Catatan Ahad Pagi#17: Mencintai Lelaki yang Salah (?)

Aku menatapnya lekat. Posisiku berdiri, bertelekan pada salah satu sudut dinding. Dia duduk dan mata sayunya sering menerawang entah ke arah mana, jadi dia tak tahu aku menatapnya seksama. Wajahnya tampan, badannya tegap. Gaya bicaranya dalam. Ada rasa sesal dan perih dalam nada suaranya. Dia tidak merokok. Sementara hampir semua lelaki di ruangan itu mengepulkan asap rokok yang membuatku mulai pening.

Aku menemuinya di sebuah pusat terapi, bertanya ini-itu kepadanya tentang hidupnya, untuk keperluan tesisku.

“Kamu pengen berenti?” tanyaku.

“Ya iyalah! Nasib akhir pecandu, kalau gak mati karena overdosis, ya ketangkep polisi, naudzubillah.. “ bahunya sedikit bergidik.

Dia tahu, dia harus berhenti. Bertahun-tahun dia terjebak narkoba, berbagai jenis candu sudah dicoba, dan berbagai terapi sudah dijalani. Namun dia gagal lagi, gagal lagi, dan kembali lagi menggunakan narkoba. Kini, dia serius ingin mencoba lagi untuk meraih kebebasan. Apalagi, kini dia sudah beristri.

Beristri? Aku terkejut. Siapa perempuan yang mau mempertaruhkan hidupnya untuk seorang pecandu?

Kembali kutatap pria itu lekat. Pria yang baik hati, batinku akhirnya memberi penilaian. Baik hati, tapi terlanjur memilih jalan yang salah. Ketampanannya, matanya yang sayu, dan kebaikan hatinya, mungkin itu yang membuat perempuan itu bertekuk lutut dan menerimanya sebagai suami. Ah…

Aku jadi teringat pada putriku. Suatu hari, kami memergoki sepasang ABG bertengkar di pinggir jalan (dengan gaya bak adegan sinetron). Putriku sambil tertawa berkata, “Mah, yang perempuan cantik ya? Tapi yang laki-laki…hehehe..”

Aku tahu maksud putriku. Pasangan ABG itu memang tak sekufu dari sisi wajah; si lelaki malah lebih mirip preman jalanan. Aku segera menyambar kesempatan ini untuk menasehati. “Kadang orang tidak menggunakan akal sehat saat memilih pasangan. Banyak perempuan mau saja menikah dengan laki-laki yang jelas-jelas buruk akhlaknya. Kakak nanti kalau besar harus bisa memilih laki-laki yang terbaik. Jangan mau dirayu sama lelaki yang ga bener!”

Lelaki yang salah? Tiba-tiba, di hadapan lelaki ini, aku jadi bertanya-tanya, bagaimana seorang perempuan tahu bahwa dia sedang mencintai lelaki yang salah, atau lelaki yang benar? Siapa yang menjamin jalan hidup seseorang? Bahkan lelaki saleh, sederhana, dan tulus pun, bisa menjadi lelaki paling tak tertahankan. Bayangkan, saat hidup susah didampingi dengan tulus oleh istrinya, tapi setelah kaya raya malah mencari istri lagi, tanpa keridhoan istri pertama. Ujung-ujungnya, istri pertama diceraikan.

Bukan..bukan.. aku bukan sedang menentang poligami. Aku hanya sedang membayangkan kepedihan seorang perempuan nun di sana, yang hatinya hancur berkeping melihat suaminya berpaling ke lain hati. Sungguh, ternyata bukan jaminan bahwa mencintai ‘lelaki yang benar’ akan berakhir bahagia. Karena hidup akan terus berputar, tanpa kita bisa tahu apa yang akan terjadi di depan. Jadi, darimana kita tahu bahwa kita sedang mencintai seorang lelaki yang salah, atau lelaki yang benar?

Ah, aku pun tak tahu jawabannya. Aku hanya kembali menatap lekat lelaki tampan itu. Kini aku menangkap rasa lelah di raut mukanya. Dia ingin bebas, tapi belenggu narkoba terlalu erat mengikatnya. Batinku melantunkan doa dalam diam, mendoakan agar kekuatan cinta perempuan yang kini mendampinginya itu, suatu saat akan membebaskannya. Dan, lelaki itu kelak berubah menjadi lelaki yang benar untuk dicintai…

