Gak Bakal Didoain!

Kemarin kami jalan-jalan ke Cipanas (Cianjur). Pas lewat Istana Presiden, saya antusias memberitahu Kirana, betapa luasnya kompleks istana itu.

Lalu Papanya nyeletuk, becanda, “Kalau Papa jadi presiden, rumah Kirana di sini nih!”

Spontan Kirana menjawab, “Gak bakal didoain!”

Saya, “Loh, kenapa?”

Kirana, “Kalau Papa jadi presiden kan sibuk, gak bisa cerita lagi!” [maksudnya, gak bisa mendongeng lagi]

Saya tercenung.

Orangtua sering menginginkan rumah besar untuk anak-anaknya. Tapi anak-anak sepertinya tak butuh rumah besar, melainkan orangtua yang selalu hadir dan mendongeng untuk mereka…

Advertisements

Nyanyian Segar untuk Anak Muslim

Kemarin sore saya buka tipi (biasalah, cari-cari berita terbaru soal percicakan), sekilas ngeliat acara tebak-tebakan lagu. Rupanya kali ini pesertanya adalah anak-anak. Tapi mereka tahu/kenal banget sama lagu-lagunya lagu-lagu orang dewasa.

Jaman sekarang, emang udah lumrah anak-anak kecil hafal lagu orang dewasa. Padahal liriknya, namanya juga buat dewasa, tentu saja dimaksudkan untuk orang dewasa. Ketika lirik dewasa itu diulang-ulang, dihafal, dan merasuk ke jiwa.. bisa dibayangkan gimana dampaknya.

Masih ingat dulu WRM juga pernah bikin petisi mengkritik Idola Cilik. Salah satu himbauannya adalah “Mendesak produser acara Idola Cilik di RCTI meninjau kembali konsep acara, terutama dalam pemilihan materi lagu, sehingga melalui lagu dan keseluruhan acara, penonton cilik dapat memperoleh pengetahuan dan pengayaan jiwa sesuai dengan usia mereka.”

Waktu diskusi soal ini, ada yang nyeletuk, abisnya yang beredar di pasaran emang nge-topnya lagu-lagu dewasa itu sih. Jadi wajar aja kalau yang dihafal anak-anak ya lagu-lagu dewasa itu. Harusnya para seniman tuh, bikin lagu anak yang keren..biar anak-anak juga senang… Loh, jadi yang salah seniman yah? Heheheh

Saya mau cerita nih soal VCD terbaru Rumah Qurani. Alhamdulillah saya dapat priviledge untuk menyaksikan versi awalnya (ya, buat dikritisi gitulah, sebelum diperbanyak, sekalian dimintai endorsment). Yang membuat saya takjub adalah kedua anak saya sedemikian antusias menonton VCD berisi lagu-lagu itu dan menyanyikannya dengan semangat (kalau lagunya riang, ya pakai joget juga, hehe). Nada-nadanya emang sederhana dan mudah diikuti anak-anak.

Dan yang lebih membuat saya terharu, adalah mereka gemar menyenandungkan lagu itu bareng-bareng saat tidak sedang nonton VCD sekalipun.

Kenapa sih kita harus sholat?
Sholat itu untuk mengingat Allah
Kenapa sih harus ingat Allah?
Karena Allah sayang kita

Allah ciptakan buah
yang bisa kita makan
Allah beri udara
untuk kita bernafas


Jika engkau sedih, bacalah Al Quran
Bila engkau bimbang bacalah Al Quran
Pahami artinya, temukan maknanya
Tuntunan Allah, bagi kita semua
Al-Quran kitabku, Quran sahabatku

Terlepas bahwa saya juga bagian dari Rumah Qurani, tapi sebagai ibu, saya benar-benar berterimakasih pada Fani dan tim yang udah bersusah payah bikin VCD ini. Bahagia sekali rasanya mendengar anak saya menyenandungkan lirik-lirik lagu yang segar, sederhana, tapi maknanya sangat dalam. Mudah-mudahan hambatan dana yang dihadapi untuk produksi VCD ini bisa diatasi segera ya Fan, amiin..

