Cara Mendidik Anak Supaya Tangguh

Mendidik Anak Tangguh (Oleh2 dari Seminar)

Memenuhi janji… berikut ini catatan saya dari seminar ini.

Pembicara pertama, Dra. Yuli Suliswidiawati M. Psi, menceritakan berbagai contoh kasus dampak negatif pada anak yang timbul akibat konflik ortu, baik itu konflik terbuka atau tertutup (ada ortu yg tidak terang2an berantem di depan anak, berusaha menyembunyikannya, namun si anak tetap tahu dan akhirnya depresi). Duh, contoh2 kasus yg diceritakan bu Yuli benar2 membuat saya merinding… serem banget… naudzu billah mindzalik.

Nah, Bu Yuli mengatakan, umumnya, suami-istri yg datang utk berkonsultasi dgnnya adalah karena ada masalah pada anaknya (misalnya, anaknya jadi nakal dan acuh tak acuh pada ortu), kemudian, setelah ditelusuri, biasanya terbukti bhw sumbernya adalah konflik ortu. Karena itu, terapi yg hrs dilakukan adalah terapi keluarga. Suami-istri hrs bisa menyelesaikan dulu konfliknya (atau minimalnya, mampu menghadapi permasalah yg ada dgn cara yg bijak dan mampu menjelaskan kondisinya pada anak)..baru kemudian anak yg diterapi.

Berikut tips2 yang diberikan Bu Yuli utk suami-istri bermasalah:

  1. Hindari konflik terbuka (bertengkar di depan anak)
  2. Kembangkan kemampuan manajemen emosi (kesadaran, penerimaan, pemaafan), tdk melakukan pelampiasan emosi yg reaktif
  3. Kembangkan komunikasi yg efektif
  4. Koreksi niat berkeluarga (upayakan selalu ingat tujuan hidupàridho Allahàibadah)

Bila konflik sudah terlanjur terbuka, dan anak tahu bhw orangtua mereka bermasalah, maka, langkah yg hrs dilakukan adalah; komunikasikan kepada anak sebuah alasan yg dapat menenangkan dan dapat dipahami anak; serta jelaskan pada anak bahwa apapun yg terjadi antara ortu, tdk akan mempengaruhi tugas-tanggung jawab ortu pada anak.

Bila dampak neagatif sdh terlanjur terjadi pada anak: berkonsultasilah dg psikolog.

***

Pembicara kedua, Dr. Jalaluddin Rahkmat, menariknya, membahas tema yg sebaliknya: “bagaimana supaya anak bisa tetap bahagia di tengah konflik’? Kenapa saya bilang menarik, karena, sudut pandang yg dibawa Kang Jalal sangat baru buat saya. Kalau “apa dampak negatif anak yg hidup di tengah konflik” kayaknya kita semua udah tau ya… Tapi ternyata ada aliran dalam ilmu psikologi yg membahas mengapa ada org2 yg tetap berhasil meski didera konflik berkepanjangan. Namanya: psikologi positif. Misalnya… mengapa ada org macam Barack Obama, yg masa lalunya penuh ‘penderitaan’ (ditinggal mati ayah..kemudian punya ayah tiri..kemudian ibunya meninggal..kemudian mengalami diskriminasi ras di AS), ternyata mampu bertahan dan jadi presiden. Atau..contoh paling mulia adalah..betapa Nabi Muhammad berhasil bertahan di tengah semua kesulitan yg mendera di masa kecil (ayah meninggal..lalu ibu meninggal..lalu kakek meninggal..lalu harus jadi penggembala..dst).

Ciri anak tangguh (resilient children):

  1. Tetap bahagia saat menghadapi musibah/konflik
  2. mampu menyesuaikan diri dalam menghadapi musibah/konflik
  3. mampu melindungi diri dari akibat2 buruk yg ditimbulkan oleh musibah/konflik
  4. mampu menghadapi stress
  5. cepat sembuh dari peristiwa traumatik

Anak tangguh akan mampu berkata…

  1. I have people I trust and love
  2. I am a lovable person
  3. I can find ways to solve problem

Nah… cara mendidik anak supaya tangguh dalam menghadapi berbagai persoalan hidup adalah:

  1. Berikan lingkungan yang protektif, minimalnya ada satu orang yg bisa menjadi sandaran anak (sehingga anak bisa berkata : I have people I trust and love)…

