Perempuan Perkasa (lagi)

Teman, ini ada lagi cerita tentang seorang perempuan perkasa. Saya sebenarnya sudah lama kenal dengan beliau dan mengetahui perjuangannya. Tapi ya itu.. kepekaan saya agaknya kurang tajam, hiks. Saat ini sebuah penerbit besar tengah mengangkat kisah hidupnya menjadi buku dan mengutus seorang penulis terkenal untuk mewawancarainya (tentu saja proses wawancaranya panjang dan berkali-kali-dan belum selesai-dan tiap wawancara si penulis itu pasti menangis) untuk kemudian menuliskannya dalam sebuah buku.

Saya benar-benar merasa malu… kan saya juga penulis, tapi kok tak pernah punya ide mengangkat kisah perempuan itu jadi buku, padahal, yakin, saya kenal si ibu sebelum si penerbit mengenalnya. Artinya, yah memang kepekaan nurani saya masih sangat kurang tajam. Saya masih merasa perjuangannya ‘biasa’, padahal… luar biasa! Nanti saya ceritain di mana sisi luar biasanya.. Justru saya memahami seberapa luar biasanya setelah saya sendiri membawa seorang anak yatim ke rumah…


Ibu ini, namanya Dra. Endang Yuli Purwati (Bu Yuli, atau sering disapa Ummi), mengangkat belasan anak tak beruntung sejak mereka masih bayi atau balita. Ada yang ortunya cerai lalu tak ada yang mau mengasuh si anak, ada yang lahir di luar kemauan ibunya (ya mungkin diperkosa atau gimana), ada yang lahir di keluarga sangat miskin sehingga tak mampu membesarkan anak, atau memang yatim. Tolong garis bawahi kata ini: mengangkat anak. Beda dengan membuka panti asuhan dan menaruh anak-anak yatim di dalamnya. Mengangkat anak artinya, membawa anak-anak itu ke rumahnya sendiri dan membesarkannya seperti membesarkan anaknya sendiri. Ummi gak mandul loh, beliau punya anak-anak kandung.


Anak-anak kandungnya pun hidup bersama anak-anak angkat tadi dan menganggap mereka sebagai bagian dari keluarga. Salsa, anak terkecil Ummi, bahkan pernah punya sikap over protektif ke ‘adik-adiknya’ gara-gara suatu saat ada ortu yang mengambil lagi anaknya yang semula sudah diserahkan ke Ummi. Sejak itu Salsa ketakutan kalau ada orang asing datang, takut mau ngambil adik-nya (sekarang sih ga lagi, kan Salsa udah cukup besar).

Kalau pengen lihat foto-foto Salsa dan beberapa anak angkat Ummi, ada di komik ini (mereka menjadi model yang memperagakan Metode Dr Cilik ala Rumah Qurani). O iya, Rumah Qurani kan membuat Lab Qurani di rumah Ummi. Sepekan dua kali, Kak Adhi mengajarkan hafalan Quran kepada anak-anak Ummi dan anak-anak lain yang mau jadi murid Rumah Qurani.


Nah, sejak dua bulan terakhir saya juga membawa pulang seorang anak yatim. Saya masih belum berani mengklaim diri: ‘mengangkat anak’. Karena secara de facto, dia menjadi asisten (pembantu) di rumah saya, mengerjakan semua pekerjaan-pekerjaan yang saya males melakukannya, hiks, (cuci piring, ngepel, nyetrika, dll). Karena dia anak yatim, saya berusaha bersikap sebaik mungkin, tak memberinya terlalu banyak beban, memberinya makan persis seperti apa yang kami makan, makan pun bareng, kalau pergi jalan-jalan dia diajak, dll. Cuma, tetap saja, sebagaimana saya sering ngomel ke anak sendiri (hiks, kapan ya sembuhnya!), saya juga akhirnya kelepasan juga ngomel panjang lebar ke anak ini. Pernah 3 hari berturut-turut saya 3 kali meledak dan ngomelin dia. Dan saya benar-benar merasa bersalah. Kan kita gak boleh membentak anak yatim (saya ga bentak, tapi ngomel, tapi kan tetep aja mirip2)…


Saya kini sangat menyadari, ternyata sulit/berat sekali menjadikan ‘anak orang’ menjadi anak sendiri. Soal finansial aja, sejak ada tambahan ‘anak’, tambahan pengeluaran saya ternyata cukup signifikan tiap bulan. Saya berusaha ‘merem’ dan ga mikirin, tapi tetep aja terpikir. Selain gaji, beli bajunya, beli-ini-itu, kalau makan di luar artinya nambah 1 mulut lagi, porsi masak musti banyak (karena si anak ini nafsu makannya jauh lebih banyak dibanding kami), dll. Saya sempat merasa helpless.. gak heran deh kalau mereka yang mengangkat anak yatim itu ganjarannya surga. Ternyata berat sekali! Padahal saya belum pada tahap ‘mengangkat anak’ loh.


Belum lagi ada dilema baru. Si anak ini cerdas banget. Sayang kalau ga melanjutkan sekolah (dia cuma tamat SMP). Tapi sekolah jaman sekarang, tau sendiri berapa duit?! Belum lagi kekhawatiran saya, anak itu manis sekali (dan parahnya, kenes pula!), kalau sekolah pasti langsung dapat pacar.. apa jadinya kalau dia pacaran? Saya pasti sakit kepala. Ini anak orang.. kalau ada apa-apa gimana? Lalu, kalau dia sekolah, siapa yang kerja di rumah… sama juga bohong dong, menggaji asisten, tapi tetep aja capek. Gimana ya, disekolahin jangan?

Saya sudah belajar banyak teori parenting dan berusaha keras menerapkannya pada anak-anak saya. Tapi menerapkan pada anak itu.. duh, susah banget. Perasaan bahwa “dia bukan anak saya, jadi ngapain repot2” selalu saja menjadi dinding tebal… Saya berusaha menepisnya, tapi sulit sekali. Sulit sekali menganggap anak orang sebagai anak sendiri!

Jadi, sekarang saya sangat paham betapa perkasanya Ummi! Anak yang diangkatnya bukan cuma 1, tapi belasan! Saya mengurus Reza yang balita aja tekanan darah sering naik, bagaimana Ummi tetap kalem mengurus belasan balita?! Anak-anak itu diperlakukan seperti anak sendiri, dan ketika besar disekolahkan sampai perguruan tinggi (ada ‘anak’ beliau yang udah wisuda). Ummi bukan orang kaya, dia dan suaminya sama-sama pegawai negeri. Tapi, untuk menambah penghasilan mereka membuka warung sate..yang alhamdulillah, laku keras (mungkin inilah rezeki yang diberikan Allah untuk mereka).

Pekan lalu saat mengantar Reza sekolah Rumah Qurani, saya sempat mengobrol sebentar dengan Ummi. Dulu-dulu, saya ngobrol, ya kagum aja, biasa.. tanpa bisa meresapi seberat apa perjuangannya. Tapi setelah ada kehadiran anak yatim di rumah saya dan saya mengalami banyak dilema, baru saya benar-benar kagum pada Ummi. Saya memeluknya. Mungkin bagi Ummi, sikap saya biasa-biasa saja. Tapi sesungguhnya kali itu, saya memeluknya dengan penuh perasaan kagum sekaligus helpless

Foto: Ummi ketiga dari kanan (jilbab hijau), saat menerima penghargaan Inspiring Women Award Bidang Pendidikan dari PKS Jawa Barat. Diambil dari web PKS, http://www.wanitapks.org/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s