Catatan Ahad Pagi#13: Hutang

Sinetron Para Pencari Tuhan yang ditayangkan pada waktu sahur memiliki salah satu cerita (di antara berbagai cerita lain) yang menurut saya menarik sekali. Ceritanya, Pak Jalal punya banyak utang dan merasa terbebani dan takut bila kelak dia tak sanggup membayar hutang. Dia pun minta saran dari Bang Jack yang menjawab bahwa membayar hutang harus disegerakan karena di dalam hutang itu ada hak orang lain yang akan dibela Allah hingga hari akhirat. Dengan kata lain, bila kita mati dalam keadaan menanggung hutang, Allah tidak akan membebaskan kita dari tanggung jawab. Kalau keturunan kita tidak melunasi hutang itu, Allah akan mengambil pahala-pahala kita untuk diserahkan kepada orang yang dihutangi; bila ga punya pahala untuk diserahkan, akan dihukum di neraka.

Karena itu, mumpung Pak Jalal masih kaya, dia cepat-cepat membayar hutangnya, meskipun untuk itu dia harus menjual semua harta bendanya. Pak Jalal bahkan akhirnya terpaksa hidup di rumah kontrakan dan menjadi miskin.

Tindakan Pak Jalal menurut saya mengagumkan. Hari gini?! Betapa banyak kita temui orang –baik individu, perusahaan, atau negara- yang gemar berhutang, tanpa peduli urusan pembayaran. Di sekeliling saya banyak orang yang berhutang ke renternir dengan bunga tinggi. Seorang ustazah yang prihatin, mengajukan ide untuk membuka lembaga peminjaman untuk menjauhkan warga dari renternir. Tapi ide itu tidak disambut jamaah. Alasannya: orang yang berhutang ke renternir akan selalu tepat waktu bayar hutang, dan bahkan merelakan barang-barangnya dijual untuk bayar hutang (soalnya debt collectornya galak-galak). Lah, kalau kami yang ngasih pinjaman? Wah, ke laut aja deh. Kami tentu tidak akan tega bersikap galak. Sudah jadi kebiasaan umum, kalau hutang ke bank dan renternir (pada hakikatnya bank juga renternir, kan pake bunga), para pengutang akan berusaha tepat waktu. Tapi kalau pinjam uang ke teman atau saudara, pembayarannya ditunda-tunda dan bahkan seolah-olah dilupakan.

Dulu sekali, saya pernah mengikuti ceramah Aa Gym, dia juga menasehati hal yang sama. Kata beliau, hutang itu akan menahan rezeki kita. Karena itu, bersegeralah bayar hutang, kalau perlu jual barang-barang. Insya Allah, Allah akan melimpahkan rezekinya pada kita.

Tapi bagaimana bila kita tak mampu (bahkan barang yang bisa dijual pun tak punya)? Caranya, berdoalah kepada Allah, minta dibebaskan hutang. Allah kan Mahatahu. Orang yang tidak peduli sama hutang dan menunda-nunda bayar hutang (padahal dia punya harta yang bisa dipakai untuk bayar hutang, minimalnya dengan cara nyicil) berbeda dengan orang yang memang benar-benar tak mampu. Dengan kekuasaan Allah, selalu ada jalan untuk bebas dari hutang. Di bulan Ramadhan ini, ada doa indah yang di antara permintaannya adalah pembebasan diri dari hutang (dibaca tiap habis sholat):

