Catatan Ahad Pagi#21: Eksistensi

Ini hasil renunganku kemarin siang. Seseorang menceritakan perilaku anaknya ibu XYZ yang luar biasa nakal, ngomongnya pun kasar (bhs Sunda kasar khas Bandung tea). Padahal oh padahal, ibunya aktivis dakwah. Karena sibuk untuk urusan dakwah, anaknya malah belajar ngaji sama orang lain dan orang lain ini pun nyerah karena tak sanggup mengatasi keliaran si anak ini.

Sungguh aku sangat terenyuh. Aku mengaca pada diri sendiri. Aku pun bukan ibu sempurna. Aku pun berkali-kali menitipkan anak-anak ke orang lain karena mengejar urusan-ku sendiri. Mungkin saja, masih lebih baik ibu XYZ itu ya, dia keluar rumah untuk umat, bukan demi dirinya sendiri. Tapi bila kupikir lebih dalam lagi, bila benar untuk umat, bukankah lebih baik di rumah mendidik anak supaya anaknya tidak bikin pusing umat (=tetangga-tetangganya)?

Pikiranku terus mengembara. Aku merasa, yang dikejar ibu XYZ itu mungkin sama saja dengan yang aku kejar: eksistensi. Aku pun sering merasa eksis saat berada di kampus atau di forum-forum tertentu yang aku hadiri. Padahal, itu kan perasaanku sendiri. Orang lain mungkin tetap saja melihat aku tidak ada, tidak eksis.

Eksistensi, kupikir, memang dibutuhkan semua orang. Merasa ada, merasa dibutuhkan orang, merasa memberi kontribusi pada dunia, merasa berharga, dan merasa dihargai. Ada satu episode dalam hidupku dimana perasaan eksistensiku jatuh hampir di titik nol. Luar biasa tidak enaknya! Karena itulah, kini, di saat aku merasa cukup punya eksistensi –meskipun lagi-lagi, ini toh perasaanku saja, sangat mungkin orang akan berkata emangnye siape lo?—aku bisa meraba-raba alasan mengapa ibu XYZ begitu aktif keluar rumah, meski tanpa gaji.

Seorang ibu rumah tangga yang bersemangat pun, sangat mungkin merasa kehilangan eksistensinya ketika semua yang dilakukannya tidak mendapat respon yang baik dari keluarganya. Masakan yang terhidang dianggap memang seharusnya terhidang. Rumah yang rapi dianggap seharusnya rapi. Tidak ada rasa terimakasih dari sekitar karena memang dianggap itu sudah seharusnya dilakukan. Sungguh berbeda dengan situasi ketika aktif di luar rumah. Ada mata yang menatap terimakasih, ada orang yang berkata, “Punten pisan ngarepotkeun…tolong ya…”

Mungkin akan ada yang menasehati, “Makanya, ikhlas dong. Kalau kamu ikhlas dan sadar bahwa semua ini ibadah, pasti gak akan kecewa.” Ya ya ya.. aku tahu itu. Tapi prakteknya tidak mudah kan?

Dari pengalamanku pula, aku menemukan bahwa perasaan eksis itu bisa diciptakan. Caranya adalah dengan memberi makna pada diri sendiri. Aku beruntung bisa ikut pelatihan-pelatihan parenting. Jadi aku disadarkan bahwa kehadiranku di rumah, duduk berlama-lama dengan anak, adalah sesuatu yang sangat berharga. Bayangkan, aku sedang mempersiapkan manusia dewasa di masa depan! Apakah kelak dia jadi manusia yang baik atau manusia koruptor, itu tanggung jawabku! Sungguh, kesadaran seperti ini menjadi sumber rasa eksistensi yang sangat besar.

Perkara tak ada rasa terimakasih yang membuat timbul perasaan kayak ‘pembantu gratisan’, juga bisa diatasi dengan mengajari orang-orang sekitar untuk berterimakasih. Bila aku dengan sangat eksplisit berkata terimakasih kepada anak-anak, mereka pun akan bisa mengidentifikasi ‘kebaikan-kebaikan’ yang aku lakukan.

