Menjadi Bodoh Karena Internet?

Pagi ini, saya menemukan pencerahan lagi: otak kita bisa lelet dan menurun kemampuannya dalam membaca dan mencerna buku gara-gara keranjingan internet. Ironisnya, pencerahan ini saya dapatkan justru dari blogwalking: kegiatan tiap subuh saya (bukannya baca Quran! Duh… ironis..ironis..).

Artikel asli (b. Inggris) bisa dibaca di sini, ulasan (dalam bhs Indonesia), secara sangat bagus, ditulis oleh seorang blogger bernama Irma di sini.


Intinya, seorang penulis tersohor yang telah menulis berbagai buku dan artikel berbobot tentang teknologi informasi, bisnis dan kebudayaan bernama Nicholas Carr, menulis artikel berjudul “Apakah Google Membuat Kita Bodoh?”. Di artikel itu Carr mengeluhkan:


Selama beberapa tahun belakangan ini saya punya perasaan yang tidak enak bahwa ada seseorang, atau sesuatu, mengutak-atik otak saya, mengubah jaringan saraf, memprogram ulang memoriku. Kemampuan berfikir saya, setahu saya, tidak sedang lenyap, tapi sedang berubah. Saya tidak berfikir lagi seperti saya dulu berfikir. Saya paling bisa merasakannya saat saya sedang membaca. Dulu mudah sekali untuk tenggelam dalam keasyikan membaca buku atau artikel panjang. Pikiran saya hanyut dalam jalan cerita atau lika-liku suatu argumen, dan saya bisa selama berjam-jam dengan santai menjelajahi tulisan prosa yang panjang.

Itu sekarang jarang terjadi lagi. Kini konsentrasi saya mulai buyar setelah dua atau tiga halaman. Saya mulai gelisah, lupa jalan cerita, mulai cari-cari kesibukan lain. Saya merasa seakan-akan harus terus menerus menyeret pikiran saya, yang mau lari entah kemana, kembali ke teks bacaan. Kegiatan membaca dengan penuh konsentrasi yang dulu merupakan sesuatu yang bisa saya lakukan dengan begitu saja, sudah menjadi suatu perjuangan.


Apa penyebabnya?

Carr menyimpulkan: internet.

Gaya membaca bukanlah ‘naluriah’, tapi mengalami ‘pembentukan’; meskipun kita sudah dewasa, gaya membaca kita bisa saja berubah dan disetel ulang. Gaya membaca yang dipicu oleh internet mengutamakan efisiensi dan kesegeraan (immediacy) di atas segala-galanya. Dan gaya macam ini melemahkan kapasitas kita untuk membaca mendalam (deep reading). Bila kita membaca online, kita cenderung cuma menjadi “decoders of information“. Kemampuan kita untuk menginterpretasi teks, untuk membuat hubungan-hubungan mental yang terbentuk apabila kita membaca dengan mendalam dan penuh konsentrasi tidak diaktifkan.


Oalaaah… ini kok persiiiiis… yang saya alami! Saya sekarang benar-benar kesulitan membaca buku secara konsisten. Saya tidak bisa lagi melakukan ‘deep reading’ (kecuali novel yang benar2 ringan dan asyik).


Bangun..bangun..! Ini waktunya saya mengambil jarak dari internet dan kembali memaksa otak saya untuk bisa menekuni buku. Dan, untung saya sadarnya sekarang, sebelum Kirana keranjingan internet. Saya harus menghindarkannya dari bahaya besar ini…!


