Catatan Ahad Pagi #9: dari Stephen King

Suatu hari, tak sengaja saya menemukan buku “Stephen King on Writing” (edisi terjemahan, terbitan Qanita) di bursa buku obral. Hanya 15ribu harganya. Tapi isinya menarik sekali. Saya belum selesai membacanya. Tapi ada beberapa kalimat yang menyentak saya:

“Menulis adalah pekerjaan orang yang kesepian. Punya seseorang yang mempercayaimu dapat membuat perubahan besar. Mereka tak harus menyusun pidato. Hanya percaya saja biasanya sudah cukup” ( 91)

King, penulis lebih dari 30 buku best-seller (yang diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia) ternyata bukan seorang yang melewati masa kecil secara ‘normal’. Ibunya single parent dan mereka sering pindah-pindah tempat tinggal. Namun, King bisa tumbuh menjadi penulis besar karena ternyata ibunya SANGAT menghargai tulisan-tulisannya. Tulisan King kecil diapresiasi ibunya (bahkan ibunya membeli karya King kecil seharga 25 sen untuk tiap cerita).

Selama bertahun-tahun masa awal pernikahannya, King ngos-ngosan mencari nafkah, termasuk dengan bekerja kasar jadi pegawai laundry. Tapi dia tetap menulis. Dan yang sangat membantunya: istrinya tak pernah mencela, bahkan terus mendorong King untuk menulis.

Ada pelajaran luar biasa yang bisa kita ambil, saya pikir. Ketika anak kita—atau pasangan kita— mencoba menulis/mengarang, betapapun kacaunya, marilah kita mengapresiasinya. Jangan tertawakan atau cela. Karena ternyata penulis besar bisa lahir bila ada orang-orang terdekat yang percaya padanya.

gambar: dari googlesearch

Catatan Ahad Pagi #8: Terpaksa Berbuat Baik

Pernahkah engkau, suatu saat memberikan uang Rp5000 kepada tukang becak ketika ongkos yang disepakati adalah Rp4000? Biasanya tukang becak (yang selama ini kutemui) akan berkata, “Wah, ga ada kembaliannya bu.” Dan, engkaupun terpaksa berkata, “Ya udah pak, ambil saja.”

Pernahkah engkau punya tetangga, yang rajin mengajakmu pengajian? Kau sebenarnya malas pergi, tapi karena sungkan dan demi menyenangkan hatinya, suatu hari kau tetap pergi. Dan, ternyata, ada banyak pencerahan yang kaudapat hari itu!

Pernahkah engkau berada di pinggir jalan, tergesa-gesa untuk suatu urusan, tiba-tiba ada kecelakaan di depan mata. Kau bisa pergi segera dan berpikir, “Biar saja, ada orang lain yang akan mengurusi”, bisa juga memutuskan untuk menolong orang itu, minimalnya mengantar sampai ke rumah sakit.

Inilah yang disebut ‘taufiq ijbari’, berada dalam kondisi ‘terpaksa’ untuk berbuat baik. Dan tahukah engkau, ini adalah sebuah nikmat yang besar dari Tuhan?

Bayangkan bila engkau berada dalam situasi sebaliknya: terpaksa berbuat buruk.
-Duduk di kelas, semua teman mencontek (karena pengawas ujian sengaja meninggalkan ruangan), dan engkaupun -merasa- terpaksa ikut mencontek

-Duduk bekerja di sebuah instansi, yang membuatmu -merasa- terpaksa untuk menandatangani kwitansi kosong, memberikan/menerima uang pelicin, atau menerima pembagian uang haram?

-Duduk di sebuah ruangan, yang di dalamnya orang-orang membicarakan aib orang lain. Engkau jengah, tapi tak kuasa untuk beranjak pergi, apalagi menasehati, karena sungkan pada mereka.

-…

Karena itu, mungkin kita senantiasa perlu berdoa,
“Allah yang Mahabaik
Tempatkanlah aku dalam kondisi yang selalu membuatku untuk berbuat baik
Jauhkan aku dari situasi yang membuatku terpaksa berbuat buruk..”

Karena seringkali, kebaikan yang kita lakukan bukan karena kita ‘ingin’ melakukannya, tapi karena Tuhan membawa kita untuk berada dalam situasi yang memudahkan kita untuk berbuat baik..

*maaf, bukan sok bijaksana,
hanya sekedar menasehati diri sendiri

(gambar: dari google.)

Catatan Ahad Pagi #7: Mengajar Baca ke Anak Balita?

Beberapa hari belakangan, saya menghadapi dilema: Reza (dan anak-anak playgroup saya) musti diajarin baca atau tidak ya?