بسم الله الرحمن الرحیم
اَللّهُمَّ اَدْخِلْ عَلى اَهْلِ الْقُبُورِ السُّرُورَ، اَللّهُمَّ اَغْنِ كُلَّ فَقيرٍ
Ya Allah berilah kebahagiaan pada ahli kubur; berilah kekayaan pada kaum fakir
اَللّهُمَّ اَشْبِعْ كُلَّ جايِعٍ، اَللّهُمَّ اكْسُ كُلَّ عُرْيانٍ
Ya Allah kenyangkanlah semua orang yang lapar; berilah pakaian orang yang telanjang
اَللّهُمَّ اقْضِ دَيْنَ كُلِّ مَدينٍ، اَللّهُمَّ فَرِّجْ عَنْ كُلِّ مَكْرُوبٍ
Ya Allah lunasilah hutang orang-orang yang memiliki tanggungan hutang; berilah jalan keluara pada orang-orang yang ditimpa kesulitan
اَللّهُمَّ رُدَّ كُلَّ غَريبٍ، اَللّهُمَّ فُكَّ كُلَّ اَسيرٍ
Ya Allah kembalikanlah orang-orang yang terasing dari negerinya; bebaskanlah orang yang terpenjara
اَللّهُمَّ اَصْلِحْ كُلَّ فاسِدٍ مِنْ اُمُورِ الْمُسْلِمينَ، اَللّهُمَّ اشْفِ كُلَّ مَريضٍ
Ya Allah perbaikilah kerusakan yang dialami kaum muslimin; sembuhkanlah orang-orang yang sakit
اَللّهُمَّ سُدَّ فَقْرَنا بِغِناكَ، اَللّهُمَّ غَيِّرْ سُوءَ حالِنا بِحُسْنِ حالِكَ
Ya Allah gantilah kefakiran kami dengan kekayaan-Mu; gantilah keburukan kondisi kami dengan kebaikan-Mu
اَللّهُمَّ اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَاَغْنِنا مِنَ الْفَقْرِ، اِنَّكَ عَلى كُلِّ شَىءٍ قَديرٌ
Ya Allah lunasilah hutang yang kami tanggung dan bebaskanlah kami dari kefakiran, karena sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa atas segala sesuatu

Catatan Ahad Pagi #12: Cermin

Dalam artikel/ceramah parenting, beberapa kali saya mendengar kalimat ‘anak adalah cermin orangtua’. Maksudnya, perilaku anak seringkali merupakan peniruan atas perilaku orangtuanya. Karena itu, berhati-hatilah para orang tua dalam berperilaku karena akan ada peniru-peniru ulung yang selalu siap meniru perilaku ortunya.

Selain itu, ada juga konsep ‘menjadi cermin’ dalam berkomunikasi dengan anak. Kita perlu melatih anak untuk mengenali emosinya dengan menjadi cermin bagi mereka; dengan arti mengira-ngira apa yang ada dalam benak si anak, lalu memverbalkannya. Tujuannya, agar anak mampu mengenali isi hatinya sendiri dan mampu mengungkapkan perasaan dengan baik. Anak yang mengenali dirinya dengan baik, akan cenderung stabil emosinya dan mampu pula berempati kepada orang lain.

Contoh, ketika kita melihat anak sedang murung, kita bilang padanya, “Kamu sedang sedih ya?” Ketika dia sedang senyum-senyum, “Kamu sedang bahagia ya?” Ketika dia menunjukkan hasil karyanya, “Kamu bangga ya, bisa membuat karya ini?”

Untuk urusan menjadi ‘cermin’ ini, saya punya pengalaman lucu sekaligus menyedihkan. Saya pernah berkali-kali mengabaikan pertanyaan anak saya, ketika sedang asyik duduk di depan laptop. Tidak sengaja, tentunya, tapi karena ‘tenggelam’ dengan pikiran sendiri sehingga tak mendengar saat anak saya menanyakan sesuatu. Akhirnya ketika Reza bertanya dengan suara keras karena jengkel, baru saya tersadar dan menjawab.

Rupanya, hal ini ditiru oleh Reza. Dia sering melakukan aksi diam bila saya tanya. Dan oh.. saya benar-benar kesal kalau dia sedang melakukan aksi diam seperti ini. Kalau suara saya sudah meninggi, baru dia menjawab. Awalnya, saya tidak sadar bahwa sikapnya itu adalah cermin diri saya. Karena itulah suara saya pun sering meninggi karena kesal bila dia tak menjawab pertanyaan saya. Saya sering berkata, “Reza, kalau orang nanya, jawab dong!!”

Saya tersadar, ketika suatu hari Reza bertanya kepada kakaknya yang sedang asyik di depan laptop dan tidak menjawab pertanyaannya. Reza pun kesal dan bertanya lagi dengan nada tinggi. Saya menjadi sedih karena sadar, ah..ah.. inilah kesalahan saya. Tapi saya pun tertawa geli, karena Reza marah kepada kakaknya dengan mengucapkan kalimat ini:
Kak, kalau orang JAWAB, TANYA dong!!!”

Picture from google search.

