Direct Selling: Pelangi di Persia

Karena ada beberapa teman mengeluhkan pengen baca buku Pelangi di Persia, tapi udah dicari di toko gak ada (maklumlah ini terbitnya udah lama, Des 2007), saya terpikir untuk melakukan direct selling aja.

Buat temen2 yang minat beli, silahkan kirim email ke dina_rana@yahoo.com.

Harga toko: 63.000

Disediakan discount menarik, silahkan kontak via email

Ini review dari beberapa pembaca buku ini (dikutip dari goodreads):

Rini wrote:

Membaca buku ini pada saat-saat mencontreng yang sedang heboh memang tepat. Bagian paling menarik adalah penelusuran politik dan permainan media, khususnya Amerika, tentang pidato Ahmadinejad yang diterjemahkan ‘begitu saja’ sehingga ia menimbulkan kesan bahwa Islam itu anti damai dan Iran adalah ’sarang’ teroris. Padahal setelah ditelisik naskah aslinya, beliau tidak menghendaki Israel dihapuskan atau dibasmi, melainkan rezim Zionisnya saja yang kejam tak terkira.

Buku ini bukan sekadar panduan travelling atau memoar biasa, tetapi sangat mengayakan wawasan. Tidak benar, Iran tertutup. Tidak benar, Iran menindas wanita. Buktinya ada yang belajar kungfu dan menjadi polisi. Tidak benar pula seni diberangus total.

Sungguh, aku tidak menyesal membeli dan membaca buku ini. Kalaupun ada kekurangannya, adalah pada penyuntingan. Yang paling mengganggu adalah kalimat Ahmadinejad yang begini: be angry at us, dan </i>die of this anger</i>! Seandainya kejanggalan tersebut tidak terjadi, maka aku akan memberinya lima bintang secara bulat.

Nadiah wrote:

Buku ini adalah salah satu buku non-fiksi yang sangat saya minati. Pandangan saya tentang sebuah negeri bernama Iran banyak berubah setelah membaca buku ini.

Dina Y. Sulaeman dan suaminya, Otong Sulaeman, menyajikan beragam kisah, peristiwa dan tempat-tempat yang luar biasa yang mereka lewati di Iran. Bagi saya, buku ini bukan sekedar buku tentang sebuah negeri, melainkan juga buku yang bernilai relijius.

Satu kisah yang ditulis Otong bahkan membuat saya menangis tersedu-sedu dan begitu haru, mengingat kembali indahnya rasa ikhlas, merasakan kembali nikmatnya cinta Ilahi. Kisah itu adalah kisah Mehdy, seorang supir taksi yang membawa Otong berkeliling di suatu kota di Iran — kisah inilah yang membuat saya memberi 5 bintang untuk buku ini.

Pemaparan tentang sistem pemilihan di Iran yang begitu simpel membuat saya sedih dengan sistem di sini. Andaikan warga Indonesia seperti itu juga, bersemangat dan jujur dalam memilih, tentunya tidak perlu repot-repot memesan kotak suara atau tinta khusus (yang nyatanya mudah hilang juga) sehingga menghabiskan uang rakyat.

Satu lagi yang membuat saya terkesan dengan Iran, yaitu gerbong kereta yang dipisahkan antara perempuan dan laki-laki — meski ada juga gerbong campuran untuk suami istri). Kapan ya, Indonesia bisa seperti itu?

Andai buku ini dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris agar dunia barat dapat melihat Iran (dan/atau Islam) dengan cara berbeda…atau sudah?

—-

Dhini wrote:

buat siapa aja yang merasa iran sebagai negara yang “mengerikan” dan “kaku”, baca deh buku ini…

penulisnya udah 8 tahun tinggal di sana.. dan buku ini semacam catatan keseharian serta interaksinya dengan masyarakat iran.

sbg negara yg pernah jadi salah satu pusat peradaban kuno dunia.. dan sekaligus negara yang sering dapat embargo ekonomi dari Paman Sam, ternyata masih banyak sisa peninggalan kebudayaan Persia yang dapat ditemukan di sana…

bagus.. banget deh…!!!


PS: makasih atas reviewnya ya…:)

Advertisements

Momen Menyenangkan Juni-Juli

Bulan Juni-Juli ini ada banyak momen menyenangkan dalam kehidupan kami.

Pertama, kunjungan Imazahra untuk kesekian kalinya ke rumah kami. Ima dianterin tengah malam oleh Winda, and the gank. Wah rame deh.. ini judulnya “Midnite Kopdar at Rancaekek” haha.. Ada Winda, kang Surya, kang Joko, dan Nie & son.

