kali pesawat). Kami sempat mengobrol. Percakapan kami diisi oleh visi dan cita2 Bu M untuk tanah kelahirannya. Subhanallah, setua itu, dia masih sharp. Bayangkan, ibu setua itu berbicara ttg pemekaran wilayah, otonomi daerah, pembangunan, SDM daerah….!

Ada hadis Nabi yang mengatakan bahwa silaturahmi akan menambah rezeki. Benar saja, silaturahmi kemarin memberi rezeki besar kepada saya. Di saat saya sedang down dan tak lagi bersemangat menggenggam mimpi, saya dipertemukan Allah dengan dua perempuan luar biasa itu. Saya mengambil kesimpulan, menjalani hidup memang jangan ngoyo*. Tapi juga jangan pasif dan patah semangat.

“Bermimpilah dan Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”

(kata-kata dari tokoh Arai dalam Sang Pemimpi)

*ngoyo: ngotot, keukeuh, berambisi terlalu besar (ada tambahan?)

Harta yang Paling Berharga

Selalu.

Dia mengetik paper-papernya, atau pekerjaannya, di ruang tengah. Dia tak pernah mengunci diri di kamar untuk menjauh dari ‘gangguan’ keluarganya. Dia mengetik sambil diselingi oleh celotehan dan permintaan tolong ini-itu dari istri dan anak-anaknya.

Ketika dilihatnya istrinya sedang sibuk mengepel, lalu si anak berkata, “Ma.. lapar!”, dia akan dengan sigap berdiri, meninggalkan komputernya, dan mengambilkan makan untuk anaknya. Dia juga meninggalkan komputernya saat si anak batita-nya menangis karena jatuh, lalu menggendongnya sampai tenang.

Dia tak pernah menuntut dilayani. Dia menyetrika bajunya sendiri, bila istrinya tak sempat menyetrika. Bila dilihatnya baju-baju atau piring kotor menumpuk, bila dia memang ada waktu, dia akan segera memasukkan baju kotor ke mesin cuci dan mencuci piring. Malam hari, jika anak batita-nya terbangun meminta minum, dialah yang akan bangun mengambil minum dan membiarkan istrinya tetap terlelap.

Siapa dia? Dialah suami saya.

*

Beberapa hari lalu.

“Mama, ini hadiah buat Mama!” kata Kirana, putri saya (7 thn), sambil menyodorkan sebuah amplop berwarna merah yang dibuatnya sendiri. Di amplop itu bertuliskan “Kupon Pijat- Kupon cuci Piring dar iKirana buat Mama”

Jadi, setiap hari saya boleh mengambil kupon (yang ada di dalam amplop) dua kali. Kalau saya dapat kupon pijat, artinya, Kirana akan memijat punggung saya. Kalau saya dapat kupon cuci piring, Kirana akan menggantikan saya cuci piring.

Saya menciumnya dengan penuh rasa bersalah. Dia begitu baik hati, pemaaf, dan perasa. Tapi mengapa saya sering tak sabar padanya? Mengapa dengan mudah saya meninggikan suara bila dia melakukan sesuatu yang tak saya sukai? Mengapa saya berharap dia berpikir dan bertindak seperti orang dewasa, padahal usianya toh baru 7 tahun? Mengapa saya tidak belajar kesabaran dan kepemaafan darinya?

*

Semalam.

Rematik saya kumat. Agaknya, ini akibat dulu waktu di Iran, pernah selama 6 bulan saya sering cuci piring dengan air dingin. (Selama 6 bulan itu saya ngontrak di apartemen yg sirkulasi air panasnya ngaco..lama.. banget baru nyampe ke tempat kami, karena ga sabar, ya saya nyuci piring aja pake air sedingin air kulkas itu. Untung setelah itu kami pindah ke rumah dinas.) Ternyata akibatnya sekarang, kalo kena dingin sedikit, persendian tangan terasa ngilu.

Nah, semalam, ketika saya mengerang sakit, dia menatap saya dengan penuh kasih.

“Kenapa?” katanya.

“Tangan sakit,” jawab saya.

“Dipijit ya?” katanya.

Saya mengangguk, meski tahu, pijatan tak ada gunanya. Dia memijit dengan lembut.

“Sudah?” tanyanya.

“Iya, Sayang, sudah. Enak sekali. Terimakasih ya?” kata saya.

Dia tersenyum, manis sekali, lalu mendaratkan kecupan di pipi saya.

Siapakah dia? Anak saya, Reza… Usianya baru 2,5 tahun.

Saya memeluknya dengan sepenuh hati, dengan rasa bersalah. Mengapa saya harus jengkel karena dia selalu menuntut perhatian dari saya? Dia akan menangis dan marah bila saya duduk di depan laptop. Dan itu membuat saya kesal. Tapi itu sesungguhnya wajar kan? Adalah haknya untuk mendapatkan perhatian penuh dari ibunya. Ya kan?

*

Mereka adalah ketiga harta paling berharga yang saya miliki. Seharusnya, buat saya, nothing else matters. Seharusnya, tak perlu ada lagi resah di hati saya. Biarkan hidup berjalan dengan semestinya, ada tanjakan, ada lubang. Ada naik, ada turun. Ada suka, ada duka. Nggak usah ngoyo mengejar sesuatu yang belum tentu baik. Toh, apa yang baik di mata kita belum tentu baik dlm pandangan Allah. Ya kan?

“Maka.. nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?”

(QS Ar-Rohman)

Photo by: Ima