Catatan Ahad Pagi#10 (sambungan): Marah (2)

Selama ini saya sering bertanya-tanya: mengapa ada ibu yang sangat penyabar, dan mengapa saya harus bernasib jadi ibu yang tidak penyabar? Saya sempat iri saat membaca tulisan seseorang di MP yang memuji ibunya: tak pernah sekalipun marah. Kok bisa ada ibu yang tak pernah marah pada anaknya? Saya sempat berpikir-astaghfirullah- tidak adil sekali ya, Allah?! Mengapa Dia jadikan seorang perempuan tidak sabaran, sementara perempuan yang lain dijadikan-Nya penyabar?

Saya benar-benar terbebani dengan pertanyaan-pertanyaan itu dan sering menangis dalam doa, memohon pencerahan dari-Nya. Saya ingin SEMBUH!

Dan pagi itu, tanggal 30 Juli 2010 tepat di hari ultah saya ke-36, doa saya terjawab. Sebuah pengumuman dari Rumah Parenting mampir di inbox fb. Tentang sebuah pelatihan yang terdengar asing: EFT. Saya hanya menangkap kata berikut “menangani masalah emosi, mudah marah, phobia” (tentu di pengumuman itu ada banyak penjelasan lainnya, tapi hanya itu yang tertangkap oleh saya kala itu). Jadi, tanpa pikir panjang, tanpa tahu apa itu EFT –meski dengan rasa was-was karena biayanya lumayan—saya mendaftar. Siapa tahu ini jalan keluar dari kegelisahan saya selama ini.

Ternyata, EFT adalah Emotional Freedom Technique. Logika berpikirnya, semua penyakit (baik penyakit emosi seperti impulsivitas, kemarahan, panic attack, phobia, dll; maupun penyakit fisik, dari yang ringan bahkan kanker stadium lanjut sekalipun) bersumber dari emosi negatif yang tersimpan di alam bawah sadar kita. Perlakuan negatif dari orangtua, mertua, ipar, suami/istri, kakak/adik, tetangga, rekan kerja, guru, atau siapapun, ternyata secara otomatis tersimpan di alam bawah sadar kita. Meskipun mungkin kita merasa sudah memaafkan, emosi negatif itu ternyata tetap tersimpan. Dan, memangnya, seberapa banyak sih kita bisa memaafkan? Atau, bukankah kita lebih sering mengabaikan dan melupakan? Pada akhir sesi pun, ketika EFT akan dipraktekkan, ternyata sebagian berpikiran sama dengan saya: kuatir meledak dan membuka semua luka dan sakit hati yang selama ini disimpan rapat-rapat entah di sudut hati yang mana.

Tapi ibu psikolog yang luar biasa (Dra. Yuli Suliswidiawati MPsi) menenangkan kami. Katanya, nanti kami semua akan sibuk dengan emosi masing-masing, tak akan peduli dengan urusan yang lain. Prosesi EFT pun dimulai, kami didorong untuk MENGUCAPKAN secara jelas apa (dan siapa) yang membuat kami sakit hati, terhina, dendam, sedih, kecewa, dll, sambil mengetuk beberapa titik tertentu di tubuh. (Proses mengetuk beberapa titik di tubuh ini disebut tapping yang berguna untuk menetralisir gangguan emosi atau rasa sakit). Dan perlahan, emosi pun meledak. Suara tangis dan raungan terdengar. Saya? Hm.. masih tertahan. Masih jaim. Tapi lumayanlah, sebagian emosi bisa dikeluarkan. Pulang dari pelatihan, hingga beberapa hari kemudian, saya tak marah/mengomel sedikitpun pada anak saya.

Luar biasa! Eureka!

Jadi inilah jawabannya: alam bawah sadar saya selama ini rupanya menyimpan sangat banyak emosi negatif. Dan ketika saya bisa mengeluarkan emosi negatif itu, saya menjadi sangat penyabar. Tak ada keinginan untuk marah, tak ada ketidaksabaran. Semuanya lenyap. Duh, nyamaaaan… sekali rasanya. Saya bisa membaca buku Mickey bersama Kirana dengan sangat tenang, lancar, dan penuh cinta. Kirana terlihat sangat menikmatinya.

Suatu sore, saya bahkan juga merasakan manfaat ‘fisik’ dari EFT ini. Sore itu, saya benar-benar terkapar di tempat tidur. Sakit flu, tambah lagi pusing berat karena haid. Saya mencoba menterapi diri sendiri dengan EFT. Saya menangis tersedu-sedu, mengingat dan mengadukan kepada Allah orang-orang yang membuat saya sakit hati di masa lalu. Dan hm, ajaib, seperti yang diteorikan, saya langsung segar, dan bisa melakukan berbagai pekerjaan domestik yang sudah menumpuk (masak-cuci-dll). Tentu ini bukan prosesi mengata-ngatai orang lain ya. Segera setelah kita berhasil tuntas ‘mengadukan’ seseorang yang membuat kita sakit hati, kita akan bebas (freedom) dan tidak ada lagi sakit hati yang tersisa. Tapi jika saat prosesi EFT masih juga ada bayangan sosok-sosok menyakitkan itu, nah, artinya emosi negatif kita memang belum habis dan harus terus dikeluarkan sampai habis.

