MP-ers Bandung… Ayo Jangan Ketinggalan! :)

Ayo.. MP-ers Bandung kopdar rame-rame sambil beramal di bulan Ramadhan yuk…

Rencananya, berparalel dengan kegiatan baksos yang diadakan oleh rekan – rekan MP di Jakarta, mari kita juga sama – sama berkumpul dengan rekan – rekan dari Panti Sosial Asuhan Anak Al-Hidayah. Insya Allah kegiatan ini akan kita selenggarakan pada :

Hari / Tanggal : Minggu, 13 September 2009

Waktu : 14.00 – 19.00 WIB

Lokasi : Komplek Kiara Sari Asri, Jalan Kiara Sari Permai V No. 2 Margasari Buah Batu Bandung

Acara :
1. Games Outdoor / Indoor
2. Shalat berjamaah
3. Tausiyah
4. Buka puasa bersama

Bingkisan lebaran dan kebutuhan lainnya :
1. Paket sekolah berupa tas, buku dan alat tulis untuk 25 rekan asuhan laki – laki dan 22 rekan asuhan perempuan.
2. Paket ibadah berupa sajadah, mukena / sarung untuk 25 rekan asuhan laki – laki dan 22 rekanan asuh perempuan.
3. Paket lebaran berupa baju, kue, susu, syrup, uang @ Rp. 50.000 untuk 25 rekan asuhan laki – laki dan 22 rekan asuhan perempuan.

Tata cara keikutsertaan :
1. Untuk kelancaran acara, MPers yang turut serta diharapkan menyumbang minimal Rp. 50.000,- atau memenuhi daftar sumbangan diatas. Untuk paket sumbangan bisa berupa barang atau uang. Jumlahnya bisa seluruh atau sebagian dari 25 paket untuk anak asuhan laki-laki dan 22 paket anak asuhan perempuan
2. Tidak terkecuali bagi MPers dan siapapun yang hendak memberikan sumbangan berupa baju layak pakai, buku bacaan, atau apapun yang bermanfaat akan sangat diterima dan disegerakan disalurkan untuk rekan asuh.
3. Rekan MP yang berpartisipasi beserta keluarga, sumbangan Rp. 50.000 dikalikan jumlah keluarga atau memenuhi daftar sumbangan.

No hp dan no rek kontak penyaluran sumbangan sudah saya hapus, krn ga penting lagi.

Untuk info dan update data,
silahkan klik blognya Winda, di sini.

Jangan ketinggalan yaaaaa…:)

Advertisements

Cerita Setelah Jadi Mahasiswa Lagi

Ternyata Ilmu Hubungan Internasional itu ruwet. Teorinya banyak banget dan hampir semuanya relatif. Bacaan yang harus dibaca juga sangat banyak. Beban paper juga menumpuk. Tapi, syukurlah, saya bisa stay cool. Mungkin inilah yang dikatakan teman saya, seorang ibu yang di usia 40 tahun kuliah lagi di S2 Psikologi (padahal S1-nya ITB): kematangan usia-lah yang menentukan, bukan sekedar kecerdasan.


Saya pikir, kalau seandainya beberapa tahun yll saya kuliah lagi, belum tentu saya mampu menyerap pengetahuan seperti kemampuan saya sekarang. Apalagi saya pernah merasakan, dulu tahun 1999 kan sempat kuliah S2 di Tehran University (tapi gak beres), rasanya waktu itu tertatih-tatih sekali. Memahami text book saja ruwet, apalagi kalau harus menyerap dan menuliskannya kembali. Akhirnya malah stress sendiri dan macet di tengah jalan (ada banyak faktor siiih.. tapi salah satunya emang pusing sama perkuliahan sehingga ketika ada kesempatan melanjutkan lagi, males banget, mendingan kerja cari dollar.)


Selain itu, faktor kematangan juga membuat saya mampu mengambil prioritas. Apa sih yang mau dikejar? Nilai? Ah, bukan. Suami saya menceritakan apa yang pernah disampaikan Jalaluddin Rakhmat. Waktu Kang Jalal kuliah S2 di Amerika, dia mati-matian belajar untuk mengejar nilai A, sehingga akhirnya dia lulus dengan nilai A sempurna untuk semua mata kuliah. Lalu lama kemudian dia menyesal, buat apa dulu dia mati-matian mengejar nilai. Toh yang sekarang ‘terpakai’ adalah kemampuannya menulis dan bicara, bukan nilai A sempurna-nya.


