Kematian yang Ikhlas

Dini hari, dering telepon menyentak. Terdengar suara perempuan muda, meraung penuh tangis, mengabarkan madunya meninggal dunia karena kecelakaan. Madunya? Ya, istri tua suaminya. Dan si istri muda itu menangis meraung-raung? Ya. Luar biasa bukan?

Aku pun bersiap-siap melayat. Perempuan muda itu menyambut dengan tangisan. Lalu tetangga-tetangga datang berbondong-bondong. Banyak yang menangis keras, bahkan histeris, menyebut-nyebut nama si istri tua. Ah, istri tua itu sebenarnya belum tua, baru 39 tahun. Mengapa orang suka menyebut istri pertama dengan kata istri tua?

Siapa dia, yang begitu dicintai? Takkan ditangisi orang yang tak dicintai bukan? Ibu-ibu tetangga sibuk bercerita mendaftar kebaikan-kebaikan si istri tua. Satu yang sering disebut-sebut: ikhlas.

Saat dimandikan, ibu-ibu membicarakan betapa tubuh almarhumah sangat lemas, padahal sudah berjam-jam tiada. Seharusnya tubuh itu kaku dan beku. “Dia betul-betul perempuan yang ikhlas. Dia selalu berkata, saya hanya menunggu waktu saja.” Isak seorang ibu tetangga.

Ikhlas. Ikhlas. Kata seorang ustad, hanya orang-orang ikhlas yang bisa masuk surga. Karena orang ikhlas adalah orang yang tenang. Dan hanya jiwa yang tenanglah yang dipanggil Allah. Ikhlas menjadi guru dan menyampaikan ilmu yang menjadi cahaya. Ikhlas menjadi pedagang dan tidak mengambil keuntungan di luar batas wajar. Ikhlas menjadi ibu dan membesarkan anak demi Allah, bukan demi egoismenya. Ikhlas saat bertempur di jalan Allah, bukan karena nafsu membunuh. Ikhlas saat menerima sakit. Ikhlas… menjadi istri tua?

Ah, sulit diterima. Rasanya, aku tak mungkin bisa ikhlas bila suamiku menikah lagi. Tapi kupikir, itulah prestasi almarhumah. Dia berhasil ikhlas. Seorang ibu tetangga bercerita bahwa sesungguhnya ada proses panjang penuh derai air mata saat dia dimadu. Bahkan kemudian, tak hanya dimadu, istri muda pun dibawa tinggal serumah. Tapi perjuangan panjang itu seperti menemui ujung yang manis. Dia bisa berdamai dengan dirinya dan istri mudanya. Bahkan anak si istri muda lebih suka dimandikan dan diantar ke sekolah oleh si istri tua. Di hari kematian itu, anak si istri muda yang baru berusia 4 tahun, berkali-kali menangis. Tiba-tiba dia berlari menangis minta dipeluk dan digendong oleh… anak si istri tua! Tangis si bocah reda setelah dibujuk oleh kakak-lain-ibu. Kata ibu tetangga, si istri tua pernah berkata, “Ah, kalau tak ada kedua bocah ini (=anak madunya), pasti sekarang saya kesepian di rumah kalau siang ya?” (karena dua anaknya sibuk seharian di sekolah). Di akhir hayatnya, suami dan si istri muda kini bersimpuh meraung-raung menangisi kepergiannya.

Tulisan ini sama sekali tidak sedang menilai baik-buruk poligami (apalagi, aku juga tak sudi dipoligami). Tapi, sekedar renungan, betapa setiap manusia punya medan perjuangan sendiri-sendiri. Almarhumah punya medan perjuangan yang mahaberat bagi perempuan: dimadu dan tinggal serumah dengan istri muda. Dia sepertinya menang dalam perjuangan itu. Dia menang melawan dirinya sendiri, melawan nafsu amarahnya. Dia berhasil ikhlas, meski melalui proses panjang yang berderai air mata. Dan mungkin karena itulah tubuhnya sedemikian lemas, padahal seharusnya kaku dan beku.

Aku pun ikut mengantarnya ke makam bersama banyak orang lainnya.

Dan tiba-tiba, perempuan muda itu pingsan, tergeletak di tanah pekuburan yang memerah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s