Sekolah Impian yang Masih Jadi Impian

PAUD Rumah Qurani yang saya dirikan tak jauh dari rumah saya sudah tiga bulan berjalan. Alhamdulillah, hasilnya ke anak-anak sudah terlihat. Mereka udah mulai senang menghafal ayat-ayat pilihan dan paham artinya. Ketika ada anak-anak yang bertengkar, temannya yang lain nyeletuk, “Bu Gulu… kan kata Allah harus khoil yah?” (maksudnya, kan ada ayat ‘wa shulhu khoir’ dan berdamai itu baik). Anak-anak juga terlihat enjoy (termasuk Reza anak saya, yang selalu ngotot pengen ke sekolah).

Tapi, sebenarnya ada banyak kesulitan yang saya hadapi. Sejauh ini, pendanaan murni dari kantong sendiri. Sebenarnya ada pos dana bantuan untuk PAUD dari Diknas. Ternyata saudara-saudara.. urusannya tak segampang yang saya kira. Untuk mendaftarkan PAUD ke Diknas, harus ada rekomendasi dari Lurah. Lurah baru mau kasih rekomendasi kalau ada rekomendasi dari Himpunan PAUD di wilayah kami. Problemnya, Himpunan itu gak mau kasih rekomendasi ke kami. Alasannya di kawasan kami udah banyak PAUD. Kalau mau dapat rekomendasi, kami harus pindah lokasi, kata mereka (pindah? emangnya gampang??). Belum lagi, resiko jadi anggota himpunan itu, musti bayar ini-itu (oalaa..bayar honor guru aja ngos2an, masa mau dipungut ini-itu lagi?). Tambah lagi terungkap ada masalah kecemburuan dari paud lain… ah, tak perlu saya tulis di sini.

Nah, kalau PAUD aja udah mentok, apalagi TK yang saya impikan itu. Kayaknya masih jadi mimpi deh. Kata himpunan (lagi-lagi himpunan!) kalau mau bikin TK harus di luar kompleks krn di sini udah penuh. Kenapa ya? Kan kami punya metode yang berbeda dengan TK yang sudah ada? Kenapa harus dihalang-halangi? Btw, kompleks kami itu ada 10.000 unit rumah. Gak bakal kekurangan murid deh. Kenapa harus dihalang-halangi? Duh, sedihnya.

Tapi, saya pikir2, kalaupun izin pendirian TK bisa keluar, saya pun kayaknya tak bisa membangun TK yang saya impikan itu. Masalahnya, duitnya dari mana?? Kalau modal awal sih, bolehlah, mungkin bisa cari sana-sini (bahkan ada temen yang mau invest, asal balik modalnya jelas). Tapi…. problem utamanya justru di ‘balik modal’-nya ini. Ternyata saudara-saudara, orang-orangtua murid di sini sebagian punya hobi nunggak SPP. Fakta ini baru saya temukan setelah PAUD saya berjalan. Lalu setelah tanya sana-sini, ternyata di sekolah-sekolah lain, problemnya juga sama!

Masalahnya lagi, saya bukan jenis orang yang tega memaksa orang bayar. Lagipula, gimana maksanya? Anaknya diancam keluar? Ya gak bisa lah, idealisme saya tidak mengizinkan saya melakukan ini. Masak ada anak dihalangi belajar, apalagi belajar Quran? Saya melihat anak-anak itu sedemikian murni dan harus dididik sebaik-baiknya, bukannya malah dikeluarin. Hm, mungkin inilah saya: gak bakat jadi bisniswoman di bidang pendidikan, hehehe..

PAUD saya tuh memungut uang hanya Rp30.000 sebulan (semua fasilitas disediakan, anak dari rumah gak perlu bawa apa-apa kecuali makanan) dan membebaskan SPP utk keluarga tak mampu (asal ada surat keterangan dari RT). Ternyata, hanya sebagian yang mau bayar. Yang lain? Kalau ditagih hanya menjawab, “Ya.” Bahkan ada yang terang-terangan gak mau (misalnya, bulan Juli harus bayar, dia gak mau, dia ngasih uang buat bulan Agustus aja).

