Allah Memberi Anak Sesuai Kemampuan Kita:)

Kadang, kepala saya pusing tiap tiga ponakan saya ke rumah, laki2 semua. Bukan, bukan karena saya tak sayang mereka. Tapi karena mereka sangat aktif, berebutan sesuatu, tubruk-tubrukan, lari-lari, loncat-loncat… Duh.. kalau sudah begitu, saya langsung mengasingkan diri ke kamar…pusiiing…! Ponakan yang satu lagi, juga membuat kepala saya pening. Pasalnya, ibunya mengeluh, anaknya tak mau makan sayur dan ayam yang ‘kelihatan’. Jadi, sayur dan ayam itu harus diolah sedemikian rupa sampai si anak tak tahu kalau ada sayur dan ayam di dalam makanan yg disantapnya. Dia dengan demikian telatennya mencoba berbagai jenis masakan, siapa tau ada yang disukai anaknya. Anyway, saya benar2 kagum pada kesabaran ipar2 saya (ibu dari ponakan2 saya itu).

Bukan saya tak pernah pening melihat kelakuan anak-anak saya sendiri. Kirana hobi cerita dan dia menuntut saya mendengarkan ceritanya selama puluhan menit (cerita tentang kejadian di sekolahnya, detil! Atau, cerita ulang dari buku cerita yang dibacanya, dan itu biasanya nyambung dengan buku yg lain lagi…jadi lamaaaa!).

Reza juga bikin saya pusing karena tak membiarkan saya berlama-lama di depan laptop, atau merebut buku yang saya baca, “Reza juga mau baca!”, atau menutup mulut saya saat saya ngobrol dengan tamu, “Mama gak boleh ngomong!”.

Tapi.. ya itu.. rupanya Allah tau saya tak tahan menghadapi anak yang hiperaktif, sehingga memberi saya anak yang relative tenang, mau duduk berlama-lama menggambar, menulis, atau membaca. Allah juga tau saya tak suka memasak (tapi saya tetep masak, meski tak suka), jadi Allah memberi anak yang tak rewel soal makanan. Termasuk tak rewel dalam memakan makanan itu. Tetangga saya sampai heran, “Bu, saya kok ga pernah lihat ibu nyuapin anak?” Ya iyalah, saya mana tahan mengejar-ngejar anak untuk menyuapinya, apalagi sampai ke pinggir jalan, seperti yang banyak dilakukan ibu2 tetangga. Yang saya lakukan, menaruh makanan di piring dan menyuruh anak-anak saya makan sendiri. Anehnya, Reza sejak usia 1 tahun sudah ngotot mau makan sendiri meski tentu saja belepotan. Tapi, membereskan sisa-sisa makanan yg berantakan bagi saya lebih enteng daripada mengejar-ngejar anak untuk menyuapinya.

Jadi, meski pening lihat kelakuan anak2, tetap bersyukurlah selalu!

*curhat subuh2*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s