Cerita ini memberi inspirasi besar buat saya. Saya waktu S1 memang sangat mengejar nilai. Dapat B itu rasanya aib, apalagi C. Tapi sekarang, saya akan mengikuti saran Kang Jalal saja. Prioritasnya adalah menguasai ilmu yang memang saya perlukan, yang memang saya perkirakan berguna untuk karir kepenulisan saya. Jadi tak perlu semua text book mati-matian dikunyah; ada yang dibaca scanning saja, ada yang memang kalau perlu, baca topik yang sama dari banyak penulis sekaligus. Dengan cara ini, insya Allah, saya bisa lulus dengan ‘matang’. Nggak kayak waktu S1 Sastra Arab dulu… lulusnya sih cumlaude, tapi ilmunya mengambang di awang-awang semua, tak ada yang secara mendalam saya kuasai. Akhirnya sekarang ilmu di S1 malah hampir gak kepake (meskipun, lumayanlah, kalau baca Quran bisa banyak yang saya pahami artinya).


Ehm.. cerita ini mudah-mudahan ini juga memberi inspirasi kepada adik-adik/teman-teman yang masih kuliah:)


Btw, ini doa yang sangat cocok buat orang yang sedang sekolah:

“Ya Allah, berikanlah daku pemahaman dan kecerdasan. Jauhkanlah aku dari kejahilan dan kebodohan.”


Kenapa harus dibedakan pemahaman dan kecerdasan? Karena orang cerdas belum tentu bisa paham. Betapa banyak orang pintar, tapi hanya sekedar mampu menginventarisasi ilmu dan tak mampu mengaplikasikannya. Lalu, apa beda kejahilan dan kebodohan? Orang bodoh bisa belajar keras supaya jadi pintar. Tapi banyak juga orang pintar yang jahil, yang tak mengerti bahwa dirinya salah paham dan salah sangka. Mudah-mudahan kita terhindar dari keduanya…amiin…

*curhat di sela-sela nulis paper*

Surat Cinta untuk Rasulullah

Dalam sebuah pelatihan parenting, seorang ibu membacakan puisi di bawah ini. Ditulis oleh seorang siswa kelas 3 SMU. Beberapa hari kemudian, dia meninggal dunia karena kecelakaan. Kata si Ibu, “Bisakah kita mendidik anak yang mampu menulis puisi seperti ini?” Yah, kalaupun tak pintar menulis puisi, bisakah kita mendidik anak yang sedemikian cinta kepada nabinya? Hiks…

SURAT CINTA INI UNTUKMU YA RASULULLAH…

Kepada Rasul Saw…

Ya Rasulullah, Andai aku yang tinggal di zaman yang kurang baik ini bisa bertemu denganmu, yang hidup di zaman keemasan Islam, aku akan sangat bersyukur bila bisa bertemu denganmu. Terutama, aku ingin melihat sifat-sifat dirimu, yang bijak dan banyak dibicarakan orang. Kejujuran yang benar-benar nyata adanya. Kebaikan hatimu…….serta seluruh sifat-sifat baikmu yang tak bisa kutemukan di zaman sekarang.

Seluruh sahabat-sahabatmu bahkan mengambil air bekas air wudhumu. Mengambil rambut bekas rukukmu. Itu semua dilakukan karena mereka tahu betapa besar berkah semua yang ada pada dirimu. Bahkan di sana, seperti apapun keadaannya, engkau selalu berbuat bijak.

Musuh yang selalu melemparkan kotoran padamu, saat engkau keluar rumah, kau hadapi dengan sabar. Bahkan engkau datang yang pertama kali untuk menjenguk orang itu, saat ia sakit.

Ya Rasulullah alangkah bahagianya bila aku bisa bertemu denganmu. Orang pilihan sepertimu.

Ya Rasul aku sangat-sangat ingin bertemu denganmu.

Aku kerap kali berandai-andai atau berkhayal bila nanti aku dilahirkan kembali, aku sangat-sangat berharap bisa dilahirkan pada saat zamanmu.

Ya, Rasulullah..aku ini merasakan kelembutan tanganmu.

Kejernihan jiwamu

Kepedulian dirimu pada seluruh umat.

Segala yang ada dalam dirimu akan selalu menjadi yang terbaik bagiku.

Ya Rasulullah.