Kali ini Ima ke Bdg krn mau bedah buku LDL di Daarut Tauhid. Asyik deh mendengarkan presentasi dari Ima. Ada banyak hal yang disampaikan Ima.. (antara lain: promosi abis2an Multiply, hahaha.. MP emang huhuy!) tapi yang paling berkesan buat saya kalimat Ima, “Menulis adalah profesi seumur hidup. Sepanjang orang membaca dan mendapatkan manfaat dari tulisan kita, sepanjang itu pula pahalanya mengalir.” Wow.. inspiring banget, Dear!

Kedua, launching buku putri saya Kirana, 28 Juni. Mba Intan dan dua anaknya datang ke acara itu. Jadi kita sekalian kopdar deh. Seru deh ngobrolnya, gak abis-abis, sayang kami buru2 harus pulang ke Bdg. See u next time, insya Allah, mba Intan…:)

Esok harinya, secara kebetulan papanya Rana ketemu sama temennya presenter TVRI Jabar yang sedang butuh narasumber cilik untuk acara live “Forum Kita” yang membahas “Pembelajaran Sastra di Sekolah”. Ya sekalian deh, promosi buku Rana, hehe…


Ketiga, PAUD Rumah Qurani yang saya dirikan di Rancaekek bersama teman-teman akhirnya dibuka. Tgl 13 Juli, kelas pertama dimulai. Situasinya..wow.. kacaw..hahaha.. Yah biasalah, anak-anak usia 3-4 thn kan emang masih manja dan nemp
el sama ibunya… (termasuk Reza tuh, duh..Mamanya sampai ga bisa bantu2 Bu Guru krn dilendotin Reza terus). Kata temen yg udah pengalaman ngurus anak balita, pekan-pekan pertama memang masa adaptasi, jadi anak-anak belum bisa “diatur”.. maunya kabur keluar main di prosotan dan ayunan melulu.

Oiya…, PAUD Rumah Qurani tiba-tiba dapat kiriman mainan edukatif yang asli keren banget dari mba Ridha (dan selama ini saya naksir banget, tapi pas mau beli di Gramedia muahal..hwaaa… kayaknya kalau beli dari mba Ridha harganya jauh lebih murah deh. Ayo..buruan beli… :D). Subhanallah, rizki mah datangnya sering tak terduga-duga. Jazakillah Mba.. mudah-mudahan diganti Allah dengan rezeki berlipat ganda dan tokonya makin laris manis… amiiin…

Keempat, tgl 14 Juli, kopdar asyik dan rame banget, dengan.. tralala… mba dokter Agnes! Mba Agnes yang cantik itu kan pulang dari Belanda, mau liburan… jadilah kita janjian di Pizza Hut Cimahi, bareng ni Eva, mba Ary, ni Desti. Ngobrolnya..duh, gak abis-abis, gak nyadar waktu berlalu, sampai daku ketinggalan kereta balik ke Rancaekek. Akhirnya kopdar dilanjutkan di rumah ni Eva. Itu pun ngobrol ga
beres-beres, nyaris ketinggalan kereta lagi. Untung sempat juga, sampai di stasiun Cimahi diantar mba Ary tepat lima menit sebelum kereta datang.

Ada banyak kejadian lain… yang jelas, dua bulan ini sibuk banget dan berlalu menyenangkan. Terimakasih Allah…:)

Btw.. ternyata ni Eva ultah ya, hari ini..
Met ultah ya Un.. semoga umurnya berkah selalu dan ni Eva sekeluarga selalu bahagia dunia akhirat. Sementara kadonya ini dulu ya…:

cake from here

Punya Pertanyaan Sulit dari Anak?

Temans,

Saya dan temen saya Fani (tim Rumah Qurani) mau bikin buku panduan ortu dalam mengajarkan konsep ke-Tuhan-an kepada anak. Bukunya insya Allah, nge-pop, penuh gambar, dan mudah dicerna.

Nah, kami butuh list pertanyaan-pertanyaan aneh, ajaib, plus sulit yang pernah ditanyakan anak-anak kepada ortu mereka. Misalnya:
-“Allah itu besar mana dibanding langit?” (ini dari Kirana)
-“Allah itu matanya banyak ya? kan katanya bisa melihat semua yang ada di bumi?” (masih dari Kirana)
-“Allah itu sama kayak raksasa ya? kan besar…” (dari Kirana juga)
-Kok aku ga bisa liat Allah ya? Apa Allah itu kayak hantu? (dari siapa ya..?)

Kalau teman-teman mau berbagi dengan kami, silahkan kirim lewat personal message (PM) aja ya… Insya Allah, pengirim pertanyaan yang akhirnya kami cantumkan di buku akan mendapat hadiah buku tsb (kalau bukunya udah terbit). Kalau bersedia, sebutkan nama anaknya juga ya.. biar namanya dicantumkan juga di buku.

