Meraih Ilmu yang Cahaya

Setelah tiga bulan kuliah, baru saya sadar, saya salah paham atas sebuah teori besar dalam HI (Hubungan Internasional), yaitu teori realisme. Saya pikir, realisme adalah mengajarkan negara2 utk saling berperang karena sifat dasar negara adalah egois dan selalu struggle for power. Ee.. tiba2 saya sadar, ternyata realisme bukan begitu. Realisme ‘memahami’ bahwa negara punya sifat dasar egois dan selalu berupaya mencari kekuasaan; nah, dengan landasan pemahaman seperti ini, orang-orang realis menawarkan solusi demi mencegah perang.

Poin tulisan ini bukan untuk berpanjang-panjang soal teori HI, tapi soal proses saya memahaminya. Saya tuh relatif rajin baca buku. Kemana-mana bawa buku dan baca. Tapi, ndilalah tiga bulan baru tau kalau salah paham. Anehnya, ketika saya tanya ke temen yang jarang kuliah (dia juga pindah jurusan kayak saya, jadi baginya ilmu HI juga benar2 baru), baca buku juga kayaknya ga serajin saya..dia dengan lancar menjawab, “Realisme itu… “ (jawabannya tepat pula!)

Saat saya ceritakan ke suami, tentang ‘ketidakadilan’ ini, suami menjawab sbb (kalimatnya udah saya reka ulang:D):

Ilmu adalah cahaya. Begitu banyak buku yang harus dibaca, darimana kita tahu, mana buku yang akan memberi penjelasan terbaik kepada kita? Ketika membaca berbagai penjelasan di buku, mengapa ada orang yang tiba-tiba langsung paham, tapi ada juga yang salah paham, atau gak paham-paham? Itulah peran cahaya. Cahaya itu akan masuk dengan cepat ke pikiran orang yang memang siap menampung cahaya.

Itu pula jawaban, mengapa ada teman kami dulu, yang sangat sibuk menampung tamu (mahasiswa-mahasiwa yang belum dapat asrama, ditampung dulu di rumahnya. Teman kami ini, suami-istri, sama-sama kuliah, harus masak, harus ngurus tamu, ngurus anak…duh, luar biasa sibuk. Tapi kok bisa mereka menyerap ilmu dengan baik, tidak cuma sekedar lulus dengan nilai baik, tapi juga mampu menyampaikan lagi dengan bahasa baik dan isi yang benar? Ada juga ulama besar yang mengalami proses cahaya, yaitu Imam Khomeini. Beliau dulu dikenal sering membantu orang lain sehingga mengorbankan waktu belajarnya. Tapi pencapaian keilmuan beliau sangat luar biasa.

Itulah cahaya.

Ada orang yang berhasil meraih ilmu tanpa proses ‘cahaya’ ini (misalnya, saya yang baca buku dua bulan, baru ketemu suatu pemahaman yang benar tentang sesuatu). Tapi, proses cahaya adalah yang terbaik dan terberkah. Karena, cahaya akan memancarkan cahaya lagi…

Nah, trus, gimana supaya kita menjadi orang-orang yang bisa memperoleh ilmu dengan proses cahaya ini? Caranya: melakukan apa yang memang harus dilakukan pada saat itu. Misalnya, saya seorang ibu, punya kewajiban mendidik dan memberi kasih sayang ke anak. Bila saya mengabaikan anak demi baca buku, sangat mungkin proses cahaya tak akan terjadi (saya akan mendapat ilmu dengan proses biasa saja, baca buku; mungkin paham, mungkin tidak). Tapi bila saya ikhlas main sama anak, mengabaikan buku sementara waktu sampai anak puas mendapatkan kasih sayang, insya Allah, terjadilah proses cahaya itu. Sangat mungkin waktu baca saya hanya tinggal 1 jam, gara-gara main ama anak. Tapi, dalam satu jam itu, saya bisa meraih pemahaman jauh lebih banyak daripada jika saya menyuruh anak main sendiri/nonton VCD, sementara saya baca buku. Inilah yang dimaksud dengan ‘proses cahaya’.

Anyway, yang saya tulis di atas baru teorinya, hiks. Dan juga baru melihat buktinya pada orang lain. Mudah2an saya bisa mempraktekkannya sendiri…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s