Apakah mereka miskin? Gak juga tuh? Buktinya, mengusulkan diadakan tabungan sekolah (dan nabungnya juga lumayan gede), alasannya supaya akhir tahun bisa jalan-jalan (jalan-jalan???). Trus, habis sekolah, para ibu-ibu juga janjian makan bakso bareng. Dari penampilan, juga keren-keren tuh bajunya.

Akhirnya, saya memutuskan untuk tidak akan membuka TK tahun depan. Sudahlah, konsen di PAUD aja (atau whatever namanya, kan gak bisa pakai nama PAUD lagi, gak boleh, huhu..). PAUD pun juga wallahu a’lam, kalau tahun depan tambah murid lagi (kan idealnya ada kelas A dan kelas B; anak lama naik ke kelas B) berarti harus menggaji dua guru lagi. Wah, gak sanggup deh. Jadi mungkin tahun depan ya tetap satu kelas saja. Anak-anak yang sudah besar dipersilahkan cari sekolah lain. Kecuali kalau ada keajaiban, misalnya diriku tiba-tiba dikasih uang banyak oleh Allah dari arah yang tak disangka-sangka:D

Note:

Curhat ini saya tulis sekalian buat orang-orang yang niat bikin PAUD untuk menengah ke bawah. Ternyata bener juga kata temen2 saya, di Indonesia ini kalau mau sukses harus bikin sekolah yang sekalian mahal. Kalau yang tanggung-tanggung, ternyata problemnya ya begini ini… Tapi kalau semua bikin sekolah mahal semua, siapa yang mendidik anak-anak menengah ke bawah? Jadi, insya Allah, saya akan bertahan di segmen ini, meskipun ngos-ngosan:D

Perpustakaan yang Hidup

Dua hari terakhir saya ke Jakarta. Saya berniat mau menyusun UP sesegera mungkin, jadi meski baru usai kuliah matrikulasi dan kuliah semester 1 masih blm dimulai, saya udah “sok-sok-an” nyari bahan buat tesis 😀 Dalam dua hari itu, saya sempat mendatangi 3 perpus: UI Salemba (di Pusat Kajian Timur Tengah), UIN Syarif Hidayatullah Ciputat, dan IC (Islamic College) di Pondok Indah.

Thanks to Fatimah yang sangat baik hati menemani saya ke sana-sini (ternyata naik busway itu cape juga ya! Di tengah cuaca panas dan debu Jakarta, keberadaan Fatimah di sisi saya benar-benar sebuah rahmat Allah. Dia selalu bisa mencari sisi positif dari hal-hal yang awalnya menurut saya menjengkelkan dan selalu bisa membuat suasana ceria. Bahkan dia mampu membuat saya terbahak di saat menghadapi hal yang—dalam kondisi lain, pasti akan membuat saya cemberut karena marah. Subhanallah, maunya cari bahan tesis, tapi malah dapat bonus, belajar sikap hidup positif. Semoga Allah mengabulkan doa-doamu, Fatimah!

Oke balik lagi ke topik perpustakaan. Perpus Kajian Timteng sih sangat sederhana (mereka menyarankan agar saya ke perpus pusat di Depok). Tapi lumayanlah, saya menemukan apa yg saya cari. Nah, berkat bantuan seorang teman yg jadi mhsw di sana, saya jadi tahu bahwa UI ternyata sudah menyimpan skripsi, tesis, dan disertasi dalam data digital. Keren..keren.. Belum pernah seumur hidup saya melihat ada cara mengakses data sedemikian mudah.

Yang bikin saya terkagum-kagum adalah perpustakaan UIN Syarif. Kita bisa mengetahui judul-judul buku (juga tesis, disertasi, skripsi) lewat komputer..dan.. bukunya juga ada, tepat di rak yang disebutkan nomernya oleh komputer! Oala, saya bener2 kayak si Iteung datang ke kota neh. Tapi suer, belum pernah saya nemu perpustakaan seasyik ini.

