[Parenting]Si Tukan dan Si Makanya

Semoga engga bosen. Setelah ikut pelatihan parenting, dan juga karena sedang menggarap buku bertema parenting, saya emang keranjingan tema parenting. Mau gak mau, setiap poin yang saya tuliskan saya refleksikan pada kehidupan pribadi.

Misalnya nih, saat membahas 12 gaya komunikasi yang harus dihindari para ibu. Salah satunya kan menghindari “si Tukan dan si Makanya” [Tu..kan.. mama bilang juga apaaa…! atau Makanya..kan mama udah bilang…!]

Parahnya, saya dulu hobi banget memanggil si Tukan dan si Makanya. Contoh yang paling sering terjadi, pagi2, Kirana kehilangan bukunya, kaos kaki, atau apa saja barang2 yg dibutuhkannya. Lalu seperti biasa, dia akan nanya, “Ma…bukuku mana?”

Reaksi saya sudah bisa diduga, “Ya nggak tau atuh! Makanyaa…. ! Mama kan udah bilang, buku-buku diberesin malam-malam! Bukannya pagi2 baru kelabakan!” Lalu saya pun membantu Kirana mencari buku itu sambil terus ngomel.

Saya pun ngobrol ke suami. Perasaan, kami dulu waktu kecil gak gitu deh. Urusan buku dan pernak-pernik sekolah sih urusan kami sendiri dan rasanya gak pernah melibatkan ortu untuk mencari-cari barang yang hilang (*melirik si Papi yg juga ikutan ngempi*:D).

Hasil diskusi kami:

Agaknya ortu kami dulu (dan mungkin kebanyakan ortu zaman dulu) memang tidak sangat melibatkan diri pada urusan anak dan membiarkan anak untuk bertanggung jawab (apalagi kalo anaknya banyak..kayak suami saya tuh, 8 bersaudara :D).

Sebaliknya, kami, (dan mungkin kebanyakan ortu zaman sekarang…soalnya saya ngobrol sama ibu2 majlis taklim, ternyata banyak yg mengaku begini), umumnya ingin menyiapkan segala sesuatu senyaman mungkin buat anak, supaya anak bisa belajar dgn baik di sekolah. Ortu zaman sekarang, merasa tahu secara detil, apa saja yang harus dimiliki anaknya untuk mencapai masa depan cemerlang, lalu melibatkan diri secara intens pada urusan anak, bahkan pada urusan yang seharusnya menjadi tanggung jawab si anak. Akibatnya, anak menjadi tidak mandiri dan menuntut untuk terus-menerus dilayani.

Misalnya, saya punya ekspektasi tinggi, Kirana jadi anak yang sukses di sekolah dan saya sangat merasa terlibat pada ekspektasi itu. Saya merasa tahu apa yang dibutuhkan Kirana untuk menjadi sukses sekolah. Akibatnya, saya pun ikut panik saat Kirana kehilangan bukunya. Karena panik, saya pun terdorong untuk ngomel (dengan tujuan menasehati, tapi salah gaya). Saya panik karena kuatir, gimana nanti Kirana belajar kalau bukunya tidak ketemu?

Padahal, seharusnya, reaksi saya: diam saja dan membiarkan sendiri Kirana mencari bukunya. Kalau dia sampai terlambat gara-gara cari buku, ya biarkan dia menerima konsekuensinya (malu, misalnya). Atau kalau dia ke sekolah tanpa buku, biarlah dia belajar merasakan, gimana akibatnya kalau tidak teliti menyimpan buku. Dengan cara ini, Kirana akan terlatih untuk menjaga sendiri barang2nya, menyimpannya dengan rapi, dan menyiapkan isi tas pada malam hari.

Dan ketika saya mempraktekkan ini, terus-terang saya merasa agak bersalah. Kok rasanya tega bener ke anak. Tapi beberapa kali praktek, efeknya malah bikin saya tenang. Kirana kini sangat jarang bertanya di mana letak barangnya. Dan pergi sekolah tepat waktu. Dan pagi hari pun terlewati tanpa perlu ngomel. 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s