Catatan Ahad Pagi#15: Pasar

Di bulan Ramadhan lalu, seorang teman di fb menulis:

Kebanyakan manusia itu
Seperti orang-orang yang masuk
ke dalam pasar
Hanyut dalam keramaian
Terserap dalam kerumunan
Tersihir aneka barang dagangan
Kebanyakan manusia itu
kehilangan kesadaran insaninya
tenggelam dalam lalai
lupa tujuan semula
“Aku ke sini mau apa?”

Dan aku pun tersentak. Ramadhan pun seperti pasar. Kita memasukinya dengan sepenuh harapan, ingin menjadi manusia yang lebih baik, bahkan ingin menjadi suci kembali. Namun semakin hari, semakin banyak hiruk pikuk yang membuat konsentrasiku terpecah: makanan apa buat sahur? Apa sajian buka hari ini? Bagaimana dengan baju baru anak-anak? Baju baruku sendiri bagaimana? Hey, ada sale baju besar-besaran, bagaimana kalau aku beli baju? Bagaimana rencana mudik? Kue lebaran, harus beli berapa toples? Untuk siapa saja bingkisan lebaran harus disiapkan? Dan oh..oh.. bagaimana nasib tesisku?

Untungnya, Allah Yang Maha Baik menolongku. Dia memberiku sakit yang cukup menyiksa: batuk yang tak kunjung sembuh, membuatku tak bersemangat untuk terus tersesat dalam hiruk pikuk pasar. Aku terpaksa berdiam diri saja, dan tergerak membaca buku seorang ulama besar. Dan ajaibnya, buku itu pun bersesuaian dengan kondisiku yang juga hampir tersesat di pasar yang lainnya: pasar akademis.

Buat apa aku kuliah lagi dan mengeluarkan uang puluhan juta rupiah untuk itu? Untuk karir kah? Untuk pemuasan ego pribadi kah? Untuk dipuji orang kah?

Tentu, niat awalku kuliah lagi, insya Allah baik (kalau tidak, suamiku yang baik hati itu pasti melarangku). Tapi setelah terjun di dalamnya, lagi-lagi aku dihadapkan pada godaan hiruk pikuk itu: karir, pencapaian ilmu, uang, gengsi, prestise… Bahkan sempat terpikir, “Buat apa kuliah kalau nanti akhirnya aku tetap di rumah mengurus anak-anakku? Aku HARUS kerja di suatu tempat, supaya semua ini tak sia-sia.”

Aku hampir lupa bahwa kerja (karir) tidaklah boleh menjadi tujuan, tapi bisa saja menjadi wasilah (perantara) untuk sesuatu yang memang pantas jadi tujuan. Lalu, apakah “sesuatu yang pantas menjadi tujuan” itu?

Ulama itu menulis, “Jika tujuan dari mencari ilmu bukan untuk Allah dan sekedar untuk kepuasan ego (hawa nafsu), memperoleh posisi dan status sosial di mata manusia, maka kalian akan mendapatkan bencana…”

“Ilmu itu cahaya, tapi itu untuk wadah yang bersih, untuk hati yang suci. Sementara wadah yang kotor dan hati yang kelam tidak bisa membuat ilmu menjadi cahaya. Ilmu yang ada di dalam hati yang kotor justru akan menjadi hijab yang paling pekat, yang memisahkan dirinya dengan Allah SWT.”

Ah, betapa benarnya kata-kata ulama ini. Hari ini kita menyaksikan betapa banyak orang pintar dan berilmu tapi buta dan tak berhati nurani. Mereka melakukan hal-hal yang merugikan orang banyak, dengan berbagai argumentasi ilmu yang seolah-olah benar.

Dan kupikir, setelah Allah memberiku pencerahan ini, tak pantas lagi aku tersesat di pasar itu…

(Catatan selepas Ramadhan 1431H)

Meski lebaran sudah berlalu, izinkan saya mengucapkan selamat lebaran, taqabalallah minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin kepada teman-teman MP-ers..:)

photo from googlesearch

Advertisements

Catatan Ahad Pagi #14: Baju

Ah, baju. Siapa yang tak ingin beli baju baru? Bila memang tak ada uang, oke, case closed. Tapi bila ada uang, sedang sale, dan mau lebaran pula? Oh, tahukah kamu bagaimana rasanya menahan diri untuk tidak beli baju dalam kondisi seperti itu? Aku sedang merasakannya saat ini, dan luar biasa beratnya, sampai ingin nangis.

Ceritanya, aku sudah punya baju untuk lebaran (dan itupun kubeli lama sekali, aku membelinya hanya karena lapar mata, dan tidak dipakai-pakai, sampai Idul Fitri tahun ini menjelang). Tapi, tiba-tiba ada kabar dari seorang teman, baju bermerk yang memang sejak lama kuinginkan, tapi tak kubeli karena tak tega dengan harganya yang sangat mahal, kini sale hingga 70%. Oh, oh! Aku HARUS membelinya. Empat potong sekaligus kalau perlu. Aku benar-benar bosan dengan bajuku selama ini (yang menurutku murahan). Kapan lagi aku bisa pakai baju bermerek yang elegan itu, dengan harga murah. Apalagi, uangnya ada, ya kan?

Tapi, hiks, suamiku yang baik hati dan penyayang itu mencegahku. Kemana kau akan pergi bila terus terpikat pada dunia? Zuhud bukanlah menghindari baju bagus, tapi tidak menggunakan baju bagus untuk berdandan. Apa tujuanmu membeli baju bermerek itu? Untuk dipandang orang kan? Apakah kamu lupa, adalah haram bagi perempuan untuk berdandan di hadapan laki-laki selain suaminya? Tanyalah hati kecilmu, untuk siapa sebenarnya kamu akan membeli baju itu? Untuk memenuhi keperluanmu akan baju, sementara bajumu masih banyak yang layak pakai, atau untuk orang lain? Kira-kira, begitulah kata-kata suamiku.

Aku benar-benar bingung. Aku bisa menyediakan puluhan alasan mengapa aku harus membeli baju-baju bermerek itu. Bahkan, aku siap (dan sudah kulakukan) menyerahkan sebagian baju-baju lamaku pada orang lain, supaya ada alasan untuk membeli baju impianku itu. Dan suamiku? Ah, dia bukan suami otoriter. Bilapun akhirnya aku membeli baju itu, dia tidak akan murka, bahkan mengomel pun tidak.

Tapi, aku pun tak bisa mengabaikan suara samar-samar di sudut hatiku: kemana kau akan pergi bila terus terpikat pada dunia?

Duh!

*dan bayang-bayang sale di toko baju itu terus memenuhi benakku…