“Orang besar mah gak mau minta maaf…”

Kadang-kadang, saya kayaknya emang terlalu tegaan ama anak, hiks.

Kejadiannya, saya buru-buru perlu browsing, mencari sebuah alamat. Laptop saya sedang dipakai Reza (untuk menggambar).

Saya bilang, “Reza, Mama pinjam bentar yah?

Reza menolak, “Gak mau! Tadi kan juga udah pinjam?!”

Saya tak memperdulikan penolakannya (namanya juga buru2 mau pergi, ihiks).

“Bentaaar.. aja!”, kata saya sambil langsung mengambil alih mouse dan cepat2 browsing. Benar-benar cuma sebentar, tak sampai semenit. Tapi Reza mulai menangis.

Lagi-lagi, karena buru-buru, saya tak terlalu menghiraukan dan hanya bilang, “Jangan nangis dong, kan cuma bentar?!” lalu cepat-cepat meninggalkan rumah.

Pulang ke rumah, Reza menyambut dengan wajah yang cerah. Tak ada bekas tangis.
Tapi.. dia berkata… “Mama, kalau Mama gak minta maaf sama aku, aku gak mau temenan lagi sama Mama!”

Saya bingung dan menoleh pada papanya. Rupanya, saat saya pergi, Reza menangis dan berkata pada papanya, “Orang besar mah gak mau minta maaf. Aku kan orang kecil… aku minta maaf kalau celanaku basah..”

Duh nak, maafkan mama ya… 😦

Pusiiing…!Kebanjiran SMS!

Pernah baca di detikcom, ada orang tenar yang mengaku jarinya sampai ‘keriting’ karena menerima &membalas 250-an SMS tahun baru. Wow…

Hari ini, saya bisa merasakan betapa pusingnya kebanjiran SMS, pdhl jumlahnya paling2 puluhan, blm ratusan. Gara-garanya, Kirana tuh diundang bedah buku Two Beautiful Princesses di sebuah sekolah swasta yang cukup terkenal di Bdg. Ternyata di sana anak2nya bebas aja pake hape. Bahkan saat acara (selain bedah buku juga pelatihan cara menulis buku, dipandu oleh tim KKPK Mizan), anak-anak sebagian malah sibuk SMS-an.

Nah, yang bikin kacaw, Kirana kan waktu usai acara diserbu sama audiens, dimintai tanda tangan dan bio data. Pas ngisi no HP, Kirana refleks aja nulis no hp saya.Mungkin karena selama ini Kirana melihat bahwa kalau ada yang mau berhubungan dgn dia (misalnya guru2nya, atau orang Mizan), kan nelponnya ke mamanya, jadi, dipikirnya, memang sudah sewajarnya kalau dia nulis no hp mamanya. (Kirana memang belum saya izinkan punya hp.)

Dan..woalaaaa.. sms-sms pun langsung berdatangan ke hp saya, semua ngajak kenalan. Udah gitu pada ngotot lagi. Kalau ga dibalas, langsung SMS lagi, “Kirana, kok ga dibales sih?” Bahkan ada yang miskol segala, ngotot saking pengen segera dibalas. saking pusingnya krn tiap sebentar HP bunyi, HP saya silent-kan. Trus, saya bikin template aja biar ga pegel “Maaf ini no hp mamanya Kirana karena Kirana belum boleh punya hp. Kalau mau kontak, telpon ke no rumah aja, 779xxxx”.

Sebagian dengan sopan menjawab, “Makasih tante, salam buat Kirana ya.”

Tapi ada yang menjawab singkat, “Minta pulsa” Gubrax deh

Ada juga yang menjawab, “Oke deh. Maaf ya aku dah ganggu kamu

Ada lagi yang sms gini (setelah dikasih tau,ini hp mama Kirana): BOLEHKAH SAYA BERHUBUNGAN DENGAN KIRANA? (huruf besar semua)

Saya jawab, “Kirana ada di rumah, telpon aja”

Dia jawab lagi, “TAPI SAYA MALU KARENA SAYA LAKI2”

Waks, justru karena skrg saya tau itu anak laki2, ya wajib saya cuekin lah:D

Duh.. anak-anak jaman sekarang yah.. ck..ck.. ck..

