Doa Untuk Mama

Semalam, pulang dari sholat berjamaah di masjid (sama Papa), Reza mendekati Mama.

Reza: “Mama, tadi Eja doain Mama… bial Mama syembuh… enggak batuk lagi…

telus..banyak duit… telus bial baik… “

Mama: *bengong*

Kirana: dede.. tadi doain Mama supaya pinter masak gaaaa?

Mama: *bengong lagi*

Papa: *tertawa terbahak-bahak*

Saya gak tau…Kirana menyelipkan doa ‘biar mama pinter masak’ itu dalam rangka apa… Kecewa kah karena Mamanya belum ahli masak? Hwaaa…:(

Akhir-akhir ini, saya memang memutuskan masak sendiri. Dulu-dulu, sering beli aja. Lalu, beralih ke catering. Penyebabnya selain karena saya tak ahli masak, juga saya merasa, waktu yang dialokasikan untuk masak itu seperti mubazir. Hanya untuk satu-dua jenis masakan, bisa berjam-jam habis di dapur. Duh, mendingan ngapain kek, gitu pikir saya.

Setelah saya dikasih tau bahwa nasi kuning langganan kami pake vetsin, saya agak shock. Saya tuh ga bisa bedain mana makanan pake vetsin mana yang enggak. Pas ipar saya makan bareng di rumah, dia yang ngasih tau, “Ini sih pake vetsin!”

Saya memang agak paranoid pada vetsin dan selalu curiga, warung makan itu pake vetsin. Tadinya, sama ibu catering, agak yakin bahwa dia ga mungkin pakai vetsin. Tapi setelah dipikir-pikir, ga mungkin ga pake! Kok bisa rasanya gurih, padahal daging/ayamnya dikit?

Setelah punya asisten, sejak sebulan lalu, saya bertekad masak sendiri, mulai makan pagi sampai malam. Resep2 di internet di donlot, diprint, ditempel di pintu kulkas. Hasilnya, not bad, beberapa kali suami memuji. Tapi, emang sih, sering gagal juga, tak seenak buatan ibu catering. Penyebabnya, kata suami, karena kami terbiasa masakan versi warung/catering… jadi sekalinya ga pake vetsin, terasa hambar.. (misalnya pas bikin mie goreng atau bakso).

Tapi anak-anak memang saya biasakan tidak mengeluh soal makanan. “Enak ga enak, harus dimakan…! Bersyukur sudah ada makanan, coba kalo enggak ada..” begitu kata saya…

(Ini bukan sekedar menutupi kegagalan masak loh..hahaha.. tapi memang filosofi kayak ini efektif, anak-anak gak manja, pengen ini-pengen itu… apa yang ada dimakan, ya kan?)

Oya, lewat jurnal ini, saya ucapkan ribuan terimakasih buat mp-ers dan blogger2 lain yang rajin posting masakan.. kalian benar2 berjasa!

Advertisements

Pulang

Kemarin, Rancaekek banjir lagi. Di depan rumah kami sih aman, tapi jalan sekitar 50 meter ke kiri atau kanan, ‘tenggelam’ deh. Biasanya kalau udah banjir begini, saya diam aja di rumah sampai air surut. Tapi kemarin saya perlu banget ke warung, jadilah saya nekad jalan menembus banjir setengah betis.

Sambil mengarungi lautan (hiperbola!), saya merenung sendiri. Dulu, waktu kami masih di Iran, saat pulang liburan sempat berkunjung ke kakak ipar di Rancaekek. Waktu itu hujan dan banjir. Dalam hati, saya bertekad, saya gak akan mau punya rumah di Rancaekek. E.. kok malah beberapa tahun kemudian, kami beli rumah di kompleks ini. Dan yang anehnya pula, saya kok malah enjoy di sini. Banyak sekali faktornya, antara lain, yang baru saya sadari kemarin adalah: kami di sini punya teman yang jago ngutak-atik komputer.