NB: kalau Anda kesulitan membaca artikel ini, karena kepanjangan; apalagi membaca artikel aslinya (yang puanjang itu)… wah.. itu tanda2 bahwa kemampuan baca Anda sudah ‘disetel ulang’ oleh internet 😀

Resolusi untuk Diri Sendiri:

  1. Mendaftar ke perpustakaan British Council (seperti saran dari Uni Desti)
  2. Pagi2, abis sholat dan ngaji, tidak buka internet, tapi BACA BUKU!
  3. Membuka internet maksimal hanya 1 jam sehari, sebagai ‘hadiah’ dari kerja keras saya membaca buku 😀 (kurang-lebih, seperti saran dari Reza Gunawan)

NB: mohon maaf… isi tulisan ini sama sekali tak bermaksud menyinggung hati temen2 yg bekerja dg internet ya.. reply bijaksana dari mba Azimah di bawah sangat pas: yg dimaksud internetan yg mengganggu cara kerja otak adalah internetan ala saya gini deh..loncat sana-sini, baca gak pernah mendalam.. ada baiknya artikel asli dibaca..jauh lebih ilmiah dibanding tulisan saya di sini:D

Advertisements

Mari Bantu Bangun Kembali Mushola di Tanah Datar!

Teman…
hampir sebulan yang lalu (30 Maret 2009) terjadi bencana alam banjir bandang di Kabupaten Tanah Datar. Dalam musibah ini, selain rumah, jembatan, sekolah, dan fasilitas infrastruktur lain (data lengkap bisa baca di sini), juga hancur beberapa mushola, antara lain MUSHOLA NURUL IHSAN.

Yayasan Babussalam, yang berpusat di Ciburial Dago, yang juga punya Pondok Pesantren Al Quran (Kyai-nya bernama Kyai Muchtar Adam), menggalang dana untuk membangun kembali musholla NURUL IHSAN. Yayasan ini juga membangun cabang pesantren di Solok, ga jauh-jauh dari Tanah Datar. Saya kenal sama Pak Kyai-nya, sama putra-putri beliau (yang diantaranya juga aktif ngempi… ayo siapa.. :D).. jadi saya pribadi percaya dengan keamanahan yayasan ini. Oiya, aktivitas Babussalam juga direkam di multiply, di sini

Bagi teman-teman yang berminat gabung untuk mendanai pembangunan kembali musholla tersebut… silahkan transfer ke:
Bank Mega Syariah, cab. Gatot Subroto Bandung, a/n Yayasan Babussalam
No: 10 000.100 000 8125

Contact person: Bunda Intan.. silahkan hubungi MP beliau, klik di sini.

Insya Allah, Allah melimpahkan balasan yg berlipat ganda kepada kita semua yang membantu membangun kembali rumah-Nya. Amiiin…

[Parenting] Mendongeng dan Anak Unggul


Kak Adhi, pendongeng profesional dan instruktur Rumah Qurani, dalam sebuah pelatihan pernah bilang, kurang-lebih, ”Dongeng itu mempengaruhi pola pikir seorang anak ketika dia dewasa. Nah… kenapa orang-orang Indonesia banyak yang suka korupsi? Ya mungkin karena dongeng masa kecil anak-anak Indonesia adalah Kancil Mencuri Timun!” (Kan konsep suap dan menipu sangat kental dalam dongeng itu)


Masih kata Kak Adhi, salah satu efek mendongeng adalah ’meningkatkan kemampuan menulis anak’. Ini saya buktikan, kelihatan pada anak pertama saya, Kirana. Saking sering dicekoki dongeng (:D), sekarang dia punya hobi menulis. Buku pertamanya sudah di tangan penerbit, terakhir sih katanya sedang lay-out..ga tau lagi kapan terbitnya.


Trus… apa lagi ya, efek mendongeng?
Saat saya sedang browsing, ketemu sebuah artikel tentang ”Family Based Education”. Kata artikel itu, sekolah unggul ditentukan oleh “kepedulian, guru yang cerdas, materi (ilmu), dan waktu.” Nah… sebenarnya, keempatnya bisa didapat di rumah, ya kan? Tentu saja, hal ini tidak berarti anak harus homeschooling… (itu sih tergantung kesanggupan ortu). Tapi, yang saya soroti adalah prinsip bahwa di rumah pun anak-anak bisa ditempa menjadi manusia unggul. Di rumah, kita bisa mengajari anak materi-materi yang sangat penting untuk kehidupan sosialnya, seperti etika, EQ (kecerdasan emosional), dan SQ (kecerdasan spiritual).

