Takjub…


Bukan.. rasanya ini bukan perasaan riya atau sombong…

Ini adalah perasaan takjub. Perasaan seorang ibu yang takjub melihat anaknya di usia 8 tahun 8 bulan, duduk di depan publik, dengan tenang memperkenalkan diri, lalu menceritakan apa isi bukunya, dan menjawab pertanyaan “apa yang kamu lakukan jika kehabisan ide menulis?”

Si ibu pun takjub melihat si putri dikerubuti oleh rekan-rekan sebaya yang meminta tanda tangan (umur 8 tahun punya tanda tangan?).


Apa si ibu sedang bermimpi? Si Putri yang biasanya pemalu dan menjawab ‘gak tahu’ kalau ditanya oleh orang lain (kecuali yang sudah sangat akrab de
ngannya), kini sudah berubah. Katanya, “Ternyata tampil di depan umum itu biasa-biasa aja ya…” (sebelumnya dia nervous sekali).


Tapi si ibu harus berhati-hati…

Kata pakar parenting, percaya diri bukanlah berani tampil di depan umum, baca puisi atau menyanyi. Anak yang percaya diri adalah anak yang berani berkata ‘tidak’ ketika teman-temannya mengajaknya melakukan sesuatu yang tidak benar.


Duh, PR si ibu masih banyak ya.. hiks..

foto: Kirana (jilbab biru) bersama lima penulis cilik lain, pada acara launching buku mereka di MP Book Point 28 Juni 09

Buku Kirana yang ini:

Cita-Citaku Jadi Pemulung !

Barusan saya ngobrol-ngobrol sama suami tentang seorang senior kami dulu di kampus, yang kini jadi koordinator sebuah organisasi besar di Indonesia. Bener-bener tak nyambung dengan latar belakang pendidikannya. Lalu, beberapa hari lalu, saat ke Riau untuk ikut Tim Rumah Qurani memberi pelatihan di sana, saya kenalan dengan seorang ibu yang pekerjaannya: konsultan pendidikan. Padahal latar belakang pendidikannya jauh dari ilmu pendidikan. Ibu ini dibayar mahal oleh orang-orang berduit yang pengen membuat sekolah (mulai dari desain, rekrutmen, konsep, dll).


Kami pun (saya dan suami) kini juga punya profesi yang jauh banget dari khayalan kami dulu (suami saya waktu kecil ingin jadi insinyur, saya juga). Kini, suami saya malah meniti karir di bidang filologi (hah, apaan tuh?!) dan saya mendapat penghasilan dari penulis dan sebentar lagi punya pekerjaan sebagai manajer sebuah PAUD (masih kecil2an siih..tapi kan judulnya tetep aja manajer, haha..).


Nah, coba kita pikir2, mengapa banyak orang berpendidikan menganggur? Ya karena mereka cuma punya sedikit preferensi tentang peluang pekerjaan. Dan, ini tak lepas dari pola pendidikan juga. Coba, waktu kecil, ketika ditanya cita2, biasanya jawaban kita seragam, “dokter, pilot, insinyur, guru..” dan kini, ketika kita nanya ke anak2, “Cita-citamu apa, Nak?”, jawaban yang kita inginkan juga profesi2 yang mapan dan ‘jelas’.


Padahal, ada banyak sekali pekerjaan di dunia ini, yang bahkan sebelumnya tak ada dan tak dikenal, namun buktinya bisa menghasilkan uang yang halal. Karena itu, seperti kata psikolog temenku, biarkan anak kita mengeksplor cita-citanya sendiri, jangan di-cut. Misalnya nih, keponakan saya pernah dengan yakin bilang, “Aku pengen jadi pemulung!”


Oalaaa.. coba, kalo anak kita yang bilang gitu, kira2 kita jawab apa? Sangat mungkin, “Jangaaaan! Jadi dokter aja ya.. atau insinyur…!”


Padahal, stay cool aja…. Malah, sebaiknya, diajak untuk mengeksplorasi apa saja keuntungan jadi pemulung, berapa duit yang kira-kira didapatnya sehari..dll. Artinya, kita jangan terpaku di kata ‘pemulung’, tapi terus dieksplorasi berbagai peluang kerja yang ada kaitan dengan ‘pemulung’. Siapa tahu ketika besar dia jadi bos perusahaan daur ulang dengan penghasilan ratusan juta sebulan, hehehe… Ketika kita memutuskan impiannya begitu saja, dia akan tumbuh jadi anak yang berkacamata kuda, taunya di dunia ini cuma dokter, insinyur, kerja kantoran..kalo nggak..kehilangan akal, dan nganggur deh.