Dulu waktu masih di Iran, kami juga punya sobat yang jago komputer dan kepadanyalah kami berpaling saat membutuhkan pertolongan (hiperbola!). Kebayang kan kalau sedikit-sedikit harus ke service center..berapa duit, coba? Mendingan yang gratisan. Waktu kami pulang, salah satu yang membuat kami kehilangan adalah ‘duh, gimana ya, ga punya temen yang jago komputer lagi deh..’

Bagi kami (saya dan suami), komputer dengan segala pernak-perniknya memang jadi mainstream kehidupan (tuh kan, hiperbola lagi!). Pokoknya, si kompi memang sangat signifikan dalam hidup kami. Jadi, harus punya mekanik khusus, gitulah, karena, adaaaa..saja problem yang muncul, ga habis-habis. Misalnya kemarin ini, video capture ‘tabrakan’ sama soundcard, jadi malfunction kalau dioperasikan bersamaan. Untungnya, emang kali rezeki kami di Rancaekek, tak jauh dari rumah kami ada sebuah service center sederhana. Dan, pemiliknya, sangat baik dan lebih mengambil posisi sebagai teman kami daripada sekedar pemilik service center. Bahkan pada saat-saat genting seperti kemarin, dia bersedia begadang semalaman untuk menyembuhkan si kompi, dan karena blm jua berhasil, akhirnya dia berimprovisasi untuk meng-capture sebuah film yang dibutuhkan oleh si Akang malam itu juga, karena mau dipakai untuk presentasi esok harinya. Coba, mau dicari kemana lagi temen yang kayak ini? Tanpa bayaran pulak!

Karena sudah merasa betah, saya pun menabung ‘khayalan’ terkait rumah kami di Rancaekek ini, antara lain pengen dibikin bertingkat (meski uangnya wallahu a’lam). Saya ingin rumah ini jadi rumah kami selamanya, tempat berkumpulnya anak-cucu saat lebaran… Setiap melihat rumah dengan model yang keren, saya suka berpikir, “Insya Allah nanti kalau ada uang, aku mau merenovasi rumahku, persis kayak gini.” Atau..”Besok-besok bawa kamera ke sini, rumah ini difoto buat bikin desain renovasi..”

Tapi, banjir yang semakin hari semakin mengkhawatirkan ini, membuat saya berpikir ulang. Apalagi temen si Akang cerita, dosen-dosen Unpad yang punya rumah di kawasan Rancaekek sekarang sudah mulai eksodus, cari rumah di lokasi yang jauh lebih tinggi. Duh, saya langsung ga berselera lagi untuk berkhayal macam-macam. Renovasi rumah? Langsung ga minat lagi. Sama sekali. Siapa tau nanti kami harus pergi, ya kan? Beli-beli perabotan? Ah, ga usah, nanti susah kalau pindahan.

Tiba-tiba saya ingat filosofi hidup kami waktu di Iran dulu. Karena merasa ‘akan pulang ke Indonesia’, dulu kami sangat irit. Daripada buang duit ngontrak rumah, mendingan tinggal di rumah dinas, meski jeleknya ampun-ampunan. Beli-beli perabotan? Yang bekas aja deh, toh mau ditinggal juga. Ga heran, dulu tuh waktu di Iran kami sampai heran, duit kok ga habis-habis, bahkan sampai terima gaji lagi, uang segepok masih numpuk di kotak penyimpanan uang di atas kulkas. Dulu pertanyaannya, “Heran nih duit kok ga habis-habis yak?!” Sekarang di Indonesia, malah sebaliknya, “Kok duit kita udah habis lagi sih?!!”