Caranya gimana? Ya banyak sih.. teman-teman bisa browsing. Salah satunya, menurut saya, adalah melalui dongeng. Dari sebuah blog, juga saya dapat ilmu, ”…mendongeng merupakan suatu cara yang paling efektif untuk memberikan nasehat, pesan, pencerahan, dan motivasi kepada anak. Mendongeng sebetulnya mirip dengan memberikan contoh nyata ke dalam imajinasi anak. Dengan perasaan senang anak akan lebih mudah menyerap dan memahami isi cerita yang disampaikan kepadanya. Pilihlah kisah atau cerita yang menarik bagi anak, sesuai dengan umurnya, dikemas dengan cara yang dapat menembus perasaan secara mudah, dan doronglah ia untuk melakukan kebaikan tersebut.”


Oya, tak perlu minder duluan, “ah..aku ga pinter dongeng!” Jangan kuatir, dongeng se-‘garing’ apapun tetap menarik buat anak, asal disampaikan dengan cinta. Btw, yang bikin saya heran, dari mulut saya kan udah keluar ratusan dongeng yang saya karang spontan, tapi kok sampai sekarang saya tak berhasil menuliskannya dalam buku cerita anak ya? Aneh… tiap mau nulis macet mulu. Mungkin rezeki saya emang bukan di menulis buku cerita anak, hehehe…


Anyway,…mari mendongeng untuk mendidik anak yang unggul dunia-akhirat..:)


Foto: Reza dan hand-puppet lucu produk capungmungil, makasih tante Dini!:)

Jatinangor 1993-2009: Pilihan Hidup

Jatinangor 1993

Saya datang ke kampus yang sepi dan gersang itu dengan perasaan nelangsa, ditemani Papi. Saya hampir nangis (dan akhirnya memang nangis) saat mengetahui ternyata Fakultas Sastra sudah pindah dari Dago ke Jatinangor. Belum lagi sedih karena saya keterima di jurusan yang rada aneh “Sastra Arab”. Saya dulu SMA jurusan fisika. Lalu pas UMPTN, kan ada kesempatan memilih 2 jurusan sains dan 1 sosial, untuk sosial saya pilih Sastra Arab. Kenapa? Ya karena unik aja. Kalau Sastra Inggris udah bosan (halah! Kayak pinter aja:D). Tapi pas bener2 diterima di Sastra Arab, rada nyesel deh dan bertekad tahun depannya saya akan ikut UMPTN lagi. Parahnya lagi, teman-teman sejurusan saya ternyata banyak juga yang berasal dari jurusan fisika dan biologi, lalu frustasi, dan tahun depannya lulus di kedokteran…di ITB.. di ekonomi…


Saya? Hm, atas saran Ibunda, saya bertahan. Meski awalnya blank banget (dan minder juga, soale banyak teman2 se-SMA saya yang kuliah di ITB, kami sama-sama merantau dari Padang ke Bandung, tapi saya kuliah di ‘desa’, mereka di ‘kota’, hahaha…) lama-lama saya bisa mengikuti pelajaran dan lulus dengan baik.

Jatinangor 2009

Saya datang lagi ke kampus ini. Sekarang sudah ramai dan rindang. Kali ini saya datang bersama si Akang dan Reza. Saya duduk di perpustakaan HI untuk membaca sebuah skripsi, mencari data-data yang saya perlukan untuk membuat proposal tesis, lalu langsung mengetiknya di laptop. Rasanya baru beberapa menit, si Akang sudah nelpon, “Sudah selesai?” Ampuuuun….!