Anyway, toh umurnya masih balita. Buat apa panik duluan, ya kan?

photo pinjem dari sini

Rindu Puisi


Pagi ini, dalam suasana mellow, saya menemukan kalimat-kalimat indah berikut:

Pada kertas waktu aku menulis tentang akar yang bekerja keras mencari makan.

Tertekan dalam kegelapan, namun tak pernah berkeluh kesah.

Aku menulis batang pohon yang terus tegak menyangga cintanya pada daun dan dahan reranting.

Aku menulis dahan reranting yang terus penuh kasih memanggul dedaun.

Aku menulis dedaun yang tabah dipanasi dan dihujani demi mengawetkan segala.

Pada kertas waktu aku menulis tentang kita.

(By: Baban Banita, diambil dari facebook-nya)

Lalu obrolan kami mengalir hingga ke ranting-ranting kehidupan.

Kedekatanku dengannya, adalah kedekatan akar pada air dan saripati di dalam tanah yang gembur.

Diskusi-diskusi kami adalah batang pohon, cabang, ranting dan daun-daun ma’rifah, mahabbah dan taqarrub ila lLah.

(By: Imazahra, diambil dari MP-nya)

Duh… saya benar-benar merindukan puisi… hiks..

Emma and I

Beberapa hari yll, saya ‘terdampar’ di perpustakaan ITB bagian umum (buku2 ex-British Council). Kebetulan ada urusan di sekitar kawasan situ, dan harus menunggu 2 jam, jadilah saya nongkrong dulu di perpustakaan.


Kebetulan nemu buku jadul (keknya buku2 di sana emang jadul semua deh), “Emma and I” karya Sheila Hocken, terbit 1977. Buku ini kisah hidup si penulisnya sendiri, Sheila, yang tuna netra. Namun, oleh ortunya, dia tetap disekolahkan di sekolah umum. Ortunya juga tetap mengajarinya kemandirian. Sheila tumbuh menjadi anak yang mandiri. Namun, tetap saja, dia butuh ‘mata’ untuk melakukan aktivitas hidupnya.


Keren-nya, di Inggris ternyata ada pusat training anjing khusus yang bisa menjadi pembimbing kaum tuna netra, yaitu anjing jenis Alcatian. Di pusat training itu, baik si anjing maupun orang tuna netra sama-sama dilatih supaya bisa bekerja sama. Sheila mendapatkan anjing pembimbing bernama “Emma”


Nah.. lama-lama, si Emma nih tambah pinter aja. Bahkan dia bisa kenal berbagai macam instruksi baru, misalnya “ke toko makanan”..dia akan membimbing Sheila ke toko makanan, “ke toko sepatu”… dia akan mengantar Sheila ke toko sepatu, dst.


Berkat Emma, Sheila semakin mandiri. Dia bisa bekerja, menyewa apartemen sendiri, dan menghidupi dirinya sendiri (padahal usianya waktu itu baru 19 tahun). Beberapa tahun kemudian Sheila menikah, lalu, terdengar kabar ada dokter mata yang kemungkinan mampu menyembuhkan matanya. Ternyata benar, setelah diterapi dokter itu (dioperasi), Sheila bisa melihat lagi.


Sheila pun menikmati hari-hari barunya dengan sangat bahagia.


Nah, ini kalimt-kalimat Sheila yang amat menyentak hati saya:


I hear people in the street talking angrily about the price of things. Then I want to tell them, how lucky they are. They can see the sky and the trees.


Subhanallah… Bener juga ya.. kita sering mengeluh tentang ini-itu… Padahal, ada begitu banyak yang seharusnya kita syukuri… di antaranya: mata. Sesungguhnya, kita bisa melihat langit adalah nikmat yang sangat besar…


Sheila menutup bukunya dengan kalimat yang mengiris hati saya. Dia melahirkan bayi yang cantik bernama Kerensa. Sheila berkata (menulis), We have only one thing to hope for: that Kerensa will be able to see.”


Luar biasa! Betapa banyak harapan ortu kepada anaknya? Pengen anak pintar matematika, bahasa Inggris, sains, piano, karate, berenang, patuh, gak rewel, gak gangguin saat emaknya internetan (hahaha ini sih saya banget!), gak ini..gak itu..?


Sementara Sheila, yang tahu benar nikmatnya punya mata, hanya berharap satu hal: anaknya bisa melihat….

In Memoriam, Perempuan Yang Ingin Menjadi Ibu Biasa

Tim RQ di Aceh… Astrid, berdiri, jilbab putih

Namanya Astrid. Wajahnya manis, penampilannya sederhana; ibu-ibu banget. Dia juga memperkenalkan diri sebagai distributor dari sebuah produk buku untuk anak, yang dijual secara langsung (direct selling). Jadi awalnya saya pikir, beliau memang ibu yang biasa-biasa saja.