Pesan: so kalau istri marah pada suami, jgn lampiaskan ke anak… beri pengertian ke anak bhw pertengkaran ortu tidak mengurangi kasih sayang ortu ke anak

  1. Bantu anak untuk punya pergaulan yang baik (shg kalaupun anak curhat pada org lain, dia akan curhat pada org2 yg baik)
  2. Bantu anak untuk mengenal dan mengeksplorasi bakatnya
  3. Didik anak untuk tidak menyerah
  4. Ceritakan pada mereka kisah2 org besar yg sukses, meski mereka menjalani masa kecil yg berat, misalnya.. Rasulullah SAW (atau Obama, Rousseau, dll)

Oya, ada contoh lain yg menarik yg diceritakan kang Jalal: seorang murid SMU Muthahhari tak lulus ujian, lalu dia berkata pada ayahnya, ”Ayah, saya tak lulus ujian. Saya minta maaf… Ini kesalahan saya dan saya berjanji akan lulus dalam ujian tahun depan…”

Mendengar kata2 anaknya, si ayah alih-alih marah, malah merasa bangga dan berkata, “Kamu memang tak lulus ujian, tapi kamu lulus dalam ujian kehidupan.”


Nah.. kemampuan anak ketika menyikapi kegagalanya itulah salah satu contoh anak yg tangguh… dia tidak tenggelam dalm kefrustasian dan penyesalan berkepanjangan, melainkan langsung bangkit dan berusaha untuk menebus kegagalan itu.

Menanamkan Konsep Kesetaraan Gender Pada Anak

qiqiqiq…

jangan terjebak pada judul yang berat ini:D

Ceritanya… suatu hari…

Kirana: Mama, kepala sekolah itu apa?

Mama: *&^(**$#@(*&%*&^(**$#@(*&%…….

[baca: bunda sedang menjelaskan apa itu kepsek]

Kirana: Mengapa harus ada ada kepala sekolah?

Mama: *&^(**$#@(*&%*&^(**$#@(*&%…….

[baca: bunda sedang menjelaskan mengapa hrs ada kepsek]

Kirana: Mengapa Ibu TN yg jadi kepala sekolah di sekolahku?

Mama: *&^(**$#@(*&%*&^(**$#@(*&%…….

[baca: bunda sedang menjelaskan mengapa Bu TN terpilih jadi kepsek, antara lain krn lebih pintar manajemen]

Kirana: Aneh ya, kok kepala sekolah perempuan?

Mama: Loh, emangnya aneh kalau kepala sekolah perempuan? *tersinggung*

Kirana: ya iyalah…. di semua buku-buku cerita dan buku-buku pelajaranku, tokoh kepala sekolahnya pasti laki-laki!

Mama: *&^(**$#@(*&%*&^(**$#@(*&%………

[baca: bunda sedang menjelaskan konsep kesetaraan gender pada ananda]

updated:

Atas permintaan bbrp temen, ini saya tuliskan apa yg saya bilang sama Kirana…..:

Mama: Yang jadi kepsek itu harus yang lebih pintar. Sekarang, di kelasmu, siapa yang paling pintar? Anak perempuan atau laki2?

Kirana: perempuan (ranking 1 di kelas Rana adalah Ilma, anak prp; Rana ranking 2)

Mama: tuh kan, berarti perempuan juga bisa jadi kepsek. Laki-laki dan perempuan sama-sama boleh jadi kepsek, yang penting dia harus lebih pintar daripada yg lain.

Kirana: oo gitu.. *tersenyum*

Mungkin ada yg mengkritik jawaban saya itu..misalnya..kan pintar blm tentu mampu memimpin? Tapi, kan teorinya, bicara sama anak mah jangan rumit2. Jadi ya… saya sederhanakan saja. Anyway, kalau ada yg mau sumbang ide, diterima dg senang hati:)

Arti Nama Kirana

Hari ini ada seorang mp-er yang nanya ke saya, apa arti nama “Kirana”

Sebenarnya sih, udah pernah cerita di sini… Tapi ada tambahan cerita baru…

Jadi gini, waktu Kirana lahir, teman2 kami sesama mahasiswa Indonesia di Iran tuh, umumnya suka menggunakan nama2 Arab untuk anak-anak mereka; baik itu mahasiswa Indonesia pribumi atau mhsw Indonesia yg turunan Arab (jamaah).

