Cara Mendidik Anak Supaya Tangguh

Mendidik Anak Tangguh (Oleh2 dari Seminar)

Memenuhi janji… berikut ini catatan saya dari seminar ini.

Pembicara pertama, Dra. Yuli Suliswidiawati M. Psi, menceritakan berbagai contoh kasus dampak negatif pada anak yang timbul akibat konflik ortu, baik itu konflik terbuka atau tertutup (ada ortu yg tidak terang2an berantem di depan anak, berusaha menyembunyikannya, namun si anak tetap tahu dan akhirnya depresi). Duh, contoh2 kasus yg diceritakan bu Yuli benar2 membuat saya merinding… serem banget… naudzu billah mindzalik.

Nah, Bu Yuli mengatakan, umumnya, suami-istri yg datang utk berkonsultasi dgnnya adalah karena ada masalah pada anaknya (misalnya, anaknya jadi nakal dan acuh tak acuh pada ortu), kemudian, setelah ditelusuri, biasanya terbukti bhw sumbernya adalah konflik ortu. Karena itu, terapi yg hrs dilakukan adalah terapi keluarga. Suami-istri hrs bisa menyelesaikan dulu konfliknya (atau minimalnya, mampu menghadapi permasalah yg ada dgn cara yg bijak dan mampu menjelaskan kondisinya pada anak)..baru kemudian anak yg diterapi.

Berikut tips2 yang diberikan Bu Yuli utk suami-istri bermasalah:

  1. Hindari konflik terbuka (bertengkar di depan anak)
  2. Kembangkan kemampuan manajemen emosi (kesadaran, penerimaan, pemaafan), tdk melakukan pelampiasan emosi yg reaktif
  3. Kembangkan komunikasi yg efektif
  4. Koreksi niat berkeluarga (upayakan selalu ingat tujuan hidupàridho Allahàibadah)

Bila konflik sudah terlanjur terbuka, dan anak tahu bhw orangtua mereka bermasalah, maka, langkah yg hrs dilakukan adalah; komunikasikan kepada anak sebuah alasan yg dapat menenangkan dan dapat dipahami anak; serta jelaskan pada anak bahwa apapun yg terjadi antara ortu, tdk akan mempengaruhi tugas-tanggung jawab ortu pada anak.

Bila dampak neagatif sdh terlanjur terjadi pada anak: berkonsultasilah dg psikolog.

***

Pembicara kedua, Dr. Jalaluddin Rahkmat, menariknya, membahas tema yg sebaliknya: “bagaimana supaya anak bisa tetap bahagia di tengah konflik’? Kenapa saya bilang menarik, karena, sudut pandang yg dibawa Kang Jalal sangat baru buat saya. Kalau “apa dampak negatif anak yg hidup di tengah konflik” kayaknya kita semua udah tau ya… Tapi ternyata ada aliran dalam ilmu psikologi yg membahas mengapa ada org2 yg tetap berhasil meski didera konflik berkepanjangan. Namanya: psikologi positif. Misalnya… mengapa ada org macam Barack Obama, yg masa lalunya penuh ‘penderitaan’ (ditinggal mati ayah..kemudian punya ayah tiri..kemudian ibunya meninggal..kemudian mengalami diskriminasi ras di AS), ternyata mampu bertahan dan jadi presiden. Atau..contoh paling mulia adalah..betapa Nabi Muhammad berhasil bertahan di tengah semua kesulitan yg mendera di masa kecil (ayah meninggal..lalu ibu meninggal..lalu kakek meninggal..lalu harus jadi penggembala..dst).

Ciri anak tangguh (resilient children):

  1. Tetap bahagia saat menghadapi musibah/konflik
  2. mampu menyesuaikan diri dalam menghadapi musibah/konflik
  3. mampu melindungi diri dari akibat2 buruk yg ditimbulkan oleh musibah/konflik
  4. mampu menghadapi stress
  5. cepat sembuh dari peristiwa traumatik

Anak tangguh akan mampu berkata…

  1. I have people I trust and love
  2. I am a lovable person
  3. I can find ways to solve problem

Nah… cara mendidik anak supaya tangguh dalam menghadapi berbagai persoalan hidup adalah:

  1. Berikan lingkungan yang protektif, minimalnya ada satu orang yg bisa menjadi sandaran anak (sehingga anak bisa berkata : I have people I trust and love)…

Pesan: so kalau istri marah pada suami, jgn lampiaskan ke anak… beri pengertian ke anak bhw pertengkaran ortu tidak mengurangi kasih sayang ortu ke anak

  1. Bantu anak untuk punya pergaulan yang baik (shg kalaupun anak curhat pada org lain, dia akan curhat pada org2 yg baik)
  2. Bantu anak untuk mengenal dan mengeksplorasi bakatnya
  3. Didik anak untuk tidak menyerah
  4. Ceritakan pada mereka kisah2 org besar yg sukses, meski mereka menjalani masa kecil yg berat, misalnya.. Rasulullah SAW (atau Obama, Rousseau, dll)

Oya, ada contoh lain yg menarik yg diceritakan kang Jalal: seorang murid SMU Muthahhari tak lulus ujian, lalu dia berkata pada ayahnya, ”Ayah, saya tak lulus ujian. Saya minta maaf… Ini kesalahan saya dan saya berjanji akan lulus dalam ujian tahun depan…”

Mendengar kata2 anaknya, si ayah alih-alih marah, malah merasa bangga dan berkata, “Kamu memang tak lulus ujian, tapi kamu lulus dalam ujian kehidupan.”


Nah.. kemampuan anak ketika menyikapi kegagalanya itulah salah satu contoh anak yg tangguh… dia tidak tenggelam dalm kefrustasian dan penyesalan berkepanjangan, melainkan langsung bangkit dan berusaha untuk menebus kegagalan itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s