Kata si Akang (ini setelah saya menceritakan hasil perenungan saya), justru filosofi hidup kami waktu di Iran itu harusnya dipakai lagi, dalam tataran yang lebih spiritual. Ketika kita merasa setiap saat akan ‘pulang’, buat apa sibuk-sibuk berkhayal mau renovasi atau mau beli ini-itu? Toh semuanya akan ditinggal kan? Yang mau dibawa ‘pulang’ adalah amal-amal ibadah kita, bukan rumah keren dan perabotannya. Jadi lebih baik energi kita dihabiskan bukan buat mikirin gimana caranya supaya bisa punya duit banyak utk renov rumah atau gonta-ganti perabotan… tapi gimana supaya punya ‘bekal ‘ cukup utk ‘pulang’.

Agaknya, si banjir membawa hikmah buat saya pribadi. Secara efektif, si banjir sudah menutup pintu khayalan saya tentang rumah idaman. Seolah, si banjir berkata pada saya, “Sudah, nikmati dan syukuri saja rumahmu yang sekarang! Ga usah berkhayal lagi, pengen direnovasi kayak gini atau kayak gitu! Toh kamu suatu saat akan ‘pulang’ juga…!”

Perempuan Perkasa (lagi)

Teman, ini ada lagi cerita tentang seorang perempuan perkasa. Saya sebenarnya sudah lama kenal dengan beliau dan mengetahui perjuangannya. Tapi ya itu.. kepekaan saya agaknya kurang tajam, hiks. Saat ini sebuah penerbit besar tengah mengangkat kisah hidupnya menjadi buku dan mengutus seorang penulis terkenal untuk mewawancarainya (tentu saja proses wawancaranya panjang dan berkali-kali-dan belum selesai-dan tiap wawancara si penulis itu pasti menangis) untuk kemudian menuliskannya dalam sebuah buku.

Saya benar-benar merasa malu… kan saya juga penulis, tapi kok tak pernah punya ide mengangkat kisah perempuan itu jadi buku, padahal, yakin, saya kenal si ibu sebelum si penerbit mengenalnya. Artinya, yah memang kepekaan nurani saya masih sangat kurang tajam. Saya masih merasa perjuangannya ‘biasa’, padahal… luar biasa! Nanti saya ceritain di mana sisi luar biasanya.. Justru saya memahami seberapa luar biasanya setelah saya sendiri membawa seorang anak yatim ke rumah…


Ibu ini, namanya Dra. Endang Yuli Purwati (Bu Yuli, atau sering disapa Ummi), mengangkat belasan anak tak beruntung sejak mereka masih bayi atau balita. Ada yang ortunya cerai lalu tak ada yang mau mengasuh si anak, ada yang lahir di luar kemauan ibunya (ya mungkin diperkosa atau gimana), ada yang lahir di keluarga sangat miskin sehingga tak mampu membesarkan anak, atau memang yatim. Tolong garis bawahi kata ini: mengangkat anak. Beda dengan membuka panti asuhan dan menaruh anak-anak yatim di dalamnya. Mengangkat anak artinya, membawa anak-anak itu ke rumahnya sendiri dan membesarkannya seperti membesarkan anaknya sendiri. Ummi gak mandul loh, beliau punya anak-anak kandung.


Anak-anak kandungnya pun hidup bersama anak-anak angkat tadi dan menganggap mereka sebagai bagian dari keluarga. Salsa, anak terkecil Ummi, bahkan pernah punya sikap over protektif ke ‘adik-adiknya’ gara-gara suatu saat ada ortu yang mengambil lagi anaknya yang semula sudah diserahkan ke Ummi. Sejak itu Salsa ketakutan kalau ada orang asing datang, takut mau ngambil adik-nya (sekarang sih ga lagi, kan Salsa udah cukup besar).

Kalau pengen lihat foto-foto Salsa dan beberapa anak angkat Ummi, ada di komik ini (mereka menjadi model yang memperagakan Metode Dr Cilik ala Rumah Qurani). O iya, Rumah Qurani kan membuat Lab Qurani di rumah Ummi. Sepekan dua kali, Kak Adhi mengajarkan hafalan Quran kepada anak-anak Ummi dan anak-anak lain yang mau jadi murid Rumah Qurani.