Masalahnya, kami (saya dan si Akang) dulu itu memang hobi tampil beda, hihihi.. (skrg mah nggak lah) Jadi, kami pun, tampil beda dengan menggunakan nama asli Indonesia untuk anak kami. Kalau teman2 buka kamus bhs Indonesia terbitan Balai Pustaka, akan nemu kata ‘kirana’ di hlm 571.

Kirana: sinar, molek, cantik, elok

Nah, masih ingin tampil beda… saat teman2 kami memakai panggilan “Abah-Ummah”, kami memilih panggilan “Mama-Papa”, qiqiqiq… Beberapa waktu kemudian, saya rada nyesel, kenapa yah dulu itu tidak pilih sapaan yg jauh lebih meng-Indonesia: ayah-bunda. Reza sekarang kadang2 panggil saya Bunda, tapi Rana tetap ngotot panggil Mama (kadang Mommy, kadang Mamani-bhs Farsi..tergantung mood dia deh).

Setelah Kirana, banyak tuh temen2 yang akhirnya pake nama2 non-Arab: Carissa… Maharani… trus apalagi ya..ada lah, tapi saya lupa.. *melirik Afifah di Teheran*

Oya, biasanya, di antara kami waktu itu, nama anak-anak yg memang turunan Arab, pasti pakai family name (Alhabsyi, Alkaff, Shahab..dll). Nama anak2 pribumi ya nama aja… tanpa family name. Nah, saya dan si Akang, tampil beda juga dengan menambah nama “Sulaeman”: Kirana Mahdiah Sulaeman.

(Sampai diledek bbrp orang…”Sejak kapan “Sulaeman” jadi nama bangsa?! FYI, family name di kalangan org Indonesia turunan Arab kan diistilahkan dengan nama ‘bangsa’)

Waktu Reza lahir, kami bingung mau kasih nama Indonesia asli… udah browsing sana-sini tak ada yg sreg di hati. Walhasil, untuk Reza, namanya pun asli Arab: Muhammad Reza Sulaeman. (Reza berasal dr kata Arab “Ridho”, tapi dilafalkan dlm bhs Farsi)

Tentu saja, saya sama sekali tidak sedang ingin membanding-bandingkan mana yg lebih bagus, nama Arab atau nama asli Indonesia… Nama dalam bhs apapun pasti bagus, asal artinya memang bagus:)

Allah Memberi Anak Sesuai Kemampuan Kita:)

Kadang, kepala saya pusing tiap tiga ponakan saya ke rumah, laki2 semua. Bukan, bukan karena saya tak sayang mereka. Tapi karena mereka sangat aktif, berebutan sesuatu, tubruk-tubrukan, lari-lari, loncat-loncat… Duh.. kalau sudah begitu, saya langsung mengasingkan diri ke kamar…pusiiing…! Ponakan yang satu lagi, juga membuat kepala saya pening. Pasalnya, ibunya mengeluh, anaknya tak mau makan sayur dan ayam yang ‘kelihatan’. Jadi, sayur dan ayam itu harus diolah sedemikian rupa sampai si anak tak tahu kalau ada sayur dan ayam di dalam makanan yg disantapnya. Dia dengan demikian telatennya mencoba berbagai jenis masakan, siapa tau ada yang disukai anaknya. Anyway, saya benar2 kagum pada kesabaran ipar2 saya (ibu dari ponakan2 saya itu).

Bukan saya tak pernah pening melihat kelakuan anak-anak saya sendiri. Kirana hobi cerita dan dia menuntut saya mendengarkan ceritanya selama puluhan menit (cerita tentang kejadian di sekolahnya, detil! Atau, cerita ulang dari buku cerita yang dibacanya, dan itu biasanya nyambung dengan buku yg lain lagi…jadi lamaaaa!).

Reza juga bikin saya pusing karena tak membiarkan saya berlama-lama di depan laptop, atau merebut buku yang saya baca, “Reza juga mau baca!”, atau menutup mulut saya saat saya ngobrol dengan tamu, “Mama gak boleh ngomong!”.