Catatan Ahad Pagi #11: Kejujuran


Sudah jadi rahasia umum bahwa UN (Ujian Nasional) di negeri ini dipenuhi berbagai kecurangan. Namun tetap ada orangtua dan anak-anak yang teguh menjaga kejujuran mereka. Dua anak kerabat saya, yang kebetulan seusia, adalah di antaranya. Kisah mereka mungkin bisa kita ambil hikmahnya.

Anak yang pertama, sebut saja Ridwan, sejak SD sudah memegang teguh kejujuran itu. Dia menempuh ujian tanpa memedulikan kunci jawaban yang tersebar. Seperti diduga, Ridwan yang sangat pandai itu, mendapat nilai yang sangat bagus, namun, tetap kalah dibanding teman-temannya yang memanfaatkan kunci jawaban (dan meraih nilai sempurna atau nyaris sempurna). Ridwan pun gagal masuk ke SMP yang favorit dan masuk ke SMP ‘pinggiran’.

Ketika temannya mengritik, “Kamu tuh bego amat, masa dikasih kunci ga mau?”
Ridwan menjawab, “Kamu yang bego. Masa kita udah capek-capek belajar trus waktu ujian tetap pakai kunci?”

Di SMP ‘pingiran’ itu, ternyata Ridwan sekelas dengan anak-anak pintar yang jujur tapi tersingkir dari SMP favorit. Kelas itu pun melejit dan sangat berprestasi sehingga mengangkat pamor SMP itu. Ketika UN SMP, lagi-lagi peristiwa serupa terjadi: kunci jawaban tersebar entah dengan cara bagaimana. Ridwan yang tetap jujur, kembali lulus dengan nilai sangat bagus, tapi tetap kalah dari mereka yang mendapat nilai sempurna atau nyaris sempurna. Ibunya sudah pasrah, Ridwan pasti masuk SMA pinggiran lagi. Tapi ibunya tidak kecewa, yang penting anaknya sudah jujur, itu jauh lebih penting daripada sekolah favorit.

Untungnya tahun ini, sebuah SMA favorit menetapkan kebijakan melakukan ujian masuk (nilai UN hanya jadi salah satu pertimbangan). Tentu, saja, Ridwan dengan mudah lolos ujian masuk itu dan kini bersekolah di SMA terbaik di kotanya.

Anak kedua, namanya sebut saja Hadi. Nilai akademiknya selama SMP memang pas-pasan. Tapi bila dia menggunakan kunci jawaban, sudah pasti dia bisa masuk SMA favorit. Namun ayahnya berpesan, jangan curang. Biarlah masuk sekolah mana saja. Dan memang, Hadi tidak berhasil masuk SMA (yang tidak favorit sekalipun) dan masuk SMK.

Bagi sebagian orangtua, pasti sulit menerima kenyataan anaknya tidak masuk sekolah yang diinginkan. Apalagi bila anaknya pintar seperti Ridwan, pasti merasa anaknya ‘berhak’ untuk masuk sekolah terbaik. Bahkan orangtua yang anaknya pas-pasan pun merasa anaknya ‘berhak’ masuk sekolah terbaik, dengan cara apapun. Justifikasi yang dipakai saat membiarkan anaknya berbuat curang: “semua orang juga begitu”. Padahal jalan hidup si anak masih panjang. Ridwan, ternyata bisa juga masuk sekolah bagus. Dan kalaupun dia terpaksa masuk sekolah pinggiran, kalau dasarnya pintar, kelak, dia tetap saja akan bisa meraih cita-citanya. Hadi, siapa bilang masuk SMK masa depannya hanya jadi ‘pekerja’? Siapa yang tahu masa depan orang lain? Ada sangat banyak kemungkinan di depan. Dan kejujuran –meskipun terkadang membawa konsekuensi pahit di dunia—akan selalu mendatangkan kebaikan. Bila pun tidak di dunia, pastilah kebaikan itu akan didapatkan di akhirat, tempat semua kita akan mendapatkan ganjaran atas semua perbuatan.

gambar dari google search.

Catatan Ahad Pagi#10 (sambungan): Marah (2)

Selama ini saya sering bertanya-tanya: mengapa ada ibu yang sangat penyabar, dan mengapa saya harus bernasib jadi ibu yang tidak penyabar? Saya sempat iri saat membaca tulisan seseorang di MP yang memuji ibunya: tak pernah sekalipun marah. Kok bisa ada ibu yang tak pernah marah pada anaknya? Saya sempat berpikir-astaghfirullah- tidak adil sekali ya, Allah?! Mengapa Dia jadikan seorang perempuan tidak sabaran, sementara perempuan yang lain dijadikan-Nya penyabar?