*sudah mengancam Kirana: awas ya, jangan sembarangan lagi kasih no hp mama ke orang2*

Buku dan Kapitalisme

Buku GJA yang dihebohkan itu, tiba-tiba beredar di internet versi PDF-nya (tapi gak lengkap sih, cuma 41 hlmn). Sebagai penulis buku tentu, bila itu terjadi pada saya, tentu saya akan merasa dicurangi dan dirugikan.

Tapi, pada saat yang sama, saya sering kasihan pada orang-orang yang tak sanggup beli buku, padahal sangat bermanfaat buat mereka, misalnya buku ini dan itu (buat ibu2 yg punya anak kecil, terutama). Walhasil, karena kalau saya kasih gratisan juga berat (maklum, penulis kan cuma dapat jatah buku gratis 5 eks dari penerbit, jadi maksimal bisa ngasih gratisan ke orang ya cuma 5 buku..kalau lebih dari itu, penulis harus merogoh koceknya sendiri membeli ke penerbit, biasanya dengan kortingan 25%), saya pakai sistem perpustakaan aja. Jadi, satu buku saya hibahkan untuk dipinjam berantai oleh ibu2 tetangga atau ortu murid PGRQ.

Asal tau aja, bukan salah penulis kalau harga buku mahal. Penulis cuma dapat royalti 10% (itu juga, kata orang, udah bagus!).. Jadi plis, jangan nyalahin penulis ya, kalau buku itu mahal (soale, pernah disalahin sama orang, huhu..sedih banget deh!).

Apa boleh buat, di dunia penerbitan, yang punya modallah yang berkuasa. Penulis memang punya modal naskah. Tapi tanpa modal uang puluhan juta milik penerbit, ya mana bisa buku itu terbit dan terdistribusi (terbit aja sih masih mungkin diusahakan secara indie, tapi distribusi..wah, kerja berat tuh). Dalam dunia kapitalis, pemilik uanglah yang berkuasa. Ketika mereka bilang 10% itu cukup buat penulis, ya mau apa lagi (bahkan, untuk buku anak saya, royaltinya cuma 6%).

Balik lagi ke problem awal, naskah buku yang nyebar di internet. Sebagai penulis, saya memang merasa dicurangi bila itu terjadi pada saya. Untuk penulis lokal, bila saya butuh buku, saya selalu mengusahakan untuk beli (atau pinjam). Bahkan untuk fotokopi pun, sangat saya hindari. Sebagai sesama penulis, saya merasa mengkhianati para penulis itu kalau sampai saya memfotokopi buku mereka.

Tapi kalau buku asing, mau beli? Dududu..harganya bisa ratusan ribu!

Nah, untuk buku asing ini, problem mahalnya buku bisa teratasi dengan mencari e-book gratisan di internet (gigapedia). Entah siapa orang-orang yang ‘berbaik hati’ (atau melakukan kecurangan?) mengupload buku2 itu di gigapedia sehingga bisa didownload orang-orang seluruh dunia. Seseorang berkomentar soal fenomena gigapedia, “Biarkan saja para kapitalis itu!” Hm, jadi jawabannya, kapitalisme lagi kah? Mereka yang mengupload buku-buku itu di internet sedang berjuang melawan kapitalisme kah? Konon, di Barat pun, royalti penulis juga 10% (bahkan, semakin terkenal penerbit, semakin rendah menawarkan royalti). Jadi, yang untung besar tetap saja si pemilik kapital (modal). Tapi, beda penulis di Barat dan penulis di Indonesia, meski royalti sama kecilnya, di Barat, minat baca sangat tinggi sehingga penjualan pun sangat tinggi dan duit masukpun pasti jauh lebih besar.

Balik lagi ke e-book gratisan di internet, apapun motivasi mereka mengupload buku-buku itu di internet, yang jelas, mereka sudah ‘menyelamatkan’ banyak orang. Entah berapa ratus atau juta orang di dunia yang terbantu skripsi, tesis, disertasi berkat upaya mereka mengupload buku-buku itu. Dan yang masih jadi tanda tanya juga bagi saya, di Barat kan ketat sekali masalah hak cipta.. tapi kok fenomena gigapedia itu bisa terjadi? Kenapa penerbit2 itu tidak menuntut ya? Atau mereka sudah sedemikian untungnya sehingga tak peduli lagi?

Ah, sudahlah bu, ga usah mikir macem2 lagi.. ayo.. baca buku lagi! Internetan mulu..:p