Nah, sejak dua bulan terakhir saya juga membawa pulang seorang anak yatim. Saya masih belum berani mengklaim diri: ‘mengangkat anak’. Karena secara de facto, dia menjadi asisten (pembantu) di rumah saya, mengerjakan semua pekerjaan-pekerjaan yang saya males melakukannya, hiks, (cuci piring, ngepel, nyetrika, dll). Karena dia anak yatim, saya berusaha bersikap sebaik mungkin, tak memberinya terlalu banyak beban, memberinya makan persis seperti apa yang kami makan, makan pun bareng, kalau pergi jalan-jalan dia diajak, dll. Cuma, tetap saja, sebagaimana saya sering ngomel ke anak sendiri (hiks, kapan ya sembuhnya!), saya juga akhirnya kelepasan juga ngomel panjang lebar ke anak ini. Pernah 3 hari berturut-turut saya 3 kali meledak dan ngomelin dia. Dan saya benar-benar merasa bersalah. Kan kita gak boleh membentak anak yatim (saya ga bentak, tapi ngomel, tapi kan tetep aja mirip2)…


Saya kini sangat menyadari, ternyata sulit/berat sekali menjadikan ‘anak orang’ menjadi anak sendiri. Soal finansial aja, sejak ada tambahan ‘anak’, tambahan pengeluaran saya ternyata cukup signifikan tiap bulan. Saya berusaha ‘merem’ dan ga mikirin, tapi tetep aja terpikir. Selain gaji, beli bajunya, beli-ini-itu, kalau makan di luar artinya nambah 1 mulut lagi, porsi masak musti banyak (karena si anak ini nafsu makannya jauh lebih banyak dibanding kami), dll. Saya sempat merasa helpless.. gak heran deh kalau mereka yang mengangkat anak yatim itu ganjarannya surga. Ternyata berat sekali! Padahal saya belum pada tahap ‘mengangkat anak’ loh.


Belum lagi ada dilema baru. Si anak ini cerdas banget. Sayang kalau ga melanjutkan sekolah (dia cuma tamat SMP). Tapi sekolah jaman sekarang, tau sendiri berapa duit?! Belum lagi kekhawatiran saya, anak itu manis sekali (dan parahnya, kenes pula!), kalau sekolah pasti langsung dapat pacar.. apa jadinya kalau dia pacaran? Saya pasti sakit kepala. Ini anak orang.. kalau ada apa-apa gimana? Lalu, kalau dia sekolah, siapa yang kerja di rumah… sama juga bohong dong, menggaji asisten, tapi tetep aja capek. Gimana ya, disekolahin jangan?

Saya sudah belajar banyak teori parenting dan berusaha keras menerapkannya pada anak-anak saya. Tapi menerapkan pada anak itu.. duh, susah banget. Perasaan bahwa “dia bukan anak saya, jadi ngapain repot2” selalu saja menjadi dinding tebal… Saya berusaha menepisnya, tapi sulit sekali. Sulit sekali menganggap anak orang sebagai anak sendiri!

Jadi, sekarang saya sangat paham betapa perkasanya Ummi! Anak yang diangkatnya bukan cuma 1, tapi belasan! Saya mengurus Reza yang balita aja tekanan darah sering naik, bagaimana Ummi tetap kalem mengurus belasan balita?! Anak-anak itu diperlakukan seperti anak sendiri, dan ketika besar disekolahkan sampai perguruan tinggi (ada ‘anak’ beliau yang udah wisuda). Ummi bukan orang kaya, dia dan suaminya sama-sama pegawai negeri. Tapi, untuk menambah penghasilan mereka membuka warung sate..yang alhamdulillah, laku keras (mungkin inilah rezeki yang diberikan Allah untuk mereka).