Mungkin hanya kaulah satu-satunya pemimpin yang pada malam hari menjaga umat-umatmu. Sedangkan umatmu tengah tertidur pulas di kasur raja-raja.

Perbuatanmu itu mencerminkan betapa pedulinya engkau pada umatmu.

Tidak itu saja. Engkau bahkan rela tidak makan berhari-hari demi kemaslahatan umatmu. Semua harta bendamu diberikan pada yang lebih berhak. Bahkan bila bila engkau punya sepotong roti saja, untuk mengganjal perutmu, dan Jika ada pengemis yang datang meminta, engkau pasti memberikannya. Jika engkau tak mempunyai makanan, engkau berpuasa terus menerus.

Sungguh mulia dirimu Ya Rasulullah…

Ya Rasullulah…

Di malam hari, saat umatmu tertidur pulas, Engkau menyempatkan diri untuk beribadah kepada Allah: shalat dan berdzikir panjang.

Bila orang-orang sekarang melakukan shalat malam karena terpaksa dan melakukannya hanya sebentar saja, engkau shalat satu malam penuh, hingga kakimu bengkak.

Ya Rasulullah, semua itu engkau lakukan demi menjaga akhlakmu. Padahal engkau sudah mendapat kepastian masuk surga. Tapi engkau tetap saja melakukan seluruh ibadah.

Ya Rasululah, aku sangat mencintaimu….dengan segenap hatiku

Ya Rasulullah….Aku sangat merindukanmu…

Salam bagimu Duhai kekasih Allah……

(Surat ditulis M. Zahirudin Razi /Aji, SMA Plus MUTHAHHARI Bandung, dua pekan sebelum wafat, untuk tugas Bahasa Indonesia A Titon, kelas XI/ Selasa, 24 Maret 2009. Sumber asli puisi: smuth.net)

Untuk teman-teman muslim, selamat menempuh ibadah Ramadhan. Mohon maaf lahir batin.


Doa Ramadhan (dikutip dari Buku Madrasah Ruhaniah… Jalaluddin Rakhmat):

“Ya Allah, karuniakan kepadaku di bulan ini, pemahaman dan kecerdasan. Jauhkan aku dari kebodohan dan kejahilan.. Anugerahkan padaku bagian dari setiap kebaikan yang Engkau turunkan di bulan ini. Wahai Yang Maha Dermawan dari segala yang dermawan.”

Jalan-Jalan Padang-Payakumbuh

Rasanya, rute Padang-Payakumbuh sejauh 124 km itu sudah ratusan kali saya lewati dalam sepanjang hidup. Perjalanan ke Payakumbuh adalah rutinitas kami sekeluarga (saya,ortu, dan adik-adik) untuk mengunjungi kakek dan nenek. Tapi, kali ini, perjalanan terasa istimewa karena saya sedang memperlihatkan alam kampung halaman kepada putri kami yang lahir nun jauh di negeri seberang. Bagi saya pun, karena bertahun-tahun tinggal di negeri jauh, perjalanan ini terasa spesial. Saya seperti memiliki mata baru saat menatap hamparan sawah, hutan tropis yang lebat dan lembah-lembahnya, jalanan yang berkelok-kelok, dan gurung Singgalang dan Merapi di kejauhan. Indah!

Sekitar 60 km dari Padang, tepat di pinggir jalan Padang-Payakumbuh, ada air terjun setinggi 40-an meter. Kebayang kan, air terjunnya di pinggir jalan! Tentu saja, kami langsung parkir mobil dan mampir dulu bermain air yang sejuk dan jernih. Sinar mentari pagi dipantulkan air jernih itu menjadi bias cahaya pelangi. Dan itulah kali pertama Kirana putri kami melihat pelangi!


Masih di Jalur Padang-Payakumbuh, kami melewati kota Bukittinggi. Hawanya sejuk dan pemandangannya asri. Beda jauh dengan Padang yang panas. Nah, di sini banyak sekali tempat wisata yang bisa didatangi. Karena membawa bocah cilik, tentu saja yang pertama dituju adalah kebun binatang. Lucunya, inilah pertama kalinya Kirana melihat unta. Meski sejak lahir dia tinggal di Timur Tengah, tak satupun unta yang dia temui:) Lalu, kami ke Taman Panorama. Dari taman ini, kita bisa menyaksikan pemandangan dahsyat Ngarai Sianok. Ngarai ini semacam lembah besar yang diapit dua bukit yang berdiri hampir tegak lurus. Di dasarnya ada sungai dan sawah yang menghijau.