Dan..yang jauh lebih membuat saya terkesan adalah: perpus UIN itu rame! Luar biasa melihat antusiasme para mahasiswa itu. Belum pernah dalam hidup saya melihat perpus se-‘hidup’ ini. Padahal ruangannya luas banget loh, dua lantai pula. Tapi tetep aja penuh. Keren..keren..

Bagaimana dengan perpus IC? College yang dibiayai Iran ini koleksinya masih sedikit, perpusnya juga kecil mungil. Tapi..hm..nyaman, tenang, dekorasinya juga asyik (saya merasa bisa betah membaca berlama-lama di sana). Yang bikin saya senang, saya temukan satu buku yang saya butuhkan.

Oiya, saya juga sempat silaturahmi ke rumah kakek (adik kakek) saya di Menteng Dalam. Beliau dulunya hakim agung, dan profesor di bidang hukum Islam. Di antara sekian banyak obrolan kami, terungkap juga masalah perpus. Kata Datuk saya itu, “Di Indonesia ini, yang namanya riset literatur itu malah artinya ‘mencari buku’. Beda banget sama di luar negeri. Semua buku tersedia dan mudah diakses.” Beliau lalu menunjukkan sebuah buku berbahasa Jerman, yang ternyata mencantumkan salah satu karya Datuk sebagai referensi. Datuk tak punya kopi karya itu, jadi dia mengontak lembaga yang seharusnya menyimpan karya itu. Ternyata tak ada lagi. Kata Datuk, “Lihat nih, karya yang Datuk tulis puluhan tahun lalu masih disimpan sama orang bule. Di sini, udah dijual kiloan kali!”

Ehm, beidewei, perpus kampus saya sendiri gimana yah? Saya sih belum pernah ke sana..tempatnya aja gak tau (percaya gak sih!). Kalo perpus fakultas sih.. aaah.. no comment dueh. Mungkin ada baiknya saya berkunjung juga ke perpus kampus sendiri. Siapa tahu ternyata juga keren seperti perpus tetangga:D

Deep Inside My Heart, I Love This City…

salah satu sudut kota Pdg (Juli 2009, by Dina)

Sejak gempa, orangtua saya selalu resah gara-gara adik saya Rifki. Hari Rabu, saat gempa dia sedang di pantai dan menyaksikan sendiri sebuah hotel hancur lebur di hadapannya. Dia lalu pulang ke rumah, istirahat sebentar, dan langsung mau pergi lagi ke PMI untuk jadi relawan. Orangtua saya tentu saja mencegah. Selain karena beliau berdua sedang shock pasca gempa, lampu mati, hujan deras, tetapi juga karena kondisi kesehatan Rifki memang kurang baik, masih agak flu. Apalagi, postur adik saya itu memang kurus, bukan kekar kayak tentara, sehingga kelihatannya terlalu memaksakan diri bila harus bekerja keras mengevakuasi jenazah atau korban. Setelah ‘berdebat’, akhirnya Rifki mengalah dan diam di rumah.


Esok paginya, Rifki kembali minta izin pergi. Orangtua saya mencegah dengan berbagai cara, antara lain dengan memintanya membantu pembersihan rumah yang berantakan akibat gempa (gelas-gelas pecah berhamburan, buku-buku berterbangan dari rak, komputer terbanting ke lantai, dll). Siangnya, dia tak bisa lagi dicegah dan pulang malam hari. Begitu pula esok, dan esoknya lagi. Rifki yang baru saja diangkat jadi PNS guru bahasa Inggris di sebuah SMP di tepi pantai selalu bergabung dengan teman-temannya di PMI. Sementara kedua orangtua kami di rumah selalu dicekam kekhawatiran akan nasib anak lelaki satu-satunya itu. “Bagaimana kalau dia sakit lagi? Bagaimana kalau dia tertimpa reruntuhan? Bagaimana kalau dia terinfeksi mayat-mayat yang membusuk? Bagaimana kalau…”


Menghadapi kedua pihak (ortu-adik), saya jadi bingung. Sebagai seorang ibu, saya sangat memahami perasaan ortu saya. Saya aja suka panik kalau di-sms Papi, “Din, sampai sekarang Kiki [sapaan utk Rifki]belum pulang…”, apalagi kalau Kiki itu anak saya sendiri. Pasti lebih panik. Tapi sebagai seorang anak muda (ehm, at least, dibandingin ortu saya, tentu saja saya ini masih muda), saya sangat paham semangat adik saya. Malu sekali rasanya bila tetap berdiam di rumah sementara relawan dari berbagai penjuru negeri dan negara asing berdatangan.