Sejak awal, saya sudah memutuskan untuk tidak mengajarkan baca ke anak-anak playgroup, karena berbagai pertimbangan.. Salah satunya, cerita dari teman-teman yang pernah di Jerman, katanya di sana mengajarkan baca ke anak di bawah 6 thn dianggap sebagai bentuk kekerasan kepada anak. Seorang teman yang psikolog juga bilang demikian. Dan banyak sumber lainnya.

Tapi, melihat sebagian anak-anak yang antusias pada huruf (termasuk Reza, yang kelihatan banget penasaran pengen bisa baca, bahkan sering pura-pura membaca sendiri bukunya), keyakinan saya jadi goyah. Lalu, diskusi juga dengan seorang teman, dia bilang, yang penting metodenya menyenangkan. Duh, gimana nih…?

Akhirnya, pagi ini menemukan jawabannya:


Balita Diajarkan Calistung, Saat SD Potensi Terkena ‘Mental Hectic’


Ahad, 18 Juli 2010, 10:57 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Anak usia di bawah lima tahun (balita) sebaiknya tak buru-buru diajarkan baca tulis dan hitung (calistung). Jika dipaksa calistung si anak akan terkena ‘Mental Hectic’.

”Penyakit itu akan merasuki anak tersebut di saat kelas 2 atau 3 Sekolah Dasar (SD). Oleh karena itu jangan bangga bagi Anda atau siapa saja yang memiliki anak usia dua atau tiga tahun sudah bisa membaca dan menulis,” ujar Sudjarwo, Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Ditjen PNFI Kemendiknas, Sabtu (17/7).

Oleh karena itu, kata Sudjarwo, pengajaran PAUD akan dikembalikan pada ‘khittah’ (asal)-nya. Kemendiknas mendorong orang tua untuk menjadi konsumen cerdas, terutama dengan memilih sekolah PAUD yang tidak mengajarkan calistung.

Saat ini banyak orang tua yang terjebak saat memilih sekolah PAUD. Orangtua menganggap sekolah PAUD yang biayanya mahal, fasilitas mewah, dan mengajarkan calistung merupakan sekolah yang baik. ”Padahal tidak begitu, apalagi orang tua memilih sekolah PAUD yang bisa mengajarkan calistung, itu keliru,” jelas Sudjarwo.

Sekolah PAUD yang bagus justru sekolah yang memberikan kesempatan pada anak untuk bermain, tanpa membebaninya dengan beban akademik, termasuk calistung. Dampak memberikan pelajaran calistung pada anak PAUD, menurut Sudjarwo, akan berbahaya bagi anak itu sendiri. ”Bahaya untuk konsumen pendidikan, yaitu anak, terutama dari sisi mental,” cetusnya.

Memberikan pelajaran calistung pada anak, menurut Sudjarwo, dapat menghambat pertumbuhan kecerdasan mental. ”Jadi tidak main-main itu, ada namanya ‘mental hectic’, anak bisa menjadi pemberontak,” tegas dia.

Kesalahan ini sering dilakukan oleh orang tua, yang seringkali bangga jika lulus TK anaknya sudah dapat calistung. Untuk itu, Sudjarwo mengatakan, Kemendiknas sedang gencar mensosialisasikan agar PAUD kembali pada fitrahnya. Sedangkan produk payung hukumnya sudah ada, yakni SK Mendiknas No 58/2009. ”SK nya sudah keluar, jadi jangan sembarangan memberikan pelajaran calistung,” jelasnya.

Sosialisasi tersebut, kata Sudjarwo, telah dilakukan melalui berbagai pertemuan di tingkat kabupaten dan provinsi. Maka Sudjarwo sangat berharap pemerintah daerah dapat menindaklanjuti komitmen pusat untuk mengembalikan PAUD pada jalurnya. ”Paling penting pemda dapat melakukan tindak lanjutnya,” jawab dia.

[]

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita/10/07/18/125274-balita-diajarkan-calistung-saat-sd-potensi-terkena-mental-hectic

Banyak Orang Gila

Kemarin, kami nonton siaran berita di sebuah channel tivi. Ada kasus anak SMA yang merekam tetangganya yang sedang mandi dengan memakai hp. Si anak ditangkap polisi dan terancam pasal pornografi seandainya dia terbukti telah menyebarkan video perempuan mandi itu.

Karena akhir2 ini rasanya cukup sering baca/dengar berita mirip begini, saya bilang sama Kirana, “Kalau kita ke toilet atau kamar mandi, harus hati-hati banget. Sekarang ini banyak orang gila, suka ngintip dan merekam perempuan yang lagi di toilet atau di kamar mandi. Kalau mandi pintunya harus ditutup..”