Pekan lalu saat mengantar Reza sekolah Rumah Qurani, saya sempat mengobrol sebentar dengan Ummi. Dulu-dulu, saya ngobrol, ya kagum aja, biasa.. tanpa bisa meresapi seberat apa perjuangannya. Tapi setelah ada kehadiran anak yatim di rumah saya dan saya mengalami banyak dilema, baru saya benar-benar kagum pada Ummi. Saya memeluknya. Mungkin bagi Ummi, sikap saya biasa-biasa saja. Tapi sesungguhnya kali itu, saya memeluknya dengan penuh perasaan kagum sekaligus helpless

Foto: Ummi ketiga dari kanan (jilbab hijau), saat menerima penghargaan Inspiring Women Award Bidang Pendidikan dari PKS Jawa Barat. Diambil dari web PKS, http://www.wanitapks.org/

Keberpihakan

Lagi-lagi saya berbuat kesalahan yang sama. Karena keasyikan menggarap buku (dan kebetulan temanya juga sangat menarik minat saya), saya melupakan konsep hidup sehat: makan teratur, makan buah dan jus, olahraga, minum air yang banyak, tidur yang cukup.

Akibatnya, sekarang saya ambruk lagi. Padahal hari Rabu saya harus ke Jakarta memenuhi undangan bedah buku. Artinya, saya harus sembuh sebelum hari Rabu. Si Akang mengultimatum: mulai sekarang, jangan sentuh komputer sama sekali!

“Baca buku boleh nggak?”

“Ya boleh, tapi yang ringan aja.” Wow..luar biasa.. biasanya si Akang ngomel kalau saya keasyikan baca novel. Sekarang kok malah nyuruh:D

Untung saya punya persediaan buku ‘ringan’: Three Cups of Tea (direkomendasikan dgn penuh semangat oleh Ima:D). Udah lama beli, tapi baru sekarang mau dibaca. Berkisah tentang perjuangan seorang Amerika –Dr. Greg Mortenson—yang mendedikasikan hidupnya untuk membangun sekolah untuk anak-anak perempuan di kawasan pegunungan Himalaya.

Baru baca kata pengantar, kok malah ada yang ingin saya tuliskan (menulis buat saya kayaknya udah jadi katarsis:D). Jadi ya terpaksa deh, buka kompi lagi.

David Relin, jurnalis yang menulis buku itu (bersama Dr Greg) menulis di kata pengantar, “Seperti yang dipelajari koresponden Graham Green, si melankolis Thomas Fowler pada bagian akhir The Quiet American, kadang kala, untuk menjadi manusia seutuhnya, kita memang harus memihak. Saya memilih untuk memihak pada Greg Mortenson.”

Memihak. Keberpihakan.

Seorang teman yang mau menulis buku pernah mendiskusikan tema bukunya dengan saya. Saya bilang, “Tentukan dulu posisimu di mana, baru kamu tulis analisisnya.” Dan ini pula yang saya lakukan saat menulis. Keberpihakan pada satu ide akan membuat tulisan kita tajam dan jelas, mau menyampaikan apa. Memang, sangat mungkin ada yang tak sepakat dengan ide kita itu. Tapi, toh menulis bukan untuk membuat semua orang sepakat dengan kita. Bahkan, bila kita merasa sikap yang tepat adalah kenetralan, saat itu sesungguhnya kita sedang berpihak pada kenetralan dan seluruh alur tulisan harus diarahkan kepada ide netralitas itu.

Contoh konkritnya, saat saya sedang menulis berbagai analisis Timur Tengah (diposting di blog saya satu lagi, di sini), setelah membaca data-datanya, saya akan mengambil keputusan, berpihak di mana dan pada siapa. Selanjutnya, tulisan saya akan mengikuti alur yang ‘menuntun’ saya setelah saya memutuskan untuk berpihak itu. Data-data tentu saja tetap disampaikan dengan jujur. Namun dengan menetapkan kemana saya harus berpihak, tulisan saya jadi jelas dan tajam: apa sih maunya si Dina? (ini sih pengennya saya ya…, mudah2an memang itulah yang ditangkap si pembaca). Tulisan seperti ini (saat saya membaca tulisan orang-orang lain) bagi saya jauh lebih menarik, daripada tulisan yang sok netral tapi gak jelas ke arah mana si pembaca mau dibawa. Keputusan akhir tentu di tangan pembaca, mau mengekor pada keberpihakan si penulis, atau mau mengambil sikap kontra. Sah-sah saja.