Oiya, gak harus pertanyaan dari anak sendiri, bisa juga dari anak orang lain, atau pertanyaan Anda sendiri di masa kanak-kanak:)

Terimakasih sebelumnya.

Beratnya Kejujuran

Membaca jurnal uni Eva yang ini, saya jadi ingat cerita temannya-teman-saya. Dia mendidik anak-anaknya untuk selalu jujur, apapun yang terjadi. Lalu, saat UAN, anaknya menolak bocoran jawaban ujian. Bahkan, akhirnya meninggalkan kelas saat ujian karena mempertahankan sikap jujur (saya lupa detilnya..kalo gak salah ada semacam ‘pemaksaan’ supaya pake bocoran). Wow… anak remaja sudah mampu bersikap begitu? *kagum*

Tentu saja, anak itu gak lulus. Lalu, si anak diikutkan Paket C. Udah belajar.. ee.. pas ujian, apa yang terjadi? Gurunya mendiktekan JAWABAN ujian!

Coba bayangkan, apa yang harus dilakukan si anak? Keluar lagi dari ruangan ujian?


Saya lupa gimana lanjutan cerita soal anak itu ..(maklum, denger ceritanya ga konsen, jd banyak lupanya)


Yang jelas, seandainya saya berada dalam posisi si anak itu, saya belum tentu bisa mengambil sikap terbaik. Soalnya, pernah juga nih, mengalami dilema mirip, tapi jauh lebih ‘sederhana’. Suatu saat, saya pernah perlu surat keterangan sehat. Nah, pas ditensi, saya yg waktu itu lagi puasa, tekanan darah anjlok hingga 90. Kata si petugas, “Dik, tekanan darahnya rendah sekali. Ini artinya ‘tidak sehat’. Gimana? Saya tulis yang sebenarnya, atau saya tulis normal aja? Tapi kalau saya bohong, dosanya adik yang tanggung yah?”


Gimana lanjutan cerita, biarlah saya dan Allah yang tahu *nangis penuh sesal*


Yang jelas, dari situ saya benar2 bisa membayangkan betapa bingungnya menghadapi dilema: harus jujur atau tidak di saat ada justifikasi “toh kalau aku tidak jujur, sama sekali tidak merugikan orang lain kok”

Ada ibu2 yg menjustifikasi, “Ya udahlah, biarin aja anak-anak cari bocoran ujian. Daripada ga lulus, kasian. Toh yang lain juga begitu!”


Bisa dibayangkan apa yang akan dilakukan si anak kelak. Saat ia punya jabatan, dan harus menandatangani kwitansi palsu atau mark up, sangat mungkin dia menjustifikasi, “Yah apa boleh buat, terpaksa. Toh yang lain juga begitu. Kasian anak-istriku, nanti ga makan.”


Ah, tak perlu jauh-jauh nunggu di masa depan deh. Seorang teman-adik-saya, pernah pusing liat adiknya yang gak belajar, padahal mau ujian. Pas dinasehati, si adik menjawab, “Tenang aja..aku pasti lulus. Kalau aku ga lulus, berarti satu sekolah ga lulus. Kan jawabannya sama semua!” Oalaaa.. ketika anak-anak sudah secara sadar tidak merasa perlu report2 belajar; secara sadar *dan senang* menerima kunci jawaban, jadi apa mereka selanjutnya???


Duh beratnya tugas para ibu untuk menanamkan kejujuran pada anak…

Dan untuk para penguasa.. plis…hapuslah UAN!

Makasih Doanya ya… Lulus…!:)

Karena saya dulu banyak sekali didoakan oleh teman2 MP.. jadi saya merasa wajib memberitahukan dan berterimakasih lagi atas semua doa itu…

Alhamdulillah LULUS…:)

*buat temen2 yang belum tahu… ceritanya gini, saya daftar S2, mau nerusin kuliah lagi di jurusan Hub. Internasional. Duh, niy emak-emak.. mulai September jadi mahasiswi lagi..rutin naik KRD Rancaekek-Bandung..:D

Saya tentu saja seneng udah lulus… tapi rada sedih mikirin betapa besar duit yang musti dibayarkan, hiks…

7,5 jt buat SPP semester pertama
7 jt buat biaya lain2 (dana mahasiswa baru, dana pengembangan pendidikan, dana matrikulasi)

Duh, sekarang saya bener2 bisa membayangkan seperti apa situasinya kalau ada org tua yang tidak sanggup membayar uang kuliah anaknya..duh..pasti sediiih..banget ya..

Mudah2an siapapun presiden yg terpilih bersedia menghapus UU BHP dan memperbesar subsidi bagi perguruan tinggi, supaya beban biaya mahal kuliah tak ditanggung para mahasiswa…

Anyway, makasih sekali lagi ya..:)

Semoga teman2 semua juga sukses selalu dalam menggapai segala impiannya..