Menulis, Tak Perlu Teori?

Sepekan di Padang, selain melepas rindu pada ortu, saya sempat presentasi di depan guru-guru Bahasa Indonesia se-kodya Padang (tapi yang hadir ya ga semua.. sekitar 15-an orang) di SMK 9. Topiknya, tentang menulis buku. Sebenarnya saya tak pede: di depan guru Bahasa Indonesia, gitu loh… Jangan-jangan nanti malah saya yang dikritik kok tidak menggunakan bahasa sesuai EYD. Tapi, ya sudahlah. Pede tak pede, penampilan harus tetap pede, hehehe..

Saya pun menyusun presentasi yang ternyata (terungkap dalam sesi tanya jawab), membuat sebagian guru itu heran.

Apa pasal?

Begini pertanyaan seorang guru, “Bu, menulis itu kan kita harus tentukan dulu apa temanya, bagaimana outline-nya, dll. Mengapa sedari tadi Bu Dina tak berbicara tentang tema?”

Guru yang lain bertanya, “Dalam kurikulum kan siswa harus dikenalkan pada jenis-jenis tulisan…[saya aja ga hapal nama jenis2 tulisan itu]. Nah, bagaimana men-sinkronkan kurikulum ini dengan apa yang Bu Dina ajarkan tadi? Kalau menurut Bu Dina, menulis itu kan langsung saja menulis, tak perlu ditentukan dulu, mau tulisan jenis ini/itu.”

Saya kaget sendiri. Eh, iya juga ya?! Saya sedari tadi memang sama sekali tak berbicara tentang teori menulis. Saya hanya mengajak hadirin untuk menulis, memberikan contoh-contoh tulisan sederhana yang ternyata bisa jadi buku, tanpa memberikan teori apapun.

Saat saya menulis, saya tidak repot-repot berpikir “Temanya apa ya? Outline-nya bagaimana ya?”

Pokoknya, saat ada ide, ya tulis aja langsung. Tak pusing-pusing mendefinisikan apa temanya dan bagaimana outline-nya. Dalam otak saya, toh sudah tergambar apa tema tulisan dan bagaimana alur berpikir yang harus saya ungkapkan dalam tulisan. Saya ceritakan bahwa saya pernah bertanya pada seorang trainer penulisan senior, “Kalau saya mengisi pelatihan penulisan, mana yang lebih dulu saya lakukan: saya suruh peserta menulis baru mengajarkan teori, atau, mengajar teori dulu, baru menyuruh mereka menulis?” Jawab si Abang satu itu, “Suruh mereka menulis dulu!”

Saya juga ceritakan kepada para hadirin bahwa blogging sangat membantu saya untuk “menulis tanpa teori”. Yang penting: tangkap fenomena menarik di sekitar, cari hikmahnya, lalu tuliskan. Misalnya, Anda menonton TV, ada berita tentang tawuran siswi SMA. Anda kesal kan? Kok pendidikan di negeri ini semakin lama out-putnya semakin kacau saja, mungkin itu yang terlintas di pikiran Anda. Ya sudah, tulis saja. Cari solusinya (berikan opini Anda, apa penyebab peristiwa semacam itu, lalu sebaiknya begini ..atau..sebaiknya begitu..).

Nanti… lama-lama.. kalau sudah mahir mengungkapkan isi hati dan pikiran melalui tulisan, barulah kita belajar teknik. Misalnya, menulis feature itu bagaimana, menulis artikel analisis itu bagaimana, dll. Ini pendapat saya loh.. (meski sampai sekarang saya sendiri tak pernah repot mendefinisikan tulisan saya berjenis apa.. pokoknya saya berusaha agar pembaca bisa menangkap apa yang saya tulis dengan enak dan nyaman; atau kalau sedang menulis artikel ‘berat’, saya berusaha menyampaikan argumen yang masuk akal dan bisa dipercaya oleh pembaca- dengan dalil dan data.).

Walhasil, saya cukup bahagia hadir dalam acara tsb. karena saya melihat para guru itu akhirnya semakin bersemangat menulis (apalagi saat saya sebutkan sederet nama temen-temen MP yang akhirnya jadi penulis buku..ehm..ehm…), dan psssst… ada semangat unik lainnya yang muncul: pengen nge-blog! 😀


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s