Dua Perempuan yang Mengagumkan

Kemarin, saya bersilaturahmi ke rumah dosen saya waktu saya masih kuliah di Unpad, dulu. Beliau kini sudah bergelar doktor dan jabatan strukturalnya juga udah tinggi. Kiprahnya sudah bertaraf internasional. Namanya Bu T.

Bu T tetaplah menjadi Bu T saya yang dulu. Ramah, rendah hati, penuh dedikasi. Meski sudah jadi orang gedean, beliau tetap mau membimbing skripsi S1 (saya tahu karena di mejanya ada draft skripsi anak S1). Beliau masih tetap mau memberikan bimbingan khusus untuk mahasiswa/i yang berambisi menyelesaikan studi secara cepat. Maksud saya, kalau ada mahasiswa yang pintar dan punya potensi menjadi lulusan tercepat, Bu T akan ngebut dalam mengoreksi skripsi/tesis/disertasi. Bahkan kalau perlu, si mahasiswi diminta menginap di rumahnya dan dia akan mengoreksi tesis itu sambil tidur-tiduran di kamarnya bersama si mahasiswi (kalau mahasiswa, tentu tak mendapat pelayanan seperti ini:D).

Kemarin, di rumahnya (tepatnya, di kamar tidurnya yang luas dan merangkap ruang kerja), Bu T sedang membimbing disertasi seorang ibu tua, namanya Bu M. Tubuhnya sudah ringkih dan mulai membungkuk. Kalau berbicara, suaranya juga sudah agak bergetar, khas nenek-nenek. Usianya..ayo tebak..? 82 tahun! Bu T membimbing dengan amat perlahan, berulang-ulang, sejelas mungkin, supaya bisa dipahami oleh Bu M. Nada suaranya benar-benar seperti anak yang sedang menjelaskan sesuatu pada ibunya, penuh kasih sayang.

Saya hampir menangis menyaksikan semangat Bu M. Dia tinggal jauh di Indonesia bagian timur. Untuk bimbingan disertasi, dia harus menempuh perjalanan panjang. Hari ini, dia akan datang lagi ke rumah Bu T dan siangnya langsung ke Jakarta dan besok kembali ke kota asalnya dengan pesawat (itu pun harus dua kali pesawat). Kami sempat mengobrol. Percakapan kami diisi oleh visi dan cita2 Bu M untuk tanah kelahirannya. Subhanallah, setua itu, dia masih sharp. Bayangkan, ibu setua itu berbicara ttg pemekaran wilayah, otonomi daerah, pembangunan, SDM daerah….!

Ada hadis Nabi yang mengatakan bahwa silaturahmi akan menambah rezeki. Benar saja, silaturahmi kemarin memberi rezeki besar kepada saya. Di saat saya sedang down dan tak lagi bersemangat menggenggam mimpi, saya dipertemukan Allah dengan dua perempuan luar biasa itu. Saya mengambil kesimpulan, menjalani hidup memang jangan ngoyo*. Tapi juga jangan pasif dan patah semangat.

“Bermimpilah dan Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”

(kata-kata dari tokoh Arai dalam Sang Pemimpi)

*ngoyo: ngotot, keukeuh, berambisi terlalu besar (ada tambahan?)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s