Terakhir, mohon doa dari teman2…supaya saya lekas sembuh …

Pencerahan Pagi Ini

Sejak beberapa bulan yang lalu, Kirana merengek-rengek minta dibelikan mikroskop. Kami memberinya beberapa tugas (antara lain sholat tepat waktu) dan itu sudah dipenuhi Kirana. Tapi, tetap saja si mikro belum terbeli. Kalau beli baru kan mahal, 2,5 jt! Ipar saya bilang, ada salah seorang tetangga kami, Bapak K yang punya akses ke mikro bekas dengan harga miring.

Bapak K itu sibuk banget, jadi berbulan-bulan lewat, tak jua berhasil bersua dengannya. Suatu hari, saya bertemu tak sengaja dengan Bapak K. Langsung aja saya sapa, “Pak, saya dengar Bapak bisa mengusahakan pembelian mikro bekas. Saya mau beli untuk anak saya.”

Bapak K spontan menjawab,”Oh ya Bu, nanti saya kasih aja!”

Gubraaaksss! Bener-bener ga percaya deh rasanya. (Tadinya saya sih mengira, ya sekitar 300 rb-an lah kalo bekas.. ternyata stlh si mikro ada di tangan, baru ketauan, bekas pun ga jauh2 dari 2 jt! Bener2 rezeki deh, kalau ga dikasih begini, kayak ga kebeli juga tuh si mikro).

Pagi ini, suami saya datang ke rumah Bapak K untuk menjemput mikro yang dijanjikan. Ternyata itu mikro bekas milik anaknya, Uul. Uul ini, selama di SD (kebetulan SD-nya di SD Kirana sekarang–Rana kan baru pindah sekolah) rajin membawa mikroskop itu kemana-mana di ranselnya. Apa saja ditelitinya. Sekarang dia melanjutkan SMP di Amerika Serikat dan menjadi juara 1 di kelasnya.

Bapak K kemudian berkisah tentang Uul. Selama SD, kalau saja dia disekolahkan di SD biasa, pasti udah dikata-katain bodoh dan pasti tak naik kelas. Memang kemampuan anak itu parah banget selama di SD. Ipar saya juga pernah cerita, dia pusing ngasih les sempoa ke Uul, karena ga paham-paham. Tapi, untungnya, Bapak K sudah belajar tentang pentingnya pembangunan karakter anak. Jadi, dia tidak memberikan respon negatif kepada ‘ketertinggalan’ anaknya. Dia terus membimbing, berusaha mencari tau bakat-bakatnya (dan karena Uul sukameneliti, dibelilah mikroskop itu).

Untungnya lagi, sekolah tempat Uul belajar (yg juga sekolahnya Kirana, alhamdulillah) juga memiliki paradigma character building itu. Jadi, Uul tak pernah ditekan masalah nilai, bahkan terus dibiarkan naik kelas. Guru-guru hanya memotivasi supaya Uul menjadi lebih baik, tapi tak menekan. Dia lulus SD dengan nilai pas-pasan.

Karakter kuat yang berhasil dibangun selama SD ternyata menampakkan hasil keika Uul masuk SMP di AS (ibunya Uul lagi S3 di Amrik, jadi Uul dibawa). Kondisi sekolah di AS ternyata menstimulasi kemunculan karakter Uul yang kuat. Kata Bapak K, mungkin karena disana iklimnya individualis, jadi Uul terpacu untuk membuktikan kemampuan dirinya. Selain dapat penghargaan sebagai murid dengan nilai tertinggi, dia juga mendapat penghargaan sebagai murid paling rajin.

