Doa Supaya Ada Uang Terus di Kantong

Ini sekedar sharing, mau percaya mau enggak, mau dipraktekin mau enggak… terserah aja..:)

Kemarin ada tamu ke rumah kami, dia cerita kalau diajarin doa berikut ini oleh seorang ustad, dan dia sudah membuktikannya, tiap kali duit di kantongnya habis, selalu saja datang rizki lagi, jadi kantongnya gak pernah kosong lagi (beliau ini dari kalangan ekonomi lemah, tapi alhamdulillah, ada saja rizki untuk makan tiap harinya).

Doanya begini.. (dibaca tiap habis sholat);
-baca sholawat 132 kali
-baca istighfar 200 kali
-baca “Ya Aziz” 100 kali

🙂

[Sharing] Mengajari Anak Balita Menulis (?)

Sebelumnya saya udah pernah nulis soal ‘mengajari anak menulis’ di sini. Nah..tulisan itu berhubungan dengan anak saya Kirana yang alhamdulillah udah nerbitin 1 buku, 1 kumpulan cerpen (bersama 19 penulis cilik lainnya), dan sedang menggarap 3 naskah lainnya (karena ada macam2 ide, dia nulisnya loncat-loncat, blm selesai satu naskah, bikin lagi naskah lain..:D)

Nah, kali ini saya mau cerita soal ‘eksperimen’ saya ke Reza (3 tahun 10 bulan). Tentu saja, belum kelihatan hasil konkritnya.. tapi tak apa di-sharing di sini.. siapa tahu ada ibu2 lain yg punya anak balita, kita bereksperimen bareng2 yuk..? Hehe…

Ceritanya, saya beli buku “Anak yang Bermain, Anak yang Cerdas” karya Shoba Dewey Chugani. Nah di buku itu ada saran yang inspiratif, dan saran itu saya sampaikan ke guru playgroup-nya Reza. Bu Guru pun mempraktekkannya di sekolah (ya iyalah..kan playgroupnya juga saya yang bikin.. kalau enggak belum tentu juga bu guru mau repot2.. alhamdulillah banget saya diberi rizki oleh Allah bikin playgroup sendiri yah..:D).

Prosesnya begini, setiap hari, bu guru selalu mendongeng dengan tema tertentu, lalu anak-anak diberi kertas dan disuruh menggambar bebas. (Kebetulan bu guru kami juga gak pinter gambar jadi dia seneng banget sama metode yg satu ini, hihihi). Biasanya gambarnya sih terkait tema yang diceritain bu guru tadi, tapi anak-anak dibiarkan bebas berkreasi. Lalu, setiap anak akan didekati bu guru dan ditanya-tanya, “Ini gambar apa?”

Anak: gambal olang [gambar orang]

Guru: oh.. orang.. Orangnya lagi apa?

Anak: lagi sedih

Guru: oo..kasian ya, lagi sedih .. nih bu guru tulis ya.. [bu guru menulis di kertas, ‘orang lagi sedih’)

Guru: sedihnya kenapa sih?

Anak: kan papanya mau ke mesjid tlus dia ditinggal..

Guru: oo..gitu.. mana dong gambar mesjidnya?

Anak: ntal ya, aku gambal dulu

Guru: wah..bagus.. nih, bu guru tulis ya.. (bu guru menulis lagi, orang lagi sedih karena ditinggal papanya ke mesjid’)

Wah..wah..ini memang membutuhkan kesabaran dari bu guru untuk berkomunikasi dengan SEMUA murid-muridnya, dan berusaha mengorek cerita yang ada dalam benak anak (makanya saya tadi bilang, untung ini playgroup yg saya dirikan sendiri, hehe…)

Mau tau efeknya..?

Kata ibu2 sih..anak2nya sekarang tambah cerewet (tambah suka bercerita).. nah, suka bercerita itu kan awal dari kemampuan menulis kan? Kata bu guru pun, gambar anak-anak makin lama makin kreatif dan mengandung cerita.

Yang paling bisa saya amati tentu saja, efeknya pada Reza. Tambah lama, daya imajinasi Reza tambah kaya dan sering tak terduga. Gambar-gambar yang dibuatnya selalu mengandung cerita dan dia dengan penuh semangat menceritakan gambarnya, misalnya, “Mama, ini gambal naluto lagi bobo-boboan sambil pegang layangan” atau “ini ada papanya anak-anak lagi jalan tlus ketemu laksasa, tapi papanya anak-anak mah gak jatuh karena kuat, laksasanya yang jatuh!”