Saya benar-benar terbebani dengan pertanyaan-pertanyaan itu dan sering menangis dalam doa, memohon pencerahan dari-Nya. Saya ingin SEMBUH!

Dan pagi itu, tanggal 30 Juli 2010 tepat di hari ultah saya ke-36, doa saya terjawab. Sebuah pengumuman dari Rumah Parenting mampir di inbox fb. Tentang sebuah pelatihan yang terdengar asing: EFT. Saya hanya menangkap kata berikut “menangani masalah emosi, mudah marah, phobia” (tentu di pengumuman itu ada banyak penjelasan lainnya, tapi hanya itu yang tertangkap oleh saya kala itu). Jadi, tanpa pikir panjang, tanpa tahu apa itu EFT –meski dengan rasa was-was karena biayanya lumayan—saya mendaftar. Siapa tahu ini jalan keluar dari kegelisahan saya selama ini.

Ternyata, EFT adalah Emotional Freedom Technique. Logika berpikirnya, semua penyakit (baik penyakit emosi seperti impulsivitas, kemarahan, panic attack, phobia, dll; maupun penyakit fisik, dari yang ringan bahkan kanker stadium lanjut sekalipun) bersumber dari emosi negatif yang tersimpan di alam bawah sadar kita. Perlakuan negatif dari orangtua, mertua, ipar, suami/istri, kakak/adik, tetangga, rekan kerja, guru, atau siapapun, ternyata secara otomatis tersimpan di alam bawah sadar kita. Meskipun mungkin kita merasa sudah memaafkan, emosi negatif itu ternyata tetap tersimpan. Dan, memangnya, seberapa banyak sih kita bisa memaafkan? Atau, bukankah kita lebih sering mengabaikan dan melupakan? Pada akhir sesi pun, ketika EFT akan dipraktekkan, ternyata sebagian berpikiran sama dengan saya: kuatir meledak dan membuka semua luka dan sakit hati yang selama ini disimpan rapat-rapat entah di sudut hati yang mana.

Tapi ibu psikolog yang luar biasa (Dra. Yuli Suliswidiawati MPsi) menenangkan kami. Katanya, nanti kami semua akan sibuk dengan emosi masing-masing, tak akan peduli dengan urusan yang lain. Prosesi EFT pun dimulai, kami didorong untuk MENGUCAPKAN secara jelas apa (dan siapa) yang membuat kami sakit hati, terhina, dendam, sedih, kecewa, dll, sambil mengetuk beberapa titik tertentu di tubuh. (Proses mengetuk beberapa titik di tubuh ini disebut tapping yang berguna untuk menetralisir gangguan emosi atau rasa sakit). Dan perlahan, emosi pun meledak. Suara tangis dan raungan terdengar. Saya? Hm.. masih tertahan. Masih jaim. Tapi lumayanlah, sebagian emosi bisa dikeluarkan. Pulang dari pelatihan, hingga beberapa hari kemudian, saya tak marah/mengomel sedikitpun pada anak saya.

Luar biasa! Eureka!

Jadi inilah jawabannya: alam bawah sadar saya selama ini rupanya menyimpan sangat banyak emosi negatif. Dan ketika saya bisa mengeluarkan emosi negatif itu, saya menjadi sangat penyabar. Tak ada keinginan untuk marah, tak ada ketidaksabaran. Semuanya lenyap. Duh, nyamaaaan… sekali rasanya. Saya bisa membaca buku Mickey bersama Kirana dengan sangat tenang, lancar, dan penuh cinta. Kirana terlihat sangat menikmatinya.

