Beratnya Kejujuran

Membaca jurnal uni Eva yang ini, saya jadi ingat cerita temannya-teman-saya. Dia mendidik anak-anaknya untuk selalu jujur, apapun yang terjadi. Lalu, saat UAN, anaknya menolak bocoran jawaban ujian. Bahkan, akhirnya meninggalkan kelas saat ujian karena mempertahankan sikap jujur (saya lupa detilnya..kalo gak salah ada semacam ‘pemaksaan’ supaya pake bocoran). Wow… anak remaja sudah mampu bersikap begitu? *kagum*

Tentu saja, anak itu gak lulus. Lalu, si anak diikutkan Paket C. Udah belajar.. ee.. pas ujian, apa yang terjadi? Gurunya mendiktekan JAWABAN ujian!

Coba bayangkan, apa yang harus dilakukan si anak? Keluar lagi dari ruangan ujian?


Saya lupa gimana lanjutan cerita soal anak itu ..(maklum, denger ceritanya ga konsen, jd banyak lupanya)


Yang jelas, seandainya saya berada dalam posisi si anak itu, saya belum tentu bisa mengambil sikap terbaik. Soalnya, pernah juga nih, mengalami dilema mirip, tapi jauh lebih ‘sederhana’. Suatu saat, saya pernah perlu surat keterangan sehat. Nah, pas ditensi, saya yg waktu itu lagi puasa, tekanan darah anjlok hingga 90. Kata si petugas, “Dik, tekanan darahnya rendah sekali. Ini artinya ‘tidak sehat’. Gimana? Saya tulis yang sebenarnya, atau saya tulis normal aja? Tapi kalau saya bohong, dosanya adik yang tanggung yah?”


Gimana lanjutan cerita, biarlah saya dan Allah yang tahu *nangis penuh sesal*


Yang jelas, dari situ saya benar2 bisa membayangkan betapa bingungnya menghadapi dilema: harus jujur atau tidak di saat ada justifikasi “toh kalau aku tidak jujur, sama sekali tidak merugikan orang lain kok”

Ada ibu2 yg menjustifikasi, “Ya udahlah, biarin aja anak-anak cari bocoran ujian. Daripada ga lulus, kasian. Toh yang lain juga begitu!”


Bisa dibayangkan apa yang akan dilakukan si anak kelak. Saat ia punya jabatan, dan harus menandatangani kwitansi palsu atau mark up, sangat mungkin dia menjustifikasi, “Yah apa boleh buat, terpaksa. Toh yang lain juga begitu. Kasian anak-istriku, nanti ga makan.”


Ah, tak perlu jauh-jauh nunggu di masa depan deh. Seorang teman-adik-saya, pernah pusing liat adiknya yang gak belajar, padahal mau ujian. Pas dinasehati, si adik menjawab, “Tenang aja..aku pasti lulus. Kalau aku ga lulus, berarti satu sekolah ga lulus. Kan jawabannya sama semua!” Oalaaa.. ketika anak-anak sudah secara sadar tidak merasa perlu report2 belajar; secara sadar *dan senang* menerima kunci jawaban, jadi apa mereka selanjutnya???


Duh beratnya tugas para ibu untuk menanamkan kejujuran pada anak…

Dan untuk para penguasa.. plis…hapuslah UAN!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s