Keberpihakan

Lagi-lagi saya berbuat kesalahan yang sama. Karena keasyikan menggarap buku (dan kebetulan temanya juga sangat menarik minat saya), saya melupakan konsep hidup sehat: makan teratur, makan buah dan jus, olahraga, minum air yang banyak, tidur yang cukup.

Akibatnya, sekarang saya ambruk lagi. Padahal hari Rabu saya harus ke Jakarta memenuhi undangan bedah buku. Artinya, saya harus sembuh sebelum hari Rabu. Si Akang mengultimatum: mulai sekarang, jangan sentuh komputer sama sekali!

“Baca buku boleh nggak?”

“Ya boleh, tapi yang ringan aja.” Wow..luar biasa.. biasanya si Akang ngomel kalau saya keasyikan baca novel. Sekarang kok malah nyuruh:D

Untung saya punya persediaan buku ‘ringan’: Three Cups of Tea (direkomendasikan dgn penuh semangat oleh Ima:D). Udah lama beli, tapi baru sekarang mau dibaca. Berkisah tentang perjuangan seorang Amerika –Dr. Greg Mortenson—yang mendedikasikan hidupnya untuk membangun sekolah untuk anak-anak perempuan di kawasan pegunungan Himalaya.

Baru baca kata pengantar, kok malah ada yang ingin saya tuliskan (menulis buat saya kayaknya udah jadi katarsis:D). Jadi ya terpaksa deh, buka kompi lagi.

David Relin, jurnalis yang menulis buku itu (bersama Dr Greg) menulis di kata pengantar, “Seperti yang dipelajari koresponden Graham Green, si melankolis Thomas Fowler pada bagian akhir The Quiet American, kadang kala, untuk menjadi manusia seutuhnya, kita memang harus memihak. Saya memilih untuk memihak pada Greg Mortenson.”

Memihak. Keberpihakan.

Seorang teman yang mau menulis buku pernah mendiskusikan tema bukunya dengan saya. Saya bilang, “Tentukan dulu posisimu di mana, baru kamu tulis analisisnya.” Dan ini pula yang saya lakukan saat menulis. Keberpihakan pada satu ide akan membuat tulisan kita tajam dan jelas, mau menyampaikan apa. Memang, sangat mungkin ada yang tak sepakat dengan ide kita itu. Tapi, toh menulis bukan untuk membuat semua orang sepakat dengan kita. Bahkan, bila kita merasa sikap yang tepat adalah kenetralan, saat itu sesungguhnya kita sedang berpihak pada kenetralan dan seluruh alur tulisan harus diarahkan kepada ide netralitas itu.

Contoh konkritnya, saat saya sedang menulis berbagai analisis Timur Tengah (diposting di blog saya satu lagi, di sini), setelah membaca data-datanya, saya akan mengambil keputusan, berpihak di mana dan pada siapa. Selanjutnya, tulisan saya akan mengikuti alur yang ‘menuntun’ saya setelah saya memutuskan untuk berpihak itu. Data-data tentu saja tetap disampaikan dengan jujur. Namun dengan menetapkan kemana saya harus berpihak, tulisan saya jadi jelas dan tajam: apa sih maunya si Dina? (ini sih pengennya saya ya…, mudah2an memang itulah yang ditangkap si pembaca). Tulisan seperti ini (saat saya membaca tulisan orang-orang lain) bagi saya jauh lebih menarik, daripada tulisan yang sok netral tapi gak jelas ke arah mana si pembaca mau dibawa. Keputusan akhir tentu di tangan pembaca, mau mengekor pada keberpihakan si penulis, atau mau mengambil sikap kontra. Sah-sah saja.

Terakhir, mohon doa dari teman2…supaya saya lekas sembuh …

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s