Catatan Ahad Pagi #4: Mengapa Mesti Bergegas?

Suatu Sabtu, saya mengantar anak saya untuk les biola. Hah? Les biola? Awalnya saya merasa, les biola kayaknya gak pantes banget deh buat anak yang tinggal di pinggiran Bandung bernama Rancaekek yang sering masuk tivi gara-gara banjir. Apalagi, pas nanya-nanya, biaya kursusnya 230rb utk level pertama (4 kali pertemuan @30 menit), semakin tinggi level, semakin mahal biayanya. Belum ongkos ke sana (mengingat tempat lesnya di kota, kami di kampung) yang lumayan juga kalau ditotal. Waktu datang ke tempat les itu pun, rasanya gimana… gitu, kayak salah tempat. Soalnya yang les di sana –kelihatannya—semuanya anak-anak orang kaya dari etnis tertentu. Mobil-mobil mewah parkir di depan tempat kursus. Sementara kami? Jalan kaki berpanas-panas sekitar 500m dari stasiun kereta api, karena transport yang tersedia dari Stasiun (kami naik krt dr Rancaekek ke Sta Bdg) cuma becak dengan ongkos 6rb, hiks…

Tapi, karena Kirana ngotot dan bahkan bersedia bayar uang les plus beli biolanya dengan honor royaltinya, ya apa boleh buat. Untungnya, kata gurunya, Kirana memang berbakat. Karena gurunya muji-muji terus, saya pun berbunga-bunga, tak sabar menanti saat Kirana bisa tampil di panggung, konser musik klasik..gitu.. Pasti keren kan? Bahkan, untuk acara perpisahan anak kelas 6 di sekolah, saya mendorong Kirana untuk tampil memainkan satu lagu. Wah, betapa bangganya.. begitu pikir saya.

Dan hari itu, kebanggaan saya tertampar. Saat duduk-duduk di lobby, menunggu Kirana selesai les, saya membuka-buka majalah musik (meski dengan rasa pesimis; soalnya saya kan ga ngerti musik). Tapi alhamdulillah, yang namanya hikmah memang bisa nemu di mana aja. Majalah itu memuat wawancara dengan seorang pemain biola senior, Alexander Tambayong (namanya juga baru denger sekarang).

Om Alex ini mengkritik para ortu dan guru yang terlalu bernafsu mendorong anak-anak untuk segera tampil dan menyebutnya sebagai ‘mencari sensasi’. Hwa… kok kayak nyindir gue banget yak! Kata om Alex (kurang-lebih), “Orang yang mencari sensasi itu berpotensi sombong. Orang yang sombong jiwanya terpenjara. Musik itu untuk memperkaya jiwa, bukan memenjarakan jiwa…” Di bagian lain, om Alex menilai bahwa keterburu-buruan dalam belajar musik didorong oleh tuntutan zaman, “Konsumerisme dan materialisme bisa membuat orang buta mata hati bila kita tak waspada.”

Huhuhu… bener juga. Lihatlah kita hari ini: meski sudah sekolah seharian (full day), masih diikutkan les bahasa Inggris, matematika, ini..itu.. Ortu banyak yang bergegas memacu anak supaya bisa ini-itu sejak dini karena khawatir kalah dalam persaingan global. Khawatir nanti gak bisa masuk SMP-SMA favorit, universitas ternama, kerjaan mapan… padahal kan itu semua masih jauh…? Mengapa mesti bergegas? Biarkan semua berjalan alami, natural.. Jangan menumbuhkan anak-anak karbitan (lengkapnya soal anak karbitan bisa baca di sini).

Anyway, meski secara teori saya udah tahu soal anak karbitan, ternyata oh ternyata, saya masih terpeleset. Membaca wawancara dengan om Alex itu, saya menghela nafas.

Oke nak.. silahkan nikmati saja lesmu. Mudah-mudahan ada rezeki yang terus mengalir untuk membiayainya. Konser? Tampil di sekolah? Ah, nanti saja, tak perlu bergegas. Kapan-kapan saja, kalau kamu memang sudah ‘matang’ dan menjiwai biolamu…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s