Waktu itu kami bertemu di Medan dalam bedah buku Baby Blues dan Dr, Cilik (dua buku sekaligus yg dibedah, karena sempitnya waktu). Ternyata, dia kemudian ikut rombongan kami ke Langsa, untuk mengikuti pelatihan Metode Rumah Qurani. Saya dan dia ditempatkan sekamar; jadilah kami mengobrol panjang lebar tentang kehidupan kami masing-masing. Saat itulah saya tahu, dia ibu yang luar biasa.


Kisah hidupnya luar biasa. Setelah menjadi psikolog, dia bekerja di sebuah perusahaan untuk menangani HRD (human resources department). Karirnya cemerlang, sampai menjadi tangan kanan bosnya. Perusahaan itu kemudian tumbuh besar, dan dia menjadi pejabat yang harus didampingi bodyguard. Uang sudah bukan lagi masalah. Bahkan, dia sampai muak melihat uang saking ruang penyimpanan uang di perusahaan itu penuh sesak dengan uang (menyimpan uangnya bukan sekedar brankas, tapi sudah ruangan!).


Kemewahan, menjadi hari-harinya.


Namun, kemudian dia merasakan kejenuhan. Dia ingin menjadi ibu biasa. Jadi dia berhenti bekerja, menikah dengan seorang lelaki sederhana, dan melahirkan anak. Katanya, “Jadi ibu kan nggak ada sekolahnya. Saya harus belajar jadi ibu.”


Lain waktu, dia bilang sambil tertawa… “Setelah berkeluarga, baru saya tahu nikmatnya pakai daster…”


Dengan mata berbinar, dia bercerita tentang anak lelakinya yang manja, selalu mau dikeloni kalau tidur.


Waktu itu, dia sedang hamil (anak kedua) sekitar 6 bulan.


Menurutnya, “Awalnya di sela-sela kesibukan rumah tangga, saya membantu terapi psikologi teman-teman. Ee…akhirnya dari mulut ke mulut menyebar dan pasien saya bertambah banyak sampai saya tak punya waktu lagi untuk diri sendiri dan keluarga. Jadi kami pindah ke Medan, kota kelahiran saya.”


Di Medan, dia bekerja part time di sebuah biro konsultan psikologi. Dan juga berjualan produk buku anak itu (karena menurutnya buku itu bagus sekali, jadi dia ingin ibadah dengan menyebarluaskannya –video buku bisa lihat di sini). Setelah berkenalan dengan kami -tim Rumah Qurani- dan ikut pelatihan di Langsa, dia bersemangat ingin menyebarkan metode ini di Medan. Dia ingin anak-anak muslim cinta Quran. Berkali-kali saat kami berpisah, dia bilang, “Saya akan usaha maksimal supaya mba Dina dan Rumah Qurani bisa memberi pelatihan di Medan!”

Terakhir, dia sms saya pada tgl 3 April, memberi tahu bahwa dia sudah berbicara panjang lebar dengan seorang direksi Mizan tentang Rumah Qurani. Dia meminta saya mengontak Bapak itu. Dia berharap, mudah2an atas sponsor Mizan, kami bisa memberi pelatihan di Medan, dan di tempat-tempat lain.


Saya berjanji untuk menindaklanjuti usahanya. Tapi, kesibukan membuat janji itu terlewat, tak tertunaikan.


Sampai tadi pagi… datang telepon. Dia sudah meninggal tadi malam, saat melahirkan anak keduanya…

Teman yang menyampaikan telepon itu sebelumnya juga sudah mengabari si Bapak dari Mizan. Si Bapak itu berkata, “Bu Astrid bercita-cita mempertemukan Mizan dan Rumah Qurani.”


Saya tercekat. Saya ingat, saya berjanji mengontak Bapak dari Mizan itu… dan janji itu belum saya penuhi! Saya menyesal sekali… Seandainya saya menelpon jauh-jauh hari… Kemarin2 saya selalu menunda2, berpikir masih banyak waktu. Saya lupa, bahwa kematian selalu datang tanpa diundang. Kematiannya membuat saya tersentak, betapa ajal selalu menemani kita, hanya menunggu saat yang tepat untuk menyergap.


Saya cepat-cepat menelpon Bapak itu, menunaikan janji. Saya dan Bapak itu berjanji untuk bertemu membicarakan hal ini lebih lanjut. Entah bagaimana nanti hasil akhirnya. Mudah-mudahan, kami bisa kembali ke Medan untuk mewujudkan cita-cita Bu Astrid…

Takut…

Sepertinya atmosfer ketakutan sedang ditebarkan di negeri ini…

Mau kemana negeri ini akan dibawa…?