Tapi.. ya itu.. rupanya Allah tau saya tak tahan menghadapi anak yang hiperaktif, sehingga memberi saya anak yang relative tenang, mau duduk berlama-lama menggambar, menulis, atau membaca. Allah juga tau saya tak suka memasak (tapi saya tetep masak, meski tak suka), jadi Allah memberi anak yang tak rewel soal makanan. Termasuk tak rewel dalam memakan makanan itu. Tetangga saya sampai heran, “Bu, saya kok ga pernah lihat ibu nyuapin anak?” Ya iyalah, saya mana tahan mengejar-ngejar anak untuk menyuapinya, apalagi sampai ke pinggir jalan, seperti yang banyak dilakukan ibu2 tetangga. Yang saya lakukan, menaruh makanan di piring dan menyuruh anak-anak saya makan sendiri. Anehnya, Reza sejak usia 1 tahun sudah ngotot mau makan sendiri meski tentu saja belepotan. Tapi, membereskan sisa-sisa makanan yg berantakan bagi saya lebih enteng daripada mengejar-ngejar anak untuk menyuapinya.

Jadi, meski pening lihat kelakuan anak2, tetap bersyukurlah selalu!

*curhat subuh2*

Ternyata Tak Mudah Menjadi Seorang HTR …

Saya dulu pernah cerita di sini, awal mula saya nge-blog, yaitu, karena baca2 blog-nya Mbak Helvy Tiana Rosa (HTR). Saya waktu itu terkagum-kagum sama Mbak Helvy yang waktunya penuh mengisi acara di berbagai kota (dan bahkan negara). Saya sempat ingin seperti Mbak Helvy.. pasti asyik banget ya, diundang ke sana-sini, berkunjung ke berbagai tempat baru (apalagi ke luar negeri!), ketemu banyak orang…

Tak disangka-sangka… setelah pulang ke Indonesia, jalan hidup saya kok jadi sedikiiiit (masih dikit banget loh:D) mirip Mbak Helvy. Karena nulis buku, saya diundang ke beberapa kota untuk bicara. Apa yang terjadi? Suliiit…sekali untuk memenuhi semua undangan itu. Jangankan ke kota yg jauh. Memenuhi undangan bicara di Bandung saja sudah menimbulkan problem besar bagi keluarga. Siapa yang harus menjaga anak-anak? Kalau suami ada di rumah masih untung, dia tipe ayah yang baik dan mau saja menjaga anak di rumah. Tapi, sering, dia juga dikejar2 deadline kerjaannya atau apa lah, yang tak memungkinkan untuk menjaga anak di rumah. Apalagi dulu waktu Reza masih ASI, wah, Reza harus dibawa juga ke acara2 itu dan artinya si Akang yg jadi baby sitter sepanjang acara berlangsung… kasihan banget deh:(

Senin depan saya diundang bicara di HI Unpad. Saya sanggupi dengan rasa deg-degan. Mudah2an si Akang tak ada kerjaan dadakan apapun sehingga bisa di rumah menjaga anak2 (dan kalaupun nanti si Akang mendadak ada kerjaan, saya terpaksa egois, memintanya membatalkan apapun acaranya demi saya..hiks..). Baru-baru ini, adik baru saya, Arif dari Iran Corner UMY, mengajak saya datang ke Yogya. Wah… mau banget! Sebelumnya, ada seorang pimpinan yayasan di Langsa mengajak saya juga datang ke sana, memberi pelatihan. Langsa…? Wow, jadi kayak Mbak HTR dong, berkunjung ke Aceh? Asyiiik…

Tapi… jauh di dalam lubuk hati saya, saya benar-benar ragu. Bisakah saya datang jauh ke Yogya sana? Apalagi Langsa!?

Kemarin saja, saya meninggalkan anak seharian untuk kegiatan di Toga Puri, Reza manyun seharian. Disuruh makan ga mau,diajak main ga mau, diajak bicara diem aja. Bahkan akhirnya, dia menangis terisak-isak (kalo nangis tantrum sih, kita dah kebal :D), sampai si Akang tak tega dan mengajak anak2 untuk jauh-jauh menyusul saya ke Toga Puri (akhirnya malah nyasar sampai ke Sumedang dan ketemu saya lagi di Rancaekek..duh Kang..buang2 bensin ajah!)