Saya cepat-cepat menyelesaikan riset kilat ini lalu menyusul si Akang dan Reza yang menunggu saya di kampus Fak Sastra. Saat si Akang ada urusan sama seorang dosen, saya dan Reza segera ke ruang jurusan Sastra Arab, mau minta surat rekomendasi untuk melanjutkan S2 di jurusan HI. Saya naiki tangga-tangga gedung itu sambil menggenggam tangan Reza, memintanya untuk tak terus-terusan meloncat. Asing sekali rasanya. Di benak saya terbayang, 16 tahun yang lalu, saya mondar-mandir di tangga-tangga ini, masih muda, gamang, ambisius…


Proses meminta surat rekomendasi di jurusan, bertemu dengan beberapa dosen, juga terasa aneh dan canggung, diiringi rengekan Reza, “Ayo pulaaaang…!”


Ya Tuhan, begitu cepat waktu berlalu. Rasanya baru kemarin saya duduk di ruangan ini bersama dosen-dosen yang waktu itu masih sangat muda, dan sekarang mereka terlihat beruban. Beberapa jam di Jatinangor hari ini, membuat saya menyimpulkan sesuatu. Agaknya beginilah hidup, gabungan antara pilihan manusia dan ketetapan-Nya. Manusia bukanlah boneka yang semata-mata menjalani skenario Tuhan. Dia punya hak untuk memilih, karena Tuhan memberinya akal dan memang menyuruhnya memilih. Pilihan kita hari ini akan menentukan ketetapan Tuhan untuk kita di hari depan.


Seandainya dulu tak memilih “Sastra Arab” waktu UMPTN, entah di mana saya hari ini. Begitu pula, seandainya dulu saya memilih ikut UMPTN lagi dan meninggalkan jurusan Sastra Arab, entah apa jadinya. Pilihan saya untuk bertahan ternyata menentukan jalan hidup saya selanjutnya: menikah dengan si Akang yang senior saya di Sastra Arab, ke Iran (karena saya pernah belajar bhs Arab, saya lulus pendidikan bahasa Persia hanya dalam waktu 3 bulan), lalu jadi penerjemah, penulis, dan editor politik Timur Tengah di IRIB (Iran Broadcasting, tempat saya kerja 4 tahun), lalu sekarang jadi penulis buku/artikel yang konsen di kajian Timur Tengah.


Dan sekarang… setelah 16 tahun, saya kembali ke kampus ini, untuk melakukan pilihan baru: ingin melanjutkan kuliah, di sela-sela kesibukan mengurus dua buah hati (Kirana yang penyabar dan Reza yang tak pernah rela bundanya duduk di depan laptop)


Akankah ini pilihan terbaik? Setelah saya memilih ini, apa yang nanti akan terjadi?

Let’s wait and see…;)

*halah.. kan belum tentu lulus tesnya..hehe.. doain saya lulus tesnya ya temans:D*

[Parenting]Kiat Mendidik Anak versi Ust Yusuf Mansyur

Jangan bosen ya, sehari ini saya posting 3 jurnal sekaligus, ketiganya berhubungan dgn idola baru saya ini.. hehe..


Kiat Mendidik Anak versi Ust Yusuf Mansyur

1. Banyak Anak Banyak Rezeki

“Kalau kita cuma berdua, rizkinya cuma buat berdua. Tapi kalau bertiga, maka rizkinya buat bertiga. Jadi, jatahnya beda,” kata Ust. Yusuf Mansyur. “Namun ada syaratnya: asalkan anaknya dikenalkan kepada Allah. Kalau enggak, gimana Allah mau tambahin rizki kita?”

[Komentar: setuju, tapi saya ga sanggup secara mental.. dua anak cukup deh buat saya...]


2. Cara Mengenalkan Anak kepada Allah

“Bukan dengan menyuruh-nyuruh [mungkin maksudnya: ‘memaksa’ kali ya] anak salat. Kita sediakan saja dulu perlengkapannya, seperti mukena. Enggak harus komplet, kasih bagian kepalanya dulu. Nanti, kan, si anak tanya, ‘Mana roknya?’ Kalau dia minta, kan, ada tanggung jawabnya untuk mau salat. Selain itu, ajak anak ke pengajian. Jadi ditanamkan dari sekarang agar nanti besarnya enggak susah.”

