Idola Baru

Kemarin siang saya menghidupkan tivi dan secara acak memindah-mindahkan channel. Pas ketemu TVOne, sedang menayangkan ceramah Ustad Yusuf Mansyur. Entah mengapa, ada gerakan hati untuk serius mendengarkannya (duh, ketahuan deh, biasanya gak pernah serius mendengar ceramah di tivi.. abis, selain jarang buka TV, juga biasanya adaaa..saja kerjaan).

Sebelumnya saya sudah membaca berbagai tulisan beliau terkait sedekah, yang membuat saya menyimpulkan, “Ini ustad kok menganjurkan sedekah dengan konsep berdagang sama Allah ya.. Kita sedekah sekian..nanti diganti Allah sekian.. Sedekah mah sedekah aja atuh.”


Tapi.. ya itulah, bahasa tulis emang beda sama bahasa lisan. Pas saya mendengar ceramah beliau, terasa klik di hati. Ternyata bukan, dia bukan menganjurkan ‘dagang’ sama Allah.. tapi sedang memotivasi orang supaya rajin berderma, karena berderma itu pada hakikatnya malah akan menguntungkan diri kita sendiri, dunia akhirat. Yah, denger sendiri aja ceramah beliau. Kalau saya tuliskan, ya siapa tau kesan yang ditangkap sama seperti kesan yg saya tangkap selama ini:D


Yang ingin saya ceritakan adalah… saya tiba-tiba menemukan idola baru. Dulu, saya mengindolakan Aa Gym. Bahkan selama di Iran pun saya rajin memutar ulang rekaman beliau. Secara keilmuan, memang sih… seperti kata seorang ustad yang lebih suka memberikan pengajian ilmiah: kalau pengajian Aa Gym disimpulkan, paling-paling cuma 1-2 kalimat. Tapi, yang butuh siraman ilmu adalah otak, sementara hati manusia selalu membutuhkan siraman ruhani. Jadi, pengajian ala Aa Gym memang cocoknya buat hati, bukan buat otak (:D) Apalagi buat saya yang gampang banget resah dan uring-uringan, duh, dengerin ceramah Aa Gym hati ini rasanya sejuk sekali.


Tapiiii… itu duluuuuuuwwww…banget!

Sejak Aa Gym nikah lagi, terus-terang, saya gak bisa lagi menerima pengajian beliau dengan hati seperti dulu. Bukan.. bukan karena saya anti-poligami (karena ini hukum Allah mana mungkin saya berani ‘anti’). Yang bikin saya tak respek lagi sama Aa Gym karena dia ternyata sudah menyakiti hati istrinya. Kalau saja Teh Ninih sejak awal memang merestui pernikahan itu dan bahkan Teh Ninih sendiri yang mencarikan… yah mungkin saya juga cuek aja. Tapi Teh Ninih sendiri ngaku dia awalnya sedih. Meski kemudian ridho, tapi kan tetep awalnya sedih. Menurut saya, orang yang baik tak akan tega membuat sedih istrinya.


Yahhh…. gimana ya… namanya hati, gak bisa disamakan dengan otak kan? Otak saya sih bisa terima “Ambillah hikmah dari siapapun”.. Tapi hati saya teteup, “Lihatlah dulu siapa yang ngomong..” 😀


Jadi… akhirnya saya pun putus hubungan dengan Aa Gym (halah!) dan saya belum menemukan gantinya: ustad yang mampu meraih hati saya. Membuat hati saya ‘klik’ dan dengan antusias menyerap semua kata-katanya.


Alhamdulillah, kemarin saya sudah menemukan sosok itu: ustad Yusuf Mansyur. Mudah-mudahan…dia semakin berkibar dengan gerakan-gerakan yang bermanfaat bagi umat… mudah2an.. dia tidak membuat “blunder” lagi seperti yang dilakukan Aa Gym 😀


Update: ini kata2 Ust Yusuf Mansyur yang kebetulan paaas.. banget sama kondisi saya saat ini: “Waktu anak saya mau masuk TK, daripada harus bayar 5 juta untuk dia sendiri, lebih baik saya buat saja TK yang bisa untuk ramai-ramai. Jadi, diniatkan untuk digunakan bersama, sehingga anak-anak lain bisa ikut sekolah dan gratis. Kita namai saja TK Sedekah dan istri saya yang mengurusnya…” Saya juga mikir gini..Reza kan mau masuk playgroup.. mending bikin PG aja sekalian, manfaatnya bisa buat banyak orang.. tapi masih dag-dig-dug..kuatir ga sanggup..


(gambar ambil dari sini)


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s