“Terimakasih ya Nak, hari ini kamu sudah membantu mama karena kamu bersikap baik hari ini, tidak rewel, tidak marah-marah.”

Dan respon yang kuterima pun adalah mereka menyatakan terimakasih dengan detil pula, “Terimakasih mama, tadi mama sudah masak buat aku!”

Sungguh, saat kalimat itu muncul dari bibir anakku, perasaan eksis itu pun muncul di hatiku dengan deras. Tak perlu berpayah-payah dicari di luar.

Cara lain yang kulakukan adalah dengan menulis. Bagiku, menulis di blog juga memunculkan rasa eksis. Apalagi ketika tulisan itu tanpa terduga malah diterbitkan jadi buku. Blogging juga memperkenalkanku kepada banyak orang. Aku tetap di rumah, tapi jiwaku mendunia. Untuk itu aku bersyukur sekali, ada orang-orang di luar sana yang mau menjadi temanku. Dan ini juga membangkitkan rasa eksistensiku.

Tentu ada banyak cara lain, mungkin teman-teman bisa menambahkannya. Sementara cuma ini yang terpikir olehku (karena ini yang kulakukan).

Tapi, aku perlu menggarisbawahi, bahwa kita pun jangan sampai diperbudak oleh eksistensi. Toh itu hanya perasaan kita sendiri. Kalau kita sudah sadar sepenuhnya bahwa kita ini memang ada dan diamati selalu oleh dua malaikat di kiri-kanan kita, sepertinya tak perlu repot-repot dipusingkan oleh makhluk yang bernama eksistensi. Jalani saja hidup apa adanya. Biarpun orang tak melihat dan tidak peduli, kan Allah melihat?

Tentu, sekali lagi kutegaskan, aku bukan ibu sempurna. Aku tidak sedang merendahkan orang lain untuk meninggikan mutu, atau sedang sok baik. Aku hanya sedang tersadarkan bahwa diriku pun masih sering terpeleset mengejar eksistensi di luar batas kewajaran. Berusaha eksis harus, tapi jangan kebablasan. Mungkin itulah simpulannya.

Mudah-mudahan tidak ada yang merasa tersinggung atau tersindir. Kalau pun ada, abaikan saja tulisan ini, anggap tak pernah ada:)

Catatan Ahad (Senin) Pagi#20: Persistent

Ahad pagi itu kemarin. Tapi aku baru sempat menulis pagi ini. Pagi kemarin aku disibukkan satu-dua hal, sampai-sampai membuatku terlupa pada jadwal menulis yang dibuat sendiri.

Pagi ini pun, aku tak ide, entah apa yang harus ditulis. Tapi ada sebuah kata yang terlintas di benak: persistent. Dari kamus online, artinya: keras hati, gigih,menetap (untuk penyakit).

Mengapa aku ingat kata itu?

Karena aku sedang berusaha memilikinya.

Aku sedang tertatih-tatih menyusun sebuah buku anak (it’s almost an impossible mission!). Aku berusaha persistent. Hari-hari kulalui dengan cukup berat karena menjaga persistensi memang sulit ternyata. Godaan selalu datang, mengalihkan perhatianku pada hal-hal lain.
Tapi aku berusaha terus. Sabar (jadi ingat jurnal ahad lalu:D). Not bad, sudah 47 halaman (masih perlu 70-an halaman lagi! wow.. what a long way to go!).

Pagi ini, aku membaca kabar gembira dari seorang ‘adik’ di multiply. Dia akan menikah sebentar lagi. Aku cukup banyak tahu tentang kisah hidupnya, terutama episode lukanya yang berdarah-bernanah, sampai-sampai, bila aku bayangkan berada dalam posisi dirinya, mungkin aku takkan sanggup bertahan. Dan membaca kisah bahagianya, tiba-tiba terlintas lagi kata itu dalam benakku: she is so persistent!