Tentu, perjuangan saya belum selesai. Proses ‘pembuangan emosi negatif’ harus rutin dilakukan. Hari ke-5, saya sempat naik darah karena Reza kembali mogok (disuruh ganti baju ga mau dan diam membatu, ga mempan dibujuk-bujuk.. oh, oh, Reza sering sekali bertingkah seperti ini. Biasanya saya ambil jalan pintas, main ancam, “Kalau ga mau ganti baju sekarang, mama tinggal ya!”). Saya segera ambil time-out, ke kamar, dan meng-EFT diri sendiri. Lima menit kemudian, emosi reda, dan saya siap menghadapi Reza dengan penuh senyum lagi. Sebaliknya, ketika saya mulai malas-malasan ber-EFT, suara saya meninggi lagi saat membaca buku bersama Kirana, huhuhu… sedihnya…! Rupanya emosi negatif saya memang belum benar-benar habis.

Lagipula, emosi negatif yang baru selalu berdatangan setiap saat (misalnya, tiba-tiba diceplosin sama tetangga dan bikin kita sakit hati), dan untuk itu EFT harus rutin dilakukan supaya emosi negatif yang baru datang bisa langsung dikeluarkan. Bila kita benar-benar emotionally freedom (emosi negatif sudah benar-benar terhapus dari alam bawah sadar), kita insya Allah bisa menjalani hidup dengan ringan dan jauh dari penyakit.

Oya, di pelatihan itu, ternyata kami tak cuma sekedar disuguhi teori EFT, melainkan mendapatkan pencerahan luar biasa tentang hidup dan parenting. Bu Yuli menceritakan berbagai kasus luar biasa yang membuat saya merinding. Ada seorang istri yang menderita penyakit kronis karena ada kejadian buruk di masalalu (dan akhirnya sembuh). Ada anak SMA yang agresif dan berniat membunuh adiknya, ternyata setelah diterapi EFT, ‘keluar’ emosi negatifnya: dia pernah dikurung dalam gelap dan dibentak-bentak ortunya. Dan ada banyak kasus lainnya, yang ternyata bersumber dari perilaku orangtua di masa kecil. Betul, kita yakin, tak ada ortu yang tak sayang pada anaknya. Tapi cara mengungkapkan sayang itu seringkali salah (misalnya lewat bentakan, omelan, atau bahkan mendiamkan.. ternyata KDRT paling buruk efeknya buat anak adalah KDRT non-verbal: menghukum anak dengan mendiamkannya) dan akhirnya tersimpan di alam bawah sadar anak hingga dewasa, dan menjadi sumber berbagai penyakit emosi maupun fisik yang dideritanya.

Penjelasan bu Yuli membuat saya semakin bertekad untuk menjadi ibu yang lebih baik lagi. Jangan sampai anak-anak saya menyimpan emosi negatif dan emosi negatif yang selama ini sudah terlanjur tersimpan di alam bawah sadar mereka, mudah-mudahan bisa saya terapi sendiri dengan EFT. Terimakasih Allah, telah kauberi hamba kesempatan dan jalan untuk memperbaiki diri. Namun, tak ada daya dan upaya hamba selain dengan pertolongan-Mu, karena itu, bantulah hamba selalu ya Allah…

Catatan akhir: ini hanya sekedar sharing, bukan iklan produk. Saya tidak mendapatkan keuntungan apapun dari tulisan ini (kecuali pahala, mungkin, mudah2an). Dan tidak berarti saya mengatakan bahwa EFT cara satu-satunya untuk ‘membuat kita jadi ibu penyabar’. Mungkin ada cara-cara lainnya. Yang penting dicatat mungkin: ternyata kemarahan bersumber dari emosi negatif; karena itu marilah buang emosi negatif dan jangan biarkan ada emosi n
egatif yang tersimpan dalam alam bawah sadar anak-anak kita.

Picture: from google search

Update: Bu Yuli sudah menulis buku ttg EFT, judulnya Menggapai Hidup Bahagia (Quanta, Gramedia Group)

buku bu yuli

Advertisements

3 thoughts on “Catatan Ahad Pagi#10 (sambungan): Marah (2)

  1. Pingback: Ibu Galau dan Suka Marah « My daily life…

  2. Pingback: Speaking of a Laptop Stand: Who can’t stand computer problems? | DJ Big Steve

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s