Pencerahan Pagi Ini

Sejak beberapa bulan yang lalu, Kirana merengek-rengek minta dibelikan mikroskop. Kami memberinya beberapa tugas (antara lain sholat tepat waktu) dan itu sudah dipenuhi Kirana. Tapi, tetap saja si mikro belum terbeli. Kalau beli baru kan mahal, 2,5 jt! Ipar saya bilang, ada salah seorang tetangga kami, Bapak K yang punya akses ke mikro bekas dengan harga miring.

Bapak K itu sibuk banget, jadi berbulan-bulan lewat, tak jua berhasil bersua dengannya. Suatu hari, saya bertemu tak sengaja dengan Bapak K. Langsung aja saya sapa, “Pak, saya dengar Bapak bisa mengusahakan pembelian mikro bekas. Saya mau beli untuk anak saya.”

Bapak K spontan menjawab,”Oh ya Bu, nanti saya kasih aja!”

Gubraaaksss! Bener-bener ga percaya deh rasanya. (Tadinya saya sih mengira, ya sekitar 300 rb-an lah kalo bekas.. ternyata stlh si mikro ada di tangan, baru ketauan, bekas pun ga jauh2 dari 2 jt! Bener2 rezeki deh, kalau ga dikasih begini, kayak ga kebeli juga tuh si mikro).

Pagi ini, suami saya datang ke rumah Bapak K untuk menjemput mikro yang dijanjikan. Ternyata itu mikro bekas milik anaknya, Uul. Uul ini, selama di SD (kebetulan SD-nya di SD Kirana sekarang–Rana kan baru pindah sekolah) rajin membawa mikroskop itu kemana-mana di ranselnya. Apa saja ditelitinya. Sekarang dia melanjutkan SMP di Amerika Serikat dan menjadi juara 1 di kelasnya.

Bapak K kemudian berkisah tentang Uul. Selama SD, kalau saja dia disekolahkan di SD biasa, pasti udah dikata-katain bodoh dan pasti tak naik kelas. Memang kemampuan anak itu parah banget selama di SD. Ipar saya juga pernah cerita, dia pusing ngasih les sempoa ke Uul, karena ga paham-paham. Tapi, untungnya, Bapak K sudah belajar tentang pentingnya pembangunan karakter anak. Jadi, dia tidak memberikan respon negatif kepada ‘ketertinggalan’ anaknya. Dia terus membimbing, berusaha mencari tau bakat-bakatnya (dan karena Uul sukameneliti, dibelilah mikroskop itu).

Untungnya lagi, sekolah tempat Uul belajar (yg juga sekolahnya Kirana, alhamdulillah) juga memiliki paradigma character building itu. Jadi, Uul tak pernah ditekan masalah nilai, bahkan terus dibiarkan naik kelas. Guru-guru hanya memotivasi supaya Uul menjadi lebih baik, tapi tak menekan. Dia lulus SD dengan nilai pas-pasan.

Karakter kuat yang berhasil dibangun selama SD ternyata menampakkan hasil keika Uul masuk SMP di AS (ibunya Uul lagi S3 di Amrik, jadi Uul dibawa). Kondisi sekolah di AS ternyata menstimulasi kemunculan karakter Uul yang kuat. Kata Bapak K, mungkin karena disana iklimnya individualis, jadi Uul terpacu untuk membuktikan kemampuan dirinya. Selain dapat penghargaan sebagai murid dengan nilai tertinggi, dia juga mendapat penghargaan sebagai murid paling rajin.

Kata Bapak K, “Seandainya saya dulu menekan dia supaya dapat nilai bagus dan melupakan konsep pengembangan karakter, wah.. pasti anak itu terpuruk!”

Nah, pengembangan karakter itu apa sih? Suami saya gak sempat eksplorasi lagi, karena si Bapak K mau keluar kota. Jadi saya browsing dan dapat artikel bagus di sini:

http://niasonline.net/2008/01/30/keluarga-kunci-pembentukan-karakter-anak/


ini jg keren:

www.psikologi.tarumanagara.ac.id/sanur/Membantu-Pertumbuhan-Anak.ppt

http://keyanaku.blogspot.com/2007/12/pengembangan-karakter.html

Alhamdulillah ya Allah, hari ini Engkau memberi kami pencerahan lagi…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s