Cerita Setelah Jadi Mahasiswa Lagi

Ternyata Ilmu Hubungan Internasional itu ruwet. Teorinya banyak banget dan hampir semuanya relatif. Bacaan yang harus dibaca juga sangat banyak. Beban paper juga menumpuk. Tapi, syukurlah, saya bisa stay cool. Mungkin inilah yang dikatakan teman saya, seorang ibu yang di usia 40 tahun kuliah lagi di S2 Psikologi (padahal S1-nya ITB): kematangan usia-lah yang menentukan, bukan sekedar kecerdasan.


Saya pikir, kalau seandainya beberapa tahun yll saya kuliah lagi, belum tentu saya mampu menyerap pengetahuan seperti kemampuan saya sekarang. Apalagi saya pernah merasakan, dulu tahun 1999 kan sempat kuliah S2 di Tehran University (tapi gak beres), rasanya waktu itu tertatih-tatih sekali. Memahami text book saja ruwet, apalagi kalau harus menyerap dan menuliskannya kembali. Akhirnya malah stress sendiri dan macet di tengah jalan (ada banyak faktor siiih.. tapi salah satunya emang pusing sama perkuliahan sehingga ketika ada kesempatan melanjutkan lagi, males banget, mendingan kerja cari dollar.)


Selain itu, faktor kematangan juga membuat saya mampu mengambil prioritas. Apa sih yang mau dikejar? Nilai? Ah, bukan. Suami saya menceritakan apa yang pernah disampaikan Jalaluddin Rakhmat. Waktu Kang Jalal kuliah S2 di Amerika, dia mati-matian belajar untuk mengejar nilai A, sehingga akhirnya dia lulus dengan nilai A sempurna untuk semua mata kuliah. Lalu lama kemudian dia menyesal, buat apa dulu dia mati-matian mengejar nilai. Toh yang sekarang ‘terpakai’ adalah kemampuannya menulis dan bicara, bukan nilai A sempurna-nya.


Cerita ini memberi inspirasi besar buat saya. Saya waktu S1 memang sangat mengejar nilai. Dapat B itu rasanya aib, apalagi C. Tapi sekarang, saya akan mengikuti saran Kang Jalal saja. Prioritasnya adalah menguasai ilmu yang memang saya perlukan, yang memang saya perkirakan berguna untuk karir kepenulisan saya. Jadi tak perlu semua text book mati-matian dikunyah; ada yang dibaca scanning saja, ada yang memang kalau perlu, baca topik yang sama dari banyak penulis sekaligus. Dengan cara ini, insya Allah, saya bisa lulus dengan ‘matang’. Nggak kayak waktu S1 Sastra Arab dulu… lulusnya sih cumlaude, tapi ilmunya mengambang di awang-awang semua, tak ada yang secara mendalam saya kuasai. Akhirnya sekarang ilmu di S1 malah hampir gak kepake (meskipun, lumayanlah, kalau baca Quran bisa banyak yang saya pahami artinya).


Ehm.. cerita ini mudah-mudahan ini juga memberi inspirasi kepada adik-adik/teman-teman yang masih kuliah:)


Btw, ini doa yang sangat cocok buat orang yang sedang sekolah:

“Ya Allah, berikanlah daku pemahaman dan kecerdasan. Jauhkanlah aku dari kejahilan dan kebodohan.”


Kenapa harus dibedakan pemahaman dan kecerdasan? Karena orang cerdas belum tentu bisa paham. Betapa banyak orang pintar, tapi hanya sekedar mampu menginventarisasi ilmu dan tak mampu mengaplikasikannya. Lalu, apa beda kejahilan dan kebodohan? Orang bodoh bisa belajar keras supaya jadi pintar. Tapi banyak juga orang pintar yang jahil, yang tak mengerti bahwa dirinya salah paham dan salah sangka. Mudah-mudahan kita terhindar dari keduanya…amiin…

*curhat di sela-sela nulis paper*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s