Menutup Tahun dgn Mabuk Blogging (?!)

Tahun 2009 saya akhiri dengan ‘mabuk’ blogging. Sebelumnya, tgl 24 Des sempat ada acara kopdar asyik, ketemuan sama Uni Desti (bersama dua putrinya) dan Ima. Mereka bela-belain naik kereta ke Rancaekek, mengunjungi kami. Pulangnya kena banjir pulak dan penuh perjuangan mencapai stasiun..ck..ck..ck.. :D. Makasih atas kunjungannya ya temen2ku sayang…:)

Btw, unik juga ya, tiap akhir tahun selama 3 thn terakhir selalu saja ada acara ketemuan sama Ima..bener2 soulmate deh:) Duh sayang saya ga punya foto kopdaran nih..diposting dong Ima..

Kembali ke ‘mabuk’ blogging. Ceritanya berawal tanggal 29 Des. Saya harus kuliah, suami juga ada keperluan di keluar rumah selama berjam-jam. Anak-anak batuk-pilek dan tak ada yang bisa menunggui. Siapa yang harus mengalah? Saya? Gak mungkin! Kuliah hari itu benar2 penting, dosennya benar2 dosen keren, saya akan amat-sangat ketinggalan ilmu berharga kalau tak datang. Suami yang ngalah? Sama, gak mungkin juga, urusannya penting sekali.

Akhirnya saya yang mengalah. Saya benar2 kesal dan kecewa. Protes dalam hati, kenapa kok saya yg harus ngalah yak?! Akhirnya, saya mencurahkan perhatian ke internet (sambil ngurusin anak2 tentu saja). Dan ‘kacaunya’.. saya akhirnya malah ‘mabuk’ dan terus-terusan internetan selama hari-hari berikutnya. Hasilnya: ngurusin blog magister HI, bikin blog baru, posting baru di blog Kajian Timur Tengah, facebook, dan milis, dan ujungnya.. olala.. bikin blog baru lagi, gabung di Kompasiana.

Dududu.. kapan belajarnya buuuu?? Coba hitung, jam-jam yang habis itu kalau dipakai baca buku udah berapa buku yang tamat?!

Yah sudahlah, ambil saja hikmahnya. Daripada saya ngomel dan kesel melulu kan mendingan berkarya, ya nggak?

Di siang terakhir tahun 2009, kami sempat jalan2 ke Jatos, mal terdekat dari rumah kami. Saya nonton Sang Pemimpi, suami dan anak2 main di taman bermain anak. Tuh kan..kenapa musti kesel bu.. alhamdulillah punya suami yang rela membiarkan istrinya nonton sementara dia ngurus anak. Bersyukur..bersyukur..!

Ingat soal bersyukur, ingat kata2 temen saya yang psikolog (duh saya cinta banget sama psikolog yg satu ini!). Ketika saya mengeluh padanya “kenapa ya, saya tidak mampu melakukan X?”, dia menjawab jitu, “Jangan mengeluh kamu gak bisa melakukan X, tapi bersyukurlah bahwa kamu bisa melakukan A, B, C, D…dst”

Ah, ini emang jurnal ocehan tak terstruktur. Biarlah menjadi catatan akhir tahun saya: bahwa saya musti bersyukur dengan apa yang sudah saya punya dan tak perlu lagi membuang waktu untuk mengingat apa yg tak dimiliki.

Selamat tahun baru buat teman2 semua. Semoga di tahun baru ini Allah melimpahkan segala keberkahan kepada kita dan bangsa ini.

*Ayo bu, mulai buka buku lagiiii!!

Advertisements

Sri Mulyani, Bersyukur, Gara-Gara Allah

Jangan tertipu judul, ini bukan jurnal politik. Ini lagi-lagi cerita dari Playgroup Rumah Qurani/PGRQ (sekarang namanya Playgroup, bukan PAUD lagi, hehe) yang saya dirikan bersama teman2.

Suatu sore saya sibuk berkutat mengurusi pembukuan keuangan PGRQ. Duh, pusingnya (padahal duitnya dikit). Kertas-kertas dan kwitansi bertebaran di lantai. Suami mengelus-elus rambut saya, dan menggoda, “Duh…ini Sri Mulyani… ”

Jelas aja saya tambah manyun. Orang lagi pusing malah digoda. Tapi, sungguh deh, dengan menutup mata soal kasus Century, saya bener2 kagum ama Sri Mulyani. Bayangin aja, ngurusin keuangan PG yang cuma ratusan ribu tiap bulan aja pusing, gimana kalau ngurusin keuangan satu negara yak? Utangnya aja 1600T, pemasukan.., pengeluaran.. wow.. laporan keuangannya setebal apa yah? Ck..ck..ck..

Setelah laporan keuangan saya rapihkan, jadi ketauan deh, bahwa tiap bulan selalu defisit beberapa ratus ribu.

Pusing? Iya dong. Hm… tapi kalau diingat-ingat cerita-cerita ortu murid tentang celotehan anak-anak mereka, rasa pusing itu langsung lenyap.

Seorang ibu cerita, suatu hari dia gak sempet masak sayur. Pulang kantor, suaminya mau makan, langsung ngomel2, karena pengennya ada sayur. Ee..si anak langsung nyeletuk, “Papa, harus bersyukur! Kalau bersyukur, nanti makanannya jadi enak!” (si anak menerjemahkan ayat “Laa in syakartum laadziidannakum..sungguh jika kalian bersyukur maka akan Kutambah nikmat untuk kalian”)

Ibu yang lain cerita, suatu hari anaknya menyanyi, “Banyak nyamuk di rumahku… gara-gara Allah!”

Si Ibu langsung bingung, loh?! Ternyata, si anak merevisi lagu anak2 yg populer itu: “Banyak nyamuk di rumahku..gara2 kamu..malas bersih2..” Karena di playgroup diajarin bahwa semua di dunia ini diciptakan Allah, jadi dia mengubah lagu itu, “Banyak nyamuk di rumahku..gara-gara Allah..”

Oalaaa… =)))))))