Pulang

Kemarin, Rancaekek banjir lagi. Di depan rumah kami sih aman, tapi jalan sekitar 50 meter ke kiri atau kanan, ‘tenggelam’ deh. Biasanya kalau udah banjir begini, saya diam aja di rumah sampai air surut. Tapi kemarin saya perlu banget ke warung, jadilah saya nekad jalan menembus banjir setengah betis.

Sambil mengarungi lautan (hiperbola!), saya merenung sendiri. Dulu, waktu kami masih di Iran, saat pulang liburan sempat berkunjung ke kakak ipar di Rancaekek. Waktu itu hujan dan banjir. Dalam hati, saya bertekad, saya gak akan mau punya rumah di Rancaekek. E.. kok malah beberapa tahun kemudian, kami beli rumah di kompleks ini. Dan yang anehnya pula, saya kok malah enjoy di sini. Banyak sekali faktornya, antara lain, yang baru saya sadari kemarin adalah: kami di sini punya teman yang jago ngutak-atik komputer.

Dulu waktu masih di Iran, kami juga punya sobat yang jago komputer dan kepadanyalah kami berpaling saat membutuhkan pertolongan (hiperbola!). Kebayang kan kalau sedikit-sedikit harus ke service center..berapa duit, coba? Mendingan yang gratisan. Waktu kami pulang, salah satu yang membuat kami kehilangan adalah ‘duh, gimana ya, ga punya temen yang jago komputer lagi deh..’

Bagi kami (saya dan suami), komputer dengan segala pernak-perniknya memang jadi mainstream kehidupan (tuh kan, hiperbola lagi!). Pokoknya, si kompi memang sangat signifikan dalam hidup kami. Jadi, harus punya mekanik khusus, gitulah, karena, adaaaa..saja problem yang muncul, ga habis-habis. Misalnya kemarin ini, video capture ‘tabrakan’ sama soundcard, jadi malfunction kalau dioperasikan bersamaan. Untungnya, emang kali rezeki kami di Rancaekek, tak jauh dari rumah kami ada sebuah service center sederhana. Dan, pemiliknya, sangat baik dan lebih mengambil posisi sebagai teman kami daripada sekedar pemilik service center. Bahkan pada saat-saat genting seperti kemarin, dia bersedia begadang semalaman untuk menyembuhkan si kompi, dan karena blm jua berhasil, akhirnya dia berimprovisasi untuk meng-capture sebuah film yang dibutuhkan oleh si Akang malam itu juga, karena mau dipakai untuk presentasi esok harinya. Coba, mau dicari kemana lagi temen yang kayak ini? Tanpa bayaran pulak!

Karena sudah merasa betah, saya pun menabung ‘khayalan’ terkait rumah kami di Rancaekek ini, antara lain pengen dibikin bertingkat (meski uangnya wallahu a’lam). Saya ingin rumah ini jadi rumah kami selamanya, tempat berkumpulnya anak-cucu saat lebaran… Setiap melihat rumah dengan model yang keren, saya suka berpikir, “Insya Allah nanti kalau ada uang, aku mau merenovasi rumahku, persis kayak gini.” Atau..”Besok-besok bawa kamera ke sini, rumah ini difoto buat bikin desain renovasi..”

Tapi, banjir yang semakin hari semakin mengkhawatirkan ini, membuat saya berpikir ulang. Apalagi temen si Akang cerita, dosen-dosen Unpad yang punya rumah di kawasan Rancaekek sekarang sudah mulai eksodus, cari rumah di lokasi yang jauh lebih tinggi. Duh, saya langsung ga berselera lagi untuk berkhayal macam-macam. Renovasi rumah? Langsung ga minat lagi. Sama sekali. Siapa tau nanti kami harus pergi, ya kan? Beli-beli perabotan? Ah, ga usah, nanti susah kalau pindahan.

Tiba-tiba saya ingat filosofi hidup kami waktu di Iran dulu. Karena merasa ‘akan pulang ke Indonesia’, dulu kami sangat irit. Daripada buang duit ngontrak rumah, mendingan tinggal di rumah dinas, meski jeleknya ampun-ampunan. Beli-beli perabotan? Yang bekas aja deh, toh mau ditinggal juga. Ga heran, dulu tuh waktu di Iran kami sampai heran, duit kok ga habis-habis, bahkan sampai terima gaji lagi, uang segepok masih numpuk di kotak penyimpanan uang di atas kulkas. Dulu pertanyaannya, “Heran nih duit kok ga habis-habis yak?!” Sekarang di Indonesia, malah sebaliknya, “Kok duit kita udah habis lagi sih?!!”

Kata si Akang (ini setelah saya menceritakan hasil perenungan saya), justru filosofi hidup kami waktu di Iran itu harusnya dipakai lagi, dalam tataran yang lebih spiritual. Ketika kita merasa setiap saat akan ‘pulang’, buat apa sibuk-sibuk berkhayal mau renovasi atau mau beli ini-itu? Toh semuanya akan ditinggal kan? Yang mau dibawa ‘pulang’ adalah amal-amal ibadah kita, bukan rumah keren dan perabotannya. Jadi lebih baik energi kita dihabiskan bukan buat mikirin gimana caranya supaya bisa punya duit banyak utk renov rumah atau gonta-ganti perabotan… tapi gimana supaya punya ‘bekal ‘ cukup utk ‘pulang’.

Agaknya, si banjir membawa hikmah buat saya pribadi. Secara efektif, si banjir sudah menutup pintu khayalan saya tentang rumah idaman. Seolah, si banjir berkata pada saya, “Sudah, nikmati dan syukuri saja rumahmu yang sekarang! Ga usah berkhayal lagi, pengen direnovasi kayak gini atau kayak gitu! Toh kamu suatu saat akan ‘pulang’ juga…!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s