3. Mendidik Disiplin secara Fleksibel

“Memang anak perlu dididik untuk disiplin tapi bersikaplah fleksibel dalam menerapkan aturan. Misalnya, ada jam-jam yang harus mereka taati seperti tidur, makan, dan main. Kalau tidak disiplin, nanti anak jadi ngaco. Namun peraturan itu juga harus bijak. Kalau ada sepupunya yang sedang main di rumah, bolehlah enggak tidur siang, misalnya. Jadi fleksibel saja.”

4. Mengajar Konsep Sedekah kepada Anak

Di sekolahnya itu, Ust Yusuf mengajarkan konsep sedekah dengan cara berbagi. Contoh, ada 4 anak dan masing-masing diberi makanan; ada yang dapat pisang, jeruk, apel, dan roti. Bila mereka makan sendiri-sendiri, maka mereka hanya merasakan satu jenis buah yang dipunyai saja. Tapi kalau masing-masing diminta membagi makanannya jadi 4 dan kemudian saling berbagi, maka masing-masing bisa merasakan 4 jenis makanan yang berbeda. Kepada anak-anaknya pun, Ust.Yusuf mengajarkan hal yang sama.

5. Pengawasan dan Doa
Untuk membekali diri anak agar terhindar dari pengaruh lingkungan buruk sebetulnya standar saja, yaitu pengawasan orangtua dan doa. Lakukan persiapannya sejak anak masih di kandungan, dengan sering mengajaknya bicara. “Saya suka nyiumin perut istri dan saya bilang sama anak saya, kamu nanti kalau keluar jangan nyusahin, ya. Pokoknya, saya ngomong apa ajalah soal kehidupan. Lalu, kita bacakan dia Quran dan kita banyak mendoakan supaya jadi anak yang baik. Karena doa itu memainkan peranan penting. Nabi Ibrahim saja masih berdoa supaya anaknya jadi anak yang rajin salat.”

6. Tiga Kunci Agar Anak Selamat

Pertama, orangtua harus memberikan rezeki yang aman dan halal buat anaknya. “Jika tidak halal, maka di-protect kayak bagaimana pun, anak bisa enggak selamat. Sebab, jika rizki yang diberikan sudah halal, Insya Allah, Allah akan melibatkan diri-Nya untuk melindungi anak kita.”

Kedua, anak perlu uswatun khasanah, yaitu contoh dan teladan yang baik dari kedua orangtuanya. Jika anak tidak punya contoh yang baik, misal, ayah-ibu sering bertengkar, bagaimana mau memberitahu si anak? Seperti apa pun orangtua memberitahu anak, sampai budek pun si anak enggak mau dengarkan orangtua.

Ketiga, doa. Libatkan selalu Allah dalam setiap tahapan mendidik anak. Kita sebagai manusia janganlah sombong. Kala anak pamit keluar rumah, contohnya, kita sebagai orangtua tidak bisa tahu dan melihat apa yang anak lakukan di luar rumah. Tapi Allah Maha Melihat dan Tahu. Maka itu, kita berdoa menitipkan anak kita pada Allah dengan memohonkan keselamatannya. Jika kita berdoa, masa Allah tidak akan melindungi? Iya, kan!

Disarikan oleh Dina, dari wawancara dengan Ust Yusuf Mansyur di Tabloid Nakita yg dimuat di sini.

Pendidikan Mahal Vs Gratisan

Mungkin teman-teman udah tau ya… saya dan teman-teman di Rumah Qurani kan mengembangkan (dan memberikan pelatihan) metode pengajaran hafalan Quran yang menyenangkan untuk anak-anak.


