[Parenting]12 Gaya Komunikasi yang Harus Dihindari Para Ibu

Sebenarnya jatah nulis di blog masih harus nunggu bbrp hari lagi (kan jatahnya seminggu sekali, hehehe)… tapi untuk memenuhi janji ke mba Intan, saya posting sekarang aja deh. Ini sebenarnya catatan saat mengikuti Pelatihan Komunikasi Pengasuhan Anak di bawah bimbingan bu Rani Razak Noeman yang keren banget. Pekan lalu, saya ikut pelatihan ini untuk kedua kalinya (biar bener-bener nempel, hehehe).

Ada 12 gaya yang umumnya dipakai para ibu saat berinteraksi dengan anak: memerintah, menyalahkan, meremehkan, memberi cap, mengancam, menasehati, membohongi, menghibur, mengkritik, menyindir, menganalisa.

Mari kita lihat illustrasi berikut.

Shinta, gadis cilik berwajah manis, dengan tubuh agak gemuk, pulang sekolah. Begitu ia membuka pintu, sambil menggeramkan, “Huuuhhhh!!!”, dia membanting tasnya ke lantai. Sepatunya dilempar sekenanya ke sudut ruang tamu. Wajah manisnya tampak sangat marah. Sayang, sepatunya berlumpur, dan menodai karpet yang baru aja dibersihkan oleh mamanya. Langsung deh, si mama sewot. Dia segera berseru:

“Eee.. kok sepatunya dibuang begitu aja di karpet?! Taruh cepet di kamarmu!” (perintah)

“Ya ampuuuun! Liat nih, karpet mama jadi kotor! Gak tau ya, bersihin karpet itu mahal tau! Harus ke laundry! Darimana uangnya? Kamu yang mau bayar?!” (menyalahkan)

”Ada apa tadi teh di sekolah? Kok marah2 begini?!” (mengonterogasi)

”Tadi adikmu pulang gak kayak gini!” (membandingkan)

”Dasar kamu memang jorok!” (mencap)

”Pokoknya awas ya! Nanti uang jajanmu mama potong buat bayar laundry!” (mengancam)

Shinta kemudian disuruh ibu menyapu halaman belakang, tapi hasilnya tetap berantakan.

Ibu menjawab, ”Ah, gitu-gitu aja gak bisa! Sini biar ibu yang beresin!” (meremehkan)

Suatu hari, Shinta pulang sekolah sambil menangis. Rupanya nilai ulangan matematikanya jeblok. Apa kata ibunya?

”Makanyaaa… mama bilang juga apaaa!! Belajar..belajar..! Kamu sih keasikan main game melulu! Kalau nilaimu jelek begini, gimana kamu mau jadi dokter???” (menasehati)

Atau;

Ibu, ”Katanya juara kelas… kok nilaimu jelek begini?” (menyindir)

Suatu hari, Shinta minta dibelikan game baru. Mama menolak dengan alasan, ”Gak punya uang!” Padahal, di hari yang sama, Mama beli baju baru. (berbohong)

Lalu, Shinta mengeluh, ”Ma..kata temenku, potongan rambutku ketinggalan jaman..”

Komentar ibu, ”Ah, kamu cantik begini. Mereka aja yang ga cantik, makanya mengejekmu!” (menghibur, dgn cara salah)

Shinta menyeterika bajunya sendiri. Dengan bangga dia memperlihatkan ke ibunya. Kata ibunya, ”Kok ga rapi sih? Kan mama udah bilang, kalau nyeterika, semua bagian harus licin!” (mengkritik)

Sinta mengeluh, ”Bu, tadi si Ina mengejek aku.”

Ibu menjawab, ”Jangan-jangan kamunya banyak tingkah, jadi aja diejekin (sok menganalisa).

Ke-12 gaya ini sangat berbahaya bagi perkembangan jiwa anak. Anak yang terlalu sering diremehkan, dikritik, diancam, disindir, dll, akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak pede. Akibatnya, dia mudah terombang-ambing. Dalam pergaulan dengan temannya, bila temen2nya rame2 ikut trend tertentu, dia akan sangat depresi kalau gak ikut trend itu. Kalau trend-nya berbahaya gimana, misalnya… pake narkoba atau seks bebas.. dan anak ikut2an..wah… naudzu billah min dzalik.

Solusinya, ya musti latihan supaya tidak memakai 12 gaya ini dalam berkomunikasi dengan anak…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s