Cuplikan VCD bisa dilihat di sini

Meraih Ilmu yang Cahaya

Setelah tiga bulan kuliah, baru saya sadar, saya salah paham atas sebuah teori besar dalam HI (Hubungan Internasional), yaitu teori realisme. Saya pikir, realisme adalah mengajarkan negara2 utk saling berperang karena sifat dasar negara adalah egois dan selalu struggle for power. Ee.. tiba2 saya sadar, ternyata realisme bukan begitu. Realisme ‘memahami’ bahwa negara punya sifat dasar egois dan selalu berupaya mencari kekuasaan; nah, dengan landasan pemahaman seperti ini, orang-orang realis menawarkan solusi demi mencegah perang.

Poin tulisan ini bukan untuk berpanjang-panjang soal teori HI, tapi soal proses saya memahaminya. Saya tuh relatif rajin baca buku. Kemana-mana bawa buku dan baca. Tapi, ndilalah tiga bulan baru tau kalau salah paham. Anehnya, ketika saya tanya ke temen yang jarang kuliah (dia juga pindah jurusan kayak saya, jadi baginya ilmu HI juga benar2 baru), baca buku juga kayaknya ga serajin saya..dia dengan lancar menjawab, “Realisme itu… “ (jawabannya tepat pula!)

Saat saya ceritakan ke suami, tentang ‘ketidakadilan’ ini, suami menjawab sbb (kalimatnya udah saya reka ulang:D):

Ilmu adalah cahaya. Begitu banyak buku yang harus dibaca, darimana kita tahu, mana buku yang akan memberi penjelasan terbaik kepada kita? Ketika membaca berbagai penjelasan di buku, mengapa ada orang yang tiba-tiba langsung paham, tapi ada juga yang salah paham, atau gak paham-paham? Itulah peran cahaya. Cahaya itu akan masuk dengan cepat ke pikiran orang yang memang siap menampung cahaya.

Itu pula jawaban, mengapa ada teman kami dulu, yang sangat sibuk menampung tamu (mahasiswa-mahasiwa yang belum dapat asrama, ditampung dulu di rumahnya. Teman kami ini, suami-istri, sama-sama kuliah, harus masak, harus ngurus tamu, ngurus anak…duh, luar biasa sibuk. Tapi kok bisa mereka menyerap ilmu dengan baik, tidak cuma sekedar lulus dengan nilai baik, tapi juga mampu menyampaikan lagi dengan bahasa baik dan isi yang benar? Ada juga ulama besar yang mengalami proses cahaya, yaitu Imam Khomeini. Beliau dulu dikenal sering membantu orang lain sehingga mengorbankan waktu belajarnya. Tapi pencapaian keilmuan beliau sangat luar biasa.

Itulah cahaya.

Ada orang yang berhasil meraih ilmu tanpa proses ‘cahaya’ ini (misalnya, saya yang baca buku dua bulan, baru ketemu suatu pemahaman yang benar tentang sesuatu). Tapi, proses cahaya adalah yang terbaik dan terberkah. Karena, cahaya akan memancarkan cahaya lagi…

Nah, trus, gimana supaya kita menjadi orang-orang yang bisa memperoleh ilmu dengan proses cahaya ini? Caranya: melakukan apa yang memang harus dilakukan pada saat itu. Misalnya, saya seorang ibu, punya kewajiban mendidik dan memberi kasih sayang ke anak. Bila saya mengabaikan anak demi baca buku, sangat mungkin proses cahaya tak akan terjadi (saya akan mendapat ilmu dengan proses biasa saja, baca buku; mungkin paham, mungkin tidak). Tapi bila saya ikhlas main sama anak, mengabaikan buku sementara waktu sampai anak puas mendapatkan kasih sayang, insya Allah, terjadilah proses cahaya itu. Sangat mungkin waktu baca saya hanya tinggal 1 jam, gara-gara main ama anak. Tapi, dalam satu jam itu, saya bisa meraih pemahaman jauh lebih banyak daripada jika saya menyuruh anak main sendiri/nonton VCD, sementara saya baca buku. Inilah yang dimaksud dengan ‘proses cahaya’.

Anyway, yang saya tulis di atas baru teorinya, hiks. Dan juga baru melihat buktinya pada orang lain. Mudah2an saya bisa mempraktekkannya sendiri…