Kalau saya jadi dia, itulah yang akan saya lakukan: keluar rumah dan melakukan apa yang bisa dilakukan untuk menolong orang lain. Kalau saya harus pilih calon mantu, saya tentu akan tak akan memilih anak muda yang hanya duduk di rumah dalam pelukan orangtua.


Jadi, saya pun bersikap netral. Saya berusaha meredakan kepanikan orangtua saya dengan menelpon mereka hampir tiap hari. Kepada Rifki, saya hanya menasehati supaya berhati-hati, jangan sampai menyentuh mayat secara langsung. Dia menjawab dengan nada heran, “Ya iyalah, mana berani aku pegang mayat?!” Semoga Allah selalu melindungimu, Dik…


Saya pun bertanya-tanya sendiri, lalu, saya, melakukan apa? Tidak ada, selain transfer uang yang tak seberapa dan doa ala kadarnya. Memalukan sekali. Saya hanya bisa duduk terpaku di depan tivi atau internet. Tapi semakin melihat tayangan tivi atau berita-berita di internet, semakin saya tersiksa, sedih, dan muak (karena melihat perilaku para pejabat dan anggota DPR). Produktivitas saya terhenti, saya tak sanggup menulis paper tugas kuliah, membaca text book, atau melanjutkan berbagai naskah yang terbengkalai. Otak saya menjadi buntu. Akhirnya, mulai tadi malam, saya memutuskan utk tidak lagi menonton tivi dan membaca apapun terkait gempa dan kisruhnya negeri ini.


Saya memang tak dilahirkan di Padang, dan bahkan sering merasa berat untuk pulang ke sana karena panasnya minta ampun. Tapi, saya selalu saja pulang kampung (tahun ini saja alhamdulillah bisa 2x mudik). Waktu masih di Iran pun, hampir setahun sekali saya mudik. Selalu saja ada sesuatu yang memanggil-manggil untuk pulang. Padahal, dulu waktu di Iran, sebenarnya ada keinginan untuk memanfaatkan liburan dgn jalan-jalan ke negara-negara di sekitar Iran. Tapi akhirnya, selalu saja, saya memilih pulang ke Padang.


Kini setelah gempa, jika saya mudik, semua ‘ritual’ mudik yang selama ini saya lakukan (jalan-jalan dan wisata kuliner ke tempat-tempat favorit yang wajib didatangi) takkan bisa lagi saya lakukan.

“Din, sebut saja nama tempat di Padang yang Dina tau, semua sudah hancur,” kata Papi.

“Ya Pi, Dina juga lihat di tivi..,”jawab saya


Saya baru sadar sekarang bahwa Padang benar-benar kota untuk rileks. Jalanannya yang lebar dan bersih membuat jalan-jalan terasa nyaman dan bebas macet. Kota ini juga tak terlalu besar sehingga akses kemanapun terasa mudah. Kulinernya juga asyik banget, sangat banyak pilihan. Kini, ketika kota yang indah, bersih, dan rapi itu hancur lebur, saya baru menyadari perasaan saya yang sesungguhnya. Deep inside my heart, I love this city…

Gempa Untuk Siapa

copy-paste dari Fiksinews.com

Gempa Untuk Siapa

Maaf, judul ini tak ingin bercanda. Bagi pengusaha bangunan, gempa ini untuk melariskan bahan bangunannya. Bagi maskapai penerbangan, gempa ini untuk menaikkan harga setinggi-tingginya, melebihi batas atas, tuslah, atau apapun, yang ditetapkan pemerintah karena demand yang sangat tinggi menuju Sumbar. Bagi perusahaan, gempa merupakan ajang kepedulian social untuk menaikkan citra perusahaannya bahwa mereka lebih peduli, lebih care, pada mereka yang susah, yang sedang tertimpa musibah.