Catatan Ahad Pagi #16: Kembali

Hm, sudah berbulan-bulan saya vakum menulis Catatan Ahad Pagi. Ada beberapa alasan yang membuat saya tiba-tiba kehilangan selera menulis. Lalu ketika akan mulai lagi, ternyata sulit sekali. Menulis Catatan Ahad Pagi ini saya niatkan untuk sarana kontemplasi diri, sehingga lebih melibatkan perasaan dan pemikiran personal. Masalahnya, saya sempat kehilangan kepercayaan diri, dan bertanya, “Emangnya siapa saya, sok-sokan nulis tentang diri dan respon diri pada kejadian di sekitar?” Bahkan, dua bulan yang lalu, ketika ada kabar bahwa buku yang saya tulis bareng dengan seorang pakar parenting diterima oleh penerbit, tiba-tiba saya ketakutan bila nama saya dicantumkan sebagai penulis. Mengapa? Karena saya kuatir dianggap orang pintar parenting, padahal…Allah knows what kind of mother I am 😦

Hingga kemudian saya menemukan sebuah paragraf di buku berjudul “Instant Self-Hypnosis” (Forbes Robbins Blair, 2010, Buana Ilmu Populer)
“Menulis memaksa kita terfokus pada apa yang perlu kita ekspresikan. Ketika membaca, biasanya mengekspresikan ide-ide dan pemikiran orang lain… Ketika kita menulis, idenya selalu muncul dari dalam diri kita dan motivasi pribadi kita. Dan karena kita melihat apa yang kita tulis, ketika kita menuliskannya, terjadi efek bumerang. Tulisan tersebut memantulkan pemikiran itu kembali ke dalam pikiran kita dan kemudian [pikiran] menyimpan ide-ide atau sugesti yang terdapat dalam tulisan itu. ” (164)

Jadi, bila kita menulis hal-hal yang baik, sesungguhnya pada saat yang sama kita sedang memperbaiki diri sendiri. Artinya, kita tidak perlu menunggu menjadi sosok sempurna saat ingin menulis sesuatu tentang kesempurnaan. So here I am, berusaha lagi merumuskan berbagai pikiran yang terlintas dalam benak, syukur-syukur ada manfaatnya bila dibaca orang, tapi yang lebih penting lagi adalah efek bumerangnya: membuat saya jadi manusia yang lebih baik lagi.

Baiklah, kali ini saya mereview sedikit saja soal buku yang saya kutip itu. Sungguh, saya belum mempraktekkannya, jadi saya tidak bisa memberi rekomendasi apapun soal hipnosis. Tapi, ada banyak hal yang menurut saya sangat menarik dalam buku itu, misalnya tentang bagaimana pikiran kita mirip dengan komputer. Bila data buruk yang dimasukkan, maka hasilnya pun berupa program yang buruk. Begitu pula pikiran kita, yang akan melahirkan perilaku kita. Misalnya, data ‘merokok itu menyenangkan’ masuk ke pikiran kita, maka pikiran akan memprogram diri kita untuk terus merokok.

Bedanya, bila dalam pemograman komputer data-data buruk bisa dibuang dengan mudah, pikiran kita mengembangkan sebuah sistem pertahanan yang mencegah masuknya data-data baru yang dianggap berlawanan dengan data/program yang sudah ada. Itulah sebabnya mengapa berhenti merokok (dan berhenti dari berbagai kebiasaan buruk lainnya) terasa sulit bagi kita. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menembus sistem pertahanan pikiran itu, antara lain dengan hipnosis, atau dengan melakukan kebiasaan baru secara konsisten. Contohnya, seorang perokok melawan sistem pertahanan pikirannya dengan tidak merokok, sampai akhirnya, pikirannya mau menerima data baru itu: merokok berbahaya bagi kesehatan, dan mengubah perilakunya, yaitu berhenti merokok. Tentu, hal ini sangat berat dilakukan dan perlu kemauan yang sangat kuat.

Nah, penjelasan Blair ini mengingatkan saya pada sesuatu. Dalam Islam, sering ada wejangan untuk melakukan suatu hal selama 40 hari. Misalnya, kalau Anda sholat tahajud selama 40 hari berturut-turut, maka derajat Anda (kemuliaan, kepribadian, keilmuan dll) akan meningkat. Atau, ada ustadz yang menasehati, bila kebiasaan menghafal Quran 1 jam setelah magrib Anda lakukan selama 40 hari berturut-turut, maka selanjutnya Anda akan dengan mudah menghafal Quran.

Balik lagi ke menulis, sepertinya bisa disimpulkan, seandainya kita menulis terus-menerus tentang sebuah topik, misalnya yang sedang ingin berusaha menjadi ibu yang baik, berusaha terus menulis tentang kiat-kita menjadi ibu yang baik, maka akan jadi ‘bumerang’ (dalam konotasi positif), bahwa kita akan bisa memperbaiki diri sebagai ibu. Semoga.