(Ini sekaligus nasehat saya buat Kirana, 9 thn, yang sering tak menutup rapat pintu kamar mandi kalau mandi di rumah sendiri -daun pintu hanya sekedar ditutup, tp tak rapat- mungkin karena merasa aman, sekaligus rada takut berada di kamar mandi sendirian).

Lalu, beberapa lama kemudian, Kirana pun mandi.
Reza, 4 thn, spontan berteriak, “Kak! Pintu kamar mandinya ditutup! Nanti ada yang ngintip!”

“Kan hari-hari ini banyak orang gila?!” sambungnya lagi, dengan suara lebih pelan, sambil menatap saya minta persetujuan, dengan ekspresi wajah serius dan sok dewasa.

🙂

Catatan Ahad Pagi #6: Di Padang


Ahad pekan lalu saya absen nulis karena sedang mudik ke Padang bersama anak-anak. Harusnya liburan, tapi terpaksa membawa setumpuk buku karena ada beberapa tugas paper yang harus diselesaikan. Saya tentu berusaha menyempatkan diri untuk membawa anak-anak jalan-jalan. Tapi ada saat di mana kesibukan benar-memuncak, sehingga kedua anak saya terlihat tidak nyaman. Bahkan Reza sampai akhirnya menangis sedih (bukan nangis rewel, tapi menangis dengan ekspresi sedih sekali) karena saya tak jua selesai mengetik. Huhuhu…sedihnya… Saya pun bersungguh-sungguh berjanji padanya, “Besok pagi, kalau Reza bangun, Mama tidak akan mengetik lagi.”. Malam itu pun saya sangat sedikit tidur, berusaha menepati janji, menyelesaikan paper supaya esok pagi saya full bermain bersama anak.

Paginya kami ke pantai. Sungguh, selama ini saya tidak terlalu menikmati main di pantai. Tapi sekarang saya tau caranya: jangan banyak pikiran, jangan takut basah dan jangan takut kotor. Ternyata asyik juga main gila2an di pantai. Reza bahkan sedemikian menikmatinya main air, minta dibuka bajunya (tentu fotonya ga bisa diposting di sini, malu..hehe) dan tanpa baju sama sekali tidur-tiduran menanti hempasan ombak menerpa dirinya.

Lalu kami nonton DVD Ketika Cinta Bertasbih (hihihi). Kirana terpesona sekali pada tokoh Anna Althafunnisa. Sampai-sampai, dia bertanya, “Kalau Kirana shalihah, apakah nanti bisa secantik Anna?”

Kalau Reza, seperti biasa, terpesona pada Upin dan Ipin. Dia rajin membaca buku “Mencari Jejak Rembo” (Reza belum bisa membaca, tapi karena sering dibacakan, dia jadi hafal dialog di komik itu dan pura-pura membaca buku sendiri dengan suara keras). Saat kami sedang jalan-jalan, kebetulan ada penjual mikroskop ala Upin-Ipin. Wah, makin mantaplah gaya Reza berpura-pura jadi detektif meniru Upin-Ipin.

Saya jadi ingat ceramah Neno Warisman soal idola/tokoh dongeng. Mengapa yang jadi idola anak2 sekarang bukan tokoh2 suci (Rasulullah, Ahlul Bait, para sahabat setia Rasul)? Karena kita mendongengkan pada mereka dengan cara yang tidak menarik. Neno memperagakan bagaimana dia mendongengkan kisah salah seorang sahabat, wow.. keren banget.. orang dewasa aja terpesona, pa lagi anak-anak. Dengan cara dongeng yang ‘menghidupkan’ tokoh-tokoh itu, mereka seolah menjadi hidup dan nyata, dan karenanya mudah diidolakan oleh anak-anak.

Saya memang belum bisa mendongeng secanggih Neno (yang memang juga aktris film/sinetron, jadi memang pinter acting). Tapi, yah berusaha saja sebisanya. Dan syukurlah, berkat alat bantu film, kini putriku terpesona pada tokoh (meski khayalan) Anna yang shalehah dan Reza pada Upin dan Ipin yang aktif, kreatif, dan gemar menolong. Mudah-mudahan saya bisa mendongeng lebih baik lagi supaya mereka punya idola yang real (misalnya Fathimah Az-Zahra atau Abul Fadhl Al Abbas).

Terakhir, sekedar cerita. Ini dialog nyata, suatu hari di playgroup kami.

Bu guru: Anak-anak, sekarang ibu mau cerita Nabi Ismail…

Fathir: Nabi Ismail bin Mail?

Bu Guru: bukaaan… nabi Ismail aja..

Fathir: kalau Nabi Ihsan dan Nabi Fizi ada gak bu?

Bu Guru: *tertawa ngakak*

*masih di Padang, sampai Senin.. maaf buat MP-ers Padang, ga sempet kontak2..syibuk banget, hehe..*