Bagi presiden, inilah ajang promosi: gw mau ke sana mengunjungi korban. Jika janji itu tak ditepati saat itu juga, ribuan tesis bisa dijadikan alasan: gempa masih terjadi, gw lagi sibuk, korban masih banyak, takut kena penyakit akibat gempa, atau wakil sajalah. Ntar-ntaran kalau udah “reda” gw akan ke sana. Tunggu apa?

Saat bom meletup di Kuningan, janji itu pula yang diajukan: gw mau ke sana. Jika tak ditunaikan sesuai ucapan, bejibun alas an dimunculkan. Sang pejabat tak mau dikatakan menciderai janjinya. Tak datang karena ingin menyelamatkan jasadnya dari berbagai ancaman. Masih adanya bom yang masih aktif.

Bagi televisi, inilah cara mereka berebut rating. Gempa juga menjadi show room bagaimana awak redaksi bekerja. Lihatlah reporter yang dengan biadab mewawancarai korban selamat yang kakinya tertimbun beton lima ton, sementara tim regu penyelamat mengepruk-ngepruk reruntuhan yang tak kunjung hancur.

Lihatlah cara mereka bertanya kepada orang tua siswa yang terperangkap di dalam museum gedung yang luluh lantak rata tanah: bagaimana perasaan bapak? Mengapa bapak tak menangis, meraung-raung, meratap-ratap, agar kami dapat gambar yang lebih bagus.

Bila perlu suara tangisnya yang histeris, air mata yang tumpah ruah, pakai mencakar-cakar seperti orang gila, agar kami bisa menjadikan gambar ini untuk menyedot simpati, empati penonton. Telvisi mencari drama agar penonton membeludak. Bukankah mereka bersaing berebut penonton. Lihatlah siswa yang melungker, wajah hancur, terekam kuat-kuat di layar kaca. Untuk siapa gambar itu? Untuk orang tua siswa agar mereka mengenali lewat televisi, untuk penonton agar mereka muntah darah karena ngeri dan mual-mual, atau untuk berkompetisi dengan televisi tetangga.

Tayangan ini juga bisa menjadi positif untuk media. Mereka beramai-ramai mengumpulkan dana masyarakat hingga milyaran dan lihatlah apa yang terjadi: didirikanlah sekolah-sekolah di daerah gempa dengan nama perusahaan media. Semakin tragis gempa, semakin dramatis tayangannya, semakin besar bantuan datang dan semakin gagah bangunan sekolah, rumah sederhana, fasilitas umum, panti social, dan bendera perusahaannya. Seolah matahari tak pernah terang dan lisrik terus padam.

Bagi LSM korup, pejabat propinsi, kabupaten, yang korup, inilah cara mereka menarik bantuan sebanyak-banyaknya dan mengorupsinya. Bagi para pengamat, inilah saatnya mengolok-olok birokrasi yang lamban, yang lelet, yang bekerja seperti pemadam kebakaran, reaktif, dan tak terkoordinasi dengan baik. Bagi birokrasi, gempa ini senantiasa menjadia layar tancap kebobrokan kinerjanya.

Gempa juga menjadi ajang promosi mi instan. Hampir setiap korban disodori mi instan. Mi yang banyak dimusuhui pencari hidup sehat itu seolah menjadi menu utama dan satu-satunyapengganjal untuk tetap hidup. Di mana roti tentara yang padat protein itu. Roti yang bisa dimakan sekali untuk hidup sepekan.

Bagi korban, gempa bisa ditafsirkan beragam. Bagi penjahat yang turut menjadi korban gempa adalah kesialan. Sial karena ia tak bisa merampok atau gagal merampok karena keburu kena gempa. Bagi korban siswa yang sedang belajar, gempa berarti ujian yang mengubur impiannya menjadi pribadi yang lebih berilmu dan bertaqwa. Bagi orang tua siswa, gempa bisa berarti musibah dan ujian kepasrahan.

