Cerita Usai Nonton Bareng Film Iran, “Roommate”:)

photo ki-ka: Eva Nukman, Dina, Nadiah, Ary Nilandari

Film ini dibuka dengan adegan2 yg bikin saya senyum2 sendiri karena bernostalgia. Adegan pertama adalah si tokoh perempuan, Mahsa, memasuki gerbang Tehran University, tempat dulu saya sempat mondar-mandir. Lalu, Mahsa menjumpai seorang karyawan universitas, memprotes jebloknya nilai salah satu mata kuliahnya. Si petugas tanpa ekspresi dan tanpa mengatakan sesuatu pun, menunjuk ke kertas di dinding bertuliskan, “Tidak menerima keluhan”. Iran banget! Cuek dan sama sekali tak merasa perlu bermanis-manis melayani orang. Lalu, Mahsa mengejar2 dosennya, memprotes nilainya. Mahsa meminta si dosen memeriksa lagi hasil ujiannya karena dia yakin, nilainya seharusnya bagus. Si dosen menolak dengan alasan dia sudah memeriksa ujian dua kali, jadi sudah cukup teliti. Mahsa memelas dengan mengatakan, akibat ketidaklulusan di mata kuliah itu, masa studinya terpaksa diperpanjang satu semester. Si dosen—lagi-lagi ini Iran banget—berkata, “In musykil-e shuma” (itu sih problem elu!). Masalah birokrasi yg menyebalkan di Tehran University adalah salah satu alasan saya males meneruskan kuliah stlh melahirkan anak (selain masalah2 besar lainnya, antara lain baby blues).

Selanjutnya, karena terpaksa menempuh semester musim panas, Mahsa kerepotan mencari tempat tinggal. Dia harus keluar dari rumah kontrakan yg semula dihuninya bersama dua teman perempuannya. Mau masuk asrama, ditolak, dgn alasan, saat liburan musim panas, asrama tutup (ini rada aneh, setahu saya, asrama di Tehran University tak pernah tutup). Mau ngontrak apartemen, juga susah, selain mahal, umumnya org tak mau menyewakan rumah kepada perempuan single. Teman Mahsa, Hanieh, bercerita bahwa ada sodaranya yg mau ke luar negeri dan dia sedang mencari pasangan suami-istri utk menempati rumahnya selama dia pergi. Mahsa segera mengambil kesempatan ini. Dia pun mencari laki2 yg mau berpura-pura jadi suaminya. Jamshid, mahasiswa kedokteran, bersedia menolongnya. Cerita selanjutnya adalah kehebohan yg muncul akibat Jamshid-Mahsa berpura-pura jadi suami istri.

Oya, ada adegan khas Iran lain yg membuat saya senyum. Saat Mahsa dibuntuti laki2 iseng yg menggodanya, dia langsung membentak, “Gum shu!” (pergi lo!)… Jadi inget, saya dulu pulang kuliah juga pernah dibuntuti laki2 iseng, saat itu saya tak punya nyali utk membentak. Saya malah dgn sopan bilang, “Saya udah punya suami.” Si laki2 langsung ngacir. Well, itulah bedanya perempuan Iran dan Melayu:D

Btw, saya kurang cocok dg ending film ini. Jadi, ayah Mahsa tiba-tiba datang dari kampung dan memergoki kehadiran Jamshid di rumah itu. Lalu… *nonton sendiri yak*. Saya lebih suka kalo endingnya ayah Mahsa ngamuk lalu memaksa keduanya nikah sesegera mungkin 😀

Meski menurut saya film ini tidak masuk deretan master piece-nya sinema komedi Iran (saya berkali-kali nonton film Iran yg jauh lebih lucu dan bikin sakit perut karena tertawa), tapi yg jelas, para penonton Indonesia di bioskop kelihatan terhibur. Suara tawa dan cekikikan geli sangat sering terdengar. Dan poin penting yang saya garis bawahi: film Iran selalu bisa membuktikan bahwa aturan menjaga hijab dan etika Islam sama sekali tidak membuat terhambatnya ekspresi seni. Film komedi ini tetap berhasil melahirkan kelucuan2 meski Mahsa selalu berjilbab (bahkan sekedar bersentuhan tangan laki-laki-prp pun tak ada).

Terimakasih buat Nad yg mengundang saya hadir di launching film ini di Blitz Megaplex Bandung… Terimakasih juga buat Astro Oasis yg menayangkan film ini di Indonesia.

Apalagi, ada kejutan, kita dikasih buah tangan khas Iran berupa kacang peste (pistachio) untuk dibawa pulang. Inilah kacang peste pertama yg dimakan anak saya Reza selama hidupnya (dia kan cuma setahun di Iran, sejak lahir sampai umur setahun, jadi tak pernah mencicipi kacang peste:D). Wow, ternyata Reza demen banget ama kacang peste.

Buat yg pengen nonton film ini, bisa nonton di Blitz Megaplex atau tunggu penayangannya di Astro Oasis thn 2009 🙂

————————

NB:

penerjemahan film ini (Farsi-Indonesia) tidak dilakukan dgn maksimal… sering terjadi salah terjemah.(note: ternyata penerjemahannya melingkar… dari Iran sdh dikaasih subtitle bhs Inggris, di Indonesia diterjemahkan dr Inggris ke Indonesia)

Di antaranya yg saya ingat:

-man tahammuletun nadaram: diterjemahkan “aku tidak bisa memaafkanmu”, harusnya, “aku sudah tak tahan lagi bersamamu”

-mahram diterjemahkan ‘selir’ pdhl harusnya ‘nikah’ (kalimatnya: kalian menikah saja… di film malah ditulis “kamu menjadi selirnya”)

-kalimat “aku butuh bantuan membereskan kursi2” diterjemahkan “berikan kursi kepada yg membutuhkannya”

-majburam diartikan “aku seharusnya”, padahal “aku terpaksa”

-havaset has che kar mikuni diartikan “kamu tahu apa konsekuensinya” harusnya “kamu sadar kan, apa yang kau lakukan?”

*halah ini mah kayaknya mo pamer bisa bhs Farsi yak* :p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s