Deep Inside My Heart, I Love This City…

salah satu sudut kota Pdg (Juli 2009, by Dina)

Sejak gempa, orangtua saya selalu resah gara-gara adik saya Rifki. Hari Rabu, saat gempa dia sedang di pantai dan menyaksikan sendiri sebuah hotel hancur lebur di hadapannya. Dia lalu pulang ke rumah, istirahat sebentar, dan langsung mau pergi lagi ke PMI untuk jadi relawan. Orangtua saya tentu saja mencegah. Selain karena beliau berdua sedang shock pasca gempa, lampu mati, hujan deras, tetapi juga karena kondisi kesehatan Rifki memang kurang baik, masih agak flu. Apalagi, postur adik saya itu memang kurus, bukan kekar kayak tentara, sehingga kelihatannya terlalu memaksakan diri bila harus bekerja keras mengevakuasi jenazah atau korban. Setelah ‘berdebat’, akhirnya Rifki mengalah dan diam di rumah.


Esok paginya, Rifki kembali minta izin pergi. Orangtua saya mencegah dengan berbagai cara, antara lain dengan memintanya membantu pembersihan rumah yang berantakan akibat gempa (gelas-gelas pecah berhamburan, buku-buku berterbangan dari rak, komputer terbanting ke lantai, dll). Siangnya, dia tak bisa lagi dicegah dan pulang malam hari. Begitu pula esok, dan esoknya lagi. Rifki yang baru saja diangkat jadi PNS guru bahasa Inggris di sebuah SMP di tepi pantai selalu bergabung dengan teman-temannya di PMI. Sementara kedua orangtua kami di rumah selalu dicekam kekhawatiran akan nasib anak lelaki satu-satunya itu. “Bagaimana kalau dia sakit lagi? Bagaimana kalau dia tertimpa reruntuhan? Bagaimana kalau dia terinfeksi mayat-mayat yang membusuk? Bagaimana kalau…”


Menghadapi kedua pihak (ortu-adik), saya jadi bingung. Sebagai seorang ibu, saya sangat memahami perasaan ortu saya. Saya aja suka panik kalau di-sms Papi, “Din, sampai sekarang Kiki [sapaan utk Rifki]belum pulang…”, apalagi kalau Kiki itu anak saya sendiri. Pasti lebih panik. Tapi sebagai seorang anak muda (ehm, at least, dibandingin ortu saya, tentu saja saya ini masih muda), saya sangat paham semangat adik saya. Malu sekali rasanya bila tetap berdiam di rumah sementara relawan dari berbagai penjuru negeri dan negara asing berdatangan.


Kalau saya jadi dia, itulah yang akan saya lakukan: keluar rumah dan melakukan apa yang bisa dilakukan untuk menolong orang lain. Kalau saya harus pilih calon mantu, saya tentu akan tak akan memilih anak muda yang hanya duduk di rumah dalam pelukan orangtua.


Jadi, saya pun bersikap netral. Saya berusaha meredakan kepanikan orangtua saya dengan menelpon mereka hampir tiap hari. Kepada Rifki, saya hanya menasehati supaya berhati-hati, jangan sampai menyentuh mayat secara langsung. Dia menjawab dengan nada heran, “Ya iyalah, mana berani aku pegang mayat?!” Semoga Allah selalu melindungimu, Dik…


Saya pun bertanya-tanya sendiri, lalu, saya, melakukan apa? Tidak ada, selain transfer uang yang tak seberapa dan doa ala kadarnya. Memalukan sekali. Saya hanya bisa duduk terpaku di depan tivi atau internet. Tapi semakin melihat tayangan tivi atau berita-berita di internet, semakin saya tersiksa, sedih, dan muak (karena melihat perilaku para pejabat dan anggota DPR). Produktivitas saya terhenti, saya tak sanggup menulis paper tugas kuliah, membaca text book, atau melanjutkan berbagai naskah yang terbengkalai. Otak saya menjadi buntu. Akhirnya, mulai tadi malam, saya memutuskan utk tidak lagi menonton tivi dan membaca apapun terkait gempa dan kisruhnya negeri ini.


Saya memang tak dilahirkan di Padang, dan bahkan sering merasa berat untuk pulang ke sana karena panasnya minta ampun. Tapi, saya selalu saja pulang kampung (tahun ini saja alhamdulillah bisa 2x mudik). Waktu masih di Iran pun, hampir setahun sekali saya mudik. Selalu saja ada sesuatu yang memanggil-manggil untuk pulang. Padahal, dulu waktu di Iran, sebenarnya ada keinginan untuk memanfaatkan liburan dgn jalan-jalan ke negara-negara di sekitar Iran. Tapi akhirnya, selalu saja, saya memilih pulang ke Padang.


Kini setelah gempa, jika saya mudik, semua ‘ritual’ mudik yang selama ini saya lakukan (jalan-jalan dan wisata kuliner ke tempat-tempat favorit yang wajib didatangi) takkan bisa lagi saya lakukan.

“Din, sebut saja nama tempat di Padang yang Dina tau, semua sudah hancur,” kata Papi.

“Ya Pi, Dina juga lihat di tivi..,”jawab saya


Saya baru sadar sekarang bahwa Padang benar-benar kota untuk rileks. Jalanannya yang lebar dan bersih membuat jalan-jalan terasa nyaman dan bebas macet. Kota ini juga tak terlalu besar sehingga akses kemanapun terasa mudah. Kulinernya juga asyik banget, sangat banyak pilihan. Kini, ketika kota yang indah, bersih, dan rapi itu hancur lebur, saya baru menyadari perasaan saya yang sesungguhnya. Deep inside my heart, I love this city…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s