Caci Maki

Ada kalanya saya menulis dengan ketus dalam perdebatan di dunia maya, tapi kemudian saya menyesalinya. Biarpun kita berbeda pendapat, tentu tak perlu kita mengucapkan kalimat yang ketus. Tapi masalahnya, bila lawan debat kita enteng sekali memaki dan menghina, tidakkah kita berhak berkata ketus? Saat saya emosi, saya pikir, ya, saya berhak untuk galak dan ketus. Tapi setelah itu, saya menyesal. Sungguh.

Selain di multiply, saya juga punya blog satu lagi, di wordpress. Nah, di sana, karena pertemanan yang terjalin tidak intens, orang-orang sepertinya enteng saja memberi komen yang kasar, bahkan caci-maki. Tentu saja, karena saya moderasi, komen kasar itu tak muncul di blog saya karena langsung saya delete. Masalahnya, orang-orang itu tak pernah cape mengintimidasi saya dengan komen caci-maki.

Tapi, ada hikmahnya juga. Karena saking sering menerima tulisan kasar begitu, saya jadi kebal. Tidak tersinggung dan tidak marah. Dan kayaknya, ada hikmahnya juga: saya terlatih untuk tahan banting. Dalam berbagai kesempatan bedah buku, saya bisa cool meski didebat orang; bahkan bila orang itu professor doctor sekalipun.

Meski demikian, saya memang sering bertanya-tanya sendiri, mengapa ya ada orang yang tega mencaci-maki? Semarah-marahnya seseorang, tentu tak perlu pakai caci-maki. Kalimat ketus sudah cukup untuk menunjukkan betapa marahnya dia.

Saya pun introspeksi diri. Mudah-mudahan, saya bisa mendidik anak-anak saya agar menjadi orang yang bisa menahan mulutnya (atau jarinya saat mengetik) supaya tak mengeluarkan kata-kata yang penuh caci maki. Dan sebaliknya, saat mereka dicaci orang, mereka bisa menahan diri dan tetap cool. Nah, ini ada kaitannya dengan parenting. Anak yang tak terbiasa mendengar celaan dari ortunya, insya Allah tak akan mencela orang lain, apalagi mencaci.

Rasa marah dan keinginan mencela anak (atau mengomel) seringkali muncul karena kesalahan kita dalam menyikapi situasi. Misalnya, anak menumpahkan susunya di karpet. Reaksi kita mungkin, teriak, “Makanya!!! Mama kan sudah bilang, hati-hati! Dasar anak ga bisa diomongin!!!!”

Padahal, coba ditelisik, apakah kita marah karena karpet jadi kotor (kan mencuci karpet itu susah!) atau karena kita sebelumnya sedang sebel pada seseorang yang lain (dan kesebelan itu belum terlampiaskan), atau karena kita memang marah pada anak kita?

Jawabnya sangat jelas, sesungguhnya, di lubuk hati kita, kita sangat sayang pada anak. Bahkan karpet itu hancur lebur sekalipun, kita pasti relakan asal anak selamat dan sehat. Ya kan?

Jadi, poin pertama yang harus kita ingat sebelum mencaci-maki anak adalah: sesungguhnya kita sayang padanya dan kita tak ingin hatinya terluka. Kita hanya marah karena karpetnya kotor (dan itu bisa dicuci kok!), atau kita sebenarnya sedang marah/sebel pada seseorang yang lain (yang tentu saja, sangat salah bila kita lampiaskan kemarahan itu pada anak sendiri).

Jadi, sekali lagi, kalau mau marah: ingatlah selalu bahwa kita menyayangi anak kita dan tak ingin hatinya terluka. Lebih jauh lagi, kita tentu tak ingin mereka mewarisi kesalahan cara marah kita untuk dipraktekkan pada cucu-cucu kita kelak, atau kepada orang-orang lain yang berinteraksi dengan mereka.

Hmm.. ok deh, segini dulu curhat sore ini. Oya, jurnal ini sekaligus oleh-oleh dari pelatihan Komunikasi Pengasuhan Anak, yg saya janjikan dulu 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s