Cerita dari Padang

Saat gempa terjadi, Papi sedang mengetik di komputer, beliau langsung lari keluar. Ibu juga lari, tapi sempat terjatuh di halaman samping karena saking kerasnya goncangan gempa. Rumah kami tak jauh dari pantai, sehingga muncul kekhawatiran akan adanya tsunami. Tujuan lari adalah ke masjid terdekat yg punya dua lantai. Dalam gempa-gempa yang lalu, warga juga berlindung ke masjid tersebut. Syukurlah, tsunami tak terjadi.

Setelah dirasa aman, Papi dan Ibu (sapaan saya dan adik2 kepada ortu memang gak matching-Papi & Ibu-entah kenapa, kayaknya mereka berdua yg sejak awal tak bersepakat soal sapaan ini:D) pulang ke rumah. Komputer udah terbanting ke lantai. Buku-buku keluar dari raknya. Gelas-gelas di lemari kaca berhamburan keluar. Lemari kaca yang besar dan tinggi it u juga posisinya sudah miring. Galon aqua juga tergeletak di lantai. Segala perlengkapan makan di meja makan berhamburan di lantai. Pagar belakang runtuh, bangunan rumah utama dgn bagian dapur renggang. Tapi secara umum, kondisinya jauh-jauh lbh baik drpd yg lain. Malam itu ortu dan adik saya bisa tidur aman di rumah, sementara sangat banyak yang lain harus terlantar di pinggiran jalan :((

Cerita adik saya, Rifki, lebih horror lagi. Dia saat itu pulang dari sekolah (dia guru SMP) dan sedang berada di pantai (kayaknya sih jalan-jalan dulu sblm pulang ke rumah). Ketika guncangan hebat terasa, dia turun dari motor, motor terbanting di jalan, dia segera tiarap, sebagaimana banyak orang lainnya. Di hadapannya, sebuah hotel besar runtuh berkeping-keping. Runtuhnya bukan ambruk ke kiri/kanan/depan, tapi runtuh ke arah bawah, kayak gedung WTC yang dibom itu.

Perasaan saya sejak tadi malam hingga pagi ini benar-benar tak enak. Bukan saja karena Padang adalah kampung halaman saya (gempa-gempa di daerah lain pun membuat saya dan siapapun pasti berduka). Tapi, kebetulan sekali, gempa ini bertepatan dengan adanya suatu hal yang menyibukkan pikiran saya akhir-akhir ini.

Begini… beberapa waktu terakhir saya benar-benar mengimpikan punya rumah besar. Soalnya, dengan rumah yang ada sekarang, ternyata banyak sekali keterbatasan. Mau ngadain pengajian di rumah, susah, karena sempit. Kirana ngotot minta dibeliin piano, saya tolak dengan alasan tak punya tempat (uangnya juga wallahu a’lam ding, tapi kalau pun ada rizkinya, tetap saja tak mungkin dibeli, mau ditaruh di mana?). Reza terobsesi dengan drum. Berkali-kali dia merengek minta dibeliin drum. Bahkan untuk sebuah drum mainan pun yang harganya 200-an rb, rasanya tak ada tempat. Akhirnya pernah beli drum kecil murahan, yang langsung hancur dalam bbrp hari. Belum lagi beberapa keinginan saya lainnya, misalnya punya ruang kerja sendiri dan perpustakaan. Buku di rumah ini numpuk di berbagai sudut.

Di saat pikiran melamunkan khayalan soal rumah besar, datanglah gempa dahsyat ini. Duh Allah, ampunilah hamba… Mengapa hamba harus membuang waktu untuk berpikir soal rumah besar? Ada banyak amanah yang ada di pundak hamba yang seharusnya jadi fokus pemikiran hamba… bukan rumah besar yang hanya dalam hitungan menit bisa ambruk! Mengapa hamba tak jua bisa naik kelas, dari manusia yang selalu disibukkan oleh debu materialisme ke manusia zuhud yang menjalani hari-hari dengan muthmainnah, tenang?

Allah, terimakasih, hamba kini kembali tersadarkan. Karena musibah memang bukanlah hanya tentang ‘mereka’, tapi juga tentang ‘saya’. Ketika ‘mereka’ terkena musibah, yang sedang dinilai oleh Allah sebenarnya ‘saya’. Bagaimana ‘saya’ membantu ‘mereka’, bagaimana ‘saya’ tergerakkan, bagaimana nasib ‘mereka’ jadi motivasi bagi ‘saya’ untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi di hadapan-Mu…

Bandung, 25 Sept 09

Note:

1. MPID juga kembali akan menggalang dana untuk korban gempa Padang. Bisa dibaca di sini.

2. teriring doa, semoga teman-teman MP-er dari Padang dalam keadaan selamat..:

-Pak Shofwan Karim (Dekan Fak. Tarbiyah IAIN Imam Bonjol)

-Pak Musriadi Musanif (wartawan koran Singgalang)

– Uni Henny (mp-er yang dulu aktif banget, saat masih kuliah di Jepang, skrg jadi dosen di Unand)

Merie Adnan

Sellyna yang dulu aktif ngempi waktu masih di Hawaii, skrg jadi dosen UNP

– dll.. yang saya lupa namanya, mohon maaf..nanti kalau ingat di update lagi.