Di kompleks ini ada Gua Jepang, gua buatan yang digali oleh pekerja paksa era penjajahan Jepang. Gua yang dipergunakan sebagai bunker oleh tentara Jepang ini panjang, gelap, dan berliku-liku. Pastinya, kami tak mengajak Kirana untuk memasuki gua ini. Melihat monyet-monyet yang bergelayutan di pepohonan di tepian ngarai jauh lebih menarik buat gadis cilik itu. Dia dengan antusias menatap monyet-monyet itu dan sesekali melemparkan kacang kepada mereka.

Setelah asyik kelililing kota Bukittingi (ada banyak situs wisata lain di kota ini, benteng De Kock, Jam Gadang, Pasar Atas untuk shopping souvenir, dll), kami makan siang di tempat favorit saya sejak kecil dulu: Pical Sikai. Pecel (Minang: pical) yang disediakan di sini rasanya tak jauh beda dengan pecel biasa, cuma jauh lebih pedas, dan sayurannya jauh lebih rame, termasuk dengan jantung pisang. Selain itu ada lemang tapai, lontong sayur khas Padang, dan beberapa panganan lain. Enak banget deh, pokoknya!

Setelah kenyang, cabut lagi deh, menuju Payakumbuh yang jaraknya tinggal 1 jam lagi. Sebelum masuk ke Payakumbuh, di batas kota, ada tempat wisata lain, yaitu Ngalau, gua alam yang memiliki stalagmit dan stalagtit, tempat bersarangnya kelelawar. Kota ini sebenarnya adalah lembah di kaki gunung Malintang. Sawah hijau membentang di banyak tempat, termasuk di belakang rumah nenek saya, yang ditatap tanpa bosan oleh Kirana dari balik jendela kamar.*

Kenangan tahun 2004, ditulis untuk meramaikan milad ngempinya mba Ari yang manis, baik hati dan tidak sombong 😀

Untukmu…

Sepuluh tahun berlalu, dan kita masih bersama

Tentu saja doaku, kita akan selalu bersama

Bahkan hingga nirwana

Ada banyak kekecewaan yang kurasa

Tapi kata seorang teman, mencintai adalah mencatat semua kebaikan si dia

Dan melupakan semua kekurangan yang ada

Jadi, pagi ini aku mulai mendata

Apa saja yang membuatku kecewa

Apa saja yang membuatku tertawa

Ajaib, kegiatan ini bisa membuatku berdamai

Dengan semua lara di hati

Bahkan aku menertawakan diri sendiri

Mengapa harus kecewa pada dua tiga kuntum melati yang koyak tepinya

Padahal masih ada sekeranjang melati putih sempurna yang harum mewangi

Ada satu melati paling sempurna yang ternyata kupunyai

Kelopaknya memberikan sayap kebebasan

Dengannya, aku bisa terbang kemana saja yang kusuka

Dan engkau menantiku di tepian dermaga

Saat aku pulang dengan sayap terluka

Kau selalu mengoleskan cerita pelipur lara

Lalu membiarkanku kembali berkelana

Dari semua melati indah yang kauberikan,

Melati inilah yang paling berharga

Terimakasih,

Atas semua kebebasan yang kauberi padaku

Untuk meraih mimpi-mimpiku.

Tentang kita, 1999-2009

Rabu Seru_Anak Lucu

Saat terkantuk-kantuk (tapi gak boleh tidur karena paper musti dikumpulin besok), segera saya buka MP tercinta.. ee.. ada Rabu Seru-nya Nadiah lagi. Waktu edisi yg lalu pengen banget ikut tapi gak sempet. Kali ini temanya anak lucu. Asyik, langsung hilang nih ngantuk. Anak terlucu di dunia ya siapa lagi..Reza..! Tentu saja ini versi emaknya sendiri hehehe…

Waktu kecil Reza suka ngeces. Jadi kalo ketawa air liurnya belepotan. Ini sebagian yang pernah dijepret. Perhatikan air liurnya yang muncrat ketangkap kamera.. tapi kok emaknya ga jijay yah..malah merasa itu lucu..hahaha..

peluk aku Maaaa…! hahaha…


wakakakak…!

whahahwa…!