Well… ternyata tak mudah untuk menjadi seorang HTR. Padahal, aktivitas saya masih seujung kukunya Mbak Helvy…

————

Buat Arif: tenang Dek, spt kata RM (Rizal Mallarangeng), if there is a will, there is a way.. Siapa tau nanti aja ada keajaiban yg bisa membawaku ke Yogya, hehehe… *sekalian kopdar ama Wiwit dan Shanti*

Cerita Usai Nonton Bareng Film Iran, “Roommate”:)

photo ki-ka: Eva Nukman, Dina, Nadiah, Ary Nilandari

Film ini dibuka dengan adegan2 yg bikin saya senyum2 sendiri karena bernostalgia. Adegan pertama adalah si tokoh perempuan, Mahsa, memasuki gerbang Tehran University, tempat dulu saya sempat mondar-mandir. Lalu, Mahsa menjumpai seorang karyawan universitas, memprotes jebloknya nilai salah satu mata kuliahnya. Si petugas tanpa ekspresi dan tanpa mengatakan sesuatu pun, menunjuk ke kertas di dinding bertuliskan, “Tidak menerima keluhan”. Iran banget! Cuek dan sama sekali tak merasa perlu bermanis-manis melayani orang. Lalu, Mahsa mengejar2 dosennya, memprotes nilainya. Mahsa meminta si dosen memeriksa lagi hasil ujiannya karena dia yakin, nilainya seharusnya bagus. Si dosen menolak dengan alasan dia sudah memeriksa ujian dua kali, jadi sudah cukup teliti. Mahsa memelas dengan mengatakan, akibat ketidaklulusan di mata kuliah itu, masa studinya terpaksa diperpanjang satu semester. Si dosen—lagi-lagi ini Iran banget—berkata, “In musykil-e shuma” (itu sih problem elu!). Masalah birokrasi yg menyebalkan di Tehran University adalah salah satu alasan saya males meneruskan kuliah stlh melahirkan anak (selain masalah2 besar lainnya, antara lain baby blues).

Selanjutnya, karena terpaksa menempuh semester musim panas, Mahsa kerepotan mencari tempat tinggal. Dia harus keluar dari rumah kontrakan yg semula dihuninya bersama dua teman perempuannya. Mau masuk asrama, ditolak, dgn alasan, saat liburan musim panas, asrama tutup (ini rada aneh, setahu saya, asrama di Tehran University tak pernah tutup). Mau ngontrak apartemen, juga susah, selain mahal, umumnya org tak mau menyewakan rumah kepada perempuan single. Teman Mahsa, Hanieh, bercerita bahwa ada sodaranya yg mau ke luar negeri dan dia sedang mencari pasangan suami-istri utk menempati rumahnya selama dia pergi. Mahsa segera mengambil kesempatan ini. Dia pun mencari laki2 yg mau berpura-pura jadi suaminya. Jamshid, mahasiswa kedokteran, bersedia menolongnya. Cerita selanjutnya adalah kehebohan yg muncul akibat Jamshid-Mahsa berpura-pura jadi suami istri.

Oya, ada adegan khas Iran lain yg membuat saya senyum. Saat Mahsa dibuntuti laki2 iseng yg menggodanya, dia langsung membentak, “Gum shu!” (pergi lo!)… Jadi inget, saya dulu pulang kuliah juga pernah dibuntuti laki2 iseng, saat itu saya tak punya nyali utk membentak. Saya malah dgn sopan bilang, “Saya udah punya suami.” Si laki2 langsung ngacir. Well, itulah bedanya perempuan Iran dan Melayu:D

Btw, saya kurang cocok dg ending film ini. Jadi, ayah Mahsa tiba-tiba datang dari kampung dan memergoki kehadiran Jamshid di rumah itu. Lalu… *nonton sendiri yak*. Saya lebih suka kalo endingnya ayah Mahsa ngamuk lalu memaksa keduanya nikah sesegera mungkin 😀

Meski menurut saya film ini tidak masuk deretan master piece-nya sinema komedi Iran (saya berkali-kali nonton film Iran yg jauh lebih lucu dan bikin sakit perut karena tertawa), tapi yg jelas, para penonton Indonesia di bioskop kelihatan terhibur. Suara tawa dan cekikikan geli sangat sering terdengar. Dan poin penting yang saya garis bawahi: film Iran selalu bisa membuktikan bahwa aturan menjaga hijab dan etika Islam sama sekali tidak membuat terhambatnya ekspresi seni. Film komedi ini tetap berhasil melahirkan kelucuan2 meski Mahsa selalu berjilbab (bahkan sekedar bersentuhan tangan laki-laki-prp pun tak ada).