Suatu sore, saya bahkan juga merasakan manfaat ‘fisik’ dari EFT ini. Sore itu, saya benar-benar terkapar di tempat tidur. Sakit flu, tambah lagi pusing berat karena haid. Saya mencoba menterapi diri sendiri dengan EFT. Saya menangis tersedu-sedu, mengingat dan mengadukan kepada Allah orang-orang yang membuat saya sakit hati di masa lalu. Dan hm, ajaib, seperti yang diteorikan, saya langsung segar, dan bisa melakukan berbagai pekerjaan domestik yang sudah menumpuk (masak-cuci-dll). Tentu ini bukan prosesi mengata-ngatai orang lain ya. Segera setelah kita berhasil tuntas ‘mengadukan’ seseorang yang membuat kita sakit hati, kita akan bebas (freedom) dan tidak ada lagi sakit hati yang tersisa. Tapi jika saat prosesi EFT masih juga ada bayangan sosok-sosok menyakitkan itu, nah, artinya emosi negatif kita memang belum habis dan harus terus dikeluarkan sampai habis.

Tentu, perjuangan saya belum selesai. Proses ‘pembuangan emosi negatif’ harus rutin dilakukan. Hari ke-5, saya sempat naik darah karena Reza kembali mogok (disuruh ganti baju ga mau dan diam membatu, ga mempan dibujuk-bujuk.. oh, oh, Reza sering sekali bertingkah seperti ini. Biasanya saya ambil jalan pintas, main ancam, “Kalau ga mau ganti baju sekarang, mama tinggal ya!”). Saya segera ambil time-out, ke kamar, dan meng-EFT diri sendiri. Lima menit kemudian, emosi reda, dan saya siap menghadapi Reza dengan penuh senyum lagi. Sebaliknya, ketika saya mulai malas-malasan ber-EFT, suara saya meninggi lagi saat membaca buku bersama Kirana, huhuhu… sedihnya…! Rupanya emosi negatif saya memang belum benar-benar habis.

Lagipula, emosi negatif yang baru selalu berdatangan setiap saat (misalnya, tiba-tiba diceplosin sama tetangga dan bikin kita sakit hati), dan untuk itu EFT harus rutin dilakukan supaya emosi negatif yang baru datang bisa langsung dikeluarkan. Bila kita benar-benar emotionally freedom (emosi negatif sudah benar-benar terhapus dari alam bawah sadar), kita insya Allah bisa menjalani hidup dengan ringan dan jauh dari penyakit.

Oya, di pelatihan itu, ternyata kami tak cuma sekedar disuguhi teori EFT, melainkan mendapatkan pencerahan luar biasa tentang hidup dan parenting. Bu Yuli menceritakan berbagai kasus luar biasa yang membuat saya merinding. Ada seorang istri yang menderita penyakit kronis karena ada kejadian buruk di masalalu (dan akhirnya sembuh). Ada anak SMA yang agresif dan berniat membunuh adiknya, ternyata setelah diterapi EFT, ‘keluar’ emosi negatifnya: dia pernah dikurung dalam gelap dan dibentak-bentak ortunya. Dan ada banyak kasus lainnya, yang ternyata bersumber dari perilaku orangtua di masa kecil. Betul, kita yakin, tak ada ortu yang tak sayang pada anaknya. Tapi cara mengungkapkan sayang itu seringkali salah (misalnya lewat bentakan, omelan, atau bahkan mendiamkan.. ternyata KDRT paling buruk efeknya buat anak adalah KDRT non-verbal: menghukum anak dengan mendiamkannya) dan akhirnya tersimpan di alam bawah sadar anak hingga dewasa, dan menjadi sumber berbagai penyakit emosi maupun fisik yang dideritanya.

Penjelasan bu Yuli membuat saya semakin bertekad untuk menjadi ibu yang lebih baik lagi. Jangan sampai anak-anak saya menyimpan emosi negatif dan emosi negatif yang selama ini sudah terlanjur tersimpan di alam bawah sadar mereka, mudah-mudahan bisa saya terapi sendiri dengan EFT. Terimakasih Allah, telah kauberi hamba kesempatan dan jalan untuk memperbaiki diri. Namun, tak ada daya dan upaya hamba selain dengan pertolongan-Mu, karena itu, bantulah hamba selalu ya Allah…

Catatan akhir: ini hanya sekedar sharing, bukan iklan produk. Saya tidak mendapatkan keuntungan apapun dari tulisan ini (kecuali pahala, mungkin, mudah2an). Dan tidak berarti saya mengatakan bahwa EFT cara satu-satunya untuk ‘membuat kita jadi ibu penyabar’. Mungkin ada cara-cara lainnya. Yang penting dicatat mungkin: ternyata kemarahan bersumber dari emosi negatif; karena itu marilah buang emosi negatif dan jangan biarkan ada emosi n
egatif yang tersimpan dalam alam bawah sadar anak-anak kita.