qehqehqeh…!
*tambah muncrat*

Foto2 lain Reza yg lagi ketawa terkekeh2 ada di sini

[Sharing] Pelatihan Menulis Novel Anak

suasana pelatihan

Dulu kan saya pernah cerita yah, penasaran banget, pengen bisa nulis buku anak. Kayaknya nyante..gitu nulisnya. Gak jungkir-balik kayak kalo nulis2 artikel2 politik Timur Tengah 😀 Ternyata, setelah dicoba susah juga…! Siapa bilang nulis buku anak gampang?! Tapi semangat saya tak pernah padam, hehehe, jadi terus saja memendam mimpi…


Sampai akhirnya, kemarin saya bisa juga ikut pelatihan nulis novel anak:) Diadakan oleh milis/klub Penulis Bacaan Anak di Salam Book Center, Pasirluyu, Bandung. Instrukturnya Kang Benny Rhamdani dan Kang Iwok Abqary, dan moderator-nya kang Ali Muakhir. Pakar buku anak semua tuh…!

Tema utama pelatihan adalah menulis novel adaptasi dari skenario film. Ternyata…. kerjaan adaptasi skenario (kayak buku Garuda Di Dadaku by Benny Ramdhani atau King by Iwok), itu harus selesai dalam 7 hari, karena harus terbit bareng ama filmnya. Wah, gak mungkin lah… ga sanggup deh! Saya mau nulis novel anak biar nyante dan gak dikejar-kejar deadline kok.. (beda sama analisis politik, harus buru2 ditulis, kalo enggak situasinya berubah lagi deh). Tapi ada alternatif lain, yaitu mengambil ide cerita dari film-film yang kita tonton, lalu dikembangkan sendiri. Nah, yang ini kayaknya bisa saya praktekkan.


Meskipun demikian, banyak ilmu yang bisa digali, tidak terbatas soal skenario. Dan… sulit diungkapkan dalam kata-kata (bukan pelit nih ya…).. mungkin karena belum kontemplasi dan belum dicoba dipraktekkan. Kalau sekedar sharing tips sih, bisa. Misalnya, jangan terlalu banyak pesan, jangan bikin konflik yang jadul (misalnya Si Amat mencuri mangga Pak Haji lalu dihukum ayahnya.. duh ini sih jadul banget), cari tema dan detil2 yang sesuai minat anak-anak zaman sekarang.. (misalnya anak-anak zaman sekarang kan udah kenal internet, blogging.. jangan lagi cerita ‘mengirim surat ke kantor pos’.. hari gini mereka udah fb-an, gitu loh..).


Mmm… apa lagi ya…


Yah, kesimpulan umum saya, tetep aja, nulis buku anak itu susah! (kalau emang niatnya bikin yang berkualitas ya…).. Tetep aja kita musti browsing, baca buku, riset… tadinya kupikir tinggal duduk berkhayal, lalu nulis deh.. pantesan selama ini saya gak berhasil aja nulis buku anak, hehehe… (kecuali satu, tapi bukan novel *melirik mba Ary* … itu pun juga musti menghabiskan waktu puluhan jam untuk browsing… mudah2an aja dianggap bagus sama yang menilai :D)


Tapi meski sulit, saya tetap merasa menulis buku anak PASTI lebih menyenangkan. Soalnya… saya punya dua anak yang gemar buku… jadi, kalau saya nulis novel anak (amiiin…) kan seolah-olah sedang memberi hadiah dongeng buat anak-anak sendiri:)

Oh iya.. sebenarnya ini udah umum juga.. tapi tak ada salahnya saya sharing di sini:
menulis itu harus disiplin. Targetkan berapa halaman sehari selesai. Misalnya, bikin target sehari harus bikin 2 hlmn. Kalau berhasil, kasih reward buat diri sendiri (misalnya, boleh ngempi, hahaha). Kalau tak terpenuhi target, kasih hukuman (misalnya dilarang ngempi besoknya..hihihi). Kedisiplinan itu lama-lama akan membangun etos menulis dalam diri kita. Kalau ga nulis rasanya ada yang kurang, gitu lah. Tips ini udah pernah saya praktekkan, dan saya juga membuktikannya. Kalau lama gak berkarya.. minimalnya di blog.. rasanya dunia ini hambar *halah*


Oke deh, segini dulu sharingnya. Mudah2an bermanfaat. Sekali lagi terimakasih buat Kang Benny, Kang Iwok, dan Kang Ali:) Mudah-mudahan kalau kita bersua lagi diriku sudah bawa karya novel anak 😉