Catatan Ahad Pagi #11: Kejujuran


Sudah jadi rahasia umum bahwa UN (Ujian Nasional) di negeri ini dipenuhi berbagai kecurangan. Namun tetap ada orangtua dan anak-anak yang teguh menjaga kejujuran mereka. Dua anak kerabat saya, yang kebetulan seusia, adalah di antaranya. Kisah mereka mungkin bisa kita ambil hikmahnya.

Anak yang pertama, sebut saja Ridwan, sejak SD sudah memegang teguh kejujuran itu. Dia menempuh ujian tanpa memedulikan kunci jawaban yang tersebar. Seperti diduga, Ridwan yang sangat pandai itu, mendapat nilai yang sangat bagus, namun, tetap kalah dibanding teman-temannya yang memanfaatkan kunci jawaban (dan meraih nilai sempurna atau nyaris sempurna). Ridwan pun gagal masuk ke SMP yang favorit dan masuk ke SMP ‘pinggiran’.

Ketika temannya mengritik, “Kamu tuh bego amat, masa dikasih kunci ga mau?”
Ridwan menjawab, “Kamu yang bego. Masa kita udah capek-capek belajar trus waktu ujian tetap pakai kunci?”

Di SMP ‘pingiran’ itu, ternyata Ridwan sekelas dengan anak-anak pintar yang jujur tapi tersingkir dari SMP favorit. Kelas itu pun melejit dan sangat berprestasi sehingga mengangkat pamor SMP itu. Ketika UN SMP, lagi-lagi peristiwa serupa terjadi: kunci jawaban tersebar entah dengan cara bagaimana. Ridwan yang tetap jujur, kembali lulus dengan nilai sangat bagus, tapi tetap kalah dari mereka yang mendapat nilai sempurna atau nyaris sempurna. Ibunya sudah pasrah, Ridwan pasti masuk SMA pinggiran lagi. Tapi ibunya tidak kecewa, yang penting anaknya sudah jujur, itu jauh lebih penting daripada sekolah favorit.

Untungnya tahun ini, sebuah SMA favorit menetapkan kebijakan melakukan ujian masuk (nilai UN hanya jadi salah satu pertimbangan). Tentu, saja, Ridwan dengan mudah lolos ujian masuk itu dan kini bersekolah di SMA terbaik di kotanya.

Anak kedua, namanya sebut saja Hadi. Nilai akademiknya selama SMP memang pas-pasan. Tapi bila dia menggunakan kunci jawaban, sudah pasti dia bisa masuk SMA favorit. Namun ayahnya berpesan, jangan curang. Biarlah masuk sekolah mana saja. Dan memang, Hadi tidak berhasil masuk SMA (yang tidak favorit sekalipun) dan masuk SMK.

Bagi sebagian orangtua, pasti sulit menerima kenyataan anaknya tidak masuk sekolah yang diinginkan. Apalagi bila anaknya pintar seperti Ridwan, pasti merasa anaknya ‘berhak’ untuk masuk sekolah terbaik. Bahkan orangtua yang anaknya pas-pasan pun merasa anaknya ‘berhak’ masuk sekolah terbaik, dengan cara apapun. Justifikasi yang dipakai saat membiarkan anaknya berbuat curang: “semua orang juga begitu”. Padahal jalan hidup si anak masih panjang. Ridwan, ternyata bisa juga masuk sekolah bagus. Dan kalaupun dia terpaksa masuk sekolah pinggiran, kalau dasarnya pintar, kelak, dia tetap saja akan bisa meraih cita-citanya. Hadi, siapa bilang masuk SMK masa depannya hanya jadi ‘pekerja’? Siapa yang tahu masa depan orang lain? Ada sangat banyak kemungkinan di depan. Dan kejujuran –meskipun terkadang membawa konsekuensi pahit di dunia—akan selalu mendatangkan kebaikan. Bila pun tidak di dunia, pastilah kebaikan itu akan didapatkan di akhirat, tempat semua kita akan mendapatkan ganjaran atas semua perbuatan.

gambar dari google search.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s