Kata Bapak K, “Seandainya saya dulu menekan dia supaya dapat nilai bagus dan melupakan konsep pengembangan karakter, wah.. pasti anak itu terpuruk!”

Nah, pengembangan karakter itu apa sih? Suami saya gak sempat eksplorasi lagi, karena si Bapak K mau keluar kota. Jadi saya browsing dan dapat artikel bagus di sini:

http://niasonline.net/2008/01/30/keluarga-kunci-pembentukan-karakter-anak/


ini jg keren:

www.psikologi.tarumanagara.ac.id/sanur/Membantu-Pertumbuhan-Anak.ppt

http://keyanaku.blogspot.com/2007/12/pengembangan-karakter.html

Alhamdulillah ya Allah, hari ini Engkau memberi kami pencerahan lagi…

Baru Tau…


Saya sedang dalam proses menulis sebuah buku pesanan. Nah, hari ini, saya menemukan, bahwa makalah ilmiah seorang dosen ternama dari Harvard pun menyandarkan dalil-dalilnya dari berbagai makalah dan pemberitaan koran di internet. Terus-terang, ini merupakan pencerahan buat saya. Saat saya menulis buku Ahmadinejad on Palestine, hampir semua data saya dapatkan dari internet. Prosesnya sangat melelahkan. Bayangin aja, ada ribuan makalah di internet terkait Palestina, membacanya, menelaahnya, memisahkan mana yang ilmiah, mana yang provokatif dan propaganda, membandingkan satu-sama lain untuk mencari data mana yang paling valid, mengambil kesimpulan terbaik.. wow… Saya jatuh sakit setelah menyelesaikan buku itu, kelelahan!

Meski begitu, saya tetap aja kurang pede (padahal, satu guru besar dan 5 dosen di HI Unpad sudah bersedia memberi endorsment kepada buku saya itu). Saya kurang pede dari sisi ‘ke-kerenan data’. Maksud saya nih, kalau baca bukunya Bernard Lewis tentang Timur Tengah, misalnya, kan datanya dari buku semua. Keren banget, gitu loh, dia punya/baca ratusan buku dan kemudian mengolah datanya sehingga menjadi sebuah buku. Dengan kata lain, saya merasa kurang keren ketika basis data saya bersumber dari internet. Hari ini, membaca buku orang Harvard itu… hm.. saya jadi sangat pede dengan buku saya!


Waktu saya ceritakan ‘penemuan’ ini kepada si Akang, dia menjawab, “Loh, memang bener kok, data internet sekarang sudah dianggap sebagai data yang valid dan bisa dipakai dalam karya-karya ilmiah, bahkan thesis dan disertasi sekalipun. Bahkan untuk jurusan filologi. Itu bu Yanti [nama temen kuliah si Akang] naskah kuno yang mau ditelitinya malah hasil print-out dari internet!”

(Sekedar info, suami saya sekarang sedang menekuni bidang filologi [meneliti naskah-naskah kuno] ee.. ternyata filolog zaman sekarang tak perlu lagi ke perpustakaan membolak-balik naskah-naskah butut, bila data digital naskah itu udah ada di internet, data itu bisa dipakai utk thesis/disertasi).


Hikmahnya, saya semakin merasakan betapa pentingnya kita berbagi di internet, sekecil apapun (atau seremeh apapun) data yang kita punya. Sangat mungkin, ada orang-orang di luar sana yang ternyata terbantu oleh sharing data yang kita punya:)

Foto: beginilah proses kreatif saya, hiks, ngetik di lantai karena dipaksa Reza yang juga ngotot pengen ngetik juga dan mamanya harus duduk di sebelahnya; sambil ngetik saya harus menjawab berbagai pertanyaan Reza tentang huruf. Oalah nak..nak.. kapan buku mama beresnya?!