Catatan Ahad Pagi #2: Rachel

Pembantaian di atas kapal Mavi Marmara –yang berisi relawan dari puluhan negara, multiras, multi-agama—membuktikan kepada dunia, bahwa masalah Palestina bukanlah masalah kaum muslim belaka, melainkan masalah umat manusia; masalah kemanusiaan, masalah HAM, masalah nurani, masalah kejahatan perang yang telah 60 tahun lebih dibiarkan terjadi oleh komunitas internasional…

Tak gentar oleh pembantaian Marmara, kapal dari Irlandia, MV Rachel Corrie tetap melanjutkan perjalanan ke Gaza (meski kabar terakhir menyebutkan bahwa kapal itu akhirnya dibajak Israel dan dibawa ke perairan Israel). Sebagian penumpang kapal adalah para aktivis bule, seperti Mairead Corrigan-Maguire (seorang pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Irlandia Utara), Dennis Halliday (mantan diplomat senior PBB asal Irlandia). Bahkan Perdana Menteri Irlandia Brian Cowen menyebut “MV Rachel Corrie sebagai kapal milik Irlandia dan kapal itu patut diizinkan untuk merampungkan misinya.”

Kapal MV Rachel Corrie itu seolah menyalakan lagi semangat seorang perempuan muda yang gugur di Rafah tujuh tahun silam. Saat itu, Rachel baru berusia 23 tahun. Ia terlahir sebagai seorang Kristiani. Sejak kecil dia sangat peduli kepada kemanusiaan. Ketika besar, dia bergabung dalam International Solidarity Movement (ISM) yang berjuang dalam aksi damai untuk menghentikan penjajahan Israel terhadap Palestina. Suatu hari di tanggal 16 Maret 2003, Rachel berusaha menghalang-halangi sebuah buldozer yang akan menghancurkan sebuah rumah milik warga Palestina. Tentara Israel pengendali buldozer itu tak peduli, dan terus merangsek. Tubuh Rachel hancur.

Saya sebenarnya sejak lama sudah “mengenal” Rachel (dan mencantumkan “Untuk Rachel Corrie” pada halaman persembahan buku terbaru saya “Obama Revealed”). Namun, baru dua hari yang lalu menemukan rekaman video saat Rachel usia 10 tahun, menyuarakan kepeduliannya kepada kemanusiaan. She was so lovely, just like a little angel. Dengan suara yang bening dia berkata:

I’m here for other children.
I’m here because I care.
I’m here because children everywhere are suffering and because forty thousand people die each day from hunger. I’m here because those people are mostly children.

(Selengkapnya, bisa lihat sendiri di You Tube)

Menyaksikan Rachel kecil, saya benar-benar malu hati. Anak sekecil itu sudah peduli pada dunia. Apa yang dipedulikan anak saya sendiri? Mainan baru? Baju baru? Makan pizza dan burger?

Rachel menulis di diary-nya:

Bagiku, mama adalah panutan sempurnaku… Andai setiap wanita setegas kesederhanaan mama, maka penghormatan adil disandang seluruh wanita di muka bumi. Kukagumi budi pekerti luhur mama. Engkaulah satu-satunya orang yang kutahu tak pernah menindas orang lain demi meraih keinginanmu…” [dikutip dari Let Me Stand Alone, hlm 22]

Seorang Cindy Corrie, rupanya berhasil menanamkan empati kepada sesama pada Rachel, dengan cara yang sederhana: tak pernah menindas orang lain demi meraih keinginannya.

Ah, emangnya bisa ibu menindas anaknya? Ya, bisa dong..:(

Saat saya berkeras memaksa anak makan, padahal menunya tak sesuai selera atau mungkin karena benar-benar belum lapar. Saya ngomel dengan alasan kemanusiaan “Makan dong! Orang lain kelaparan, kalian malah milih-milih makanan!” padahal di hati kecil saya, saya kesal karena sudah cape-cape masak kok ditolak!

Saat saya memaksanya sekolah padahal hari itu dia tidak mood untuk sekolah.

Saat saya memaksanya untuk bicara sopan (tujuannya baik, tapi karena pake ngomel, kesannya jadi maksa!).

Saat saya memaksanya pakai baju hijau padahal dia ingin pakai baju merah (hanya dengan alasan: saya malu kalau anak saya pakai baju merah yang sudah kependekan itu!).

Saat saya memaksanya sholat dan mengaji (padahal, teori parentingnya: jangan dipaksa, tapi dikondisikan dengan lemah lembut supaya anak dengan senang hati mau ikut sholat bersama kita).

….

Rachel, Rachel, terimakasih sudah menulis catatan tentang mamamu. Dan aku akan belajar untuk sedikit meniru mamamu…

One thought on “Catatan Ahad Pagi #2: Rachel

  1. Pingback: jangan dholim… « lilinlilinkecil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s