Catatan Ahad Pagi #1: it’s Awesome!

Tak sengaja, beberapa pekan yang lalu, saya menemukan blog 1000awesomethings.com yang ditulis seorang bernama Neil. Isinya kadang-kadang tak begitu saya pahami, tapi secara umum bicara tentang mengenali hal-hal kecil yang kita temui sehari-hari. Ketika kita bisa menyadari hal-hal kecil yang berharga itu, lalu mensyukurinya, hidup pun terasa lebih ringan.

Misalnya di tulisan #500 Making It Halfway, Neil bercerita, bahwa jika kita sedang dalam perjalanan jauh dan sudah berada separo jalan, rasanya lega (betul juga! Ingat zaman jadul dulu, kalo mudik ke Padang pakai bis); baca buku, sudah separo, betapa leganya.. Ini lanjutan dari saya: nulis tesis, meski baru bab 1 (karena bab 1 yang sudah selesai terpaksa diobrak-abrik lagi, huhuhu), sebenarnya harus disyukuri juga, karena minimalnya, saya sudah MULAI menggarap tesis. Coba bayangkan bila tesis belum mulai (nemu judul pun belum) wah, pasti kondisi saya lebih parah lagi.

Membaca tulisan-tulisan Neil, saya pun berusaha berlatih untuk mengidentifikasi hal-hal kecil itu. Makanya, saya niatkan untuk rajin menulis “Catatan Ahad Pagi” ini dan pakai nomor (niru-niru Neil, hehe). Misalnya saat naik kereta ekonomi Bandung-Rancaekek. Tentu, bila ada kereta patas yang harga tiketnya 5x lipat dari kereta ekonomi, saya pilih yang patas (bukan sok kaya, tapi emang kereta patas jauh lebih manusiawi, hiks). Tapi, bila ketika nyampe stasiun, kereta yang tersedia cuma kereta ekonomi (yang luar biasa kumuh, penuh sesak, bau keringat, bau rokok, para pengemis dan pengamen berbaju sangat lusuh berseliweran, serta para pedagang yang ngotot mondar-mandir membawa barang dagangan padahal kereta sangat sesak… benar-benar kontras dengan fakta bahwa pemerintah negeri ini mengeluarkan uang 6,7 T entah untuk siapa!), saya bisa merasakan kelegaan itu: UNTUNG ADA KERETA!

Coba kalau enggak.. bisa kacau deh. Saya kan meninggalkan Reza di rumah (bersama baby sitter part time). Kalau saya terlalu lama pergi, Reza pasti rewel. Saya harus segera pulang dan kereta adalah transportasi tercepat (hanya 30 menit sampai di Rancaekek, bila naik angkot bisa 2 jam).

Jadi, saya menaiki kereta ekonomi yang menyeramkan itu (sungguh, dulu awalnya saya serem naik kereta ekonomi!) dengan perasaan lega. Saya berdesak-desakan (dan bahkan kadang berdiri tanpa perlu pegangan tangan saking sesaknya) dengan lega. Menghirup asap rokok orang-orang yang tak tahu diri (atau, mungkin memang kondisi mereka tak memungkinkan untuk kenal yang namanya ‘etika orang beradab saat naik kendaraan umum’) dengan perasaan..lega..? Eh nggak lega sih, tapi minimalnya sabar dan tidak menggerutu. Mau apa lagi. Namanya juga kereta rakyat amat-sangat jelata.

Dan, beberapa kali, di tengah semua kekisruhan saat naik kereta ekonomi, saya menemukan kebahagiaan besar, yaitu: DAPAT TEMPAT DUDUK TANPA HARUS REBUTAN! Ada dua kejadian yang sangat berkesan soal tempat duduk ini. Dua kali itu saya telah melakukan kebaikan (mengikhlaskan sesuatu yang sebenarnya jadi hak saya). Karena kelelahan, sampai stasiun saya hanya berdiam diri dan tidak ikut berebutan naik ke kereta. Setelah kegaduhan reda, saya pun naik tanpa berharap dapat tempat duduk. Sudahlah, yang penting kebawa kereta dan bisa segera sampai rumah, begitu pikir saya. Dan, ternyata dalam dua kesempatan itu, saya DAPAT TEMPAT DUDUK! Bebas asap rokok pula! (artinya, di sekitar saya tak ada satu pun yang merokok). Wow, rasanya lega sekali! Saya merasa Allah sayang sama saya dan menghadiahi saya tempat duduk sebagai balasan atas kebaikan yang tadi saya lakukan. (Tentu tidak berari bahwa orang-orang yang ga dapat tempat duduk adalah orang yang tak berbuat baik, hehe). Intinya, kejadian itu benar-benar membuat saya hangat dan terlindungi. Kalau pake istilahnya Neil, it’s AWESOME!