Terimakasih buat Nad yg mengundang saya hadir di launching film ini di Blitz Megaplex Bandung… Terimakasih juga buat Astro Oasis yg menayangkan film ini di Indonesia.

Apalagi, ada kejutan, kita dikasih buah tangan khas Iran berupa kacang peste (pistachio) untuk dibawa pulang. Inilah kacang peste pertama yg dimakan anak saya Reza selama hidupnya (dia kan cuma setahun di Iran, sejak lahir sampai umur setahun, jadi tak pernah mencicipi kacang peste:D). Wow, ternyata Reza demen banget ama kacang peste.

Buat yg pengen nonton film ini, bisa nonton di Blitz Megaplex atau tunggu penayangannya di Astro Oasis thn 2009 🙂

————————

NB:

penerjemahan film ini (Farsi-Indonesia) tidak dilakukan dgn maksimal… sering terjadi salah terjemah.(note: ternyata penerjemahannya melingkar… dari Iran sdh dikaasih subtitle bhs Inggris, di Indonesia diterjemahkan dr Inggris ke Indonesia)

Di antaranya yg saya ingat:

-man tahammuletun nadaram: diterjemahkan “aku tidak bisa memaafkanmu”, harusnya, “aku sudah tak tahan lagi bersamamu”

-mahram diterjemahkan ‘selir’ pdhl harusnya ‘nikah’ (kalimatnya: kalian menikah saja… di film malah ditulis “kamu menjadi selirnya”)

-kalimat “aku butuh bantuan membereskan kursi2” diterjemahkan “berikan kursi kepada yg membutuhkannya”

-majburam diartikan “aku seharusnya”, padahal “aku terpaksa”

-havaset has che kar mikuni diartikan “kamu tahu apa konsekuensinya” harusnya “kamu sadar kan, apa yang kau lakukan?”

*halah ini mah kayaknya mo pamer bisa bhs Farsi yak* :p

Super Sibuk Tapi Bisa Menghafal Al Quran?

Pagi-pagi browsing, alhamdulillah menemukan artikel inspiring… di sini:

Berikut saya copy-paste sebagiannya… (ada izin dari web-nya kok:D)

Al-Qamar, surat ke-54 ayat 17, 22, 32 dan 40.

“Sungguh telah kami mudahkan Al-Qur’an itu untuk diingat, maka apakah ada orang yang mengambil pelajaran?”.

Di sini secara jelas Allah SWT menjamin bahwa belajar dan menghafal Al-Qur’an adalah pekerjaan yang sangat mudah. Ayat ini berulang sampai empat kali, ini adalah sebagai penegasan dari Allah SWT bahwa Al-Qur’an mudah dipelajari, difahami, dihafal bahkan Al-Qur’an mudah diamalkan.

Pertama :

Sebut saja Fatimah (bukan nama sebenarnya), seorang ibu rumah tangga yang tinggal di wilayah Condet Bale Kambang Jakarta Timur ini, yang sejak lama sadar akan mulianya menghafal Al-Qur’an ini, mulai menjalankan aktifitas belajar tahsin tilawah (memperbaiki bacaan Al-Qur’an) di sebuah lembaga Al-Quran (pulang pergi, tidak mondok dan kegiatan belajar dan mengajarnya tidak setiap hari). Saat ini umur sang ibu tidak lebih dari 56 tahun. sejak 5 tahunan lalu beliau mulai mempelajari tahsin tilawah dengan bimbingan seorang guru tahfizh Al-Qur’an, setelah mendapatkan lampu hijau dari sang pembimbing, mulailah dia menghafal Al-Qur’an. Sebagai seorang ibu rumah tangga tentunya ibu Fatimah ini banyak disibuki oleh pekerjaan rumah secara rutin setiap hari. Namun atas izin Allah SWT,setelah lima tahun beliau berjuang untuk menghafalkan Al-Qur’an, akhirnya berhasil menghatamkan hafalan Al-Qur’an seluruhnya, 30 juz.. Tentu ini semua tidak mudah dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki tekad yang kuat dalam mencapai cita-citanya untuk menghafal Al-Quran. Apalagi dengan memiliki 1001 alasan yang telah dikantonginya untuk tidak bisa menyisihkan dan mengkhususkan waktu untuk belajar dan mengafal Al-Qur’an.