[Baca: Mama, ini gambar naruto lagi tidur-tiduran sambil pegang layangan” atau “ini ada papanya anak-anak (maksudnya: bapak-bapak) lagi jalan trus ketemu raksasa, tapi papanya anak-anak mah gak jatuh karena kuat, raksasanya jatuh!”]

Oiya, Reza pun selalu minta saya menuliskan cerita itu di kertas gambarnya (meniru gurunya di sekolah)

Tentu saja, jalan masih panjang… mari kita lihat beberapa tahun mendatang bagaimana hasilnya:)

Kematian yang Ikhlas

Dini hari, dering telepon menyentak. Terdengar suara perempuan muda, meraung penuh tangis, mengabarkan madunya meninggal dunia karena kecelakaan. Madunya? Ya, istri tua suaminya. Dan si istri muda itu menangis meraung-raung? Ya. Luar biasa bukan?

Aku pun bersiap-siap melayat. Perempuan muda itu menyambut dengan tangisan. Lalu tetangga-tetangga datang berbondong-bondong. Banyak yang menangis keras, bahkan histeris, menyebut-nyebut nama si istri tua. Ah, istri tua itu sebenarnya belum tua, baru 39 tahun. Mengapa orang suka menyebut istri pertama dengan kata istri tua?

Siapa dia, yang begitu dicintai? Takkan ditangisi orang yang tak dicintai bukan? Ibu-ibu tetangga sibuk bercerita mendaftar kebaikan-kebaikan si istri tua. Satu yang sering disebut-sebut: ikhlas.

Saat dimandikan, ibu-ibu membicarakan betapa tubuh almarhumah sangat lemas, padahal sudah berjam-jam tiada. Seharusnya tubuh itu kaku dan beku. “Dia betul-betul perempuan yang ikhlas. Dia selalu berkata, saya hanya menunggu waktu saja.” Isak seorang ibu tetangga.

Ikhlas. Ikhlas. Kata seorang ustad, hanya orang-orang ikhlas yang bisa masuk surga. Karena orang ikhlas adalah orang yang tenang. Dan hanya jiwa yang tenanglah yang dipanggil Allah. Ikhlas menjadi guru dan menyampaikan ilmu yang menjadi cahaya. Ikhlas menjadi pedagang dan tidak mengambil keuntungan di luar batas wajar. Ikhlas menjadi ibu dan membesarkan anak demi Allah, bukan demi egoismenya. Ikhlas saat bertempur di jalan Allah, bukan karena nafsu membunuh. Ikhlas saat menerima sakit. Ikhlas… menjadi istri tua?

Ah, sulit diterima. Rasanya, aku tak mungkin bisa ikhlas bila suamiku menikah lagi. Tapi kupikir, itulah prestasi almarhumah. Dia berhasil ikhlas. Seorang ibu tetangga bercerita bahwa sesungguhnya ada proses panjang penuh derai air mata saat dia dimadu. Bahkan kemudian, tak hanya dimadu, istri muda pun dibawa tinggal serumah. Tapi perjuangan panjang itu seperti menemui ujung yang manis. Dia bisa berdamai dengan dirinya dan istri mudanya. Bahkan anak si istri muda lebih suka dimandikan dan diantar ke sekolah oleh si istri tua. Di hari kematian itu, anak si istri muda yang baru berusia 4 tahun, berkali-kali menangis. Tiba-tiba dia berlari menangis minta dipeluk dan digendong oleh… anak si istri tua! Tangis si bocah reda setelah dibujuk oleh kakak-lain-ibu. Kata ibu tetangga, si istri tua pernah berkata, “Ah, kalau tak ada kedua bocah ini (=anak madunya), pasti sekarang saya kesepian di rumah kalau siang ya?” (karena dua anaknya sibuk seharian di sekolah). Di akhir hayatnya, suami dan si istri muda kini bersimpuh meraung-raung menangisi kepergiannya.

Tulisan ini sama sekali tidak sedang menilai baik-buruk poligami (apalagi, aku juga tak sudi dipoligami). Tapi, sekedar renungan, betapa setiap manusia punya medan perjuangan sendiri-sendiri. Almarhumah punya medan perjuangan yang mahaberat bagi perempuan: dimadu dan tinggal serumah dengan istri muda. Dia sepertinya menang dalam perjuangan itu. Dia menang melawan dirinya sendiri, melawan nafsu amarahnya. Dia berhasil ikhlas, meski melalui proses panjang yang berderai air mata. Dan mungkin karena itulah tubuhnya sedemikian lemas, padahal seharusnya kaku dan beku.

Aku pun ikut mengantarnya ke makam bersama banyak orang lainnya.

Dan tiba-tiba, perempuan muda itu pingsan, tergeletak di tanah pekuburan yang memerah.