Sebenarnya, jujur saja, langkah kami selama ini bisa dibilang sangat pelan (tapi kontinyu dan konsisten.. rata-rata dalam tiap bulan kami mengadakan satu pelatihan di berbagai kota di Indonesia). Kalau dimanajemen dgn bisnis, keknya sekarang pencapaian kami udah jauh lebih besar lagi… (dan itu disarankan oleh beberapa orang kepada kami)


Beberapa waktu lalu, ada bisnismen yang bilang, “Kalau sebuah metode tidak dikemas dengan baik, mana ada orangtua yang mau membeli?”


Oya? Jadi ini masalah kemasan? Lalu dijual? Hmm… K
ami sejak awal memang menolak orientasi bisnis itu. “Kalau hanya orang kaya yang boleh menikmati metode anak pendidikan yang baik, kapan orang miskin bisa maju?” begitu pikir kami.


Ada seorang teman yang punya sekolah mahal di Jawa Timur. Dia bilang, “Saya udah coba mengakomodasi anak-anak miskin, mereka boleh masuk sekolah saya dengan potongan harga. Tapi, orang-orang kaya itu gak mau terima dan pendaftaran murid baru menurun. Jadi terpaksa saya kelola sekolah ini full bisnis, ini jadi sekolah elit. Untuk amal, ya saya bikin sekolah khusus anak miskin di daerah lain.”


Ndilalahnya… kok saya sekarang menghadapi dilema yang sama. Saya tuh punya niat bikin playgroup dengan mengaplikasikan metode Rumah Qurani, di kompleks saya (yang besaaaar..ini, ada 10.000 unit, jadi pangsa pasarnya besar juga). Saya bimbang, ini sekolah kalau gratisan, pasti bikin saya pusing membiayai. Tapi kalau sekalian dibikin sekolah yang musti pake bayar mahal… berlawanan sama idealisme saya, kasian sekali anak-anak yang miskin di kompleks. Saya pernah cerita kan, kompleks saya itu lengkap. Di sini ada rumah yang mewah sampai rumah super kecil di gang yang hanya cukup buat motor, yang tiap sebentar terendam banjir.


Mau bikin sekolah setengah mahal, malah kemungkinan gak laku. Orang kaya akan memilih sekolah yang benar-benar mahal. Orang yang menengah ke bawah akan memilih yang benar-benar murah. Tidak bisa di tengah-tengah (ini kata pemilik sekolah mahal itu loh, bukan kata saya).


Jawaban dari dilema ini saya temukan di artikel “Mau Kaya Bukalah Sekolah” dan juga di-endorse oleh idola baru saya: “Waktu anak saya mau masuk TK, daripada harus bayar 5 juta untuk dia sendiri, lebih baik saya buat saja TK yang bisa untuk ramai-ramai. Jadi, diniatkan untuk digunakan bersama, sehingga anak-anak lain bisa ikut sekolah dan gratis.”


Doain ya temen-temen… supaya playgroup impian saya itu bisa dibuka tahun ajaran baru ini… doakan saya yang sampai detik ini masih terus ragu, kuatir ga sanggup mendanai… dan kuatir tak sanggup mengelola.. soalnya saya tipe penyendiri (dan lebih suka mengurung diri di rumah untuk menulis).. terjun langsung ke masyarakat? Wow..ini kerjaan besar yang saya merasa tak yakin sanggup…hiks..


NEED HELP: ada yang punya kurikulum/silabus PAUD ga? Kalau ada dan tak berkeberatan tolong dikirim ke saya ya… bundakirana@yahoo.com


Idola Baru

Kemarin siang saya menghidupkan tivi dan secara acak memindah-mindahkan channel. Pas ketemu TVOne, sedang menayangkan ceramah Ustad Yusuf Mansyur. Entah mengapa, ada gerakan hati untuk serius mendengarkannya (duh, ketahuan deh, biasanya gak pernah serius mendengar ceramah di tivi.. abis, selain jarang buka TV, juga biasanya adaaa..saja kerjaan).

Sebelumnya saya sudah membaca berbagai tulisan beliau terkait sedekah, yang membuat saya menyimpulkan, “Ini ustad kok menganjurkan sedekah dengan konsep berdagang sama Allah ya.. Kita sedekah sekian..nanti diganti Allah sekian.. Sedekah mah sedekah aja atuh.”


