In Memoriam, Perempuan Yang Ingin Menjadi Ibu Biasa

Tim RQ di Aceh… Astrid, berdiri, jilbab putih

Namanya Astrid. Wajahnya manis, penampilannya sederhana; ibu-ibu banget. Dia juga memperkenalkan diri sebagai distributor dari sebuah produk buku untuk anak, yang dijual secara langsung (direct selling). Jadi awalnya saya pikir, beliau memang ibu yang biasa-biasa saja.


Waktu itu kami bertemu di Medan dalam bedah buku Baby Blues dan Dr, Cilik (dua buku sekaligus yg dibedah, karena sempitnya waktu). Ternyata, dia kemudian ikut rombongan kami ke Langsa, untuk mengikuti pelatihan Metode Rumah Qurani. Saya dan dia ditempatkan sekamar; jadilah kami mengobrol panjang lebar tentang kehidupan kami masing-masing. Saat itulah saya tahu, dia ibu yang luar biasa.


Kisah hidupnya luar biasa. Setelah menjadi psikolog, dia bekerja di sebuah perusahaan untuk menangani HRD (human resources department). Karirnya cemerlang, sampai menjadi tangan kanan bosnya. Perusahaan itu kemudian tumbuh besar, dan dia menjadi pejabat yang harus didampingi bodyguard. Uang sudah bukan lagi masalah. Bahkan, dia sampai muak melihat uang saking ruang penyimpanan uang di perusahaan itu penuh sesak dengan uang (menyimpan uangnya bukan sekedar brankas, tapi sudah ruangan!).


Kemewahan, menjadi hari-harinya.


Namun, kemudian dia merasakan kejenuhan. Dia ingin menjadi ibu biasa. Jadi dia berhenti bekerja, menikah dengan seorang lelaki sederhana, dan melahirkan anak. Katanya, “Jadi ibu kan nggak ada sekolahnya. Saya harus belajar jadi ibu.”


Lain waktu, dia bilang sambil tertawa… “Setelah berkeluarga, baru saya tahu nikmatnya pakai daster…”


Dengan mata berbinar, dia bercerita tentang anak lelakinya yang manja, selalu mau dikeloni kalau tidur.


Waktu itu, dia sedang hamil (anak kedua) sekitar 6 bulan.


Menurutnya, “Awalnya di sela-sela kesibukan rumah tangga, saya membantu terapi psikologi teman-teman. Ee…akhirnya dari mulut ke mulut menyebar dan pasien saya bertambah banyak sampai saya tak punya waktu lagi untuk diri sendiri dan keluarga. Jadi kami pindah ke Medan, kota kelahiran saya.”


Di Medan, dia bekerja part time di sebuah biro konsultan psikologi. Dan juga berjualan produk buku anak itu (karena menurutnya buku itu bagus sekali, jadi dia ingin ibadah dengan menyebarluaskannya –video buku bisa lihat di sini). Setelah berkenalan dengan kami -tim Rumah Qurani- dan ikut pelatihan di Langsa, dia bersemangat ingin menyebarkan metode ini di Medan. Dia ingin anak-anak muslim cinta Quran. Berkali-kali saat kami berpisah, dia bilang, “Saya akan usaha maksimal supaya mba Dina dan Rumah Qurani bisa memberi pelatihan di Medan!”

Terakhir, dia sms saya pada tgl 3 April, memberi tahu bahwa dia sudah berbicara panjang lebar dengan seorang direksi Mizan tentang Rumah Qurani. Dia meminta saya mengontak Bapak itu. Dia berharap, mudah2an atas sponsor Mizan, kami bisa memberi pelatihan di Medan, dan di tempat-tempat lain.


Saya berjanji untuk menindaklanjuti usahanya. Tapi, kesibukan membuat janji itu terlewat, tak tertunaikan.


Sampai tadi pagi… datang telepon. Dia sudah meninggal tadi malam, saat melahirkan anak keduanya…

Teman yang menyampaikan telepon itu sebelumnya juga sudah mengabari si Bapak dari Mizan. Si Bapak itu berkata, “Bu Astrid bercita-cita mempertemukan Mizan dan Rumah Qurani.”


Saya tercekat. Saya ingat, saya berjanji mengontak Bapak dari Mizan itu… dan janji itu belum saya penuhi! Saya menyesal sekali… Seandainya saya menelpon jauh-jauh hari… Kemarin2 saya selalu menunda2, berpikir masih banyak waktu. Saya lupa, bahwa kematian selalu datang tanpa diundang. Kematiannya membuat saya tersentak, betapa ajal selalu menemani kita, hanya menunggu saat yang tepat untuk menyergap.


Saya cepat-cepat menelpon Bapak itu, menunaikan janji. Saya dan Bapak itu berjanji untuk bertemu membicarakan hal ini lebih lanjut. Entah bagaimana nanti hasil akhirnya. Mudah-mudahan, kami bisa kembali ke Medan untuk mewujudkan cita-cita Bu Astrid…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s