Rahasia Supaya Bisa Nulis

Banyak yang nanya ke saya…gimana sih caranya biar bisa nulis? Sebenarnya saya juga belum ahli, saya nulis masih kurang produktif… Tapi selalu saya jawab: latihan nulis sesering mungkin.
Nah, ‘guru’ saya Pak Hernowo, membuat tulisan bagus ini (saya copas dari FB beliau). Pak Hernowo dulu menginspirasi saya untuk latihan menulis serajin mungkin (duluuuww..awal2 ngeblog, hehe).

Silahkan dinikmati:)

“Ibu” dari Pemecah Segala Kebuntuan Menulis?

Saya sebut ”ibu” karena jika Anda memang ingin mencari cara paling ampuh untuk memecahkan segala jenis ”writer’s block” yang Anda alami, inilah orang (buku)-nya—kebetulan dia seorang wanita. ”Ibu” bisa merujuk ke jenis kelamin dan juga merujuk ke ”induk” atau ”embah”-nya sesuatu. Saya sudah dibantu oleh wanita perkasa ini dalam memecahkan hampir semua kebuntuan menulis yang pernah saya alami—dari yang paling mencekam dan mengerikan hingga yang remeh-temeh.

Kita harus bersyukur karena buku karya sang ”ibu” ini sudah diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Judul buku aslinya pun unik, Writing Down the Bones: Freeing the Writer Within. Lantas, dalam edisi Indonesia, buku itu dijuduli, Alirkan Jati Dirimu: Esai-Esai Ringan untuk Meruntuhkan Tembok-Kemalasan Menulis. Judul edisi Indonesia dibuat sedemikian dramatis karena setelah seseorang berhasil meruntuhkan ”tembok” pelbagai macam kebuntuan menulis, dia tidak lantas berhenti di situ. Diharapkan, keberhasilan itu dapat membawanya ke suatu wilayah yang lebih penting: mengalirkan jati dirinya lewat menulis. Asyik kan?

Saya akan kutipkan saja inti dari buku Alirkan Jati Dirimu sebagaimana yang telah diringkaskan dengan bagus oleh Yuliani Liputo. Ringkasan Yuliani Liputo itu menjadi pengantar penerbit edisi Indonesianya. ”Tidak seperti banyak pengarang buku panduan menulis lainnya, dia tidak berfokus pada cara menulis yang baik; dia justru bilang, ’Ketika Anda mulai menulis dari pikiran Anda sendiri, Anda mesti bersedia untuk menulis sampah selama lima tahun (wuih, lima tahun?—HH) karena kita telah mengumpulkannya selama waktu yang lebih panjang dari itu dan kita telah senantiasa senang mengelak dari diri sendiri.’” Wow!

”Menulis dari pikiran sendiri, itulah pesan utama yang ingin disampaikannya,” tegas Yuliani Liputo dalam menafsirkan apa yang ingin disampaikan oleh si penulis Writing Down the Bones. Menulis dari pikiran sendiri? Apakah kita pernah menulis dari pikiran orang lain? Bukankah setiap kali kita menulis, tentulah materi tulisan itu berasal dari pikiran kita sendiri? Belum tentu. Perhatikan soal ”sampah pikiran” di atas. ”Dia tidak bicara tentang cara menulis pada genre tertentu. Dia begitu mencintai kegiatan menulis sehingga yang penting adalah menulis itu sendiri, berlatih setiap hari, menuliskan sebebas-bebasnya seluruh pikiran yang terlintas di benak Anda tanpa takut-takut, menemukan kesejatian diri Anda lewat tulisan.”

Anda perhatikan, ada kata-kata yang hurufnya saya tebalkan. Setelah saya membaca ”resep” yang diberikan si penulis Alirkan Jati Dirimu, ”berlatih setiap hari” itu menjadi sangat menyenangkan—katakanlah, sangat bisa saya nikmati. Sebelumnya, saya berkilah, ”Apa ada waktu untuk menulis setiap hari? Saya kan sibuk! Menulis itu kan berat! Dan seterusnya.” Membiasakan menulis setiap hari bukan sesuatu yang berat jika kita mau mengikuti ”resep”-nya. Dan setelah semua itu, Yuliani menulis hal penting, ”Setelah keterampilan menulis itu bertumbuh di dalam diri Anda—gara-gara Anda mau membiasakan diri berlatih menulis setiap hari (HH)—terserah Anda apakah Anda akan mengarahkan kemampuan menulis Anda untuk menulis cerpen, puisi, esai, artikel koran, novel, atau brosur iklan.”

Dan siapa sih si ”dia” itu? Dia adalah Natalie Goldberg.[]