Tapi.. ya itulah, bahasa tulis emang beda sama bahasa lisan. Pas saya mendengar ceramah beliau, terasa klik di hati. Ternyata bukan, dia bukan menganjurkan ‘dagang’ sama Allah.. tapi sedang memotivasi orang supaya rajin berderma, karena berderma itu pada hakikatnya malah akan menguntungkan diri kita sendiri, dunia akhirat. Yah, denger sendiri aja ceramah beliau. Kalau saya tuliskan, ya siapa tau kesan yang ditangkap sama seperti kesan yg saya tangkap selama ini:D


Yang ingin saya ceritakan adalah… saya tiba-tiba menemukan idola baru. Dulu, saya mengindolakan Aa Gym. Bahkan selama di Iran pun saya rajin memutar ulang rekaman beliau. Secara keilmuan, memang sih… seperti kata seorang ustad yang lebih suka memberikan pengajian ilmiah: kalau pengajian Aa Gym disimpulkan, paling-paling cuma 1-2 kalimat. Tapi, yang butuh siraman ilmu adalah otak, sementara hati manusia selalu membutuhkan siraman ruhani. Jadi, pengajian ala Aa Gym memang cocoknya buat hati, bukan buat otak (:D) Apalagi buat saya yang gampang banget resah dan uring-uringan, duh, dengerin ceramah Aa Gym hati ini rasanya sejuk sekali.


Tapiiii… itu duluuuuuuwwww…banget!

Sejak Aa Gym nikah lagi, terus-terang, saya gak bisa lagi menerima pengajian beliau dengan hati seperti dulu. Bukan.. bukan karena saya anti-poligami (karena ini hukum Allah mana mungkin saya berani ‘anti’). Yang bikin saya tak respek lagi sama Aa Gym karena dia ternyata sudah menyakiti hati istrinya. Kalau saja Teh Ninih sejak awal memang merestui pernikahan itu dan bahkan Teh Ninih sendiri yang mencarikan… yah mungkin saya juga cuek aja. Tapi Teh Ninih sendiri ngaku dia awalnya sedih. Meski kemudian ridho, tapi kan tetep awalnya sedih. Menurut saya, orang yang baik tak akan tega membuat sedih istrinya.


Yahhh…. gimana ya… namanya hati, gak bisa disamakan dengan otak kan? Otak saya sih bisa terima “Ambillah hikmah dari siapapun”.. Tapi hati saya teteup, “Lihatlah dulu siapa yang ngomong..” 😀


Jadi… akhirnya saya pun putus hubungan dengan Aa Gym (halah!) dan saya belum menemukan gantinya: ustad yang mampu meraih hati saya. Membuat hati saya ‘klik’ dan dengan antusias menyerap semua kata-katanya.


Alhamdulillah, kemarin saya sudah menemukan sosok itu: ustad Yusuf Mansyur. Mudah-mudahan…dia semakin berkibar dengan gerakan-gerakan yang bermanfaat bagi umat… mudah2an.. dia tidak membuat “blunder” lagi seperti yang dilakukan Aa Gym 😀


Update: ini kata2 Ust Yusuf Mansyur yang kebetulan paaas.. banget sama kondisi saya saat ini: “Waktu anak saya mau masuk TK, daripada harus bayar 5 juta untuk dia sendiri, lebih baik saya buat saja TK yang bisa untuk ramai-ramai. Jadi, diniatkan untuk digunakan bersama, sehingga anak-anak lain bisa ikut sekolah dan gratis. Kita namai saja TK Sedekah dan istri saya yang mengurusnya…” Saya juga mikir gini..Reza kan mau masuk playgroup.. mending bikin PG aja sekalian, manfaatnya bisa buat banyak orang.. tapi masih dag-dig-dug..kuatir ga sanggup..


(gambar ambil dari sini)