Multiple Intelligences: NEXT, MIR, MIS


Ah, pasti teman-teman udah banyak dengar dan paham soal Multiple Intelligences (MI) kan… Menurut MI, kecerdasan anak kan beda-beda (ada yang cerdas matematika, kinestetik, bahasa, musik, dll) tidak bisa diukur dengan angka-angka baku (tes IQ yang hanya mendasarkan kecerdasan anak dari sisi bahasa dan matematika, bahkan ada tes ‘kelemahan anak’, seperti LD, ADD dan ADHD). Sayangnya, sekolah-sekolah di Indonesia umumnya mengukur kecerdasan anak berdasarkan angka. Seleksi masuk sekolah didasarkan pada IQ dan NEM. Akibatnya, anak-anak pintar (dengan ukuran: nilai bagus) akan berkumpul di sekolah-sekolah favorit dan anak-anak yang tidak pintar (nilainya jelek), berkumpul di sekolah-sekolah pinggiran. Artinya, yang pinter makin pinter.. yang tidak pintar akan disisihkan.

Ini aneh sekali. Bukankah tujuan sekolah adalah mendidik anak? Masak mau mendidik harus pilih-pilih dulu, yang pinter dididik di sekolah-sekolah bagus, yang tidak pintar disingkirkan dan disuruh sekolah ke tempat lain yang ‘tidak favorit’? Kalau bahasa ilimiahnya: sekolah dan guru seharusnya menjadi sebagai ”agen perubah” siswa-siswanya. Siswa yang kurang kemampuan akademiknya justru harus dibimbing supaya jadi punya kemampuan prima. Selain itu, lagi-lagi, kepintaran itu kan majemuk, tidak tunggal? Masak yang lemah matematika tapi cerdas di olahraga dianggap tidak pintar?

Nah… masalahnya, gimana menentukan kecerdasan anak kita di bidang mana? Apa alat/standar ukurnya?

Ternyata, Horward Gardner sendiri menyatakan bahwa alat ukur untuk MI itu tidak bisa dibakukan untuk seluruh dunia. Tiap daerah/negara punya standar ukur masing2 yang harus ditemukan melalui penelitian.

Dan ternyata pula, ada orang Indonesia yang sudah bekerja keras untuk menemukan standar ukur MI untuk Indonesia (disebut Multiple Intelligences Research/MIR), melalui penelitian selama 2 tahun, dan sudah memiliki lisensi/hak paten. Namanya, Munif Chatib. Dia dan timnya udah bikin perusahaan konsultan pendidikan bernama NEXT. Prestasi Pak Munif antara lain berhasil menjadikan sekolah Islam di Bondowoso dan Gresik yang semula hidup segan mati tak mau akhirnya menjadi sekolah unggulan. Cara kerjanya, anak-anak dites dengan MIR, yang akan memberi informasi kepada guru berbagai dimensi kemampuan dan kekurangan siswa, terutama tentang bagaimana gaya belajar siswa. Setelah melewati MIR, diterapkanlah MIS (Multiple Intelligences System) di sekolah itu, yaitu guru memberikan pengajaran sesuai kondisi murid-murid, menstimulasi kecerdasan mereka masing-masing, dan mengubah siswa-siswa yang mempunyai kemampuan akademik dan moral negatif menjadi siswa-siswa yang mempunyai kemampuan akademik dan moral positif.

Ajaibnya, kemarin saya (dan suami) kok ya dipertemukan Allah dengan orang pinter satu ini… subhanallah… Bener-bener ketemu, ngobrol sana-sini berjam-jam, dan saya mendapat pencerahan darinya.

Ada satu pertanyaan penting yang saya ajukan kepada Pak Munif, “Pak, sekolah-sekolah yang mau menerapkan MIR dan MIS harus bayar mahal ga kepada NEXT?”

Jawabnya tegas, “Tidak.”

Saya sih ga nanya detil, berapa cost-nya. Tapi yang jelas, kata ‘tidak’ itu membuat saya bertekad akan menemui kepsek-nya Kirana, memperkenalkan Pak Munif dan NEXT. Mudah2an sekolah Kirana (yang sebenarnya juga sudah berbasis MI, tapi kayaknya blm maksimal) mau menerapkan MIR dan MIS di sana:)

Picture taken from here


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s