Dengan gigih dia terus berjalan menapaki jalan yang beronak duri, sambil terus berharap kasih sayang-Nya. Dan ya, sebentar lagi hari bahagianya tiba. Aku bahagia untuknya. Aku pun berterimakasih padanya karena darinya aku belajar untuk persistent.

Catatan Ahad Pagi#19: Sabar

Pagi ini aku tak hendak berpanjang-panjang menulis catatan ahad pagi. Sekedar mencatat ‘penemuan’-ku kemarin sore.

Kakak iparku datang kemarin sore dan membawakan sejumlah obat herbal serta menceritakan pengalamannya sendiri selama mengkonsumsi obat tersebut. Tentu, kakak ipar yang salihah itu menggarisbawahi, “Ini kan ikhtiar.. kesembuhan adalah kuasa Allah…”

Dia juga berpesan, “Khasiat obat herbal itu lama, ga cepat dirasakan seperti obat kimia. Jadi harus disiplin!”

Aku dan suamiku langsung nyengir. Justru itulah masalahnya, aku dan suamiku bisa dibilang tidak konsisten untuk urusan minum obat.

Lalu suamiku berkata (mungkin dia juga sedang menasehati diri sendiri), “Kata Allah, wasta’inu bisshabri was sholah, minta tolonglah dengan sabar dan sholat. Sabar itu maknanya luas, antara lain, disiplin dalam melakukan sesuatu.”

Wow, aku langsung merasa mendapatkan pencerahan.

Jika ingin sembuh, bersabarlah untuk konsisten minum obat, meski konsistensi terkadang terasa berat karena harus melawan berbagai rasa malas…

Jika ingin terhindar dari penyakit, bersabarlah untuk rutin olahraga (karena bagi yang tidak suka olahraga, benar-benar butuh perjuangan besar untuk merutinkan diri olahraga)…

Jika ingin terhindar dari penyakit, bersabarlah dalam berjuang menahan diri dari makanan-makanan nikmat yang di dalamnya ada vetsin, karbon pembakaran, atau ada lemak jahat…

Jika ingin kaya, bersabarlah dalam mencari rizki, karena seringkali, mencari rizki adalah perjuangan berat yang amat melelahkan jiwa dan raga

Jika ingin lulus ujian, bersabarlah dalam belajar dan melawan segala bentuk kemalasan…

Dan, ini yang penting buatku : ketika sedang kesulitan dalam menulis, bersabarlah untuk terus menulis, melawan suasana hati yang tidak mood, melawan kebuntuan pikiran…

Sabar adalah bergerak. Bukan diam.

Catatan Ahad Pagi#18: Mencintai Lelaki yang Benar:)

Hari Catatan Ahad Pagi pekan lalu, saya bertanya, “Sungguh, ternyata bukan jaminan bahwa mencintai ‘lelaki yang benar’ akan berakhir bahagia. Karena hidup akan terus berputar, tanpa kita bisa tahu apa yang akan terjadi di depan. Jadi, darimana kita tahu bahwa kita sedang mencintai seorang lelaki yang salah, atau lelaki yang benar?”

Berkali-kali saya mendapati kisah pilu di sekitar saya. Akhwat solehah, menikah dengan lelaki yang soleh..ee.. ujungnya ada-ada saja cerita sedihnya; mulai dari poligami, si lelaki ternyata kasar dan melakukan KDRT, atau si suami tega menceraikan istrinya karena alasan yang rasanya tak masuk akal. Atau sebaliknya, ada perempuan yang menikah dengan lelaki ‘brengsek’, tiba-tiba si lelaki dapat hidayah dan jadi lelaki mulia. Itulah yang membuat saya bertanya-tanya. Jalan hidup sepertinya tak mungkin ditebak, yang tadinya terasa tak mungkin tiba-tiba mungkin saja terjadi. Yang terasa mungkin, dalam sekejab menjadi tak mungkin.

Alhamdulillah, beberapa reply yang masuk membantu saya mencarikan jawabannya. Terimakasih buat semuanya. Tapi ada satu bantuan jawaban yang paling menohok hati saya, yaitu jawaban yang tak sengaja dikirim oleh Dian dengan cara menghadiahkan bukunya pada saya: “Duhai Muslimah Bersyukurlah”.