Picture: from google search

Update: Bu Yuli sudah menulis buku ttg EFT, judulnya Menggapai Hidup Bahagia (Quanta, Gramedia Group)

buku bu yuli

Catatan Ahad Pagi #10: Marah (1)

Suatu malam, putri saya menulis di whiteboard kami:

Letter from Kirana:
To my beloved Mom,
Please wake me up at 5 o’clock
I want to pray subuh,
exercise violin,
and read mickey with you.
See you tomorrow morning
I love you.

Mengharukan bukan? Apa yang Anda pikirkan tentang saya? Ibu yang begitu penyabar pada anaknya? Hm, pasti tak ada yang menyangka bahwa pagi harinya, saya membaca Mickey (ensiklopedia anak berbahasa Inggris) bersama Kirana, dan dia sampai menangis karena suara saya meninggi penuh ketidaksabaran!

Yah, inilah saya yang sesungguhnya: sulit sekali menyabarkan diri saat mengajari anak. Saya sering lupa bahwa anak saya masih kecil, dan saya masih berpikir spontan, “Duh, gini-gini aja ga paham-paham seh?!!!” [Dan untuk itu pulalah saya mendirikan playgroup: saya punya idealisme sendiri soal pendidikan, tapi saya tak sanggup melaksanakannya sendiri (=mengajar anak sendiri), jadi saya merekrut orang lain untuk merealisasikan idealisme saya]

Tapi, kok bisa, Kirana yang paginya menangis, malamnya menulis surat penuh cinta begitu? Harusnya dia kapok membaca buku bahasa Inggris bersama saya kan?

Maafkan saya, saya tidak ingin sok mengajari. Saya hanya ingin sharing, siapa tahu ada ibu-ibu di luar sana yang punya problem sama dengan saya: tidak sabaran menghadapi anaknya sendiri. Saya pernah membaca sebuah artikel parenting berbahasa Inggris, yang intinya: adalah hal wajar bila Anda sesekali ‘meledak’, tapi anak-anak yang selalu mendapat limpahan kasih sayang di waktu-waktu lain, dan meyakini sampai ke lubuk hatinya bahwa ibunya benar-benar cinta padanya, akan memaafkan dan tidak merasa bahwa Anda membencinya.

Dan, mungkin inilah sebabnya mengapa Kirana sangat cepat memaafkan saya. Di waktu-waktu selain waktu belajar, saya memang sangat sering melimpahi Kirana ekspresi cinta. Saya memeluknya, mencium tangannya, pipinya, kepalanya. Saya bersabar mendengarkan semua ceritanya, betapapun kadang saya sedang tak mood. Saya menemaninya berjalan kaki berpanas-panas menuju tempat les biolanya, sambil mengobrol tentang banyak hal. Kami punya hubungan yang sangat erat dan terbuka, saya pikir. Dan ketika ‘meledak’, saya segera minta maaf dan memeluknya erat-erat, dan mengucapkan kata cinta berkali-kali. Senyumnya segera mengembang. Dan ajaibnya, dia tak kapok belajar bersama saya.

Tapi, selesaikah sampai di sini? Tidak, tentu saja. Ada perjuangan yang harus saya lakukan: jangan pernah lagi meledak! Seorang penulis buku parenting mengatakan dalam sebuah pelatihan bahwa inti parenting sesungguhnya cuma satu: jangan marah! (Marah ada banyak variannya loh: mengkritik, mencela, mengejek, menyindir, mengomel, dan membentak)

Tapi, sangat tidak mudah membuat akal berpikir sejalan dengan emosi. Di hari-hari lelah, di hari-hari yang buruk, di hari-hari yang membosankan, sering emosi yang lebih dahulu sampai di ujung lidah, bukan akal. Inilah yang menjadi pencarian saya selama ini: bagaimana sih menghilangkan sifat buruk ini? Bagaimana sih caranya, supaya bisa menjadi pribadi yang tenang, dan tak pernah marah, seburuk apapun hari yang dilaluinya?

[insya Allah, hasil pencarian saya ini akan saya tulis di bagian kedua, tunggu ya..]