Sekolah Anakku

Sejak awal, setelah browsing sana-sini, saya memang berprinsip, sekolah anak harus dekat rumah. Kalau terpaksa, ya masuk SD negeri saja (bukan meremehkan SD negeri ya.. saya juga produk SD negeri. Tapi sebagus-bagusnya, tetap saja, satu kelas 40 anak? Wow… trus.. yah ada banyak alasan lah, mengapa saya menjadikan SD negeri sebagai urutan terakhir dalam memilih sekolah anak), yang penting dekat dari rumah.

Alhamdulillah, pas kami pulang, dibuka pula sebuah SD Islam yang relatif dekat dari rumah. Kirana angkatan pertama, dengan jumlah murid 11 orang saja. Tahun kedua, jumlah murid meningkat pesat (SD ini memang punya jaringan, jadi sudah punya nama, gitulah). Sekarang teman Kirana sekelas ada 28 anak dengan hanya satu guru. Ow.. saya mulai kecewa. Kok jadi banyak gitu sih, muridnya? Kan idealnya satu guru membimbing 20 anak saja?

Seiring waktu, semakin banyak yang membuat saya kecewa. Misalnya cara mengajar yg konvensional banget, murid duduk di kursi, guru di depan kelas. Harusnya kan, sebagai sebuah SD khusus (dgn bayaran jauh lebih mahal dari SD negeri), ada fasilitas penunjang proses belajar. Misalnya belajar bahasa Inggris, harusnya kan pakai lab bahasa atau minimalnya, dengan menonton film/VCD khusus belajar bahasa Inggris untuk anak. Belum lagi masalah perhatian pada hal-hal ektra, misalnya menulis, menggambar, olahraga. Harusnya kan… ya sudahlah… pokoknya gak puas aja!

Mungkin sebenarnya saya bisa memperbaiki keadaan dengan aktif di POSG (Persatuan Orangtua Siswa dan Guru). Tapi, saya juga bukan tipe orang yang mau terjun untuk mengurusi hal-hal seperti ini. Saya menghibur diri, “Toh sekolah hanya ‘membantu’ proses belajar. Belajar yang utama adalah di rumah. Segini juga masih lebih mending daripada SD biasa…” Saya pun berusaha mengatasi masalah ini sendiri di rumah. Jadi, saya mendorong Kirana aktif menggambar, membuat kerajinan tangan, menulis, berenang, dll. Apa yang kurang di sekolah, saya berusaha memenuhinya di rumah.

Tapi, ketidakpuasan itu tetap saja ada. Pernah ada niatan memindahkan Kirana ke sekolah lain. Tapi Kirana menolak. Alasannya, dia sudah terlanjur sayang sama bu guru. Saya juga melihat, Kirana dan teman-temannya manja sekali sama guru2nya (ngelendot, bikin surat cinta buat guru, dll).

Sampai hari ini…

Kirana pulang sekolah dengan mata sembab. Tak lama kemudian, tangisnya meledak. Saya kaget, sudah mikir yang tidak-tidak. Ternyata… dia menangisi gurunya yang mau cuti melahirkan selama 3 bulan. Kata Kirana, hampir semua anak di kelas tadi juga menangis karena akan berpisah dengan bu guru (yang nggak nangis 4 anak). Bahkan ada satu anak laki-laki yang paling susah diatur di kelas, dia juga nangis sampai mejanya basah. Kata Kirana, “Kirana tadi sudah berhenti nangis, tapi pas salaman sama bu guru, Kirana nangis lagi. Lalu dipeluk sama bu guru.”

Saya benar-benar bengong mendengar cerita Kirana. Seingat saya, selama sekolah (duluuu…) tak pernah ada kejadian begini. Guru mau datang atau pergi ya cuek saja. Bahkan guru tak datang anak-anak malah seneng. Tapi ini? Cuma cuti 3 bulan aja, ditangisi sedahsyat itu.

Rasa tidak puas di hati saya menjadi lumer. Yah, mungkin saja sekolah anak saya tak (belum) punya banyak fasilitas. Tak (belum) punya guru khusus yang mengajari anak-anak menggambar, menari, bermusik, atau berbagai hal lain yang menurut saya penting. Namanya juga sekolah baru. Tapi, sekolah itu ternyata punya guru yang berdedikasi dan mampu membuat anak-anak mencintai mereka… Sungguh, hal ini jauh lebih berharga!

Note:

Btw, tadi saya ngobrol2 dengan seorang ibu teman Kirana, kesimpulannya:

Kami akan mengusulkan agar para ibu bergantian menjadi asisten guru di sekolah, satu guru utk 28 anak benar2 tidak cukup!

Kami akan mengusulkan dibentuk klub penulis cilik. Menunggu inisiatif sekolah untuk membentuk ini-itu agaknya sulit karena mereka masih disibukkan oleh banyak hal lain yang lebih urgen, jadi ibu-ibu yang merasa punya ide dan kemampuan untuk melaksanakan ide itu harus terjun langsung.

UPDATE:

tadi ada pengumuman dari sekolah, mulai bulan depan akan dibentuk klub sains, olahraga, dan majalah dinding (anak2 disuruh milih salah satu). Wow, rupanya usulan yg pernah saya sampaikan bbrp waktu lalu ke bu guru (dan mungkin juga diusulkan ortu2 lain) akan direalisasi. Syukur deh:D

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s