Kedua :

Bu Maryam Ramayani, ibu rumah tangga asal Sumatra Barat kini telah tiga tahun lalu telah menyelesaikan hafalan Al-Quran 30 juz.. Beliau mulai menghafal Al-Quran pada umur 33 tahun. Alhamdulillah, dengan bimbingan seorang Ustadz yang hafal Al-Quran 30 juz, ibu dari dua orang anak ini mampu mengikuti jejak para penghafal Al-Quran. Di samping sebagai seorang ibu rumah tangga yang harus mengurusi suami dan kedua anaknya, Senin sampai Jumat beliau juga terlibat aktif dalam perkuliahan di sebuah Sekolah Tinggi Islam di bilangan Mampang Prapatan Jakarta Selatan. Selain aktif dalam kegiatan dakwah, sang ibu saat menghafal Al-Quran juga aktif mengajarkan Al-Quran kepada anak-anak di Komplek DPR RI Kali Bata Jakarta Selatan. Karena dengan mengajarkan Al-Quran sambil menghafal akan terasa lebih mudah dan banyak keberkahan, sehingga atas pertolongan Allah SWT dalam waktu yang cukup singkat sekitar 3,5 tahun untuk ukuran orang sibuk, alhamdulillah Ibu Maryam mampu menyelesaikan hafalan Al-Quran 30 juz.. Salah satu upaya yang telah dijalankan dalam menghafal Al-Quran di sela-sela kesibukannya, beliau menghafalkan dengan bantuan Mushaf Al-Quran terjemahan; karena dengan bantuan terjemahan ini akan memberikan pemahaman akan ayat atau surat yang akan dihafal dan juga lebih mudah untuk selalu diingat.

Ketiga :

Pak DDD 43 tahun, Kebetulan dia tetangga saya di Jatimakmur Pondok Gede Bekasi. Sejak tahun 90an beliau mulai menghafal Al-Qur’an surat-surat pendek kemudian dilanjutkan dengan surat-surat yang agak panjang. Bapak dari 9 anak bekerja sabagai peneliti di LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) kini telah menghafal Al-Qur’an tidak kurang dari 9 juz. Beliau memiliki konsistensi yang baik, komitmen dengan waktu dalam menghafal Al-Qur’an walaupun dengan kesibukannya yang tidak sedikit. Sebagai seorang aktifis dakwah beliau tidak lupa membekali dirinya dengan bekal ilmu agama, diantara dengan menghafal Al-Qur’an. Tidak lepas dari diri beliau sebuah mushaf mini yang selalu ada di saku bajunya, sehingga bila ada waktu luang maka tidak dilewatkan begitu saja melainkan diisinya dengan kegiatan menghafal Al-Qur’an.

Bila dalam perjalanan, seringkali beliau menggunakan walkman untuk selalu mendegarkan murottal Al-Qur’an. Karena dengan banyak mendengarkan murottal Al-Quran, pasti proses menghafal akan terasa lebih mudah. Memang untuk menghafalkan Al-Qur’an ini beliau agak ‘memaksakan’ dirinya, karena kalau tidak mana bisa orang sesibuk beliau yang sedang menyelesaikan program S3nya di Institut Pertanian Bogor (IPB) memiliki hafalan yang tidak sedikit ini mampu sekian banyak juz dalam Al-Quran. Terlebih beliau harus selalu mendidik anak-anaknya yang yang jumlahnya hampir selusin. Anak pertama beliau yang kini telah bergelar sarjana S1 di IPB sejak lama telah menyelesaikan hafalan Al-Quran 30 juz. Anak ke-2, 3, 4 dan ke-5 sudah hafal mulai dari 3 juz sampai 20 juz lebih. Jadi sepertinya bapak yang rambutnya sudah mulai memutih ini ingin sekali anak-anaknya menjadi para penghafal Al-Quran, sehingga tercipta sebuah rumah yang berpenghuni para penghafal Al-Quran, oh alangkah indahnya.

Ayo….ayo..semangat lagiiii!