Pendidikan Mahal Vs Gratisan

Mungkin teman-teman udah tau ya… saya dan teman-teman di Rumah Qurani kan mengembangkan (dan memberikan pelatihan) metode pengajaran hafalan Quran yang menyenangkan untuk anak-anak.


Sebenarnya, jujur saja, langkah kami selama ini bisa dibilang sangat pelan (tapi kontinyu dan konsisten.. rata-rata dalam tiap bulan kami mengadakan satu pelatihan di berbagai kota di Indonesia). Kalau dimanajemen dgn bisnis, keknya sekarang pencapaian kami udah jauh lebih besar lagi… (dan itu disarankan oleh beberapa orang kepada kami)


Beberapa waktu lalu, ada bisnismen yang bilang, “Kalau sebuah metode tidak dikemas dengan baik, mana ada orangtua yang mau membeli?”


Oya? Jadi ini masalah kemasan? Lalu dijual? Hmm… K
ami sejak awal memang menolak orientasi bisnis itu. “Kalau hanya orang kaya yang boleh menikmati metode anak pendidikan yang baik, kapan orang miskin bisa maju?” begitu pikir kami.


Ada seorang teman yang punya sekolah mahal di Jawa Timur. Dia bilang, “Saya udah coba mengakomodasi anak-anak miskin, mereka boleh masuk sekolah saya dengan potongan harga. Tapi, orang-orang kaya itu gak mau terima dan pendaftaran murid baru menurun. Jadi terpaksa saya kelola sekolah ini full bisnis, ini jadi sekolah elit. Untuk amal, ya saya bikin sekolah khusus anak miskin di daerah lain.”


Ndilalahnya… kok saya sekarang menghadapi dilema yang sama. Saya tuh punya niat bikin playgroup dengan mengaplikasikan metode Rumah Qurani, di kompleks saya (yang besaaaar..ini, ada 10.000 unit, jadi pangsa pasarnya besar juga). Saya bimbang, ini sekolah kalau gratisan, pasti bikin saya pusing membiayai. Tapi kalau sekalian dibikin sekolah yang musti pake bayar mahal… berlawanan sama idealisme saya, kasian sekali anak-anak yang miskin di kompleks. Saya pernah cerita kan, kompleks saya itu lengkap. Di sini ada rumah yang mewah sampai rumah super kecil di gang yang hanya cukup buat motor, yang tiap sebentar terendam banjir.


Mau bikin sekolah setengah mahal, malah kemungkinan gak laku. Orang kaya akan memilih sekolah yang benar-benar mahal. Orang yang menengah ke bawah akan memilih yang benar-benar murah. Tidak bisa di tengah-tengah (ini kata pemilik sekolah mahal itu loh, bukan kata saya).


Jawaban dari dilema ini saya temukan di artikel “Mau Kaya Bukalah Sekolah” dan juga di-endorse oleh idola baru saya: “Waktu anak saya mau masuk TK, daripada harus bayar 5 juta untuk dia sendiri, lebih baik saya buat saja TK yang bisa untuk ramai-ramai. Jadi, diniatkan untuk digunakan bersama, sehingga anak-anak lain bisa ikut sekolah dan gratis.”


Doain ya temen-temen… supaya playgroup impian saya itu bisa dibuka tahun ajaran baru ini… doakan saya yang sampai detik ini masih terus ragu, kuatir ga sanggup mendanai… dan kuatir tak sanggup mengelola.. soalnya saya tipe penyendiri (dan lebih suka mengurung diri di rumah untuk menulis).. terjun langsung ke masyarakat? Wow..ini kerjaan besar yang saya merasa tak yakin sanggup…hiks..


NEED HELP: ada yang punya kurikulum/silabus PAUD ga? Kalau ada dan tak berkeberatan tolong dikirim ke saya ya… bundakirana@yahoo.com


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s