Kembali ke Asal

Hari ini saya diminta berbicara di depan siswa-siswa SMA di sekolahnya Abah Fajar tentang cara mengemas blog menjadi buku. Mau tak mau, saya buka-buka lagi berbagai blog dan mengingat-ingat lagi, bagaimana dulunya saya ngeblog di multiply, sampai akhirnya sebuah tulisan di MP dikembangkan jadi buku Doktor Cilik Hafal dan Paham Al Quran, tulisan yang lain menginspirasi lahirnya buku bareng-bareng, Oh Baby Blues, dan sebagian tulisan saya –juga di MP— terbit jadi buku Pelangi di Persia. Dan mau tak mau, saya jadi tersadar, betapa akhir-akhir ini saya sangat ‘mengabaikan’ multiply. Padahal, jaringan pertemanan di MP-lah yang berjasa ‘mendidik’ saya untuk jadi penulis serius…

Apakah karena saya jatuh hati ke situs jejaring sosial lainnya? Ah, bukan itu penyebabnya. Alasannya sederhana saja: fokus tulisan-tulisan saya akhir-akhir ini (sejak kuliah lagi, tepatnya) memang cenderung berbau-bau politik. Selain karena atmostfer yang terbangun dalam otak saja sejak kuliah emang melulu atmosfer politik internasional, saya juga memang sedang berlatih mengaplikasikan teori-teori yang diajarkan dosen (targetnya: kelak melahirkan buku dengan tema politik global..menggugat neoliberal..atau semacam itulah). Jaringan pertemanan saya di blog saya yang lain, memang kebetulan penggemar tulisan-tulisan kayak gitu. Sementara, komunitas yang saya punyai di MP ini adalah komunitas yang lebih peduli pada masalah keluarga, anak, dan cerita-cerita ringan. Masalahnya, saya udah jarang banget nulis cerita2/kontemplasi ringan (atau bahkan mungkin sudah jarang berkontemplasi ringan lagi ya? Sibuk ngurusin kisruhnya dunia, hehe).

Tapi, pagi ini, saya tersadarkan lagi: bukankah cerita-cerita ringan itu yang membuat saya mampu bermetamorfosis jadi penulis? Bukankah cerita-cerita/kontemplasi ringan dari para blogger MP yang banyak berjasa buat saya untuk melewati kehidupan selama ini…?

Sedikit kilas balik. Saya masih sangat ingat, dulu saat mulai ngeblog di MP, saya merutinkan diri menulis minimal dua tulisan seminggu. Duh, waktu itu rasanya ingin tenggelam saja karena malu. Tentu saja, sebelum buka blog, saya sudah berkali-kali mempublikasikan tulisan, tapi tulisan formal (paper atau artikel koran). Tapi menulis di blog, saya ‘menampilkan diri’, menceritakan apa dan siapa saya kepada orang-orang yang belum saya kenal (suer, pertama ngeblog di MP, ga ada yang kenal satu pun. Bahkan waktu itu terkaget-kaget kok ada invitation dari mba Endang..padahal belum kenal, hehe..makasih banyak mba Endang! Lama sekali kita ga saling kontak ya!).

Lambat laun, saya menemukan bahwa menulis di blog akan melatih kita untuk menulis dari hati (bukan sekedar dari otak), sehingga akan memberi nuansa yang lebih kaya pada tulisan. Atau, mungkin, bisa pakai istilah ‘feature’. Menulis di blog akan melatih kita untuk mampu menulis bergaya feature, kaya makna, dan hikmah. Tentu saja, wallahua’lam, apa benar tulisan saya kaya makna. Yang jelas, SANGAT sering saya terinspirasi dari tulisan-tulisan di blog orang lain. Bahkan sekedar cerita dari seorang ibu, bahwa hari ini dia berkebun dan memamerkan foto tanaman yang diurusnya, sudah memberi inspirasi pada saya: pelajaran tentang kesabaran (dan warning, itu taman di depan rumah sudah lama tak terurus!). Tulisan renungan ulangtahun seseorang, akan menginspirasi saya untuk merenung, setidaknya malu sendiri: duh orang lain sedemikian pedulinya apda kenyataan bahwa umurnya berkurang setahun, sementara diriku asyik saja mengurus dunia..

Ada istilah ‘tulisan tak penting’ (mungkin untuk menunjukkan ‘sekedar curhat yang tak ada artinya buat orang lain’). Tapi menurut saya, tak ada ada tulisan yang tak penting (kecuali tentu tulisan ngaco yang berbau SARA, sectarian, menghujat sana-sini, atau pornografi). Jika kita menulis dari hati terdalam, dimotivasi keinginan untuk berbagi hikmah, insya Allah semua tulisan akan jadi penting.

Setelah saya kilas balik perjalanan saya sejak enam bulan terakhir, memang sepertinya, saya sudah mengabaikan satu episode penting: mencatat kehidupan saya dan keluarga (seperti yang sebelumnya sering saya posting di MP). Padahal, catatan itulah kenangan terindah buat kami. Seharusnya, saya bisa menyeimbangkan diri: tidak melulu mengurusi politik dunia (halah!) tapi juga merekam wisdom yang diajarkan oleh anak-anak, suami, teman-teman—dan bahkan orang tak dikenal yang saya temui di jalan— kepada saya.

Jadi, mulai sekarang, saya mencantumkan lagi tugas khusus mingguan: posting di MP…seperti dulu.. 🙂

PS: saya menyadari, ada etika tak tertulis di jaringan pertemanan ini, yaitu ‘saling berkunjung dan saling menyapa’… tapi mohon maaf etika yang satu ini agak sulit saya penuhi karena semakin sempitnya waktu; bukan karena tak sayang dan tak peduli, tapi memang kondisi yang tak memungkinkan. Mohon maaf juga buat teman-teman yang meng-add, tidak bisa balik berkunjung, tapi terimakasih sangat sudah di-add. Fokus saya sementara ini, yang penting bisa kembali posting rutin aja dulu deh ya..:)