Catatan Ahad Pagi #10: Marah (1)

Suatu malam, putri saya menulis di whiteboard kami:

Letter from Kirana:
To my beloved Mom,
Please wake me up at 5 o’clock
I want to pray subuh,
exercise violin,
and read mickey with you.
See you tomorrow morning
I love you.

Mengharukan bukan? Apa yang Anda pikirkan tentang saya? Ibu yang begitu penyabar pada anaknya? Hm, pasti tak ada yang menyangka bahwa pagi harinya, saya membaca Mickey (ensiklopedia anak berbahasa Inggris) bersama Kirana, dan dia sampai menangis karena suara saya meninggi penuh ketidaksabaran!

Yah, inilah saya yang sesungguhnya: sulit sekali menyabarkan diri saat mengajari anak. Saya sering lupa bahwa anak saya masih kecil, dan saya masih berpikir spontan, “Duh, gini-gini aja ga paham-paham seh?!!!” [Dan untuk itu pulalah saya mendirikan playgroup: saya punya idealisme sendiri soal pendidikan, tapi saya tak sanggup melaksanakannya sendiri (=mengajar anak sendiri), jadi saya merekrut orang lain untuk merealisasikan idealisme saya]

Tapi, kok bisa, Kirana yang paginya menangis, malamnya menulis surat penuh cinta begitu? Harusnya dia kapok membaca buku bahasa Inggris bersama saya kan?

Maafkan saya, saya tidak ingin sok mengajari. Saya hanya ingin sharing, siapa tahu ada ibu-ibu di luar sana yang punya problem sama dengan saya: tidak sabaran menghadapi anaknya sendiri. Saya pernah membaca sebuah artikel parenting berbahasa Inggris, yang intinya: adalah hal wajar bila Anda sesekali ‘meledak’, tapi anak-anak yang selalu mendapat limpahan kasih sayang di waktu-waktu lain, dan meyakini sampai ke lubuk hatinya bahwa ibunya benar-benar cinta padanya, akan memaafkan dan tidak merasa bahwa Anda membencinya.

Dan, mungkin inilah sebabnya mengapa Kirana sangat cepat memaafkan saya. Di waktu-waktu selain waktu belajar, saya memang sangat sering melimpahi Kirana ekspresi cinta. Saya memeluknya, mencium tangannya, pipinya, kepalanya. Saya bersabar mendengarkan semua ceritanya, betapapun kadang saya sedang tak mood. Saya menemaninya berjalan kaki berpanas-panas menuju tempat les biolanya, sambil mengobrol tentang banyak hal. Kami punya hubungan yang sangat erat dan terbuka, saya pikir. Dan ketika ‘meledak’, saya segera minta maaf dan memeluknya erat-erat, dan mengucapkan kata cinta berkali-kali. Senyumnya segera mengembang. Dan ajaibnya, dia tak kapok belajar bersama saya.

Tapi, selesaikah sampai di sini? Tidak, tentu saja. Ada perjuangan yang harus saya lakukan: jangan pernah lagi meledak! Seorang penulis buku parenting mengatakan dalam sebuah pelatihan bahwa inti parenting sesungguhnya cuma satu: jangan marah! (Marah ada banyak variannya loh: mengkritik, mencela, mengejek, menyindir, mengomel, dan membentak)

Tapi, sangat tidak mudah membuat akal berpikir sejalan dengan emosi. Di hari-hari lelah, di hari-hari yang buruk, di hari-hari yang membosankan, sering emosi yang lebih dahulu sampai di ujung lidah, bukan akal. Inilah yang menjadi pencarian saya selama ini: bagaimana sih menghilangkan sifat buruk ini? Bagaimana sih caranya, supaya bisa menjadi pribadi yang tenang, dan tak pernah marah, seburuk apapun hari yang dilaluinya?

[insya Allah, hasil pencarian saya ini akan saya tulis di bagian kedua, tunggu ya..]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s