Bagi ulama gempa adalah musibah agar umat lebih mendekat mohon pertolongan Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. Gempa menjadi pengingat dosa dan kesalahan manusia dan lebih mementingkan urusan dunia, melupakan Allah, melupakan kemanusiaan, melupakan tolong-menolong, melupakan haji social, melupakan kepedulian social, melupakan tetangga, melupakan saudara, melupakan anak, melupakan orang tua. Gempa menjadi pengingat tentang amal saleh, tentang kepedulian, tentang gotong royong, tentang tolong-menolong, tentang solidaritas.

Gempa juga bercerita tentang ketidakberdayaan manusia terhadap alam, tetapi manusia selalu menghancurkan alam. Manusia melupakan alam sebagai tempatnya berpijak, tempatnya bernapas, tempatnya hidup, tetapi juga tempatnya mati. Gempa mengingatkan tempat kembalinya manusia: yang mereka rusak dan mereka hancurkan sendiri.

Bagi orang-orang seperti Permadi, gempa berarti kutukan alam. Sudah tak ada lagi upacara sedekah bumi, sedekah laut. Manusia telah sombong dan melupakan bumi, melupakan laut. Manusia melupakan penguasa bumi, penguasa laut. Manusia melupakan Nyi Roro Kidul. Simbol sumber kehidupan, kelemahlembutan, dan kekuatan mahadahsyat. Nyi berarti perempuan. Setiap perempuan adalah sumber kehidupan. Bayi lahir dari rahim perempuan. Manusia hidup setelah terlahir dari rahim perempuan. Laut adalah air. Air sumber kehidupan. Perempuan adalah kelemahlembutan. Air itu lembut. Perempuan adalah kekuatan. Ia kuat mengandung Sembilan bulan, mengeluarkan bayi besar dari rahim yang sempit, mempertaruhkan nyawanya untuk sebuah kehidupan baru. Laut adalah kekuatan. Dari dasar laut gempa datang dan memorak-morandakan. Tetapi manusia melupakan laut. Manusia melupakan bumi. Tak ada lagi sedekah laut, tak ada lagi sedekah bumi. Sedekah adalah kearifan. Di mana kearifan pada bumi, kearifan pada laut. Sudah tahu manusia tak berdaya pada kekuatan bumi. Kapan gempa terjadi pun tak tahu, apalagi kekuataannya. Tetapi manusia tetap alpa untuk melindungi dan memohon pada Yang Berkuasa Atas Bumi dan Seisinya untuk meredamnya, melunakkan gempanya, melindungi umat yang duduk berzikir di musholah-Nya.

Gempa bagi kita yang tak terkena musibah juga bermacam-macam artinya. Bagi pemilik handphone flexi, gempa berarti ketik peduli kirim ke 5000. Gempa juga menjadi tontonan untuk memicu adrenalin kengerian tanpa mau peduli apalagi berempati. Yang maksiat tetap maksiat, yang berpesta tetap berpesta, yang merampok tetap merampok, yang korupsi tetap korupsi. Gempa dan korbannya hanyalah sebuah berita, sebuah cerita, tanpa pengaruh. Bagi anak-anak TK, gempa menjadi belajar bersolidaritas, belajar berdoa, shalat ghaib, dan belajar ilmu pengetahuan tentang gempa, tentang penyakit patah tulang, tentang rumah tahan gempa.

Bagi Nabi Khidr, apa artinya gempa dan korban yang ribuan, ratusan ribu, atau jutaan. Bukankah Nabi Khidr pernah membunuh anak kecil dan melubangi perahu agar perahu tenggelam. Mengapa Nabi Musa tak pernah paham perbuatan Nabi Khidr yang menurutnya tak masuk akal dan melawan kemanusiaan?

Nabi Khidr punya cerita di balik peristiwa, apalagi Sang Maha Pencipta.

Jakarta, 2 Oktober 2009
Si Ragil