Mutiara Terpendam

Duh, kayaknya saya udah “berkhianat” pada multiply deh… biasanya tulisan2 curhat saya tulis di MP, kadang2 aja saya posting ulang di fb. Eh..skrg malah terbalik, tulisan yang ini malah dipost duluan di fb, baru hari ini sempat diupload di MP. Gpp lah.. yang penting meski tak serajin dulu (tapi bukan karena keranjingan fesbuk), MP tersayang tetap ditengok dan dipelihara..:)


Mutiara Terpendam

Tiba-tiba hari ini saya merasa, kayaknya asyik juga menulis buku berjudul “Pelangi di Rancaekek” 🙂 Dulu, menjelang saya pulang ke Indonesia setelah 8 tahun menetap di Iran, saya berpikir akan mendapati kehidupan yang membosankan. Apa yang bisa saya tulis di Indonesia? begitu pikir saya. Kalau tinggal di luar negeri,sudah pasti ada banyak hal menarik untuk diceritakan. Tapi tentang Indonesia, pasti semua orang Indonesia juga udah tahu, demikian saya pikir. Apalagi, di Indonesia saya sudah memutuskan untuk (sementara) jadi ibu RT (rumah tangga) atau istilah kerennya “full time mom”. Saya sudah bersuuzon, betapa bosannya!

Ternyata.. tidak demikian. Ada banyak hal menarik di Indonesia. Ternyata yang penting adalah kepekaan kita memandang sesuatu. Hari-hari saya di Indonesia selama tiga tahun terakhir ini benar-benar hari-hari yang menyenangkan dan menggairahkan (tidak 100% tentu, tapi 80-90% lah). Sungguh tak disangka. Padahal saya tinggal di kampung di pinggiran Bandung yang sering masuk tivi gara-gara banjir: Rancaekaek.

Tentu mudah-mudahan saya dijauhkan dari ketakaburan. Semua ini adalah berkat lindungan Allah semata, semoga kami, kita semua, selalu dijauhkan dari bencana dan malapetaka. Amiin…

Oke, saya cerita salah satu kisah menarik di Rancaekek yah. Jadi gini, waktu saya berniat membuka playgroup (PG) saya bingung: gurunya siapa? Saya punya syarat: harus cinta anak-anak dan yakin pada keunggulan metode Rumah Qurani. Syaratnya cuma 2, tapi sulit dipenuhi. Satu guru sudah didapat, yaitu ipar saya sendiri. Sarjana lulusan UPI (IKIP Bandung). Dialah mutiara pertama yang saya temukan. Seiring dengan waktu, dia semakin memperlihatkan kemampuan prima dalam mengajar anak-anak dan memenej PG. Butuh satu asisten guru. Siapa?

Allah menuntun saya menemukan mutiara kedua. Saya melihatnya berjualan binder (kertas bergambar yang disukai anak-anak perempuan) di pasar kaget yang cuma ada tiap ahad pagi di kampung kami. Anak-anak perempuan mengerumuninya, memilih-milih, lama sekali, meski kemudian membeli 2-3 lembar saja. Tapi dia selalu penuh senyum. Sabar sekali. Bahkan putri saya pun jadi hobi membeli binder kepadanya.

Selanjutnya, setelah “interview” (biar keren, pake istilah ini:D), saya dapati ternyata dia tak lulus SMA karena masalah biaya. Saya tawari dia menjadi asisten di PG sambil melanjutkan kelas persamaan SMA. Untuk membayarnya, gajinya tiap bulan dipotong. Dia setuju. Segera diurusnya sendiri segala sesuatunya. Sungguh di luar sangkaan saya, dia begitu percaya diri dan penuh semangat untuk maju. Dan hanya dalam beberapa bulan, dia lulus ujian persamaan SMA. Bagaimana dengan kemampuan mengajarnya? Juga di luar dugaan. Semakin hari dia semakin cemerlang. Bahkan ketika saya dorong dia untuk tampil mendongeng (tidak sekedar jadi asisten), dan mengajari sedikit teknik bicara di depan umum, hasilnya luar biasa. Sekali-dua kali, dia masih gugup. Selanjutnya, dia bagaikan pendongeng berpengalaman dan berhasil membuat anak-anak tekun menyimak dongengnya.

Mutiara ketiga saya temukan berbulan-bulan kemudian. Perempuan cantik itu ibu dari salah satu murid di PG. Dia begitu sabar melayani anaknya, dan anak-anak lain (teman-teman anaknya). Dia ibu yang paling hapal ayat dan isyarat (metode Rumah Qurani). Saat saya mengeluh, “Duh, kayaknya harus nambah guru nih. Murid kita udah kebanyakan..” dia langsung menawarkan diri. Cita-citanya dari dulu memang guru TK, katanya. Tapi dia juga ‘cuma’ lulusan SMA. Okelah, kata saya dalam hati. Yang penting dua syarat terpenuhi, urusan pendidikan, insya Allah bisa menyusul.

Sejak dua pekan lalu, ada perubahan yang tak pernah saya bayangkan saat memulai PG ini: kedua perempuan itu mendaftar dan kuliah di program D1 PGTK. Setiap bertemu, dengan wajah berbinar-binar mereka menceritakan pengalaman kuliah. Bahkan, sejak sekarang pun mereka sudah ingin memroses pendaftaran S1 PGTK ke Universitas Terbuka. Saya takjub melihat mereka berdua. Di tengah keterbatasan (duh, saya hanya mampu menggaji mereka dengan sangat-sangat minim –pemasukan playgroup hanya dari uang bulanan 30rb per anak, dengan jumlah murid 18—dan suami-suami mereka juga penghasilannya pas-pasan, tapi anehnya, dari uang yang sedikit itu mereka ‘berani’ memutuskan sekolah lagi!), di tengah lingkungan ‘kampung’, di tengah stereotip umum ibu-ibu RT yang konon kerjaannya cuma bisa ngurus dapur, anak, suami, nonton sinetron dan infotaintment, mereka berdua benar-benar mutiara terpendam yang kini sudah menampakkan sinar.

Saya benar-benar bangga bisa satu tim dengan ketiga mutiara itu. Saya menemukan ‘habitat’ saya di kampung ini: ibu-ibu yang bersemangat untuk maju. Binar-binar kebahagiaan dan gairah untuk maju yang tampak di wajah mereka benar-benar memberi semangat kepada saya untuk terus bertahan menerjang badai [lebay.com] 🙂