Ada satu cerita di buku ini yang membuat saya tegang membacanya. Kisah seorang istri tentara yang ditugaskan ke daerah konflik. Bayangkan saja, dalam keadaan hamil, tinggal di barak, dan hampir mati ditembaki para gerilyawan (penulis tidak menceritakan di mana lokasi konflik, sepertinya sih di Aceh era GAM). Luar biasanya, si penulis dengan menjalani kehidupan’mengerikan’ itu dengan tabah dan bahkan menemukan kemampuan untuk memasrahkan diri kepada Allah, sepasrah-pasrahnya. Dia mengakhiri tulisannya dengan kalimat ini:
“Walaupun harus melalui jalan panjang berliku, aku akhirnya berkesimpulan bahwa orang yang menjadi jodoh kita tidak akan selalu membuat kita bahagia. Satu hal yang pasti, dia akan membuat kita menjadi orang yang lebih baik, yaitu: orang yang lebih mengenal siapa penciptanya.” (Neny Hery Setiady, Duhai Muslimah Bersyukurlah hlm 61)

Luar biasa. Inilah jawaban paling ‘membangunkan’ saya. Ya, pernikahan tidak selalu berisi cerita bahagia kan? Tapi, bila yang jadi tujuan adalah Allah, maka, ketidakbahagiaan itu justru menjadi jalan menemukan Allah.

Dan, saya pun berusaha mencerna kembali kejadian di sekitar saya itu. Saya menemukan, betul sekali kata-kata penulis tadi. Teman saya yang tadinya bercerai karena suaminya menikah lagi, alhamdulillah, hari ini sudah meraih gelar doktor (dia dengan tabah menjalani hari-hari menyelesaikan S2 dan menjalani sebagian masa S3-nya sambil membesarkan anaknya yang masih bayi saat ditinggalkan ayahnya), serta mendapatkan suami baru yang baik (dari ceritanya pada saya: suami barunya jauh, lebih penyayang, lebih sabar, dan sangat sigap dalam membantu istri). Teman saya yang lain, yang suaminya KDRT, kini semakin sukses dalam karirnya, dan sebentar lagi menikah dengan lelaki yang soleh dan mereka berdua terlihat sangat saling mencintai. Teman saya yang satu lagi, meski belum mendapat suami baru, tapi terlihat ‘maqam’ ruhaninya semakin meningkat. Dia semakin tegar dan dewasa menjalani hidup; dan saya benar-benar banyak belajar dari ketabahannya.

Saya pikir, inilah jawabannya. Yang bisa kita lakukan hanya berusaha maksimal untuk memilih yang lelaki yang ‘benar’ dalam pandangan agama. Selanjutnya, memasrahkan diri kepada-Nya, dan percaya bahwa setiap onak dan duri adalah sarana untuk semakin mendekatkan diri pada-Nya.


*Catatan Ahad Pagi yang diposting Ahad sore*

NB: terimakasih banyak buat Dian atas kiriman bukunya yang berharga. Buku itu berisi antologi kisah-kisah inspiratif yang menggiring pembaca untuk mensyukuri segala sesuatu dalam kehidupan. Kisah-kisah di buku itu menarik dan sebagiannya mampu membuat saya termenung lama. Salah satu yang sangat berkesan buat saya, tulisan Dian (bukan karena Dian yang mengirim bukunya loh:D) karena kisahnya terasa ‘dekat’ dengan diri ini. Melalui tulisannya yang bersahaja dan jujur, Dian mengajari saya untuk mensyukuri kehadiran dua buah hati saya. Saya hampir nangis, membayangkan betapa susahnya Dian mendapatkan Billa…sementara saya, relatif mudah sekali mendapatkan anak..kok malah sampai kena baby blues segala..ckckck.. Seandainya saja baca tulisan Dian sebelum punya anak ya..?:)
Big hugs for Dian 🙂