Ibu Prita Mulyasari, karena mengeluhkan pelayanan sebuah RS, dituduh melanggar Pasal 27 UU ITE. Saya dapat dari sebuah milis, isi pasal2 yg berisi ‘larangan’ di UU ITE :

BAB VII
PERBUATAN YANG DILARANG

Pasal 27

(1) Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan
(2) Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan perjudian.
(3) Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.
(4) Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan pemerasan dan/atau pengancaman

Pasal 28

(1) Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik
(2) Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA)

BAB XI
KETENTUAN PIDANA

Pasal 45

(1) Setiap orang yang memenuhi unsure sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3) atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000, 00 (satu miliar rupiah)
(2) Setiap orang yang memenuhi unsure sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) atau ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/ atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000, 00 (satu miliar rupiah)

Silahkan baca artikel ini, berjudul “Prita, Khoe, Ibas”, ditulis seorang wartawan, yang berisi berbagai kasus yg terkait dengan pencemaran nama baik…:

Menakutkan…

[Sharing] Cara Mengajari Kirana Menulis… Novelnya udah Terbit:)

Alhamdulillah… buku Kirana akhirnya terbit juga..

Pengen sharing proses kreatifnya aja..sapa tau berguna…

Jadi gini.. duluuu…saya tuh baca jurnal2nya mba Pungki di US tentang kegiatannya mengajak anaknya mas Imam menulis jurnal.. ya semacam cerita singkat tentang apa saja, misalnya tentang kucing. Nah, saya tuh terinspirasi. Makasih banyak ya mba Pungki, mba berjasa banget buat kami!:D

Dan sejak Kirana bisa membaca (usia 5), saya mengajaknya menulis di laptop (iya, langsung di laptop, soalnya, kalau nulis tangan kan kelamaan, mana waktu itu tulisannya masih belum rapi). Saya bimbing dikit-dikit mendeskripsikan adiknya.

Misalnya:

Adikku namanya Reza

-(saya bilang: ayo coba cerita, pipinya dedek kayak apa?), Rana tulis: Pipinya gemuk

-(saya bilang: ayo lanjutkan, rambutnya gimana?), Rana tulis: rambutnya hitam

-(saya bilang: Rana mau cerita apa lagi?), Rana tulis: alisnya kayak bulan sabit

-(saya bilang: perasaan Kirana gimana?), Rana tulis: aku sayang adikku

Dst…

Nah, lama-lama, kok dia malah suka nulis sendiri di kertas, kadang dibikin buku (beberapa kertas dicepret jadi satu, dikasih cover kertas yg digambarnya sendiri). Isinya..ya awal2nya sih selalu saja tentang adiknya.

Halo Reza. Kamu lucu sekali. Aku sayang sama kamu.”

Trus, sambil jalan, juga saya belikan banyak buku. Sebenarnya kemajuan Kirana lambat banget. Ini karena kemampuan bahasa Kirana yg awalnya rada kacau, di rumah Indonesia, di sekolah Farsi, jadi dia ngomong Farsindonesia :D. Setelah pulang ke Indonesia (apalagi setelah ikut kursus menggambar kreatif di Rumah Pensil), baru ada kemajuan pesat (ternyata ada korelasi antara menggambar-dongeng-menulis).

Apalagi setelah rajin beli buku KKPK, wah, tambah semangat deh nulisnya. KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya) adalah buku2 cerita yg ditulis anak2 kecil..keren banget.. ternyata sekarang ini, adanya penulis cilik bukan hal luar biasa.. banyak banget penulis cilik bermunculan. Kata editor KKPK, naskah2 yg masuk tuh membanjir.. Apalagi pembelinya juga banyak, sehingga brand KKPK katanya udah jaminan laku. Keren yah? Coba di zaman saya kecil dulu udah ada KKPK.. kayaknya saya jadi penulis udah sejak zaman dulu deh:D

Lama-lama, cerita yang ditulis Kirana makin bervariasi. Saya pun membimbingnya menyatukan berbagai cerita ini ke dalam satu jalinan cerita utuh yg agak panjang. Triknya, kurang lebih, semacam mengajari plot cerita. (“Si Helen begini…lalu begitu..lalu begini..dst). Akhirnya, Kirana sendiri yg terinspirasi menyusun plot cerita.

Hm.. udah deh, segini dulu sharingnya… Mudah2an bermanfaat.

Pesan sponsor: beli buku Kirana ya..ceritanya rame loh.. hehehe:D

UPDATE: ini buku Kirana terbaru:

kirana avalonia