Harta yang Paling Berharga

Selalu.

Dia mengetik paper-papernya, atau pekerjaannya, di ruang tengah. Dia tak pernah mengunci diri di kamar untuk menjauh dari ‘gangguan’ keluarganya. Dia mengetik sambil diselingi oleh celotehan dan permintaan tolong ini-itu dari istri dan anak-anaknya.

Ketika dilihatnya istrinya sedang sibuk mengepel, lalu si anak berkata, “Ma.. lapar!”, dia akan dengan sigap berdiri, meninggalkan komputernya, dan mengambilkan makan untuk anaknya. Dia juga meninggalkan komputernya saat si anak batita-nya menangis karena jatuh, lalu menggendongnya sampai tenang.

Dia tak pernah menuntut dilayani. Dia menyetrika bajunya sendiri, bila istrinya tak sempat menyetrika. Bila dilihatnya baju-baju atau piring kotor menumpuk, bila dia memang ada waktu, dia akan segera memasukkan baju kotor ke mesin cuci dan mencuci piring. Malam hari, jika anak batita-nya terbangun meminta minum, dialah yang akan bangun mengambil minum dan membiarkan istrinya tetap terlelap.

Siapa dia? Dialah suami saya.

*

Beberapa hari lalu.

“Mama, ini hadiah buat Mama!” kata Kirana, putri saya (7 thn), sambil menyodorkan sebuah amplop berwarna merah yang dibuatnya sendiri. Di amplop itu bertuliskan “Kupon Pijat- Kupon cuci Piring dar iKirana buat Mama”

Jadi, setiap hari saya boleh mengambil kupon (yang ada di dalam amplop) dua kali. Kalau saya dapat kupon pijat, artinya, Kirana akan memijat punggung saya. Kalau saya dapat kupon cuci piring, Kirana akan menggantikan saya cuci piring.

Saya menciumnya dengan penuh rasa bersalah. Dia begitu baik hati, pemaaf, dan perasa. Tapi mengapa saya sering tak sabar padanya? Mengapa dengan mudah saya meninggikan suara bila dia melakukan sesuatu yang tak saya sukai? Mengapa saya berharap dia berpikir dan bertindak seperti orang dewasa, padahal usianya toh baru 7 tahun? Mengapa saya tidak belajar kesabaran dan kepemaafan darinya?

*

Semalam.

Rematik saya kumat. Agaknya, ini akibat dulu waktu di Iran, pernah selama 6 bulan saya sering cuci piring dengan air dingin. (Selama 6 bulan itu saya ngontrak di apartemen yg sirkulasi air panasnya ngaco..lama.. banget baru nyampe ke tempat kami, karena ga sabar, ya saya nyuci piring aja pake air sedingin air kulkas itu. Untung setelah itu kami pindah ke rumah dinas.) Ternyata akibatnya sekarang, kalo kena dingin sedikit, persendian tangan terasa ngilu.

Nah, semalam, ketika saya mengerang sakit, dia menatap saya dengan penuh kasih.

“Kenapa?” katanya.

“Tangan sakit,” jawab saya.

“Dipijit ya?” katanya.

Saya mengangguk, meski tahu, pijatan tak ada gunanya. Dia memijit dengan lembut.

“Sudah?” tanyanya.

“Iya, Sayang, sudah. Enak sekali. Terimakasih ya?” kata saya.

Dia tersenyum, manis sekali, lalu mendaratkan kecupan di pipi saya.

Siapakah dia? Anak saya, Reza… Usianya baru 2,5 tahun.

Saya memeluknya dengan sepenuh hati, dengan rasa bersalah. Mengapa saya harus jengkel karena dia selalu menuntut perhatian dari saya? Dia akan menangis dan marah bila saya duduk di depan laptop. Dan itu membuat saya kesal. Tapi itu sesungguhnya wajar kan? Adalah haknya untuk mendapatkan perhatian penuh dari ibunya. Ya kan?

*

Mereka adalah ketiga harta paling berharga yang saya miliki. Seharusnya, buat saya, nothing else matters. Seharusnya, tak perlu ada lagi resah di hati saya. Biarkan hidup berjalan dengan semestinya, ada tanjakan, ada lubang. Ada naik, ada turun. Ada suka, ada duka. Nggak usah ngoyo mengejar sesuatu yang belum tentu baik. Toh, apa yang baik di mata kita belum tentu baik dlm pandangan Allah. Ya kan?

“Maka.. nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?”

(QS Ar-Rohman)

Photo by: Ima

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s