Buku dan Kapitalisme

Buku GJA yang dihebohkan itu, tiba-tiba beredar di internet versi PDF-nya (tapi gak lengkap sih, cuma 41 hlmn). Sebagai penulis buku tentu, bila itu terjadi pada saya, tentu saya akan merasa dicurangi dan dirugikan.

Tapi, pada saat yang sama, saya sering kasihan pada orang-orang yang tak sanggup beli buku, padahal sangat bermanfaat buat mereka, misalnya buku ini dan itu (buat ibu2 yg punya anak kecil, terutama). Walhasil, karena kalau saya kasih gratisan juga berat (maklum, penulis kan cuma dapat jatah buku gratis 5 eks dari penerbit, jadi maksimal bisa ngasih gratisan ke orang ya cuma 5 buku..kalau lebih dari itu, penulis harus merogoh koceknya sendiri membeli ke penerbit, biasanya dengan kortingan 25%), saya pakai sistem perpustakaan aja. Jadi, satu buku saya hibahkan untuk dipinjam berantai oleh ibu2 tetangga atau ortu murid PGRQ.

Asal tau aja, bukan salah penulis kalau harga buku mahal. Penulis cuma dapat royalti 10% (itu juga, kata orang, udah bagus!).. Jadi plis, jangan nyalahin penulis ya, kalau buku itu mahal (soale, pernah disalahin sama orang, huhu..sedih banget deh!).

Apa boleh buat, di dunia penerbitan, yang punya modallah yang berkuasa. Penulis memang punya modal naskah. Tapi tanpa modal uang puluhan juta milik penerbit, ya mana bisa buku itu terbit dan terdistribusi (terbit aja sih masih mungkin diusahakan secara indie, tapi distribusi..wah, kerja berat tuh). Dalam dunia kapitalis, pemilik uanglah yang berkuasa. Ketika mereka bilang 10% itu cukup buat penulis, ya mau apa lagi (bahkan, untuk buku anak saya, royaltinya cuma 6%).

Balik lagi ke problem awal, naskah buku yang nyebar di internet. Sebagai penulis, saya memang merasa dicurangi bila itu terjadi pada saya. Untuk penulis lokal, bila saya butuh buku, saya selalu mengusahakan untuk beli (atau pinjam). Bahkan untuk fotokopi pun, sangat saya hindari. Sebagai sesama penulis, saya merasa mengkhianati para penulis itu kalau sampai saya memfotokopi buku mereka.

Tapi kalau buku asing, mau beli? Dududu..harganya bisa ratusan ribu!

Nah, untuk buku asing ini, problem mahalnya buku bisa teratasi dengan mencari e-book gratisan di internet (gigapedia). Entah siapa orang-orang yang ‘berbaik hati’ (atau melakukan kecurangan?) mengupload buku2 itu di gigapedia sehingga bisa didownload orang-orang seluruh dunia. Seseorang berkomentar soal fenomena gigapedia, “Biarkan saja para kapitalis itu!” Hm, jadi jawabannya, kapitalisme lagi kah? Mereka yang mengupload buku-buku itu di internet sedang berjuang melawan kapitalisme kah? Konon, di Barat pun, royalti penulis juga 10% (bahkan, semakin terkenal penerbit, semakin rendah menawarkan royalti). Jadi, yang untung besar tetap saja si pemilik kapital (modal). Tapi, beda penulis di Barat dan penulis di Indonesia, meski royalti sama kecilnya, di Barat, minat baca sangat tinggi sehingga penjualan pun sangat tinggi dan duit masukpun pasti jauh lebih besar.

Balik lagi ke e-book gratisan di internet, apapun motivasi mereka mengupload buku-buku itu di internet, yang jelas, mereka sudah ‘menyelamatkan’ banyak orang. Entah berapa ratus atau juta orang di dunia yang terbantu skripsi, tesis, disertasi berkat upaya mereka mengupload buku-buku itu. Dan yang masih jadi tanda tanya juga bagi saya, di Barat kan ketat sekali masalah hak cipta.. tapi kok fenomena gigapedia itu bisa terjadi? Kenapa penerbit2 itu tidak menuntut ya? Atau mereka sudah sedemikian untungnya sehingga tak peduli lagi?

Ah, sudahlah bu, ga usah mikir macem2 lagi.. ayo.. baca buku lagi! Internetan mulu..:p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s